17.10.15

Islam Indonesia, Islam Jalan Tengah



Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin menilai yang dimaksud Islam moderat itu tidak terjebak pada ekstrimitas seperti paham radikal dan juga paham liberal. “Islam di sini merupakan Islam jalan tengah, toleran –dalam pengertian-- bertenggang rasa kepada pihak lain. Tidak boleh kemudian main pokoke,” tegasnya.

Termasuk Islam yang inklusif atau Islam yang menampung semuanya. Bukan eksklusif atau Islam yang kemudian ingin mendepak atau mengeluarkan orang lain, apalagi dengan sesama muslim. Ini jauh dari nilai-nilai wasathiyah.

Wasathiyah semacam itulah yang ingin dikedepankan dan ini merupakan ajaran Alquran. Implementasinya, MUI harus menjadi tenda besar yang sejati sebagaimana disampaikan oleh Bapak Presiden RI.

Yang sejati ini dalam pengertian menaungi seluruh kelompok umat Islam baik yang bergabung pada ormas- ormas Islam maupun yang belum bergabung dan jumlahnya juga sama besarnya.

Kedua jangan eksklusif atau ingin mengenyahkan, sedikit- sedikit mengkafirkan, sedikit- sedikit menyesatkan orang lain. Ini wawasan- wawasan yang eksklusif dan bertentangan dengan prinsip wasathiyah. “Jadi Munas ini ingin mengukuhkan wawasan keislaman seperti itu,” kata Din.

Ia juga menyampaikan, memang ada keperluan untuk bagaimana menginternasionalisasikan faham budaya Islam di Indonesia ini keluar. Pertama karena ada tangungjawab moral Indonesia ini merupakan negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. 210 juta menjadikan Indonesia ini menjadi negara berpenduduk beragama Islam terbesar di dunia.

Kedua karena ada masalah di dunia Islam, terutama di Timur Tengah. Maka faham keislaman wasathiyah ini perlu ditekankan keluar.

Oleh karena itu, Din menyarankan agar MUI kedepan tidak hanya mengurus umat Islam di Indonesia, tapi juga mengurus umat Islam di dunia. Karena itu harus ‘go internasional’. “Untuk hal ini diperlukan lankah- langkah dan kiat nyata yang sekarang ini sudah kita mulai,” tambahnya.

No comments:

Post a Comment