
Suatu hari, menjelang tengah hari, Bunda berkata pada Faqih, “Jangan dulu tidur siang. Sebentar lagi akan segera adzan. Aa Faqih harus salat berjamaah di masjid.”
Faqih, 6 tahun, mengangguk. Ayah sedang bekerja di kantor. Maka Haura yang mengantar Faqih ke masjid. Jika ayah ada di rumah, Faqih ke masjid bersama ayah.
Ketika adzan berkumandang dari masjid depan rumah, Faqih langsung berwudhu. Haura sudah bersiap. Faqih pamit kepada Bunda. Sementara Azkia masih asyik guling-gulingan di karpet.
Di depan rumah Ihsan, Faqih melihat Ihsan tengah bermain PS.
“Ihsan, ayo kita ke masjid,” ajak Faqih.
Ihsan menoleh. Juga dua temannya yang lain. Ihsan lebih tua satu tahun daripada Faqih dan sekolah di kelas 2. Faqih kelas 1.
“Nggak ah,” jawab Ihsan cuek. “Lagi seru!”
Mama Ihsan keluar dari dapur. “Ihsan, sudah hentikan main PS-nya. Itu temannya mengajak ke masjid malah nggak mau!”
Ihsan pun mematikan PS. Dua orang temannya pulang.
Faqih, Ihsan, dan Haura pergi ke masjid. Di gerbang masjid, Faqih kembali berkata pada Ihsan: “San, kamu tuh jangan main PS terus. Nanti otak kamu beku!”
“Ah, biarin!”
“Kalau adzan terdengar, kita harus segera ke masjid. Kita laki-laki. Itu kan panggilan Allah,” kata Faqih lagi.
Pak Ustadz yang tengah mengambil air wudhu, menoleh. “Siapa itu yang mengatakan adzan itu panggilan Allah?”
Haura menunjuk, “Faqih.”
“Subhannallah. Dari siapa itu diajarinnya?”
Faqih menjawab, “Bunda.”
Pak Ustadz menoleh ke arah Ihsan. “Betul itu, Ihsan. Kalau adzan, laki-laki harus langsung ke masjid, karena itu panggilan Allah. Dan juga, kalau kamu terlalu banyak main game, otak kamu akan beku…”
Ihsan mengangguk.
Haura menambahkan, “Kata Bunda juga, kalau laki-laki shalat di rumah, pake rok saja.”
Pak Ustadz tertawa. “Ayo kita shalat berjamaah.”
Shalat Dhuhur berjamaah dilakukan. Pak Ustadz jadi imamnya. Makmunnya hanya anak-anak kecil dan dua orang tua. Haura menunggu di luar.
Selesai shalat, Faqih, Ihsan, dan Haura pulang.
Di rumah, Bunda sudah menyediakan milk shake. Mereka minum milk shake di siang yang panas. Sementara Azkia sekarang merangkak ke sana kemari meminta milk shake sambil mulutnya terus berceloteh.
Related Post:
Kisah
- Beginilah Kondisi Dunia Tanpa Setan dan Iblis
- SYARIFUDDIN KHALIFAH KINI TELAH DEWASA, BAYI AJAIB NON-MUSLIM AFRIKA
- 3 Peristiwa Penting di Bulan Rajab
- Anak Kecil yang Takut Neraka
- Tangan yang Tak Akan Pernah Disentuh Api Neraka
- 3 Peristiwa Penting di Bulan Jumadilakhir
- Kutemui dan Kunikahi Engkau di Masjid (Masjid, ich bin verliebt)
- Penjara Menjadikan Nabi Yusuf ‘Alaihissalam Berkuasa 55 Tahun
- Memahami Sakralitas Akad Nikah
- Umur Umat Islam
- Pasukan Gajah Ingin Hancurkan Ka’bah
- Pohon Nabi Masih Tumbuh Subur Sampai Saat Ini
- Keberadaan Manusia Terbang di Negeri Yaman
- Laksamana Muslim Legendaris Korban Propaganda Barat, Barbarossa
- Surat Shamur Kepada Pemimpin Tertinggi Yahudi Konstantinopel
- Wong Fei Hung; Ulama, Ahli Pengobatan dan Pendekar Islam
- Batas-Batas Tanah Suci Mekah
- Ternyata Samson Adalah Seorang Nabi
- Dari Amerika Hingga Mesir, Islam Membuat Hatiku Berdesir
- Engkau tidak akan dapat membunuhku!
- 1 Muharram, Tahun Baru Islam momentum evaluasi diri
- Belajar Menerima dan Mendewasa
- Apa Itu Periode Pemerintahan Mulkhan Adhan?
- Api dan Asap
Category ›
Kisah
No comments:
Post a Comment