Showing posts with label Rasullullah SAW. Show all posts
Showing posts with label Rasullullah SAW. Show all posts

Keistimewaan Memulai Makan dari Pinggir Piring Menurut Rasul




Rasulullah SAW merupakan teladan bagi seluruh umat manusia. Beliau memiliki sifat yang sempurna dalam berbagai aspek kehidupan. Apapun yang telah beliau lakukan dan perintahkan kepada umatnya pastilah membawa kebaikan.

Tidak hanya dalam urusan yang besar seperti ibadah saja, Rasulullah SAW juga memberikan teladan mengenai persolan ringan terkait keseharian seperti adab ketika makan. Beliau memerintahkan agar ketika makan, hendaknya untuk memulainya dari pinggir piring.

Ternyata ada keistimewaan tersembunyi di balik perintah Rasulullah yang sederhana ini. Lantas keistimewaan apakah yang akan diperoleh mereka yang memulai makan dari pinggir piring tersebut? Simak informasi selengkapnya di sini.

Ternyata, keistimewaan memulai makan dari pinggir piring menurut Rasulullah SAW adalah niscaya orang yang melakukannya akan mendapatkan keberkahan.

Dari Abdullah bin Busrin, dia menceritakan, “Nabi mempunyai wadah besar yang disebut Al-Gharra, yang dibawa oleh empat orang. Ketika mereka berada pada pagi hari, mereka disuguhi wadah besar itu -yang telah berisi bubur- dan mereka pun berkumpul mengelilingi wadah tersebut. Setelah jumlah mereka banyak, maka Rasulullah duduk berlutut. Lalu seorang badui berucap, ‘Duduk macam apa itu?’ Maka Nabi menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku hamba yang mulia, dan Dia tidak menjadikan aku sebagai hamba yang sombong lagi kasar.’ Selanjutnya beliau bersabda, ‘Makanlah dari tepi wadah tersebut dan jangan mengambil dari tengahnya, niscaya akan diberikan berkah padanya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dalam kitab Fiqhunnisa karya Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, disebutkan, dari Ibnu Abbas ra, Nabi Saw pernah berkata,

“Berkah itu turun pada bagian tengah makanan, karenanya makanlah dari tepi wadah makanan tersebut dan jangan mengambil dari tengahnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Selain memulai makan dari pinggir piring, ternyata ada beberapa adab makan lagi yang berbuah pahala apabila di lakukan. Yakni senantiasa mengawali dengan membaca basmalah dan mengakhirinya dengan mengucapkan hamdalah.

Dari Umar bin Abi Salamah, dia menceritakan, Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Bacalah Nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (Muttafaqun Alaih)

Dari Aisyah dia menceritakan, Rasulullah Saw bersabda ,
“Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka hendaklah dia membaca basmalah pada permulaannya. Dan apabila dia lupa membacanya, maka hendaklah dia membaca ‘Bismillahi ‘alaa awaalihi wa akhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhirnya).”

Abu Umamah RA meriwayatkan bahwa jika selesai makan, Nabi SAW biasanya mengucapkan, “Alhamdulilahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira makfiyyin wa la muwadda’in la mustaghnan’anhu rabbana,” (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang tiada terhingga, baik dan penuh berkah. Ya Tuhan kami, kami tidak mampu membalas anugerahMu, tidak mampu meninggalkannya dan tidak mampu menghindarinya),” (HR Al-Bukhari).

Demikianlah informasi mengenai keistimewaan di balik anjuran memulai makan dari pinggir piring menurut Rasullah SAW. Sudah sepatutnya sebagai kaum muslimin kita senantiasa meneladani apa yang sudah menjadi sunnah beliau agar mendapatkan keberkahan di dunia serta akhirat kelak.

Cara Rasulullah SAW Tidur, Paling Proporsional dan Bermanfaat untuk Badan, Organ dan Kekuatan




Tidur Rasulullah saw merupakan cara tidur yang sangat baik bagi kesehatan. Setiap posisi dan waktu yang beliau pilih untuk tidur sangat bermakna bagi kesehatan bahkan jauh sebelum ilmu kedokteran berkembang seperti sekarang. Ibnu Qayyim berkata, “Barangsiapa yang memperhatikan pola tidur dan bangun beliau, niscaya mengetahui bahwa tidur beliau tersebut paling proporsional dan paling bermanfaat untuk badan, organ, dan kekuatan.”
Mau tahu banyak bagaimana cara-cara Rasulullah saw tidur? Kalau begitu ayo kita intip. Ada beberapa kebiasaan yang dilakukan Rasulullah saw berkenaan dengan tidur yang mungkin kita tidak tahu selama ini namun perlu kita ketahui sekarang agar kita bisa lebih mengenal orang yang paling kita sayangi didunia ini setelah Allah swt ini, yaitu:
• Rasulullah saw mempunyai kebiasaan tidur pada awal malam kemudian bangun pada permulaan paruh kedua malam. Pada saat itu beliau bangun lalu bersiwak, berwudhu dan melaksanakan sholat tahajjjud
• Rasulullah saw selalu tidur dalam keadaan miring, terutama dalam posisi miring ke kanan
• Terus berdzikir sampai jatuh tertidur
• Rasulullah saw tidak pernah tidur dalam kondisi perut penuh makanan dan minuman
• Rasulullah saw tidak pernah tidur di atas tanah tanpa alas dan tidak pernah tidur di atas kasur yang terlalu tinggi pula. Minimal beliau memakai kasur yang berisi sabut, mengunakan bantal dan kadang-kadang meletakkan tangannya di bawah pipi.
Setelah tahu kebiasaan-kebiasaan Rasulullah SAW dalam hal tidur mungkin kita juga perlu tahu bagaimana aturan-aturan tentang tidur yang telah diajarkan oleh Rasulullah:
1. Tidur Terbaik
Tidur terbaik adalah tidur yang dimulai dengan posisi miring ke kanan. Tujuannya adalah agar makanan dapat masuk ke dalam lambung dengan sempurna. Hal ini dikarenakan posisi lambung yang berada agak ke samping kiri. Kemudian padanya dianjurkan untuk mengubah posisi ke kiri untuk mempercepat proses pencernaan. Baru kemudian tidur dilanjutkan dengan posisi miring ke kanan kembali. Sebagai peringatan, jangan terlalu sering tidur dalam posisi miring ke kiri karena hal itu dapat membahayakan organ hati yang berada di sisi kiri dekat dengan lambung. Pada saat itu organ-organ tubuh akan mengarah pada hati dan beresiko mengalirkan bahan berbahaya ke dalamnya.
Ada yang menyatakan bahwa hikmah tidur dengan posisi miring ke kanan adalah agar orang yang melakukannya tidak terlalu lelap dalam tidurnya, karena posisi hati/jantung di dalam tubuhnya agak miring ke kiri. Jadi jika seseorang tidur dengan posisi miring ke kanan, maka jantungnya akan terdorong dari tempatnya di sebelah kiri. Hal itu akan mencegah orang yang bersangkutan tidur terlalu lama dan terlalu lelap.
Posisi tidur Nabi saw setelah miring kesebelah kanan Kemudian, beliau berbalik bertumpu sedikit pada sisi kiri, supaya dengan begitu proses pencernaan lebih cepat karena condongnya lambung di atas hati. Kemudian beliau kembali tidur bertumpu pada sisi kanan lagi, agar makanan segera larut dari lambung; jadi posisi permulaan dan posisi terakhir tidur bertumpu pada sisi kanan.
a. Untuk jalan nafas, tidur miring mencegah jatuhnya lidah kebelakang yang dapat menyumbat jalan nafas. Lain halnya jika tidur pada posisi terlentang maka relaksasi lidah pada saat tidur dapat mengakibatkan penghalangan jalan nafas, penampakan dari luar berupa mendengkur. Jika suami Anda suka mendengkur atau mengorok, coba cara ini.
Orang yang mendengkur mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen malah kadang-kadang dapat terjadi henti nafas untuk beberapa detik yang akan membangunkan orang yang tidur dengan posisi demikian. Orang tersebut biasanya akan bagun dengan keadaan pusing karena kurangnya pasokan oksigen ke otak. Tentunya ini sangat mengganggu tidur kita.
b. Untuk jantung, tidur miring kesebelah kanan membuat jantung tidak tertimpa organ lainnya ini karena posisi jantung yang memang berada lebih disebelah kiri. Tidur bertumpu pada sisi kiri menyebabkan curah jantung yang berlebihan karena darah yang masuk ke atrium juga banyak, sebab paru-paru kanan berada diatas sedangkan paru-paru kanan mendapatkan pasokan darah yang lebih banyak dari paru-paru kiri.
c.Bagi kesehatan paru-paru: paru-paru kiri lebih kecil dibandingkan dengan paru-paru kanan. Jika tidur miring kesebelah kanan, jantung akan jatuh kesebelah kanan, itu tidak menjadi masalah karena paru-paru kanan besar, lain halnya kalau bertumpu pada sebelah kiri, jantung akan menekan paru kiri yang berukuran kecil, tentu ini sangat tidak baik.
2. Selain posisi tidur yang miring ke kanan Nabi saw juga meluruskan punggungnya pada saat tidur, manfaatnya adalah supaya organ-organ dalam tidak tertekan, posisi tersebut juga melancarkan peredaran darah.
3.Sedikit menekuk kaki
Di dunia kedokteran seorang dokter akan meminta pasien menekuk kakinya jika dokter tersebut akan memeriksa perut pasien. Fungsi dari sedikit menekuk kaki adalah untuk mengendurkan otot-otot perut sehingga lebih mudah untuk diperiksa. Menekuk kaki sedikit pada saat tidur menolong organ-organ dan otot otot perut itu sendiri untuk relaksasi lebih sempurna. Sehingga tidur kita lebih nyaman.
4. Menggunakan telapak tangan sebagai bantal.
Kita tentu sering dengar bahwa posisi leher sangat mempengaruhi kualitas tidur. Leher yang tidak lurus pada saat tidur menyebabkan sakit leher pada saat bangun dan biasanya ini menetap beberapa lama sehingga mengganggu aktifitas. Maha suci Allah yang menciptakan tangan sedemikian rupa sehingga apabila kita melihat orang yang tidur dengan telapak tangan maka antara kepala, leher dan punggung tercipta garis lurus.
5. Tidur Terburuk
Tidur terburuk adalah tidur dalam posisi telentang. Posisi ini hanya diperkenankan untuk beristirahat dan bukan untuk tidur. Namun demikian dibandingkan dengan posisi tidur telentang tidur dengan posisi tengkurap adalah posisi tidur yang paling buruk. Selain itu, selain bagi orang sakit, tidur di pagi dan sore hari adalah hal terburuk. Tidur di pagi hari dapat membahayakan tubuh karena kebiasaan ini dapat membuat tubuh lemah dan merusak organ-organ tubuh. Bahkan jika tidur di pagi hari dilakukan sebelum buang air besar, gerak badan/olah raga dan mengaktifkan lambung dengan makanan, maka kebiasaan tersebut dapat memunculkan berbagai macam penyakit. Sedangkan tidur di sore hari sesudah sholat Ashar dapat membuat orang kehilangan akal.

Bagaimanakah Cara Rasul Makan Kurma?




Mungkin selama ini kita hanya makan kurma secara langsung saja. Tapi ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakan kurma dengan berbagai cara:

1) Mencampur dengan keju, dalam HR. Abu Dawud no.3837 dan Ibnu Majah no.3343
Imam ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa zubdah (keju) dapat berfungsi melunakan tinja, melemaskan syaraf dan pembengkakan empedu dan kerongkongan. Jika dioleskan gusi bayi, akan mempercepat pertumbuhan gigi.

2) Mencampur dengan mentimun, HR. Muslim no.2043, HR. Bukhari no.5440.
Rasa panas yang ada pada kurma dapat menyeimbangkan rasa dingin pada mentimun, karena mentimun agak sulit dicerna di lambung , dingin dan kadang berbahaya. Sungguh pelajaran yang agung dari Rasul kita.

3) Memakan kurma dengan semangka, HR. Abu Dawud no. 3836.

4) Menganjurkan berbuka puasa dengan kurma basah (ruthab), kalau tidak ada dengan kurma kering, kalau tidak ada dengan meminum air seteguk demi seteguk. HR Abu Dawud no.2356.

Hadits ini mengandung hikmah agung secara kesehatan,yang diperlukan oleh orang yang berpuasa adalah zat gula yang mudah diserap oleh darah, lambung dan usus. Zat gula (glukosa dan fruktosa) memerlukan waktu 5-10 menit untuk diserap dalam usus manusia ketika dalam keadaan kosong. Sehingga waktu tersebut dapat digunakan sementara untuk menjalankan sholat maghrib.

5) Melarang memakan kurma bagi orang yang baru sembuh dari sakit,HR. Abu Dawud no.3856.

6) Boleh memakan kurma meskipun sakit mata, HR. Ibnu Majah no.3343.

7) Memerintahkan jangan membuang kurma yang di dalamnya terdapat ulat, namun membersihkannya, HR. Abu Dawud no.3832.

6). Kurma sangat baik untuk menjadi bekal, bahkan pada waktu perang. HR. Muslim no.1910.

7). Kurma untuk mentahnik bayi, HR. Al Bukhari no. 5467,3909,5469,5470 dan Muslim no. 2145,2146

Tahnik adalah mengunyah sesuatu kemudian meletakkannya di langit-langit mulut si bayi. Imam Nawawy rahimahullah dalam kitab syarah Muslim menjelaskan bahwa: Anjuran mentahnik bayi yang baru dilahirkan adalah sunnah, berdasarkan ijama’; Hendaknya yang mentahnik adalah orang yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan; Lebih utama mentahnik dengan kurma; Memberikan kesempatan kepada orang yang shalih untuk memberi nama.

8. Disunahkan memakan kurma sebelum berangkat untuk Idul Fitri dalam jumlah ganjil, HR Bukhari no.953 dan Ibnu Majah no. 1354.

9. Sebagian dari Kurma dapat dijadikan arak, dimana ia telah diharamkan dalam Islam, HR Bukhari no.2431 dan HR. Muslim no. 1071.

Mengenal Kurma Nabi




Kurma ajwah dijuluki kurma Nabi karena konon jenis kurma ini adalah kesukaan Nabi Muhammad SAW. Dan beliau sendirilah yang menanam jenis ajwah ini di Madinah.

Penampilan ajwah sangat berbeda dengan kurma biasa. Ukurannya lebih kecil dan bentuknya lebih bulat, kira-kira sebesar setengah ibu jari. Kulit ajwah berwarna coklat tua kehitaman.

Jenis kurma ini cocok bagi mereka yang tidak terlalu suka manis karena dari semua varian kurma yang tersedia Kurma Nabi yang paling rendah tingkat kemanisannya.

Keutamaan memakan kurma ajwah ini bisa ditilik dari Hadits Nabi, “Barang siapa yang makan pagi dengan tujuh butir kurma Ajwah, maka tak akan mencelakainya racun dan sihir di hari itu,” (HR Bukhari)

Kurma ajwah memiliki khasiat untuk pengobatan, seperti untuk meningkatkan kadar gula darah, mengobati katarak pada mata dengan memakan paling sedikit 3 buah kurma selama beberapa bulan. Nabi menganjurkannya memakan 7 buah kurma ajwah di pagi hari.

Kurma ini bisa menangkal sihir, karena kurma ini membawa keberkahan bagi yang memakannya, disebabkan Nabi SAW sendiri yang menanamnya, bibit dari kurma ini telah bersentuhan dengan tangan Nabi SAW.

Pohon kurma ajwah ini masih ada di Madinah sampai sekarang. Pohon kurma ajwah sudah berusia 14 abad lebih sejak pertama kali ditanam oleh Nabi SAW. Jumlahnya hanya sekitar seratusan pohon. Dan harganya lebih tinggi dari kurma biasa. [Sumber : Yusuf Mansur Network]

Rasul Berbuka dengan Kurma, Bukan dengan yang Manis




Dari Salman bin Amir Adh Dhabiyyi, dari Rasulullah, beliau bersabda: “Bila seseorang di antara kamu berbuka puasa, hendaklah dengan buah korma, bila tidak ada, maka berbukalah dengan air, sebab air itu suci,” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Lima).

Shaum Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi setiap muslim. Kewajiban shaum dikenakan terhadap semua kalangan umat islam. Rukhsoh diberikan pada umat islam yang sakit parah, bepergian (safar), haidh dan Nifas.

Kewajiban ibadah ramadhan juga telah dibarengi dengan berbagai ibadah sunnah lainnya antara lain: shalat tarawih, tilawah Quran, mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.

Berbukalah dengan yang kurang manis

Ibadah berbuka shaum merupakan salah satu anjuran dari Rasululllah sehingga selain dapat menjaga kesehatan, juga dapat mendapatkan pahala disisi Allah karena melaksanakan sunnah Nabi. Dalam sebuah hadits, Rasulullah menyebutkan beliau berbuka shaum dengan beberapa butir kurma segar (ratb). Kurma ini bersifat panas dan lembab, memiliki rasa sedikit manis.

Rasa manis yang sedikit ini disebabkan karena kandungan gula sederhana (glukosa) yang dimilki. Hal ini memiliki keuntungan bagi tubuh karena saat shaum, insulin dalam darah sedang turun. Sehingga ketika tubuh mendapat asupan makanan dengan kadar gula sederhana tidak terlalu tinggi, tubuh akan merespon dengan normal dan kadar insulin perlahan naik.

Namun beda kondisinya jika ketika berbuka kita mengonsumsi makanan yang teramat manis, misalnya manisan, sirup atau sejenisnya. Ketika makanan itu diserap ke dalam darah maka tubuh akan segera memproduksi insulin dalam jumlah besar.

Naiknya kadar insulin tubuh ini tentu membuat kerja kelejar pankreas akan semakin banyak. Banyak energi yang diperlukannya untuk memproduksi. Otomatis konsentrasi energi tubuh lebih diarahkan pada pembauatn insulin. Nah, setelah insulin naik, dan banyaknya gula sudah diatas kebutuhan, maka insulin segera mengubah gula ini menjadi glikogen yang akan disimpan dalam lemak di bawah kulit. Oleh karena itu jangan heran jika orang yang sering berbuka shaum dengan makanan manis mudah mengalami tumpukan lemak terutama di bagian perut dan pinggang.

Jika ruthab ini tidak ditemui, maka Rasulullah menggantinya dengan tamr (kurma kering). Kurma tamr bersifat panas dan kering. Sama dengan ratb, kurma ini tetap mengandung sedikit gula sederhana (glukosa). Hanya dari kelembaban, tamr lebih sedikit dibanding ratb, maka dalam mengonsumsinya harus dibarengi dengan konsumsi air.

Dan jika kurma tidak ada, maka Rasulullah mengonsumsi air. Air yang dimaksud adalah air minum bening yang belum dicampur dengan bahan lain termasuk teh, gula, susu, kopi, sirop dsb. Air bening memiliki fungsi untuk menetralkan keasaman lambung juga meminimalisasi gesekan pada permukaan saluran cerna akibat kosongnya makanan serta gerak peristaltis. Air juga berfungsi mempersiapkan dan menyalut saluran cerna agar siap menerima makanan yang lebih “kompleks” berikut menyiapkan usus untuk menyerap makanan secara optimal. Air juga dapat membuang sisa toksin yang mungkin tersisa di sepanjang usus. Secara Medis, air merupakan obat diuretik terbaik yang akan mengeluarkan sisa metabolisme dari tubuh terutama lewat sistem eksresi urin.

Jika yang dikonsumsi adalah air yang mengandung campuran maka proses ini akan kurang bekerja optimal. Misal banyaknya gula pada sirup atau jus, atau lemak pada susu dapat menjadikan tubuh “shock” serta menaikan kadar enzim atau insulin dalam waktu cepat. Hal ini sama saja kejadiannya dengan mengonsumsi makanan manis saat berbuka.

Tidak ada riwayat yang shahih bahwa Rasulullah maupun para sahabat makan makanan yang berlebih pada saat berbuka.

Inilah Nasib Wanita Arab Sebelum Islam Datang




Secara umum, kehidupan kaum wanita dalam masyarakat arab pra-Islam sangatlah buruk. Kaum wanita merupakan objek-objek (perbuatan) kesalahan dan penindasan. Hak-hak mereka dilanggar dan harta-harta mereka diperas. Hak-hak warisan mereka dicabut, mereka (setelah bercerai atau menjadi janda) untuk memilih suami baru, dan mereka tidak memiliki hak waris seperti mewarisi harta kekayaan atau hewan tunggangan.

Mereka juga mengalami perlakuan-perlakuan yang tidak baik. Kaum pria dapat menikmati seluruh hak-haknya, sedangkan kaum wanita tidak dapat menikmati hak apa pun. Bahkan dalam hal makanan, terdapat makanan-makanan tertentu yang dibolehkan bagi kaum pria, namun dilarang untuk dikonsumsi kaum wanita.

Kaum pria juga memiliki hak untuk mengawini sejumlah wanita. Mereka juga membenci gadis-gadis yang baru lahir hingga pada tingkatan mereka bisa menguburkan hidup-hidup gadis-gadis cilik mereka yang baru lahir. Mereka juga bisa membunuh gadis-gadis itu dengan sangat kejam.

Sering terjadi seorang gadis cilik yang baru lahir dibiarkan hidup hingga ayahnya kembali dari suatu perjalanan yang berlangsung, kadang-kadang, berbulan-bulan, bahkan lebih.

Ketika sang ayah pulang, ia akan membunuh gadis itu yang mulai tumbuh dewasa secara mental fisik! Sebagian ayah, lebih lanjut, biasa mendorong anak-anak gadis mereka dari ketinggian luar biasa.

Rasul Nikahi Khadijah dengan Mahar 20 Unta





Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda,bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.

Banyak pemuka Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.

Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit,masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya ke semua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya. Mimpi itu diceritakan kepada anak bapak saudaranya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.

Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.”

“Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh.”Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat.

“Dari suku mana?”

“Dari suku Quraisy juga.”

Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?”

“Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur.

Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai anak bapa saudaraku?”

Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”

Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah sentiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.

Dan pada hari yang sudah ditentukan, Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta.

Apakah Kita Termasuk Saudara-Saudara Yang Dirindukan Rasulullah?





Oleh: Ust. Muhammad Lili Nur Aulia, Lc

Sembilan hari sebelum wafatnya utusan Allah swt, Muhammad saw. Sepulang dari menunaikan haji wada’, turun firman Allah swt, “… wattaqu yauman… turja’uuna fiihi”. Sejak itu, tanda-tanda kesedihan sudah tampak dalam diri manusia mulia itu. “Aku ingin mengunjungi makam para syuhada uhud,” ujarnya. Beliaupun pergi ke lokasi makam, dan berdiri di tepi makam para sahabatnya. “Assalamualaikum ya syuhadaa Uhud. Kalian telah lebih dahulu, dan kami insya Allah akan menyusul kalian. Dan aku insya Allah akan bretemu dengan kalian.”

Dalam perjalanan pulang, Rasul saw menangis. Para sahabat bertanya, tentang sebab tangisannya. Dengan nada lirih, Nabi Allah itu mengatakan, “Aku merindukan saudara-saudaraku..”

“Bukankah kami ini adalah saudara-saudaramu, ya Rasulullah?” sergah para sahabat. Rasul menjawab, “Tidak. Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah orang yang datang setelahku, tapi mereka beriman kepadaku meskipun tidak melihatku.”

Saudaraku,

Apakah kita termasuk saudara-saudara Rasulullah saw yang dirindukannya itu? Seberapa besar juga kerinduan kita kepada sang Nabi yang merindukan kita itu? Apa bukti kerinduan kita? Apa buki kita adalah saudara-saudara yang dirindukan Rasulullah saw?Andai kita merasa sebagai saudara-saudara yang dirindukan Rasulullah saw. Ada banyak hal yang harus kita lakukan. Dan yang paling jelas adalah, mengikuti sunnah Rasulullah saw dalam berdakwah atau menyerukan nilai agama Allah ini ke banyak orang. Apakah kita termasuk orang-orang yang menyebarkan, menyampaikan, mendakwahkan, memperjuangkan agama Allah yang dibawa Nabi Muhammad saw?

Saudaraku,

Mari mengambil pelajaran dari cerita dakwah seorang shalih yang pernah dimuat dalam Majalah Al Mujtama’ beberapa waktu lalu berikut ini.

“Aku mengendarai mobil di samping sebuah pasar dan melihat seorang pemuda yang sedang memeluk seorang gadis. Aku ragu, apakah aku akan menasihatinya atau tidak? Tapi akhirnya aku putuskan untuk berhenti dan mendekati mereka. Melihat aku datang, anak gadis yang tadinya sedang asik itu terkejut, dan lari. Sementara sang pemuda, juga tampak takut dan mengira aku aparat pemerintah, atau polisi.

“Assalamu’alaikum..” sapaku. Aku kemudian menjelaskan, bukan sebagai aparat atau polisi. “Aku hanya seorang saudara yang ingin sekali menyampaikan kebaikan untukmu dengan memberi nasihat,” jelasku. Aku lalu berbicara dengan suasana tenang, hingga tanpa terasa, mata pemuda itu berkaca-kaca lalu air mata matanya kulihat menitik. Singkat cerita, setelah itu, kami berkenalan dan bertukar nomor hp

Dua pekan setelah itu, aku kebetulan saja memeriksa isi dompet dan mendapatkan nomor telepon si pemuda itu. “Aku ingin menghubuginya sekarang,” gumamku saat itu waktu subuh. Akupun menghubunginya, “Masih kenal aku?” Ia menjawab, “Bagaimana aku bisa melupakan suara ini, suara yang telah mengantarkanku pada hidayah dan membuatku bisa melihat cahaya dan jalan yang benar…” Kami lalu sepakat untuk berkujung ke rumahnya pada hari itu juga setelah shalat Asar. Tapi Allah mentakdirkan lain. Aku kedatangan tamu dan akhirnya terpaksa terlambat memenuhi janji sekitar satu jam. Aku ragu, apakah akan tetap berangkat atau tidak. Akhirnya kuputuskan aku harus menepati janji meskipun terlambat

Aku pergi ke rumah pemuda itu dan mengetuk pintu rumahnya. Rupanya, orang tua pemuda itu yang membukakan pintu. “Fulan ada… “ tanyaku. Pertanyaan itu sepertinya membuat keheranan dan ia tidak menjawab apapun. Aku bertanya lagi, “Fulan ada…?” Orang tua itu lalu mengatakan, “Anak muda, ini bekas tanah pemakaman Fulan. Tadi pagi kami baru saja menguburkannya…” Aku sangat terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku mencoba menerangkan dengan yakin, “Pak, pagi tadi baru saja saya berbicara dengannya melalui telepon di waktu subuh.

Orang tua itu terdiam heran. Iapun sama-sama, nyaris tidak percaya dengan perkataanku. Ia lalu menjelaskan, “Fulan kemarin shalat zuhur dan duduk membaca Al Quran di masjid, setelah it ia pulang dan tidur sebentar di rumah. Ketika kami ingin membangunkannya di untuk makan siang, ternyata ia sudah meninggal.” Ia menerangkan lagi, “Anakku dahulunya adalah orang yang tidak malu melakukan kemaksatan. Tapi dua minggu terakhir keadaannya berubah. Ia menjadi orang yang membangunkan kami untuk shalat subuh di masjid, padahal ia sebelumnya tidak mau medirikan shalat dan banyak melakukan keburukan. Allah memberikannya hidayah…”

Kami sama-sama terdiam. Tapi kemudian ayah Fulan bertanya, “Sejak kapan kamu mengenal anak saya?” tanyanya. Aku menjawab sambil merenung, “Dua minggu lalu.” Ayahnya langsung menyergah, “Jadi kamu yang menashati anak saya. Biar aku memelukmu, karena kamu telah menyelamatkan anakku dari neraka..

Saudaraku,

Menurut penulisnya, ini adalah kisah nyata. Silahkan ambil pelajaran apapun yang bisa kita manfaatkan dari kisah ini. Dari kepedulian seorang Muslim yang merasa wajib menyampaikan nasihat karena Allah swt kepada si pemuda. Juga, tentang akhir hidup si pemuda yang bertolak belakang dengan rentang amalnya sebelum bertemu dengan sang pendakwah. Hingga peristiwa luar biasa yang terjadi antara si pemuda di waktu subuh, dengan pendakwah…

Saudaraku,

Apakah Rasulullah saw pernah merindukan kita? Apakah kita adalah saudara-saudara Rasulullah saw yang beriman kepadanya, meski pun kita tidak pernah melihat dan belum pernah bertemu dengannya. Apa bukti kita sebagai kelompok orang yang dirindukan Rasulullah saw? Bertanyalah pada diri sendiri, apa yang sudah kita berikan pada agama ini? Apakah kita sudah memberi sentuhan dakwah kepada orang-orang yang ada di sekeliling kita? Mudah-mudahan, kita termasuk yang disebut Rasulullah saw sebagai saudara-saudara yang dirindukannya…

Bagaimana Rasul Bersiwak?



Bagaimana Rasul Bersiwak

Apa itu siwak? Siwak (atau disebut juga miswak) merupakan kayu dari ranting pohon Aarak atau Peelu, yang lazim terdapat di jazirah Arab. Nama latinnya: Salvadora Persica. Siwak inilah yang biasa digunakan sebagai sikat gigi sekaligus pasta gigi yang terkenal di jazirah Arab.

Keutamaan bersiwak sangat banyak. Bahkan penelitian-penelitian modern menemukan bahwa siwak lebih baik dan alami ketimbang sikat dan pasta gigi yang sekarang beredar luas.Rasulullah SAW pun sangat menyukai bersiwak (menyikat gigi dengan siwak).

Cara Rasulullah SAW bersiwak adalah sebagai berikut:

1. Berdoa sebelum bersiwak. Salah satu do’a yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah: “Allahumma thahhir bissiwaak Asnaaniy, wa qawwiy bihi Litsaatsiy, wa afshih bihi lisaniy“, yang artinya “Wahai Allah sucikanlah gigi dan mulutku dg siwak, dan kuatkanlah Gusi gusiku, dan fashih kan lah lidahku”;

2. Memegang siwak dengan tangan kanan atau tangan kiri (ada perbedaan pendapat tentang hal ini) dan meletakkan jari kelingking dan ibu jari di bawah siwak, sedangkan jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk diletakkan di atas siwak.

3. Bersiwak dimulai dari jajaran gigi atas-tengah, lalu atas-kanan, lalu bawah-kanan, lalu bawah-tengah, lalu atas-tengah, lalu atas-kiri, lalu bawah-kiri. Jadi seperti angka 8 yang ditulis rebah

4. Langkah ke-3 di atas dilakukan 3x putaran;

5. Selesai bersiwak, mengucapkan hamdalah, “Alhamdulillah“.

Kapan saja bersiwak? Rasulullah mencontohkan waktu-waktu utama bersiwak adalah sebagai berikut;

1. Hendak berwudhu dan sholat;
2. Ketika akan memasuki rumah;
3. Ketika bangun tidur. Baca: Cara Tidur Rasulullah SAW;
4. Ketika sedang berpuasa (shaum);
5. Ketika hendak membaca Al-Qur’an.

Beberapa hal lain yang pernah Rasulullah SAW contohkan tentang bersiwak:
1. Cucilah siwak sebelum menggunakan dengan air bersih;
2. Sebelum digunakan, sebaiknya siwak diperbaiki/diperbagus terlebih dahulu;
3. Boleh menggunakan siwak orang lain setelah dibersihkan;
4. Bersungguh-sungguhlah ketika bersiwak;
5. Boleh bersiwak di hadapan orang lain (tidak harus sembunyi-sembunyi).

Wallahu’alam bissahawab.

Referensi:
1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “Siwak merupakan kebersihan bagi mulut sekaligus keridhaan bagi Rabb.” (Riwayat Ahmad)
2. Sabda Nabi, “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, tentulah kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudhu. (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dalam redaksi lain, Nabi mengucapkan, “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku tentulah kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
3. Diriwayatkan dari Syuraih bin Hani, ia berkata: “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah jika memasuki rumahnya?” Aisyah menjawab, “Bersiwak”. (Riwayat Muslim).
4. Nabi Muhammad SAW mencontohkan bersiwak setiap kali bangun tidur, termasuk saat bangun malam. (Riwayat Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).
5. Aisyah menyebutkan, “Rasulullah tak tidur pada malam atau siang hari lalu beliau bangun kecuali bersiwak terlebih dahulu sebelum wudhu.” (Riwayat Abu Daud).
6. Dari Amir bin Rubaiah, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah bersiwak (berulang kali hingga aku tidak bisa menghitungnya), padahal beliau sedang berpuasa.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).
7. Dari Ali ibn Thalib Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah memerintahkan kami bersiwak: ‘Sesungguhnya seorang hamba jika berdiri menunaikan shalat, malaikat lalu mendatanginya, berdiri di belakangnya mendengar bacaan al-Qur`an dan mendekat. Malaikat terus mendengar dan mendekat sampai ia meletakkan mulutnya di atas mulut hamba tersebut, hingga tidaklah dia membaca satu ayat pun kecuali malaikat berada di rongganya.” (Riwayat Baihaqi)
8. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan,”Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersiwak lalu memberiku siwak tersebut utk kucuci. Lalu aku menggunakan utk bersiwak kemudian mencuci setelah menyerahkan kepada beliau.”
9. Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu menceritakan:“Aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu beliau sedang bersiwak dgn siwak basah. Ujung siwak itu di atas lidah beliau dan beliau mengatakan “o’ o’″ sedangkan siwak di dlm mulut beliau seakan-akan beliau hendak muntah.”

Tangan yang Tak Akan Pernah Disentuh Api Neraka





Diriwayatkan, pada saat itu Rasulullah baru tiba dari perang Tabuk. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Rasulullah bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”

Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya‘.”

Senyum Perjuangan Rasulullah




Tahukah engkau, bahwa perjuangan dakwah itu berat? Perjuangan yang mengorbankan banyak hal. Seperti harta, pikiran, perasaan bahkan waktu. Memang itulah keniscayaan dakwah. Karena Allah pun menjadikan musuh kepada setiap insan yang berjuang di jalan dakwah. Sehingga penghalang risalah dakwah, akan selalu hadir pada setiap lini kehidupan.

Tapi, apakah engkau memperhatikan bagaimana rasul membaca situasi genting dalam panggung dakwah? Bagaimana rasul merespon pahit getir jalan dakwah? Disinilah seni dalam berdakwah itu bekerja. Akumulasi dari matangnya kepribadian, akhlak yang agung, hingga kebesaran jiwa rasul menjadikannya pribadi yang tangguh. Itulah jawaban sederhana, mengapa buah dari perjuangan rasul selalu bertumbuh dan tidak termakan oleh batasan zaman.

Ada salah satu seni dakwah rasul yang kita bisa perlajari, yaitu senyum perjuangan. Apakah rasul hanya tersenyum saat memenangkan peperangan saja? Tidak! Rasul juga masih tersenyum, bahkan ketika beliau dizhalimi. Bagaimana ia dilempari batu saat di Thaif. Bagaimana cercaan Abu Jahal dan Abu Lahab datang tiada henti. Dan tak lupa, perlakuan buruk penduduk kota Makkah yang selalu memojokkan rasul, hingga rasul harus hijrah ke Madinah.

Disinilah senyum perjuangan rasul terlihat. Rasul tidak pernah merasa dendam terhadap orang yang menzhaliminya. Iya memaafkan, dan memperlihatkan senyum yang bersahabat. Bahkan kita bisa belajar dari peristiwa pembebasan kota Makkah. Yang membuat banyak prajurit musuh berbondong-bondong masuk Islam. Karena sebuah akhlak yang agung, yaitu memaafkan.

Itulah kedahsyatan senyum perjuangan. Tidak pernah berkecil hati, meskipun orang lain bertindak zhalim. Selalu hadir kata maaf, untuk setiap kesalahan yang orang lain perbuat. Sehingga wajar, jika kelapangan dada itu selalu tersemat kokoh dalam jiwanya. Apalagi yang bisa hadir di balik jiwa senyum para pejuang, selain kebahagiaan menikmati perjalanan dalam dakwah?

3 Peristiwa Penting di Bulan Jumadilakhir




Bulan Hijriah Jumadilakhir 1434 akan segera berakhir. Dalam bulan ini, ada beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam. Berikut tiga di antaranya:

1. Abu Bakar As-Siddiq meninggal dunia pada malam 22 Jamadil Akhir tahun ke-13 Hijrah atau bersamaan 12 Agustus 634 Masehi di berumur 63 tahun. Ia kemudian dimakamkan bersebelahan dengan maqam Rasulullah SAW. Semasa hidupnya, Abu Bakar merupakan salah satu orang pertama yang menerima dakwah Rasul dan membenarkan kerasulan Baginda SAW.

Khalifah Abu Bakar As-Siddiq mempunyai akhlaq yang mulia dan sanggup menginfaqkan seluruh harta dan kemewahannya pada jalan Allah sehingga tidak meninggalkan sedikitpun ketika wafatnya. Sebelum kematiannya, beliau melantik Umar Al-Khattab sebagai Khalifah Islam yang kedua menggantikan tempatnya.

2. Pelantikan Umar Al-Khattab sebagai khalifah kedua pada bulan Jamadil Akhir tahun ke-13 Hijrah.

3. Terjadinya peperangan Yarmuk pada bulan Jamadilakhir tahun ke-13 Hijrah. Peperangan ini dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid dengan jumlah pasukan Muslimin sebanyak 45,000 orang dan menghadapi tentara Rum (Byzantin) sebanyak 240,000 orang.

Dalam peperangan ini, separuh tentara Rom hilang setengahnya, sedangkan dari pihak kaum Muslimin mencapai sekitar 3,000 orang syahid. Tentara kaum Muslimin yang dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid ini memenangkan perang.

Rasulullah dan 7 Kebiasaan Sehatnya Sepanjang Hari





Berapa kali dalam setahun Anda jatuh sakit? Sehat, bagi orang Islam, merupakan akumulasi beberapa hal; cukup tidur, makanan yang baik, olahraga teratur, dan menjauhi maksiat—selain juga mendekatkan diri dengan Allah SWT. Menurut banyak riwayat, Rasululllah Muhammad SAW hanya sakit selama satu hari dalam hidupnya, yaitu ketika menjelang wafatnya beliau. Ada juga yang meriwayatkan, Beliau SAW sakit dua kali.

Selidik punya selidik, Rasul ternyata mempunyai setidaknya tujuh kebiasaan yang selalu beliau tuinaikan dalam kesehariannya.

1. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH

Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu,sholat subuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yang mendalam antara lain :
- Berlimpah pahala dari Allah.
- Kesegaran udara subuh yg bagus utk kesehatan/ terapi penyakit TB.
- Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan.

2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN

Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jumaat beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. “Mandi pada hari Jumaat adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman,” (HR Muslim).

3.TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN

Sabda Rasul : “Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan)”(Muttafaq Alaih).

Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda : Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan. Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dengan adanya Puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan

4. GEMAR BERJALAN KAKI

Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir,pori-pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung

5. TIDAK PEMARAH

Nasihat Rasulullah : “Jangan Marah”diulangi sampai 3 kali. Ini menunujukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatanjiwa. Ada terapi yang tepat untuk menahan marah :

- Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring
- Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaithon
- Segeralah berwudhu
- Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati

6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA

Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT

7. TAK PERNAH IRI HATI

Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa, mentalitas maka menjauhi iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat.

So, berminat hidup sehat sepanjang tahun? Coba resep Rasul ini.

Mengapa Harus Mencintai Rasul SAW?



Mencintai Rasul SAW

“Abdullah bin Hisyam berkata: kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menggandeng tangan Umar bin Khattab, lalu Umar berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala apapun kecuali diriku”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Tidak (demikian), demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri”, Umar berkata: Sesungguhnya sekarang Demi Allah, engkau lebih aku cintai melebihi diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sekarang wahai Umar (benar-benar beriman-pen).” (HR. Bukhori).

MARI kita telaah mengapa Islam mensyaratkan pemeluknya untuk mencintai Rasulullah SAW; apakah gerangan yang menyebabkan Rasulullah harus kita cintai di atas semua manusia sehingga mengalahkan cinta kita kepada istri kita yang telah bersusah payah melahirkan anak-anak kita, mengalahkan cinta kita kepada orang tua kita yang telah menderita karena melahirkan dan membesarkan kita? Bahkan mengalahkan cinta kita kepada diri kita sendiri? Kita bisa merasakan berjuta-juta keni’matan yang ada di dunia ini, mulai dari ni’matnya melihat warna-warni dunia, merdunya suara alam, harumnya bunga-bunga di taman, lezatnya beragam macam makanan dan minuman, sejuknya udara di pegunungan dan segala keni’matan yang lain yang tak terhitung jumlahnya.

Kita semua sepakat, jika kita berjalan di malam hari tanpa ada cahaya yang menerangi baik itu melalui lampu atau cahaya rembulan maka berbagai macam bahaya akan mengancam kita. Kita tidak tahu bahwa di jalan yang kita susuri terdapat paku dan pecahan beling, bahwa di depan kita ternyata ada ular yang berbisa, ada singa yang tengah kelaparan, dan buaya yang sedang menunggu mangsanya, kita tidak tahu di ujung jalan sana ada lubang yang menganga atau jurang yang teramat dalam yang di dasarnya terdapat bebatuan dan kayu-kayu tajam.

Demikianlah perumpamaan kehadiran Rasulullah SAW. Ia bagaikan lampu di malam hari yang gelap, cahaya yang menerangi jalan sehingga kita bisa selamat sampai tujuan. Mungkin dengan perumpamaan ini sudah cukup dijadikan alasan mengapa kita harus mencintai Rasulullah SAW diatas semua manusia termasuk diri kita sendiri, karena tanpa kehadiran beliau hidup ini tidak akan ada artinya.

Tidak cukup sampai disitu, jika kita mau sedikit meluangkan waktu untuk membaca sekelumit dari perjalanan hidup Rasulullah SAW, maka dada kita akan semakin bergemuruh, hati terasa bergejolak menahan kesedihan yang sangat dalam, kita akan tersadarkan bahwa tidak akan ada lagi manusia yang cintanya kepada diri kita lebih besar daripada beliau. Betapa dahsyatnya ujian yang dialami oleh Rasulullah SAW.

Kesengsaraan diatas kesengsaraan, penderitaan yang berkepanjangan, tidak hanya jiwa raga dan harta beliau yang terancam tetapi juga anak istri dan keluarga beliau selalu ada di bawah bayang-bayang teror kaum kafir Quraisy dan sekutunya. Andai ketika itu beliau berputus asa lalu meninggalkan dakwah ini begitu saja maka bisa dipastikan semua kita tidak akan selamat hidup di dunia apalagi di akhirat.

Tetapi tidak demikian, karena cintanya yang begitu besar kepada kita, beliau rela mengorbankan apa saja yang beliau miliki termasuk jiwa dan raganya untuk kebahagiaan hidup kita di dunia dan akhirat, beliau berperang hingga ratusan kali walaupun umur sudah semakin tua, beliau rela dicaci maki, dikhianati, diludahi, dilempari batu, diusir dan diperlakukan secara tidak manusiawi, beliau rela setiap saat dirinya terancam oleh berbagai macam percobaan pembunuhan, beliau rela mengganjal perutnya ketika lapar dengan batu bukan dengan makanan.

Beliau rela memakan dedaunan dan rumput liar karena saking tidak ada lagi makanan yang bisa dimakan, beliau rela setiap langkah dari hidupnya dijadikan pelajaran untuk kita karena tidak ada satupun perkara yang terjadi pada diri Rasulullah SAW kecuali menjadi syari’at Islam yang sangat bermanfaat untuk kita semua. Hingga di detik-detik menjelang ajalnya, beliau masih sempat memikirkan kita seraya berkata “ummati… ummatii… ummatii “. Adakah manusia yang cintanya kepada kita lebih besar daripada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam?

Allah SWT memuji beliau dalam firman-Nya, “Susungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.” (QS. At-Taubah: 128).

Jika ada manusia di zaman sekarang ini, yang tidak mau menghormati Rasulullah SAW maka orang itu telah melakukan kejahatan yang teramat besar terlebih jika orang itu berani menghina dan menodai Rasulullah SAW.

Jika ada manusia di zaman sekarang ini yang menolak untuk mencintai Rasulullah SAW dan menolak untuk membela sunnahnya maka sungguh harga dirinya tidak lebih tinggi dari hewan bahkan lebih rendah lagi, karena dahulu ketika Rasul masih hidup tidak hanya sahabat-sahabatnya yang rela mengorbankan apa saja untuk melindungi dan membela beliau, tetapi hewan, tumbuhan, hingga makhluk Allah kelas satu sekalipun seperti bebatuan dan gunung-gunung juga berlomba-lomba untuk melindungi dan membela beliau dari kejahatan musuh-musuhnya.

Kewajiban Kita Terhadap Rasulullah SAW




Beriman kepada Rasulullah saw. merupakan salah satu konsekuensi dari pemahaman bersyahadah: wa asyhadu ana muhammada ar-rasulallah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Dan, kesaksian kita itu akan jujur dan istiqamah jika diwujudkan menjadi sikap.

Ada empat sikap yang memberi alamat bahwa syahadat kita tentang Rasulullah saw. itu jujur dan istiqamah. Keempat sikap itu adalah:

1. Membenarkan dan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah saw.
وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُون

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Az-Zumar: 33)
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (An-Najm: 2-4)2. Taat kepada Rasulullah saw.
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 32)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (An-Nisa: 59-60)

3. Menjauhi apapun yang dilarang dan tidak disukai Rasulullah saw.
مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (Al-Hasyr: 7)

4. Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan oleh Rasulullah saw. Sabda Nabi: “Tidak beriman di antara kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang kubawa” (HR Tirmidzi)

Adapun di antara kewajiban kepada Rasulullah saw. adalah sebagai berikut:

1. Beriman kepada Rasulullah saw.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نزلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (An-Nisa’: 136)
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al-A’raf: 158)
Allah menegaskan perintah keimanan kepada Rasulullah saw. lewat dua ayat di atas. Perintah-perintah dalam Al-Qur’an secara umum berarti suatu kewajiban. Mustahil kita dapat mengikuti Rasulullah saw. jika tidak diawali dengan beriman kepadanya terlebih dahulu.

2. Ketaatan kepada Rasulullah saw.
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (An-Nisa’: 80)

Ketaatan kepada Nabi akan membawa kepada sikap mau mengikuti beliau (ittiba’). Tidak ada ketaatan yang mutlak, kecuali dilakukan kepada manusia yang membawa kebenaran dari Allah swt. Ketaatan kepada Rasulullah saw. pada hakikatnya merupakan ketaatan kepada Allah. Manusia wajib taat kepada Allah, kemudian Allah menegaskan bahwa ketaatan kepada Rasul adalah sebagian dari ketaatan kepada-Nya. Maka, ketaatan kepada Rasul wajib juga untuk umat Islam dan memiliki makna yang mendalam.

3. Mengikuti Rasulullah saw. (Al-Ahzab: 31)
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)

Yang kita lakukan dalam konteks beribadah, bermuamalah dan berakidah harus mengikuti Rasulullah saw., sebagaimana telah dicontohkan oleh beliau. Para ulama membuat sebuah kaidah: hal-hal yang berkaitan dengan masalah ibadah dan akidah hukum dasarnya tidak boleh, kecuali apa yang dicontohkan Rasulullah saw. dan ada dalil yang mengatakan boleh. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan muamalah (hubungan sesama umat manusia) hukum dasarnya adalah boleh, kecuali bila ada dalil yang mengatakan tidak boleh. Ittiba’ ini merupakan bagian dari rasa cinta kita kepada Rasulullah saw. Mencintai Allah tak akan mungkin terjadi kecuali kita sungguh-sungguh mencintai Rasulullah saw.

4. Bersholawat kepada Rasulullah saw.

Bila nama beliau disebut, kita wajib menyampaikan shalawat untuknya. Hal ini salah satu syarat turunnya syafaat di hari kiamat kelak.

5. Memahami bahwa Rasulullah saw. adalah Nabi penutup
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab: 40)

Nabi Muhammad adalah nabi terakhir, penutup para nabi. Tidak ada lagi nabi, rasul, dan wahyu setelahnya. Umat Islam tidak perlu terjebak akan adanya klaim dari manusia yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi. Jikapun ada, bisa dipastikan bahwa hal itu palsu. Tidak perlu diikuti bahkan harus diingkari. Akidah tentang khatmun nubuwwah (Muhammad nabi terakhir) akan membebaskan kita dari masalah teologis. Kita tidak perlu lagi mencari ajaran-ajaran kewahyuan di luar ajaran Nabi saw.

6. Membela Rasulullah saw.

Sikap cinta perlu dibuktikan dengan pembelaan kepada Rasulullah saw. Khususnya dari pihak yang ingin mendiskreditkan, memfitnah Rasulullah saw. Pembelaan kepada beliau berarti juga pembelaan kepada kebenaran dan keberlangsungan ajaran Islam. Allah selalu membela Nabi, dengan menurunkan mukzijat, memberikan kemampuan berdebat, bahkan dengan menurunkan para malaikat kepada beliau.

Beberapa kewajiban kita kepada Rasulullah saw. dilakukan karena dalam diri beliau terdapat panutan (suri teladan) yang baik dengan pengharapan pertemuan dengan Allah dan keselamatan dari azab api neraka (Al-Ahzab: 21). Rasulullah saw. adalah tokoh yang layak diteladani berkaitan dengan masalah moralitas, ibadah, dakwah, pendidikan, sosial, politik, perjuangan ekonomi, rumah tangga, bahkan peperangan. Melaksanakan kewajiban kepada Rasulullah saw. akan sempurna jika kita memahami karakteristik risalah yang dibawa beliau.
Karakteristik risalah beliau di antaranya adalah:

• Ajaran Nabi Muhammad adalah penggabungan ajaran rasul-rasul sebelumnya. Sehingga ajaran Nabi saw. adalah ajaran yang mensejarah dan berkaitan dengan kebenaran iman dan kebenaran syariat para nabi terdahulu.
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 136)

• Ajaran Muhammad bersifat universal. Allah mengutus Rasulullah saw. untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Risalah Nabi saw. cocok untuk semua kelompok manusia dan semua zaman. Hal ini dimungkinkan karena ajaran Islam karena Islam memenuhi kebutuhan realitas kehidupan. Di dalam Al-Qur’an ada dialog antara wahyu dengan umat manusia, antara Rasulullah saw. dengan Allah, antara Rasulullah saw. dengan kaumnya.

• Ajaran Islam mementingkan yang mudah bagi manusia, menghilangkan yang sulit. Yang dimaksud dengan yang mudah bukan memudah-mudahkan. Melainkan kemudahan yang sesuai dengan fitrah manusia, yang sesuai dengan realisasi yang ma’ruf dan upaya untuk meninggalkan yang munkar.

Itulah beberapa kewajiban yang dapat dilakukan terhadap para rasul, khususnya Rasulullah saw. dan spesifikasi ajaran yang dibawa beliau. Sebagai bukti konsekuensi ikrar syahadah kepada Rasulullah saw.. Kita berupaya semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakannya. Semoga Allah memberikan kemudahan.

Tanpa Pikir Panjang, Muslimah di Zaman Nabi Langsung Melaksanakan Perintah Jilbab





Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya (tabi’ut tabi’in)”. (HR. Bukhari-Muslim).

Sesungguhnya para sahabat radhiyallahu ajma’in telah ditaqdirkan Allah Ta’ala menjadi cermin manusia terbaik dalam hal ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Cermin manusia terbaik dalam hal cara memahami dan mengamalkan Islam. Maka menjadi hal yang sangat penting bagi kita untuk menelaah dan meneladani perihidup para sahabat nabi dalam menjalankan agama yang mulia ini.

Imam Malik rahimahullah berkata, “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali kembali berdasarkan perbaikan yang dilakukan oleh generasi pertama”. Oleh sebab itu, dalam bahasan kali ini marilah kita mencoba mencermati sebagian kecil dari sikap para sahabat nabi terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan jilbab kedadanya..” (QS. An-Nuur:31).

Ayat tersebut menjelaskan tentang perintah untuk menutup aurat bagi wanita muslimah. Tentang ayat tersebut, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat yang pertama, yaitu Surat An-Nuur ayat 31: “Bahwasannya ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Ketika turun ayat ‘..dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” –jilbab- nya ke dada mereka..’ maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari)

Lihatlah semangat yang ada dalam diri wanita muslimah kala itu untuk tunduk dan patuh kepada apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Para wanita muslimah yang mendengarkan perintah tersebut dimana saja mereka berada segera melaksanakan perintah menutup hijab tanpa berpikir panjang dan bertanya tentang alasannya, bahkan disebutkan pula bahwa sampai-sampai mereka tidak tahu apabila sedang berjalan ke depan atau belakang. Mereka tidak punya waktu untuk memodifikasinya karena memang hal tersebut adalah langsung dari Allah. Tidak ada diantara wanita muslimah tersebut yang mengatakan tidak siap seperti yang sering menjadi alasan wanita pada zaman sekarang.Wallahu'alam

Di Jaman Rasulullah Syiah Belum Ada



Di Jaman Rasulullah Syiah Belum Ada

Dahulu pernah terjadi kesepakan antara ulama Syiah dan ulama Sunni untuk mengadakan sebuah diskusi, terkait dengan ajaran Syiah. Tempat dan waktu pun ditentukan. Diskusi dihadiri dan melibatkan tujuh orang ulama dari Sunni dan tujuh ulama dari Syiah.

Selang beberapa hari setelah kesepakatan itu, tepat pada hari dan waktu yang telah ditentukan ulama-ulama syiah pun hadir, lengkap tujuh orang, di dalam sebuah ruangan. Namun, entah karena alasan apa tak satupun ulama dari Sunni muncul. Para ulama Syiah pun menunggu. Setelah lama menunggu, orang yang ditunggu-tunggu tidak muncul-muncul juga, tidak ada tanda-tanda mereka akan datang.

Namun, setelah menunggu lama tiba-tiba masuk seorang masuk dengan sepatu yang ditenteng bawah ketiaknya. Para ulama Syiah pun terheran-heran, lantas bertanya:

“Mengapa kau membawa masuk sepatumu ke ruangan ini?”

Orang yang ditanya lantas menjawab: “Setahu saya, di zaman Rasulullah orang-orang syiah suka mencuri sandal.”

Ulama Syiah pun saling pandang antara satu dengan lainnya dengan pandangan heran. Lalu mereka berkata: “Tapi di zaman Rasul belum ada Syiah.”

“Kalau begitu diskusi kita telah selesai. Dari manakah datangnya ajaran agama kalian kalau di zaman Rasulullah tidak ada Syiah,” Jawab laki-laki itu dengan brilian.

Tenyata orang yang datang membawa sepatu tersebut adalah Syaikh Ahmad Deedat Rahimahullah, penulis buku fenomenalThe Choice.

Kapan Permulaan Akhir Zaman?



Kapan Permulaan Akhir Zaman

Sejak diutusnya Muhammad bin Abdullah menjadi nabi, Allah subhaanahu wata’aala sudah memvonis bahwa umat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah umat akhir zaman. Pengertian akhir zaman ini sudah sejak diutusnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang merupakan nabi terkahir. Menurut hadits shahih, masa akhir zaman ini terbagi menjadi lima masa.

Pertama adalah masa kenabian yaitu saat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Kemudian masa Khulafaur Rasyidin, dimulai dari Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Masa selanjutnya adalah masa raja-raja menggigit (maalikan ‘adhan), yaitu masa setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib hingga runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah (1924). Masa keempat adalah masa maalikan jabariyan (penguasa diktator). Dan terakhir, masa kembalinya sistem khilafah.

Saat ini kita hidup di masa yang mana?

Sekarang adalah masa penguasa diktator, dan sedang gencar-gencarnya. Umat Islam sedang kalah. Namun itu sudah sunatullah, ada kalanya menang dan ada kalanya kalah. Kita pun harus optimis bahwa akan tiba waktunya umat Islam memperoleh kemenangan.

Apakah kelak penguasa diktator itu bisa dikalahkan kaum muslimin?

Begitulah menurut hadits. Kita akan berperang melawan Yahudi, dan Yahudi akan hancur. Yahudi akan diburu sampai manapun, sampai-sampai pohon dan batu pun berbicara, “Hai kaum muslimin, di belakangku ada Yahudi yang bersembunyi.” Yang tidak berbicara adalah pohon gharqad (semacam kaktus) yang merupakan pohon Yahudi. Dan jangan heran, sekarang pohon ini banyak ditanam oleh orang-orang Yahudi untuk berlindung dari serangan kaum muslimin.

Apakah yang dimaksud Yahudi ini adalah khusus yang di Israel atau juga yang termasuk di negara-negara lain?
Yang pasti adalah Yahudi Israel. Kalaupun kemudian Yahudi yang lain pindah ke Israel, ya wallaahu ‘alam. Dan Yahudi yang pindah ke Israel itu berarti menyatakan diri sebagai musuh umat Islam.

Dalam sebuah hadits disebutkan, sebelum akhir zaman tiba, umat Islam akan berdamai dengan bangsa Rum. Bangsa mana bangsa Rum itu? Sebagian cenderung menafsirkannya bangsa Eropa. Alasannya bersifat historis. Bangsa Arab diapit oleh dua peradaban besar, yaitu peradaban Barat (Romawi) dan Timur (Persia). Peradaban Barat dipengaruhi oleh tradisi-tradisi ahlul al-kitab (Yahudi atau Nashrani). Timur dipengaruhi oleh kemusyrikan dan paganisme. Memang, sekarang ada perluasan akibat globalisasi. Timur tidak hanya Persia, tapi juga China, India, dan yang lainnya. Mereka bukan berkategori ahlul al-kitab, tapi disebut al-Adyaan al-Ardhiyah atau agama-agama Bumi yang didominasi paganisme.

Apakah sekarang perdamaian itu sudah berlangsung?

Sedang berjalan, meski semu. Kenapa? Karena yang kini memimpin dunia bukanlah amiirul mu’minin. Pemimpinnya adalah kalangan Rum, yang mengandalkan tradisi campur aduk dengan kebatilan sehingga muncul kedzaliman dan ketidak-adilan. Perdamaian yang sekarang lebih tepat diartikan sebagai “kesepakatan untuk tidak berperang”. Ini terjadi sejak berakhirnya penjajahan resmi oleh bangsa Rum terhadap negeri-negeri kaum Muslimin.

Tampaknya ada kontradiksi. Kaum Muslimin berdamai dengan bangsa Rum, tapi saat ini Rum justru dekat dengan musuh abadi umat Islam, yaitu Yahudi. Meski lebih tepatnya bukan dekat, melainkan bangsa Rum sendiri memang sudah campur aduk. Ada Nashrani dan Yahudi sehingga disebut Judeo-Chistian civilization (peradaban Yahudi-Nashrani).

Ada hadits yang menyatakan bahwa di akhir zaman Irak akan diboikot oleh bangsa Rum. Dan hal ini sudah terjadi dan sedang berjalan.

Apa yang akan terjadi setelah itu?

Agak sulit kalau mau dirangkai secara kronologis. Namun di antara tanda-tanda menjelang batas akhir adalah tanda-tanda kecil yaitu mengeringnya Sungai Eufrat dan ditemukannya gunung emas di bawah sungai itu. Pasukan dari berbagai bangsa akan berduyun-duyun memperebutkan emas tersebut. Tiap 100 manusia datang, 99 di antaranya tewas karena berebut emas. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang kaum Muslimin ikut dalam perebutan emas ini.

Apakah itu berupa serangan Amerika Serikat dan sekutunya pada Irak?

Kalau itu bisa dianggap berebut minyak atau emas hitam. Apakah kelak akan ditemukan emas dalam arti sebenarnya, bukan emas hitam? Diyakini itu memang emas yang sebenarnya. Isyarat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak cuma bersifat maknawi tapi juga hakiki. Seperti isyarat akan munculnya Imam Mahdi, itu bukan kiasan. Sosok Imam Mahdi memang ada. Begitu juga dengan Dajjal. Dajjal adalah oknum atau person. Saat ini oknum Dajjal belum muncul, meskipun sistem Dajjal sudah bisa kita rasakan.

Memeluk Buah Hati Seperti Rasulullah





Hari yang cerah, namun cukup menyedihkan. Informasi dari guru membuat saya pilu. Seorang anak laki-laki menangis, karena tidak dipinjamkan mainan oleh temannya.

Guru mendekati kemudian berkata, “Oh ada yang sedang sedih ya, mari Bapak peluk!”

Tiba-tiba anak ini bergerak, tangisnya berhenti lalu berkata, “Nggak mau!”

Gurunya bertanya, “Kenapa?”.

Anak ini hanya diam seribu bahasa.

“Suka dipeluk ayah di rumah?” tanya guru.

Jawabannya hanya gelengan kepala.

“Bunda suka meluk?” kembali sang guru bertanya.

Sambil terisak menahan tangis, ia menjawab, “Bunda sukanya meluk dede…”

Beberapa hari kemudian, ada anak lain yang tiba-tiba memeluk gurunya seraya berkata, “Mama ku tidak suka meluk, sukanya marah, Bu…”

Gurunya terkejut, lalu berkata, “Oh begitu ya?” seraya balas memeluk muridnya. ”Baiklah nanti Ibu sampaikan kepada mama, agar memelukmu di rumah.”

Suatu hari saya mendapati seorang anak sedang tantrum tanpa alasan. Menangis, menjerit, kemudian melempar benda-benda di sekitarnya. Namun demikian, alhamdulillah, bundanya tenang, kemudian berkata, “Mari bunda peluk dulu, saying…”

Sang bunda bergerak memeluk anaknya. Tak lama kemudian anak ini kembali tenang.

Memeluk memberi dampak positif terhadap perkembangan buah hati kita. Mereka akan merasa nyaman berada dalam pelukan orang-orang yang menyayanginya. Saat sedih, terluka, sakit maupun bahagia, menerima pelukan membuat anak-anak merasa lebih baik.

Saat membangunkan, kita usap pipinya, berikan kecupan hangat tambah pelukan. Membuat suasana pagi nyaman baginya. Ketika anak hendak pergi sekolah, ayah bunda siap menghantarkan dengan pelukan dan ciuman hangat. Tak lupa do’a yang selalu dibacakan di ubun-ubun menghantarkannya menuju sekolah dengan suasana sangat menyenangkan.

Biasanya, ketika masih bayi, anak sering menerima peluk cium orangtua maupun orang-orang yang menyayanginya. Sebaiknya, hal itu terus berlanjut seiring pertambahan usianya, bukannya berkurang.

Sebagai muslim, kita perlu dalami dan pelajari bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan anak-anak. Hadis berikut ini membuktikan bahwa betapa kasih sayang Rasulullah SAW begitu besar terhadap anak-anak. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, ‘Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampun melihat kepada Al-’Aqro’ lalu beliau berkata, ‘Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati’,” (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318).

Bagaimana dengan kita, Abi-Umi?

Pohon Nabi Masih Tumbuh Subur Sampai Saat Ini




Nabi hidup ribuan tahun yang lalu. Namun ada peninggalan jejak Nabi yang masih ada hingga kini. Sebuah pohon. Pohon zaman dulu tentu saja, masih tumbuh subur. Sebenarnya pohon itu seperti apa sih? Lalu bagaimana sejarahnya?

Pohon Nabi ini menjadi bukti kenabian Nabi Muhammad SAW. Dan sepertinya Pohon Nabi ini sengaja dibiarkan hidup oleh Allah agar menjadi pengingat, kenangan dan bukti sejarah masa lalu. Pohon ini adalah pohon yang penuh keberkahan, pohon ajaib, pohon keramat dan pohon yang aneh.

Dulu ketika Rasulullah melakukan perjalanan menuju Syam bersama Maisarah (pembantu Sayyidatuna Khadijah Ra) untuk berdagang, Rasulullah pernah berteduh di bawah pohon ini sebelum sampai ke sana. Pada saat Rasulullah berteduh di bawahnya, dahan dan ranting-ranting pohon ini bergerak menaungi beliau dari panasnya terik matahari.

Seorang rahib (pendeta) yang melihat kejadian ini, lantas mendatangi Maisarah dan menunjukkan kepadanya pohon tempat berteduh Rasulullah itu seraya berkata: “Hanya seorang Nabi saja yang berteduh di bawah pohon itu.”

Lihatlah sampai hari ini pohon tersebut tetap subur bahkan di tengah-tengah padang pasir yang kering kerontang dan tidak ada tumbuhan yang hidup seperti itu. Allah SWT menghidupkannya dengan kehendaknya.

Inilah pohon yang memahami cinta buat Nabinya Muhammad SAW, sebuah pohon yang diberkahi.

Sampai sekarang pohon ini masih hidup di Yordania. Sebab itu ia dijuluki “the only living Sahabi” atau “satu-satunya ‘sahabat’ Nabi yang masih hidup”.

Pohon ini terletak di tengah padang pasir bernama Buqa’awiyya di negara Yordania. Dari segi geografis, ia dekat dengan kota Bosra di Suriah.

Sebagaimana kita tahu, Rasulullah SAW dua kali tiba di Bosra:

1. Ketika bersama pamannya Abu Thalib saat berumur 12 tahun dan bertemu dengan Rahib Buhaira dan ketika itu Buhaira melihat tanda kerasulan beliau SAW di belakang bahu seperti tercatat dalam kitab injil tentang tanda kerasulan nabi akhir zaman.

2. Kali kedua Rasulullah SAW ke Bosra membawa barang dagangan Khadijah.