Pandangan Islam Mengenai Primbon




Primbon sebagai budaya, kelahiran dan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Islam di Nusantara khususnya Pulau Jawa. Primbon yang biasa disebut sebagai 'ilmu slamet' banyak mengadopsi nilai-nilai Islam dengan unsur Hindu dan Budha yang masih melekat.



Pada mulanya primbon yang berupa catatan-catatan pribadi hanya diturunkan dan diwariskan di lingkungan keluarga keraton dan abdi dalem. Baru pada abad ke-20 primbon mulai dicetak dan diedarkan secara bebas. Primbon cetakan tertua berangka tahun 1906 Masehi, diterbitkan oleh De Bliksem. Namun sebagai sebuah buku yang tersusun sistematis, Primbon baru diterbitkan pada tahun 1930-an. Dan sejak saat itu, primbon bukan lagi sekadar turun temurun keluarga, tetapi sudah dijual bebas. Meski mengatur banyak hal, dewasa ini Primbon hanya dipahami sebagai buku untuk mencari hari baik pernikahan atau pun hajatan lainnya. Dalam Primbon, hari baik menjadi langkah dasar setiap usaha manusia. "Zaman dahulu, primbon itu sangat diyakini (masyarakat Jawa). Hal ini karena Primbon didasarkan kelahiran setiap manusia. Setiap kelahiran seorang bayi itu akan sangat dipengaruhi kekuatan alam, dalam arti lingkungan bumi, planet-planet lain mempengaruhi orang atau watak bayi tersebut nantinya," ujar pemerhati Budaya Jawa, Mulyono kepada merdeka.com. Oleh karenanya dalam hal mencari hari baik, satu orang dengan orang lainnya berbeda hari baiknya. "Ada hari-hari tertentu yang tidak baik untuk orang tertentu, tetapi baik untuk saya. Bisa baik untuk saya tidak baik untuk Anda. Dan itu ada rumusnya, bukan ngawang-ngawang," ujarnya. Dalam primbon setiap hari dan pasaran memiliki angka (Neptu) masing. Hari Minggu memiliki angka 5, hari Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6 dan Sabtu 9. Sedangkan pasaran, Kliwon memiliki neptu 8, Legi 5, Pahing 9, Pon 7 dan Wage 4. Nah neptu weton (gabungan hari dan pasaran) ini yang kemudian digunakan untuk menghitung dalam mencari hari baik, calon jodoh hingga meramal sebuah bahtera rumah tangga. Hal ini tentu berbeda dengan pandangan Islam. Dalam Islam tidak mengenal hari buruk. Semua hari adalah sama, baik. Lalu bagaimana pandangan Islam soal primbon ini? "Ketika ada masyarakat yang masih menggunakan primbon sebagai rujukan mencari hari baik, menurut saya itu sah-sah saja. Primbon itukan sebuah budaya dengan pertimbangan logika. Jadi tidak apa-apa," ujar Rois Syuriah Pengurus Besar NU, KH Ahmad Ishomuddin kepada merdeka.com, Senin (21/11) kemarin. Menurut Ahmad Ishomuddin, selama tidak bertentangan dengan akidah Islam, sebuah budaya tidak harus ditinggalkan. Dalam hal mencari hari baik untuk pernikahan misalnya, pemilihan hari adalah sebuah kebebasan bagi manusia. Islam hanya mengajarkan semua hari baik, dan selanjutnya terserah manusia untuk memilih yang mana. "Ya primbon itu kalau dipertentangkan bisa jadi pertentangan, tetapi kalau mau diselaraskan pun bisa. Tergantung kita melihatnya dari sudut pandang mana," ujarnya. Islam sangat menghormati budaya yang selama hal itu tidak bertentangan dengan akidah. Dia pun tidak sepakat bila ada cap musyrik bagi mereka yang masih mempercayai hitungan-hitungan primbon. "Tidak bisa kita menyebut musyrik atau menyekutukan Allah karena dia menggunakan primbon sebagai rujukan. Jangan buru-buru menghakimi sebelum kita tahu yang sebenarnya. Biasanya yang buru menyalahkan menghakimi itu wawasannya belum luas. Asal beda haram, asal tidak dilakukan nabi haram, tidak seperti itu," imbuhnya.

Amalan Paling Dicintai Allah




Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Manakah waktu yang paling afdhal untuk melaksanakan shalat ? Apakah shalat diawal waktu itu lebih afdhal ?
Jawaban.
Melaksanakan shalat sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh syar’i adalah lebih sempurna oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya : ‘ Amalan apakah yang paling dicintai Allah ? Beliau menjawab : Shalat tepat pada waktunya’ [1]
Beliau tidak menjawab (shalat pada awal waktu) dikarenakan shalat lima waktu ada sunnah untuk didahulukan pelaksanaannya dan ada yang sunnah untuk diakhirkan. Misalnya shalat isya’, sunnah untuk mengakhirkan pelaksanaannya sampai sepertiga malam, maka apabila seorang wanita bertanya mana yang lebih afdhal bagi saya, saya shalat isya’ ketika adzan isya’ atau mengakhirkan shalat isya’ sepertiga malam ? Jawabannya : Yang lebih afdhal kalau dia mengakhirkan shalat isya’ sampai sepertiga malam, karena pada suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya’ sehingga para shahabat berkata : ‘Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tidur, lalu beliau keluar dan shalat bersama mereka kemudian bersabda : Sesungguhnya inilah waktu yang paling tepat (untuk shalat isya’) kalaulah tidak memberatkan umatku’. [2]
Demikian pula dianjurkan bagi para laki-laki muslimin yaitu laki-laki yang mengalami kesulitan di saat bepergian mereka berkata : Kami akhirkan shalat atau kami dahulukan ? Kita jawab : Yang lebih afdhal hendaknya mereka mengakhirkan.
Demikian pula kalau sekelompok orang mengadakan piknik dan waktu isya’ telah tiba, maka yang lebih afdhal melaksanakan shalat isya’ pada waktunya atau mengakhrikannya ? Kita menjawab : ‘Yang paling afdhal hendaklah mereka mengakhirkan shalat isya’ kecuali kalau mengakhirkannya mendapat kesulitan, maka shalat subuh, dhuhur, ashar, maghrib, hendaknya dikerjakan pada waktunya kecuali ada sebab-sebab tertentu.
Adapun shalat fardhu selain shalat isya’ dilaksanakan pada waktunya lebih utama kecuali ada sebab-sebab tertentu untuk mengakhirkannya. Adapun sebab-sebab tertentu antara lain.
Apabila cuaca terlalu panas maka yang paling afdhal mengakhirkan shalat dhuhur pada saat cuaca dingin, yaitu mendekati waktu shalat ashar, maka apabila cuaca terasa panas yang afdhal shalat pada cuaca dingin, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Apabila cuaca sangat panas maka carilah waktu yang dingin untuk shalat, karena hawa panas itu berasal dari hembusan neraka jahannam’ [3]
Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat safar, Bilal berdiri untuk adzan maka Rasulullah bersabda : ‘Carilah waktu dingin [4]. Kemudian Bilal berdiri lagi untuk adzan, Rasulullah mengizinkannya.
Seorang yang mendapatkan shalat berjama’ah diakhir waktu sedangkan diawal waktu tidak ada jama’ah, maka mengakhirkan shalat lebih afdhal, seperti seseorang yang telah tiba waktu shalat sedangkan ia berada di daratan, ia mengetahui akan sampai ke satu desa dan mendapatkan shalat berjama’ah di akhir waktu, maka manakah yang lebih afdhal ia mendirikan shalat ketika waktu shalat tiba atau mengakhirkannya sehingga ia shalat secara berjama’ah ?
Kita katakan :’Sesungguhnya yang lebih afdhal mengakhirkan shalat sehingga mendapatkan shalat secara berjama’ah, yang kami maksudkan mengakhirkan di sini demi hanya untuk mendapatkan shalat berjama’ah.
[Disalin dari buku Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Ibadah, Penerjemah Furqan Syuhada, Penerbit Pustaka Arafah]
_________
Foote Note.
[1]. Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqit, bab, Fadhul Shalat Liwaktiha, dan Muslim. Kitabul Al-Iman, bab Launul Iman billahi Ta’ala afdahl Al-Amal.
[2]. Hadits Riwayat Muslim. Kitabul Masyajidi, bab Waktul isya’ wa takhiruka.
[3]. Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqiti Shalat, bab Al-Ibrad bi dhuhri fi siddatil harri, dan Muslim, Kitabul Masajid, bab Istihbab Al-Ibrad di dhuhuri.
[4]. Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqiti Shalat, bab Al-Ibrad bi dhuhuri fi safar, dan Muslim. Kitabul Masajidi, bab Istihbab Al-Ibrad bi dhuhuri fi siddatil harri


Sumber: https://almanhaj.or.id/391-manakah-waktu-yang-paling-afdhal-untuk-melaksanakan-shalat.html

Keistimewaan Memulai Makan dari Pinggir Piring Menurut Rasul




Rasulullah SAW merupakan teladan bagi seluruh umat manusia. Beliau memiliki sifat yang sempurna dalam berbagai aspek kehidupan. Apapun yang telah beliau lakukan dan perintahkan kepada umatnya pastilah membawa kebaikan.

Tidak hanya dalam urusan yang besar seperti ibadah saja, Rasulullah SAW juga memberikan teladan mengenai persolan ringan terkait keseharian seperti adab ketika makan. Beliau memerintahkan agar ketika makan, hendaknya untuk memulainya dari pinggir piring.

Ternyata ada keistimewaan tersembunyi di balik perintah Rasulullah yang sederhana ini. Lantas keistimewaan apakah yang akan diperoleh mereka yang memulai makan dari pinggir piring tersebut? Simak informasi selengkapnya di sini.

Ternyata, keistimewaan memulai makan dari pinggir piring menurut Rasulullah SAW adalah niscaya orang yang melakukannya akan mendapatkan keberkahan.

Dari Abdullah bin Busrin, dia menceritakan, “Nabi mempunyai wadah besar yang disebut Al-Gharra, yang dibawa oleh empat orang. Ketika mereka berada pada pagi hari, mereka disuguhi wadah besar itu -yang telah berisi bubur- dan mereka pun berkumpul mengelilingi wadah tersebut. Setelah jumlah mereka banyak, maka Rasulullah duduk berlutut. Lalu seorang badui berucap, ‘Duduk macam apa itu?’ Maka Nabi menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku hamba yang mulia, dan Dia tidak menjadikan aku sebagai hamba yang sombong lagi kasar.’ Selanjutnya beliau bersabda, ‘Makanlah dari tepi wadah tersebut dan jangan mengambil dari tengahnya, niscaya akan diberikan berkah padanya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dalam kitab Fiqhunnisa karya Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, disebutkan, dari Ibnu Abbas ra, Nabi Saw pernah berkata,

“Berkah itu turun pada bagian tengah makanan, karenanya makanlah dari tepi wadah makanan tersebut dan jangan mengambil dari tengahnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Selain memulai makan dari pinggir piring, ternyata ada beberapa adab makan lagi yang berbuah pahala apabila di lakukan. Yakni senantiasa mengawali dengan membaca basmalah dan mengakhirinya dengan mengucapkan hamdalah.

Dari Umar bin Abi Salamah, dia menceritakan, Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Bacalah Nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (Muttafaqun Alaih)

Dari Aisyah dia menceritakan, Rasulullah Saw bersabda ,
“Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka hendaklah dia membaca basmalah pada permulaannya. Dan apabila dia lupa membacanya, maka hendaklah dia membaca ‘Bismillahi ‘alaa awaalihi wa akhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhirnya).”

Abu Umamah RA meriwayatkan bahwa jika selesai makan, Nabi SAW biasanya mengucapkan, “Alhamdulilahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira makfiyyin wa la muwadda’in la mustaghnan’anhu rabbana,” (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang tiada terhingga, baik dan penuh berkah. Ya Tuhan kami, kami tidak mampu membalas anugerahMu, tidak mampu meninggalkannya dan tidak mampu menghindarinya),” (HR Al-Bukhari).

Demikianlah informasi mengenai keistimewaan di balik anjuran memulai makan dari pinggir piring menurut Rasullah SAW. Sudah sepatutnya sebagai kaum muslimin kita senantiasa meneladani apa yang sudah menjadi sunnah beliau agar mendapatkan keberkahan di dunia serta akhirat kelak.

Beginilah Kondisi Dunia Tanpa Setan dan Iblis





Banyak manusia berpikir, jika iblis sedemikian jahat mengapa Allah SWT tidak membinasakannya saja?

Tapi Allah SWT tentu tidak menciptakan makhluk ini tanpa fungsi. Pernah suatu ketika, Nabi Sulaiman AS memohon kepada Allah untuk menangkap iblis dan memenjarakannya.

Nabi berharap ketiadaan iblis akan membuat manusia hidup lebih tentram dan damai tanpa dosa. Namun, apa yang terjadi setelahnya membuat Nabi Sulaiman kembali melepaskan makhluk tersebut.

Sebenarnya kondisi apa yang dialami dunia tanpa iblis dan setan?

Nabi Sulaiman Tetap Memohon

Kisah ini dipetik dari buku Kisah-kisah Allah karya Ahmad Mir Khalaf Zadeh & Qasim Mir Khalaf Zadeh. Dalam sebuah riwayat diceritakan bagaimana Nabi Sulaiman AS memiliki kekuatan penuh menundukan kalangan manusia, jin dan hewan.

Bahkan setan-setan kala itu menjadi pekerjanya untuk membawa dan mengimpor batu batuan, pasir serta bahan bangunan lain untuk membangun bangunan bangunan megah.

Namun meski dengan kekayaan dan kekuasaan tersebut, ternyata Nabi Sulaiman mencari makan dari rezeki yang diperolehnya dengan berjualan tas di pasar. Padahal, didapur sang raja setiap hari selalu dimasak 4.000 unta, 5.000 sapi, dan 6.000 kambing.

Di dalam buku tersebut dituliskan sebuah riwayat saat Nabi Sulaiman AS memohon kepada Allah agar diperbolehkan memenjarakan Iblis.

“Ya Allah, Engkau telah menundukkan padaku manusia, jin, binatang buas, burung-burung, dan para malaikat. Ya Allah aku ingin menangkap dan memenjarakan iblis, merantai serta mengikatnya, sehingga manusia tidak berbuat dosa dan maksiat lagi.”

Namun, permintaan ini tidak serta merta dikabulkan oleh Sang Pencipta. Allah Ta'alaa kemudian mewahyukan kepada Nabi Sulaiman, bahwa tidak ada baiknya jika iblis ditangkap atau dibinasakan "Wahai Sulaiman, tidak ada baiknya jika iblis ditangkap".

Tapi Nabi Sulaiman tetap memohon...

Apa yang Telah Terjadi?

"Ya Allah, keberadaan mahluk terkutuk ini tidak ada kebaikan didalamnya".

Allah berfirman, "Jika iblis ditangkap maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan. Nabi Sualiman berkata, "Yaa Allah. aku ingin menangkap mahluk terkutuk ini selama beberapa hari saja. Kemudian Allah mengizinkan Nabi Sulaiman untuk menangkap iblis dan memenjarakannya.

Keesokan harinya, Nabi Sulaiman mengutus pekerjanya untuk berjualan tas ke pasar. Namun sesampainya di pasar, ada hal yang tidak biasanya terjadi. Pasar tersebut kosong tanpa penghuni. Semua pedagang menutup dagangan mereka. Pekerjanya lalu memberitahukan hal itu kepada Nabi Sulaiman alaihissalam.

Nabi Sulaiman AS bertanya, "Apa yang telah terjadi?"

Pekerjanya menjawab, "Kami tidak tahu".

Pada malam itu, Nabi Sulaiman tidak makan dan hanya minum air. Pada hari berikutnya, anak buah Nabi kembali ke pasar untuk berjualan tas. Namun hal yang sama kembali terjadi. Pasar kosong dan tidak berpenghuni.

Ternyata setelah dicari tahu, manusia lebih banyak memilih menutup pasar. Mereka pergi ke masjid, dan menuju kuburan untuk mengingat kematian, menangis dan meratap. Mereka sibuk mempersiapkan bekal menuju ke akherat tanpa memperdulikan lagi keindahan duniawi.

Hal ini tentu membuat sang Nabi keheranan. “Apa yang sedang terjadi” pikirnya. Nabi Sulaiman lalu bertanya kepada Allah perihal ini. Kenapa orang orang tidak bekerja mencari nafkah ?

Menangkap Iblis tak Mendatangkan Kebaikan

Lalu, Allah mewahyukan kepada Nabi Sulaiman, "Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak bergairah bekerja mencari nafkah. Bukankan sebelumnya telah Ku-katakan kepadamu bahwa menangkap iblis tidak mendatangkan kebaikan.

Mendengar jawaban Allah, Nabi Sulaiman kemudian melepaskan Iblis dan bala tentaranya. Dan benar saja, keesokan harinya pasar kembali ramai. Manusia kembali bersemangat bekerja mencari harta dunia untuk makan dan memenuhi kebutuhannya. Jadi jangan berprasangka buruk terhadap ciptaan Allah meski dia kita anggap tidak berguna sekalipun. Karena Allah lah yang maha tahu apa yang Dia ciptakan.

Raih Kasih Sayang Allah dengan Melakukan Hal Ini





Memasuki bulan suci Ramadhan 1437 H/2016, Ustaz Bendri Jaisyurrahman dari Ar-Rahman Qur'anic Learning (AQL) menghimbau kepada seluruh umat Islam agar mempersiapkan diri tidak hanya lahiriah tetapi juga rohaniah.

Sebab, Ramadhan merupakan bulan penuh kemuliaan yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

"Jangan sampai kita gagal untuk meraih ridha dan kasih sayang Allah SWT," kata Bendri saat dihubungi Republika, Rabu (1/6).

Secara rohaniah, Bendri mengatakan, umat Islam harus memperkuat tingkat ketaatannya kepada Allah SWT selama bulan Ramadhan melebihi ketaatan di bulan-bulan sebelumnya. Untuk mencapai ketaatan tersebut harus dengan meminta pertolongan Allah SWT.

Salah satunya dengan memperbanyak doa dan istighfar agar hatinya bersih. Orang-orang yang tidak bisa membersihkan hatinya maka tidak ada perbedaan memasuki bulan Ramadhan dengan bulan-bulan lain.

Selain persiapan rohaniah, umat Islam juga diminta mempersiapkan manajemen waktu. Jangan sampai waktu yang seharusnya untuk fokus beribadah malah justru berantakan karena sibuk dengan urusan duniawi seperti lembur pekerjaan.

Menurut Bendri, sangat rugi sekali mereka yang menghabiskan waktu malamnya di bulan Ramadhan untuk urusan duniawi. Sebab, malam-malam Ramadhan merupakan malam yang baik untuk beribadah.

"Urusan pekerjaan sebaiknya diselesaikan sebelum memasuki ramadhan. Di bulan ramadhan ini sebisa mungkin mengurangi aktivitas berbau duniawi terutama pada 10 hari terakhir," jelas Bendri.

Mempersiapkan kondisi keluarga menjadi salah satu agenda penting yang harus dilakukan menjelang Ramadhan. Masing-masing anggota keluarga harus saling mendukung dalam mencapai kasih sayang dan ridha Allah di bulan Ramadhan.

Sementara bagi yang memiliki anak usia dini, menurut Bendri, bulan Ramadhan adalah momen yang tepat untuk mengajarkan ibadah puasa. Anak-anak harus disosialisasikan sejak jauh hari agar dapat beradaptasi dengan kondisi puasa. Ini penting karena puasa dapat melatih anak menahan hawa nafsu dan mengendalikan diri.

Memasuki Ramadhan, Bendri mengatakan, akan lebih baik untuk mempersiapkan harta. Hal ini perlu juga dilakukan agar selama bulan Ramadhan umat Islam tidak lagi disibukkan dengan kebutuhan duniawi. Umat Islam harus sudah mulai membuat perencanaan anggaran selama bulan Ramadhan.

"Ini tujuannya agar ibadah selama Ramadhan bisa dijalankan dengan khusyuk dan maksimal," tutup dia.

Alasan Ustaz Erick Yusuf Izinkan Santrinya Utak Atik Gadget





Pendiri dakwah kreatif iHAQI Ustaz Erick Yusuf memaparkan konsep pendirian SMP Kreatif iHAQI yang memadukan pendidikan agama dengan kemajuan teknologi.

"Beberapa hal dalam internet memang bernilai negatif, tapi ini adalah bagaimana mengarahkan anak agar fokus dalam pemanfaatan teknologi untuk kebaikan. Karena semua ilmu dari Allah itu baik, bagaimana proporsinya yang diarahkan untuk kebaikan," jelas Ustaz Erick, Ahad (11/10).

Dengan konsep pendidikan yang juga universal, ia yakin, para siswa tidak menutup diri dengan kemajuan zaman dan teknologi. Sementara, jika anak diputuskan hubungannya dengan teknologi, Ustaz Erick meyakini bahwa anak tidak akan bisa berkembang dan menyesuaikan diri dengan zamannya.

Oleh karena itu, berbeda dengan kebanyakan pesantren pada umumnya, Ustaz Erick mengatakan para siswa di SMP Kreatif iHAQi diperbolehkan untuk menggunakan gadget dan laptop. Selain itu, keberadaan gadget juga akan membantu terjalinnya komunikasi antara siswa dan keluarga mereka selama di pesantren.

Akan tetapi, Ustaz Erick mengatakan penggunaan gadget dan laptop di pesantrennya akan diatur dalam sebuah ketentuan sehingga penggunaan ponsel, laptop dan internet dapat berjalan baik dan tidak disalahgunakan.

Selain itu, Erick mengatakan konsep universal ini juga menunjukkan bahwa model pendidikan di SMP Kreatif iHAQi diambil dari konsep-konsep pendidikan terbaik yang ada di dunia. Dalam pendidikan akademis, Erick mengatakan pesantrennya mengadopsi model pendidikan terbaik dari Finlandia.

Salah satu dari konsep pendidikan Finlandia yang diterapkan dalam pesantren ini ialah seluruh tenaga pengajar yang ada minimal berlatar belakang pendidikan S2.

Selain itu, serupa dengan model pendidikan Finlandia, Erick mengatakan tidak ada konsep juara bagi para siswa. Masih mengambil konsep pendidikan Finlandia, Erick juga mengatakan tidak akan ada pekerjaan rumah berlebihan bagi para siswa. Hal tersebut dilakukan Erick karena ia meyakini kedua hal tersebut akan menjadi stimulus dalam meningkatkan kreativitas para siswa.

Sedangkan untuk pendidikan agama, Erick mengatakan pesantrennya mengacu pada model pendidikan agama terbaik dari model pendidikan dari Timur Tengah. Pasalnya, model pendidikan agama dari Timur Tengah dapat menstimulus siswa tidak hanya untuk menghafal Alquran, tetapi juga memahami kandungan ayat-ayat Aquran.

"Jadi yang universal itu dalam segi wawasannya, terbuka untuk menyerap mana yang baik, membuang mana yang jauh. Kalau untuk akidah tidak ada toleransi, harus sesuai syariah," tegas Erick.

Konsep pendidikan terakhir yang diusung SMP Kreatif iHAQi ialah kreatif. Melalui pendidikan yang tepat, Erick ingin mengarahkan para siswa untuk menjadi seorang inventor, bukan seorang yang konsumtif.
Untuk memberi stimulus para siswa, Erick mengatakan pesantrennya secara berkala akan mengundang para ahli di bidangnya untuk melakukan kuliah umum di SMP Kreatif iHAQi.

Dengan bertemu dan belajar langsung dari para ahli, Erick yakin para siswa akan dapat menyerap ilmu dan mempraktikkannya dengan lebih baik. Kreativitas siswa, lanjut Erick, juga akan ditunjang dengan metode pembelajaran yang juga dilakukan di luar ruangan dengan pemandangan yang menyejukkan mata.

Untuk menampung dan mengembangkan kreativitas para siswa, SMP Kreatif iHAQi juga dilengkapi dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa kegiatan ekstrakulikuler tersebut ialah teknik animasi, robotik, bela diri, bahasa asing, takhossu Alquran, kuliner, teater, dan performance art.

Islam Itu Moderat, Bukan Liberal



Islam Itu Moderat, Bukan Liberal

Agama Islam tidak mengajarkan umatnya untuk kaku dalam kehidupan sosial dan bernegara. Islam mengajarkan sikap-sikap moderat.

Yang telah diterapkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Itu Islam moderat yang dicontohkan Rasulullah melalui akidah dan akhlaknya," kata Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof Ahmad Satori Ismail, Jumat (3/4).

Definisi Islam moderat sendiri, ujarnya, sebagai suatu tindakan yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunnah dalam hadists.

Sementara, Satori berpendapat, Islam moderat sangatlah jauh berbeda dengan Islam liberal yang melakukan penafsiran sebebas-bebasnya sehingga apa saja bisa ditafsirkan.

"Misalnya, tidak boleh menyerang orang yang tidak menyerang, dalam perang tidak boleh kita membunuh musuh yang tidak bersenjata, tidak boleh membunuh orang tua‎ dan pokoknya banyak sekali aturan-aturan yang menunjukan bawah Islam itu adil," katanya.

Maka, ia sepakat bahwa dakwah dalam Islam mesti lembut seperti yang disampaikan dalam Alquran Surat Al Imron. Sedangkan untuk konsep berjihad dalam konteks kekinian, ia menganjurkan agar umat Islam melawan korupsi, menghilangkan kebodohan, dan memperkuat perekonomian umat.

“Jadi jihad itu banyak macamnya. Jihad dengan ilmu ada, dengan pendidikan, jihad bidang ekonomi,” terangnya.