Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

7 Makanan Terbaik di Bulan Puasa



Bulan puasa ramadhan adalah saat dimana makanan minuman enak bermunculan dipermukaan bumi :D Itulah mengapa kadang pengeluaran malah makin melonjak. Tapi memang itulah salah satu ciri khas bulan suci ini yang mengesankan. Berikut ini adalah makanan minuman terbaik dibulan puasa ramadhan.

1. Es Sop Buah

2. Gorengan

3. Kolak

4. Es Teh Manis

5. Kurma

6. Es Kelapa Muda

7. Puding

Tape Jadi Menu Wajib Perayaan Lebaran Umat Islam Bali




Pada perayaan Idul Fitri, Nyama Selam atau umat Islam Bali, di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, juga melaksanakan serangkaian kegiatan. Di mulai dari penapean, penyajaan, penampahan Lebaran, Lebaran, dan umanis Lebaran.

Laiknya tradisi umat Hindu di Bali ketika melaksanakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, tape juga jadi menu wajib umat Islam di Desa Pegayaman saat Lebaran. Tape yang mereka buat adalah tape beras dan ketan hitam, sama seperti yang disajikan umat Hindu Bali saat Hari Raya Galungan.

“Proses penapean (membuat tape) membutuhkan waktu tiga hari untuk fermentasi. Biasanya para ibu-ibu di desa ini sejak seminggu menjelang Lebaran sudah sibuk,” kata Matoriah, salah seorang warga desa.

Dua hari menjelang Idul Fitri, warga mengadakan prosesi penyajaan atau membuat jajan (kue). Biasa disebut jaje Bali. Pada saat Lebaran jajanan yang pasti disajikan di atas meja ruang tamu adalah jaje uli ketan (tape) dan dodol. “Kebiasaan membuat jajanan ini sudah turun-menurun sejak zaman dahulu. Jajanan ini disajikan untuk tamu-tamu yang datang bersilaturahmi saat Lebaran,” katanya.

Layaknya orang Bali, sehari menjelang Lebaran, warga setempat menggelar penampahan (memotong daging). Daging yang dipersiapkan untuk sajian Lebaran adalah daging sapi yang dipersiapkan oleh masing-masing keluarga. “Ada yang beli kiloan sesuai dengan kebutuhan. Ada juga yang patungan untuk membeli satu ekor sapi, kemudian dibagi sesuai kesepakatan,” jelasnya.

Biasanya daging tersebut diolah menjadi be mesere yang merupakan kuliner khas Desa Pegayaman. Be mesere adalah daging sapi yang ditumbuk dan disuwir-suwir, kemudian diberi bumbu-bumbu. Ciri khas dari kuliner ini didominasi rasa pedas dan aroma terasi yang pekat.

SYARIFUDDIN KHALIFAH KINI TELAH DEWASA, BAYI AJAIB NON-MUSLIM AFRIKA




Kembali mengingat peristiwa tahun 90-an, dunia saat itu gempar dengan berita besar seorang bayi berumur 2 bulan dari keluarga Katholik di Afrika yang menolak dibaptis. “Mama, unisibi baptize naamini kwa Allah, na jumbe wake Muhammad” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).

Ayah dan ibunya, Domisia-Francis, pun bingung. Kemudian didatangkan seorang pendeta untuk berbicara kepada bayinya itu: “Are You Yesus?” (Apakah kamu Yesus?).

Kemudian dengan tenang sang bayi Syarifuddin menjawab: “No, I’m not Yesus. I’m created by God. God, The same God who created Jesus” (Tidak, aku bukan Yesus. Aku diciptakan oleh Tuhan, Tuhan yang sama dengan yang menciptakan Yesus). Saat itu ribuan umat Kristen di Tanzania dan sekitarnya dipimpin bocah ajaib itu mengucapkan dua kalimat syahadat.

Bocah Afrika kelahiran 1993 itu lahir di Tanzania Afrika, anak keturunan non Muslim. Sekarang bayi itu sudah remaja, setelah ribuan orang di Tanzania-Kenya memeluk agama Islam berkat dakhwahnya semenjak kecil. Syarifuddin Khalifah namanya, bayi ajaib yang mampu berbicara berbagai bahasa seperti Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Ia pun pandai berceramah dan menterjemahan al-Quran ke berbagai bahasa tersebut. Hal pertama yang sering ia ucapkan adalah: “Anda bertaubat, dan anda akan diterima oleh Allah Swt.”

Syarifuddin Khalifah hafal al-Quran 30 juz di usia 1,5 tahun dan sudah menunaikan shalat 5 waktu. Di usia 5 tahun ia mahir berbahasa Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Satu bukti kuasa Allah untuk menjadikan manusia bisa bicara dengan berbagai bahasa tanpa harus diajarkan.

a. Latar Belakang Syarifuddin Khalifah

Mungkin Anda terheran-heran bahkan tidak percaya, jika ada orang yang bilang bahwa di zaman modern ini ada seorang anak dari keluarga non Muslim yang hafal al-Quran dan bisa shalat pada umur 1,5 tahun, menguasai lima bahasa asing pada usia 5 tahun, dan telah mengislamkan lebih dari 1.000 orang pada usia yang sama. Tapi begitulah kenyatannya, dan karenanya ia disebut sebagai bocah ajaib; sebuah tanda kebesaran Allah Swt.

Syarifuddin Khalifah, nama bocah itu. Ia dilahirkan di kota Arusha, Tanzania. Tanzania adalah sebuah negara di Afrika Timur yang berpenduduk 36 juta jiwa. Sekitar 35 persen penduduknya beragama Islam, disusul Kristen 30 persen dan sisanya beragam kepercayaan terutama animisme. Namun, kota Arusha tempat kelahiran Syarifuddin Khalifah mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di urutan kedua adalah Kristen Anglikan, kemudian Yahudi, baru Islam dan terakhir Hindu.

Seperti kebanyakan penduduk Ashura, orangtua Syarifuddin Khalifah juga beragama Katolik. Ibunya bernama Domisia Kimaro, sedangkan ayahnya bernama Francis Fudinkira. Suatu hari di bulan Desember 1993, tangis bayi membahagiakan keluarga itu. Sadar bahwa bayinya laki-laki, mereka lebih gembira lagi.

Sebagaimana pemeluk Katolik lainnya, Domisia dan Francis juga menyambut bayinya dengan ritual-ritual Nasrani. Mereka pun berkeinginan membawa bayi manis itu ke gereja untuk dibaptis secepatnya. Tidak ada yang aneh saat mereka melangkah ke Gereja. Namun ketika mereka hampir memasuki altar gereja, mereka dikejutkan dengan suara yang aneh. Ternyata suara itu adalah suara bayi mereka. “Mama usinibibaptize, naamini kwa Allah wa jumbe wake Muhammad!” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).

Mendengar itu, Domisia dan Francis gemetar. Keringat dingin bercucuran. Setelah beradu pandang dan sedikit berbincang, mereka memutuskan untuk membawa kembali bayinya pulang. Tidak jadi membaptisnya.

Awal Maret 1994, ketika usianya melewati dua bulan, bayi itu selalu menangis ketika hendak disusui ibunya. Domisia merasa bingung dan khawatir bayinya kurang gizi jika tidak mau minum ASI. Tetapi, diagnose dokter menyatakan ia sehat. Kekhawatiran Domisia tidak terbukti. Bayinya sehat tanpa kekurangan suatu apa. Tidak ada penjelasan apapun mengapa Allah mentakdirkan Syarifuddin Khalifah tidak mau minum ASI dari ibunya setelah dua bulan.

Di tengah kebiasaan bayi-bayi belajar mengucapkan satu suku kata seperti panggilan “Ma” atau lainnya, Syarifuddin Khalifah pada usianya yang baru empat bulan mulai mengeluarkan lafal-lafal aneh. Beberapa tetangga serta keluarga Domisia dan Francis terheran-heran melihat bayi itu berbicara. Mulutnya bergerak pelan dan berbunyi: “Fatuubuu ilaa baari-ikum faqtuluu anfusakum dzaalikum khairun lakum ‘inda baari-ikum, fataaba ‘alaikum innahuu huwattawwaburrahiim.”

Orang-orang yang takjub menimbulkan kegaduhan sementara namun kemudian mereka diam dalam keheningan. Sayangnya, waktu itu mereka tidak mengetahui bahwa yang dibaca Syarifuddin Khalifah adalah QS. al-Baqarah ayat 54.

Domisia khawatir anaknya kerasukan setan. Ia pun membawa bayi itu ke pastur, namun tetap saja Syarifuddin Khalifah mengulang-ulang ayat itu. Hingga kemudian cerita bayi kerasukan setan itu terdengar oleh Abu Ayub, salah seorang Muslim yang tinggal di daerah itu. Ketika Abu Ayub datang, Syarifuddin Khalifah juga membaca ayat itu. Tak kuasa melihat tanda kebesaran Allah, Abu Ayub sujud syukur di dekat bayi itu.

“Francis dan Domisia, sesungguhnya anak kalian tidak kerasukan setan. Apa yang dibacanya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Intinya ia mengajak kalian bertaubat kepada Allah,” kata Abu Ayub.

Beberapa waktu setelah itu Abu Ayub datang lagi dengan membawa mushaf. Ia memperlihatkan kepada Francis dan Domisia ayat-ayat yang dibaca oleh bayinya. Mereka berdua butuh waktu dalam pergulatan batin untuk beriman. Keduanya pun akhirnya mendapatkan hidayah. Mereka masuk Islam. Sesudah masuk Islam itulah mereka memberikan nama untuk anaknya sebagai “Syarifuddin Khalifah”.

Keajaiban berikutnya muncul pada usia 1,5 tahun. Ketika itu, Syarifuddin Khalifah mampu melakukan shalat serta menghafal al-Quran dan Bible. Lalu pada usia 4-5 tahun, ia menguasai lima bahasa. Pada usia itu Syarifuddin Khalifah mulai melakukan safari dakwah ke berbagai penjuru Tanzania hingga ke luar negeri. Hasilnya, lebih dari seribu orang masuk Islam.

b. Kisah Nyata Syarifuddin Mengislamkan Ribuan Orang

Kisah nyata ini terjadi di Distrik Pumwani, Kenya, tahun 1998. Ribuan orang telah berkumpul di lapangan untuk melihat bocah ajaib, Syarifuddin Khalifah. Usianya baru 5 tahun, tetapi namanya telah menjadi buah bibir karena pada usia itu ia telah menguasai lima bahasa. Oleh umat Islam Afrika, Syarifuddin dijuluki Miracle Kid of East Africa.

Perjalanannya ke Kenya saat itu merupakan bagian dari rangkaian safari dakwah ke luar negeri. Sebelum itu, ia telah berdakwah ke hampir seluruh kota di negaranya, Tanzania. Masyarakat Kenya mengetahui keajaiban Syarifuddin dari mulut ke mulut. Tetapi tidak sedikit juga yang telah menyaksikan bocah ajaib itu lewat Youtube.

Orang-orang agaknya tak sabar menanti. Mereka melihat-lihat dan menyelidik apakah mobil yang datang membawa Syarifuddin Khalifah. Beberapa waktu kemudian, Syaikh kecil yang mereka nantikan akhirnya tiba. Ia datang dengan pengawalan ketat layaknya seorang presiden.

Ribuan orang yang menanti Syarifuddin Khalifah rupanya bukan hanya orang Muslim. Tak sedikit orang-orang Kristen yang ikut hadir karena rasa penasaran mereka. Mungkin juga karena mereka mendengar bahwa bocah ajaib itu dilahirkan dari kelarga Katolik, tetapi hafal al-Quran pada usia 1,5 tahun. Mereka ingin melihat Syarifuddin Khalifah secara langsung.

Ditemani Haji Maroulin, Syarifuddin menuju tenda yang sudah disiapkan. Luapan kegembiraan masyarakat Kenya tampak jelas dari antusiasme mereka menyambut Syarifuddin. Wajar jika anak sekecil itu memiliki wajah yang manis. Tetapi bukan hanya manis. Ada kewibawaan dan ketenangan yang membuat orang-orang Kenya takjub dengannya. Mengalahkan kedewasaan orang dewasa.

Kinilah saatnya Syaikh cilik itu memberikan taushiyah. Tangannya yang dari tadi memainkan jari-jarinya, berhenti saat namanya disebut. Ia bangkit dari kursi menuju podium.

Setelah salam, ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi. Bahasa Arabnya sangat fasih, diakui oleh para ulama yang hadir pada kesempatan itu. Hadirin benar-benar takjub. Bukan hanya kagum dengan kemampuannya berceramah, tetapi juga isi ceramahnya membuka mata hati orang-orang Kristen yang hadir pada saat itu. Ada seberkas cahaya hidayah yang masuk dan menelusup ke jantung nurani mereka.

Selain pandai menggunakan ayat al-Quran, sesekali Syarifuddin juga mengutip kitab suci agama lain. Membuat pendengarnya terbawa untuk memeriksa kembali kebenaran teks ajaran dan keyakinannya selama ini.

Begitu ceramah usai, orang-orang Kristen mengajak dialog bocah ajaib itu. Syarifuddin melayani mereka dengan baik. Mereka bertanya tentang Islam, Kristen dan kitab-kitab terdahulu. Sang Syaikh kecil mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Dan itulah momen-momen hidayah. Ratusan pemeluk Kristiani yang telah berkumpul di sekitar Syarifuddin mengucapkan syahadat. Menyalami tangan salah seorang perwakilan mereka, Syarifuddin menuntun syahadat dan mereka menirukan: “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah.”

Syahadat agak terbata-bata. Tetapi hidayah telah membawa iman. Mata dan pipi pun menjadi saksi, air mata mulai berlinang oleh luapan kegembiraan. Menjalani hidup baru dalam Islam. Takbir dari ribuan kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu terdengar membahana di bumi Kenya.

Bukan kali itu saja, orang-orang Kristen masuk Islam melalui perantaraan bocah ajaib Syarifuddin Khalifah. Di Tanzania, Libya dan negara lainnya kisah nyata itu juga terjadi. Jika dijumlah, melalui dakwah Syarifuddin Khalifah, ribuan orang telah masuk Islam. Ajaibnya, itu terjadi ketika usia Syaikh kecil itu masih lima tahun.

Para ulama dan habaib sangat mendukung dakwah Syaikh Syarifuddin Khalifah. Bahkan ulama besar seperti al-Habib ali al-Jufri pun rela meluangkan waktunya untuk bertemu anak ajaib yang kini remaja dan berjuang dalam Islam. (Dikutip dari buku Mukjizat dari Afrika, Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang; Syarifuddin Khalifah).

Tradisi Menjelang Awal Ramadhan Umat Islam Indonesia





Mandi besar dan ziarah kubur adalah bagian dari tradisi menjelang awal Ramadhan yang biasanya dilaksanakan umat Islam di Indonesia.

Sebenarnya, mandi besar (mandi wajib karena hadats besar) wajib dilakukan setiap saat ketika seseorang hadats besar (misal junub, haid atau nifas) dan akan melakukan ibadah yang disyaratkan suci dari hadats, misal shalat dan thawaf.

Sehingga saat memasuki bulan Ramadhan seseorang tidak harus mandi besar dahulu, jika Ia tidak berhadats besar. Belum ditemukannya referensi yang menjelaskan disunahkannya mandi menjelang masuknya awal puasa Ramadhan, yang ada di kitab-kitab Fiqih, justru di dalam bulan Ramadhan itu yang disunahkan adalah mandi setiap malam, waktunya dimulai dari terbenamnya matahari (waktu Maghrib) sampai terbitnya fajar shodiq(waktu Shubuh). Di beberapa wilayah Indonesia, mandi menjelang awal Ramadhan dikenal denganpadusan atau keramasan. Padusan ini dimaksudkan sebagai niat membersihkan badan jelang puasa dan yang paling utama adalah untuk membersihkan hati.

Adapun niat mandi besar tersebut yaitu, “NAWAITUL GUSLA LISHOUMI GODIN SYAHRI ROMADHONA SUNNATAN LILLAHI TA’ALA”, yang artinya “niat Aku mandi besar karena akan puasa bulan Ramadhan, sunnat karena Allah.”



Ziarah kubur adalah salah satu tradisi yang dilakukan menjelang Ramadhan (Foto: Forum Keadilan)

Adapun tradisi ziarah kubur menjelang awal Ramadhan diyakini atas dasar keterangan/referensi beberapa kitab Kuning semisal Daqaiqul Akhbar tentang keadaan orang yang sudah meninggal di alam barzah/kuburnya. Hal ini sesuai dengan atsar (kata-kata) shahabat Nabi, Abu Hurairah r.a yang artinya:

“Ketika seorang mukmin meninggal dunia, ruhnya berputar mengelilingi rumahnya selama 1 bulan, dia melihat harta yang ditinggalkannya, bagaimana pembagian dan pembayaran hutang-hutangnya. Setelah genap 1 bulan dia kembali pada kuburnya dan berputar-putar selama 1 tahun, maka dilihatnya orang-orang yang mendoakannya dan orang-orang yang bersusah hati atas kepergiannya. Setelah genap satu tahun ruhnya diangkat dan dikumpulkan dengan ruh-ruh yang lain sampai hari kiamat, yaitu hari ditiupnya sangkalala.”

Tidak hanya Abu Hurairah, Ibnu Abbas r.a pun mengatakan lewat atsarnya: “Ketika datang hari raya (Idul Fitri dan Idul Qurban), hari Asyura (10 Muharram), hari Jumat yang pertama pada bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam pertama Ramadhan, malam Lailatul Qadar dan malam Jumat ruh-ruh orang mati keluar dari kuburnya dan berhenti didepan pintu rumah-rumah mereka dan mereka berkata kepada kerabat-kerabatnya: “Berbelas kasihanlah kalian pada malam yang penuh barokah ini dengan sedekah dan sesuap makanan (pada orang-orang yang mematuhkan), maka sesungguhnya kami sangat membutuhkannya, jika kamu bakhil dan tidak mampu bersedekah, maka ingatlah kami dengan membaca surat Al Fatihah pada malam yang barokah ini. Apakah ada seseorang yang mengasihi kami, apakah ada orang yang ingat pengembaraan kami. Wahai orang-orang yang mendiami rumah, wahai orang-orang yang menikahi perempuan (istri) kami, wahai orang yang menempati gedung kami yang luas dan sekarang kami dalam kubur yang sempit, wahai orang yang membagi harta kami, wahai orang-orang yang mensia-siakan anak yatim kami, apakah salah seorang dari kalian tidak ingat akan pengembaraan kami, shahifah (buku catatan) kami yang telah ditutup dan buku-buku kalian yang masih terbuka, dan tidak ada bagi mayit secarik kainpun dalam liang lahad, maka janganlah kalian lupa secuil dari roti kalian dan doa kalian, sesungguhnya kami membutuhkan kalian selamanya.”

Dari atsar Abu Hurairah dan Ibnu Abbas tersebut jelaslah bahwa tradisi ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan sunah dilakukan. Hal ini berkenaan dengan turunnya ruh ke alam dunia pada malam pertama bulan Ramadhan seusai dengan atsar di atas guna melihat keadaan keluarga yang ditinggalkan apakah mereka dalam keimanan dan keshalehan atau kufur dan maksiat. Seandainya keluarga berbuata kebajikan atau amal shaleh, ruh tersebut akan mendapatkan tambahan nikmat di alam kuburnya. sebaliknya, jika keluarga tersebut berbuat maksiat atau kufur kepada Allah sudah tentu ruh tersebut pun mendapat siksaan dari Allah di alam kuburnya.

Namun yang tidak boleh dilupakan adalah kesunahan ziarah kubur itu adalah setiap saat sepanjang tahun dan tidak dikhususkan ziarah kubur pada waktu-waktu tertentu.

Demam Batu Akik, Hindari Syirik Perkuat Akidah



Demam batu akik kian ramai. Namun, seringkali ditemui ada warga menganggap akik mempunyai kekuatan sehingga mengarah ke perbuatan syirik.

Ketua Program Studi Magister Pemikiran Islam, Pendidikan Islam dan Hukum Islam, Pascasarjana UMS, Sudarno Shobron, Kamis (26/2/2016), mengatakan syirik merupakan perbuatan dosa besar.

Demam Batu Akik, Hindari Syirik Perkuat Akidah

Maka umat Islam diminta menghindari semua hal yang mengarah pada perbuatan tersebut. Termasuk mengenakan cincin akik yang dipercayai memiliki kekuatan magis atau bisa mendatangkan keberuntungan.

Sudarno menerangkan perbuatan syirik bakal merusak akidah seseorang karena membuat lalai untuk beribadahnya kepada Allah SWT. Padahal Islam telah mengajarkan kepada umat Islam yang ingin mewujudkan keinginan yaitu dengan selalu berdoa, berusaha, berikhtiar dan tawakal.

Melalui empat jalan tersebut Allah akan memberikan apa yang diinginkan seorang hamba. “90% dalam hidup ini yang terpenting ialah usaha, ikhtiar, tawakal dan berdoa,” kata dia.

Pimpinan Majelis Tafsir Al-quran (MTA), Ahmad Sukino, mengatakan perasaan syirik terjadi karena tiga hal. Ketiganya ialah iman seseorang sedang lemah, bertemu dengan orang yang salah dan memiliki pengetahuan agama yang kurang.

Maka hal yang harus dilakukan untuk menghindarinya perbanyak beribadah dan mengikuti majelis taklim. Dengan begitu akidah seseorang bakal semakin kuat dan menghindarinya dari segala perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Sukino menambahkan jika ketauhidan seseorang semakin kuat tidak akan tergoyahkan oleh apapun. Hal ini juga tugas para ulama agar meluruskan niat dan akidah umat Islam agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dilarang seperti perbuatan syirik.

Kepercayaan bahwa Alquran berukuran sangat kecil atau kitab stambul bisa mendatangkan keberkahan misalnya, hal itu juga bagian dari perbuatan syirik. Saking percayanya bahkan banyak orang yang membawanya ke mana-mana sebagai perlindungan.

“Padahal Alquran sebagai petunjuk itu maksudnya ialah pengamalan dari isinya, bukan lantas membawa kitab stambul ke mana-mana untuk melindungi diri. Kalau kitab stambul bentuknya kecil bahkan enggak bisa dibaca begitu darimana unsur petunjuknya? Ini yang harus diluruskan,” kata dia.

Berhaji di Gunung Lompobattang Sulsel



Suasana sepi senyap di Puncak Gunung Lompobattang di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, berubah menjadi ramai. Sekelompok orang tampak memadati puncak yang memiliki ketinggian 2.691 meter di atas permukaan laut ini. Sebuah pemandangan yang tidak seperti hari - hari biasa yang selalu sepi.



Tetapi, ada yang lain dari sekumpulan orang ini. Mereka tampak duduk bersila secara teratur layaknya tengah menunggu pelaksanaan salat berjemaah. Dengan khusyuk, mereka juga mengumandangkan takbir dan tahmid. Mereka adalah para jemaah yang akan menjalani salat Idul Adha.

Sebuah tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun sebagian masyarakat Bugis. Bagi mereka, ini juga menjadi bagian dari kegiatan spiritual layaknya perjalanan ibadah haji ke Tanah Suci.

Bagi masyarakat Bugis, Gunung Lompobattang dan Bawakaraeng diyakini sebagai dua gunung suci seperti Mekah dan Madinah, dua kota yang menjadi tujuan para jemaah haji di Arab Saudi. Mereka menyebut kedua gunung ini sebagai "Buta ka Siasia" atau Tanah Miskin. Sebab, kedua gunung tersebut hanya diperuntukkan bagi mereka yang miskin dan tak mampu membiayai perjalanan haji ke Tanah Suci.

Mereka meyakini bahwa nilai pahala yang diperoleh melalui salat Idul Adha di puncak salah satu gunung ini sama besarnya beribadah haji di Mekah. Sayangnya, tak ada yang mengetahui secara pasti sejak kapan pelaksanaan ibadah haji tradisional ini dilakukan.

Memang ganjil. Tapi, hampir setiap tahun menjelang Idul Adha, sebagian warga Bugis kerap melakukan perjalanan tersebut. Daeng Cacuk, warga Desa Cicorok, Kecamatan Malakaji, Kabupaten Gowa, misalnya. Bersama isteri dan kedua anaknya, Daeng Cacuk menjalani ritual ini.

Bukit demi bukit mereka telusuri. Semak belukar mereka sibak tanpa menunjukkan rasa lelah sedikit pun. Cuaca pegunungan yang teramat dingin dengan suhu mencapai sekitar lima derajat Celsius juga tak menjadi halangan.



Namun, sesekali mereka berhenti untuk sekadar beristirahat sejenak dan melaksanakan salat. Meski terasa berat, perjalanan ke puncak Gunung Bawakaraeng dan Lompobattang ini dinilai akan lebih mempermudah untuk melangkah dalam pelaksanaan haji yang sebenarnya suatu saat kelak.

Pemerintah setempat sebenarnya telah melarang pelaksanaan ibadah haji di kedua gunung ini. Selain menyalahi aturan agama Islam, medan yang ditempuh sangat berat dan berbahaya. Tak heran, beberapa jalur yang biasa dilewati para jemaah ditutup dan selalu dijaga aparat keamanan setempat.

Tetapi, itu bukan menjadi halangan para jemaah. Jalur - jalur tikus yang justru lebih berbahaya pun dibuat. Padahal, sulitnya medan nan berbahaya ini kerap menimbulkan korban luka atau meninggal dunia. Hingga 2004 sedikit 29 orang tewas.

Sebagian besar meninggal dunia akibat hypothermia, serangan penyakit yang disebabkan udara dingin. Tetapi, ada pula yang tewas karena terjatuh saat melewati medan yang terjal. Itulah sebabnya, perjalanan para jemaah beberapa tahun terakhir ini mendapat kawalan dari Tim Search and Rescue Universitas Hasanuddin.

Tapi, semangat yang tinggi membuat para jemaah bersikeras tetap melakukan ibadah di puncak gunung. Dengan semangat ini pula Daeng Cacuk dan jemaah lainnya yang kerap lolos dari pengawasan penjaga hutan hingga akhirnya berkumpul di Kokbange, kawasan berketinggian 2.870 meter di atas permukaan laut.

Tempat ini juga disebut "Butta Lompoah" atau tanah kebesaran dan dianggap mempunyai keberkahan yang sama dengan Madinah. Sebuah batu nisan yang dianggap sebagai kuburanSyekh Yusuf, seorang Wali Allah dan pejuang Islam terkenal dari Tanah Sulawesi ini juga diibaratkan sebagai makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Tempat akhir dari perjalanan berat ini telah sampai. Dengan perlengkapan seadanya, para jemaah mulai bebenah diri. Saat malam tiba, jemaah mulai menyiapkan diri menghadapi hawa malam yang kian dingin nyaris mencapai titik beku. Sebagian jemaah membuat api unggun. Sementara yang lainnya menyiapkan sebuah karung dan tenda plastik untuk menghangatkan diri mereka saat tidur malam hari.

Malam pun berlalu. Mentari pagi menyeruak di ufuk timur menandai datangnya hari Idul Adha. Sama halnya dengan seluruh umat Islam di seluruh dunia untuk melaksanakan salat Idul Adhadan saat para jemaah haji melaksanakan wukuf di Arafah.

Di Kokbange, di puncak Gunung Lompobattang para peziarah tampak pula bersiap - siap untuk melaksanakan salat sunah seraya menahan udara dingin yang terasa menusuk tulang. Takbir dan tahmid mulai dikumandangkan menguak keheningan pagi di Kokbange.

Tapi, ada sedikit kebingungan terjadi saat para jemaah harus menentukan siapa yang akan menjadi imam. Umumnya mereka tak saling kenal sehingga tak tahu siapa yang paling pantas menjadi pemimpin salat berjamaah. Tetapi, kebingungan tersebut tak berlangsung lama.

Salah seorang dari jemaah disepakati untuk tampil menjadi imam. Salat Idul Adha di atas gunung keramat akhirnya dapat digelar. Selain para jemaah, beberapa orang dari Tim SAR Unhas juga ikut bergabung menjadi makmum.

Upacara tak berhenti sampai di sini. Usai melaksanakan salat, seorang jemaah melakukan ritual korban. Tapi, hewan yang dikorbankan bukan kambing atau sapi, melainkan seekor ayam. Sementara beberapa jemaah ada yang menyusuri sejumlah tempat yang dianggap keramat, termasuk kawasan yang disebut padang Arafah.

Di sini terdapat batu aras atau arsy yang diyakini sebagai tempat berkumpulmnya para malaikat dan para wali Allah SWT. Di tempat inilah, mereka memanjatkan doa. Sebagian jemaah ada juga yang berniat untuk melewati jembatan Siratal Mustakim, berupa sebuah bukit yang menghubungkan Gunung Lompobattang dan Bawakaraeng. Tapi, tebalnya kabut membuat rencana ini dibatalkan.

Anehnya, di tengah perjalanan, tiba - tiba muncul dua orang yang menyebut dirinya Haji Konidan Yusuf. Keduanya mengaku telah tujuh kali naik ke puncak Gunung Bawakaraeng danLompobatang. Singkat cerita kedua orang ini berhasil menarik simpati para jemaah. Kedua orang itu akhirnya diminta untuk mendoakan permintaan jemaah.

Uniknya, para jemaah diminta mengumpulkan uang untuk didoakan. Setelah didoakan uang yang telah terkumpul itu dikembalikan kepada para pemiliknya masing - masing. Para jemaah berharap rezeki mereka akan datang berlimpah sehingga mempunyai cukup uang untuk dijadikan bekal menuju Tanah Suci dalam rangka menunaikan ibadah haji yang sebenarnya.

Ini Tidak Mungkin! Muhammad Pasti Menggunakan Mikroskop




DR. KEITH L. MOORE MSc, PhD, FIAC, FSRM adalah Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi ) antara tahun 1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal karena literaturnya tentang mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains.

Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling populer dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku ini juga digunakan oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.

Pada suatu waktu, ada sekelompok mahasiswa yang menunujukkan referensi al-Qur’an tentang ‘Penciptaan Manusia’ kepada Profesor Keith L Moore, lalu sang Profesor melihatnya dan berkata :

“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!”

Para Mahasiswa tersebut lalu berkata, “Prof, bukankah saat itu Mikroskop juga belum ada?”

“Iya, iya saya tau. Saya hanya bercanda, tidak mungkin Muhammad yang mengarang ayat seperti ini,” jawab sang profesor.

***
“Kemudian Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (sesuatu yang melekat), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik” [QS. Al Mu'minuun: 13-14]

Jika di cermati lebih dalam, sebenarnya ‘alaqoh’ dalam pengertian Etimologis yang biasa di terjemahkan dengan ‘segumpal darah’ juga bermakna ‘penghisap darah’, yaitu lintah.

Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat ketika Embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-24 hari, selain seumpama lintah yang melekat dan menggelantung di kulit.

Embrio itu seperti menghisap darah dari dinding Uterus, karena memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Embrio itu makan melalui aliran darah. Itu persis seperti lintah yang menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makanannya adalah dari sari makanan yang terdapat dalam darah sang ibu.

Ajaibnya, Embrio Janin dalam tahap itu jika di perbesar dengan mikroskop bentuknya benar-benar seperti lintah. Dan hal itu tidak mungkin jika Muhammad sudah memiliki pengetahuan yang begitu dahsyat tentang bentuk janin yang menyerupai lintah lalu menulisnya dalam sebuah buku.

Padahal pada masa itu belum di temukan mikroskop dan lensa. Jelas itu adalah pengetahuan dari Tuhan, itu wahyu dari Allah SWT, yang Maha Mengetahui segala Sesuatu.

Ayat tersebutlah yang membuat sang profesor akhirnya memeluk agama Islam dan merevisi beberapa kajian ilmiahnya karena Al-Quran ternyata telah menjawab beberapa bagian yang selama ini membuat sang profesor gusar. Ia merasa materi yang ditelitinya selama ini terasa belum lengkap atau ada tahapan dari perkembangan Embrio yang kurang.

***
Artikel Biografi Dr. Keith L. Moore >> http://goo.gl/OHjQW

Video Pernyataan Lengkap sang Profesor:

Embryology in the Qur’an by: Dr. Keith L. Moore >> http://goo.gl/8hS87 (Durasi 1 jam 12 Menit)

Video Biografi dan Wawancara Dr. Keith L. Moore >> http://goo.gl/CE1mW (Durasi 1 jam 8 Menit)

Dari Mana Asalnya Yahudi?





Tiba-tiba saja semua orang di dunia melihat bangsa Yahudi berada di tanah Palestina. Dari mana mereka berasal?

Nabi Ibrahim as dilahirkan dan tumbuh di negeri Babilonia, suatu negeri yang pada saat itu penduduknya melakukan berbagai bentuk kemusyrikan, seperti menyembah batu, berhala, bintang. Semua penduduknya pada saat itu mengingkari Allah swt kecuali Ibrahim, istrinya dan keponakannya (Luth).

Berbagai upaya dilakukan olehnya untuk mendawahi mereka agar menyembah Allah swt termasuk terhadap ayahnya sendiri dengan menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang mereka sembah tidaklah bisa memberikan manfaat ataupun mudharat sedikit pun.

Ketika Ibrahim merasa bahwa da’wahnya kurang disambut maka mereka berpindah ke negeri Syam (Palestina) dan menetap di daerah Nablus. Dan pada saat Palestina diterpa musibah kelaparan dan biaya hidup begitu tinggi maka mereka berpindah ke negeri Mesir. Dari Mesir mereka kembali lagi ke Palestina.

Pada saat di Mesir, Ibrahim mendapatkan hadiah dari Fir’aun Mesir seorang budak wanita yang bernama Hajar. Dan dari Hajar beliau as mendapatkan Ismail yang kemudian dibawa oleh Ibrahim ke Mekah.

Sementara dari Sarah, Ibrahim mendapatkan Ishaq pada usianya yang menginjak 100 tahun setelah 14 tahun kelahiran Ismail. Kemudian Ishaq menikah dengan Rifqo binti Batwail di usia 40 tahun dan Ibrahim pada saat itu masih hidup. Dari Batwail ini, beliau mendapatkan anak kembar yang bernama ‘Aishu dan Ya’qub.

Allah memberikan kepada Ya’qub 12 orang anak, yaitu : Ruwaibil, Syam’un, Luwa, Yahudza, Isakhar, Zailun, Yusuf, Benyamin, Dan, Naftli, Had dan Asyir. Sementara yang paling dicintai oleh Ya’qub adalah Yusuf. Hal ini membuat cemburu saudara-saudaranya yang akhirnya mereka bersepakat untuk membuangnya ke sumur yang ditemukan oleh sekelompok musafir dan dijadikan barang dagangan. Yusuf kemudian dibeli oleh seorang penguasa Mesir dan istrinya dengan harga 20 dirham. Di negeri Mesir, Yusuf mendapatkan kesuksesan dengan menjadi bendaharawan negara dan ia pun mengajak ayah dan saudara-saudaranya untuk berpindah ke Mesir.

Ketika Mesir berada dalam puncak kezhaliman yang dilakukan oleh Fir’aun terhadap orang-orang Bani Israil dengan menyembelih anak-anak lakinya dan membiarkan hidup anak-anak perempuan kemudian Allah swt mengutus Musa as dan Harun untuk menda’wahi Fir’aun.

Upaya Musa dan Harun ini pun mendapat perlawanan yang luar biasa dan keras dari Fir’aun dan para tukang sihirnya sehingga Musa dan orang-orang yang beriman kepadanya melarikan diri. Pelarian diri mereka pun dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya hingga sampai ke tepi lautan. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke lautan sehingga terdapat jalan untuk bisa dilintasi oleh Musa dan orang-orang yang beriman sehingga selamat sampai di tepian, dan ketika Fir’aun serta tentaranya yang ada di belakang mereka memasuki jalan tersebut maka Musa memukulkan kembali tongkatnya ke lautan sehingga lautan itu menjadi seperti sedia kala dan menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya.

Kemudian Allah swt memerintahkan Musa dan orang-orang yang bersamanya untuk keluar dari Mesir dan menuju Baitul Maqdis (Palestina). Di negeri ini, Musa mendapatkan suatu kaum yang kuat dan gagah dari keturunan al Haitsaniyin, al Fazariyin dan al Kan’aniyin dan yang lainnya. Musa pun memerintahkan para pengikutnya untuk memasukinya serta memerangi mereka namun mereka semua enggan dan tidak mau menuruti perintah nabinya sehingga Allah menyesatkan mereka semua selama 40 tahun.

Pada masa 40 tahu didalam kesesatan ini Musa dan Harun meninggal dunia sehingga kepeminpinan Bani Israil dipegang oleh Yusa’ bin Nuun yang kemudian berhasil menundukkan Baitul Maqdis.

Setelah orang-orang Bani Israil menetap di Palestina, mereka mengalami tiga masa secara berturut-turut :
Masa Kehakiman; dimana kebanyakan keturunan mereka mengembalikan segala putusan dari perkara yang diperselisihkan diantara mereka kepada satu orang hakim. Masa ini berlangsung hingga sekitar 400 tahun.
Masa Menjadi Raja; sebagaimana firman Allah swt didalam surat al Baqoroh ayat 246 – 252. Allah menjadikan Thalut sebagai raja, kemudian Daud dan Sulaiman as.
Masa Perpecahan; yaitu pada masa setelah Sulaiman as terjadi perselisihan antara Rahbi’an bin Sulaiman dengan Yarbi’an bin Nabat. Kemudian Rahbi’an dan keturunan Yahudza serta Benyamin mendirikan negara yang bernama Negara Yahudza yang dinisbahkan kepada Yahudza dari keturunan Daud dan Sulaiman. Ibu kota negara ini di Baitul Maqdis.

Sedangkan Yarbi’an bin Nabath dengan 10 keturunan yang tersisa mendirikan negara Israil di sebelah Palestina bagian utara dengan ibu kotanya adalah Nablus. Merekalah orang-orang yang kemudian dinamakan dengan Syamir yang dinisbahkan kepada gunug di sana yang bernama Syamir.

Pada tahun 722 SM, negara Israil jatuh ke tangan orang-orang Asyuri dibawah pimpinan raja mereka yang bernama Sarjun sedangkan negara Yahuza jatuh ke tangan orang-oang Fira’unah pada tahun 603 SM.

Pada kira-kira tahun 586 SM Bukhtanshar (Nebukat Nashar), raja Babilonia berhasil menduduki Palestina dan mengusir orang-orang Fira’unah serta menghancurkan negara Yahudza dan memenjarakan orang-orang Yahudi serta membawanya ke Babilonia, yang kemudian dikenal dengan ‘Tawanan Bailonia’

Pada tahun 538 SM, raja Parsia yang bernama Kursy berhasil menaklukan Babilonia sehingga melepaskan para tawanan Yahudi dan sebagian dari mereka kembali lagi ke Palestina.

Pada tahun 135 SM, orang-orang Romawi pada masa kepemimpinan Adryan berhasil memadamkan revolusi yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sehingga menghancurkan negeri. Orang-orang Romawi berhasil mengusir mereka (Yahudi) dari sana dan menjadikan mereka terpecah-pecah di berbagai tempat di bumi. Sebagaimana firman Allah swt

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa Sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksa-Nya, dan Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al A’raf : 167 – 168)

Pada saat Palestina dibawah kekuasan Romawi ini, Allah swt mengutus Isa as sebagai Rasul kepada Bani Israil, sebagaimana firman Allah swt “Seorang rasul kepada Bani Israil” yang mengajak mereka untuk memperbaiki berbagai kerusakan. Seruan ini disambut oleh sebagian orang-orang Yahudi. Dan orang-orang Yahudi terpecah menjadi dua, sebagaimana diberitakan Allah swt ; “Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir.” (QS. Ash Shaff : 14)

Golongan yang pertama adalah orang-orang Nasrani sedangkan yang kedua adalah Yahudi.

Para tukang tenung dan ulama Yahudi mendatangi Raja Romawi agar menangkap dan membunuh Isa as yang kemudian permintaan ini disambut oleh raja, namun Allah swt mengangkat Isa dan menggantikannya dengan orang yang mirip dengannya yang kemudian disalib, firman Allah swt : “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, Sesungguhnya aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku.” (QS. Al Imran : 55)

Artinya : “dan karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (QS. An Nisaa : 157) (Disarikan dari Al Bidayah wan Nihayah dan majdah.maktoob.com).

Bekayat, Tembang Suka Duka Warisan Islam Sasak



Tembang indah nan khas itu bercerita tentang banyak hal, tentang sukacita hingga catatan kematian. Masyarakat Islam Sasak telah mengenal tradisi Bekayat ( membaca hikayat) sejak kerajaan Hindhu-Budha berkuasa. Hingga kinipun tradisi ini masih lestari.

Bekayat, Tembang Suka Duka Warisan Islam Sasak

Masyarakat Lombok yang mayoritas Muslim lebih mengenal tradisi membaca hikayat dengan istilah memace atau bekayat yang secara bahasa berarti membaca dan berkisah. Bekayat adalah tradisi membaca kitab-kitab kuno berbahasa sanskerta diatas daun lontar pada acara-acara tertentu seperti perayaan maulid nabi, tradisi sunatan, ngurisan, perkawinan hingga kematian. Kitab-kitab kuno tersebut dibaca oleh seorang pembaca dengan alunan nada yang khas, dan diterjemahkan olah seorang lainnya. Isi kitab biasanya bercerita tentang perjalanan spiritual nabi, perisitiwa masuknya Islam di Lombok, termasuk pula pesan-pesan kehidupan tentang bagaimana seharusnya manusia hidup bersama manusia lainnya. Bekayat dilakukan sejak malam hingga pagi hari.

“Tradisi ini sudah ada sejak kerajaan Hindhu berkuasa. Dahulunya tradisi ini dilakukan sebagai alat mengajak orang masuk islam. Teknik membacanya sangat dipengaruhi oleh unsur Hindhu,” ungkap Amaq Mastur, (54), pembaca asal Dusun Proa, Desa Kebun Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, saat ditemui belum lama ini.

Beberapa kitab yang biasanya dibaca adalah Hikayat Nur, Yatim Mustafa danBadaruzzaman untuk acara ngurisan (potong rambut bayi), Maulidan sunatan dan perkawinan. Kitab Kifayatul Muhtaj dibaca saat ritual Isra’ Mi’raj (naiknya Nabi Muhammad ke langit untuk menerima perintah Sholat). Ada pula Kitab Qurtubi Kasyful Gaibiyyah yang isinya seputar hakikat kematian serta bagaimana manusia seharusnya mati. Kitab yang paling populer adalah Jati Swara karangan seorang wali bernama Syeikh Abdussamad dan bercerita tentang proses berkembangnya Islam di nusantara.

Seorang pembaca hikayat dituntut menguasai teknik nembang sebagai ciri khas tradisi ini. Ada beberapa istilah nada khas yang dipilih diantaranya dangdang (nada khas asal Jawa), Sinom (Bali), Pangkur, Budaya dan Kumambang (Lombok). Untuk menjamin suara bisa stabil hingga semalam suntuk, pembaca mengamalkan jampi-jampian. Sebagai bagian dari tradisi dan adat budaya, bekayat juga mengharuskan adanya kemalik (semacam ikat pinggang berbahan benang), beras kuning, air bunga, benang warna hitam dan putih yang ditaruh diatas wadah yang dinamakan rereke. Di atas mereka membaca terdapat kain hitam yang dibentangkan diantara kain putih. Maknanya, sebersih dan sesuci apapun manusia, pasti terdapat noda dan kesalahan dalam diri yang harus dibersihkan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagian dari prasyarat itu kini sudah banyak yang hilang. Dahulu, pembaca biasanya disuguhkan air nira yang memabukkan. Sekali lagi ini adalah faktor sejarah. Banyak dari unsur-unsur Hindhu terpaksa dipakai agar inti ajaran bekayat lebih bisa diterima oleh masyarakat pada zaman itu.

Tradisi bekayat hingga kini masih tetap lestari. Berbeda dengan tradisi-tradisi lain yang kian hilang karena tergerus zaman, bekayat tetap ada karena peran pembacanya. Dalam satu kampung bisa terdapat 4 hingga 5 pembaca yang masih aktif. Mereka terdorong oleh niat melestarikan tradisi leluhur meski tidak mendapatkan imbalan material yang cukup.

Amaq Mastur (54) misalnya, laki-laki petani ini menjadi pembaca hikayat sejak masih muda puluhan tahun silam. Kemahirannya didapat dari seorang guru bernama Amaq Dimah yang sudah meninggal. Saat penulis menemuinya, Amaq Mastur tengah mengajarkan ilmu bekayat kepada dua orang muridnya masing-masing bernama Kamil dan Jamilah.

Dalam satu bulan, Amaq Mastur diundang membaca di tiga hingga lima tempat. Ia bersama penerjemah setianya, Sarafuddin, selalu siap menerima undangan di tempat-tempat jauh sekalipun. Pada bulan maulid dan Mi’raj, jadwalnya bisa hampir setiap malam.

“ Saya ikhlas menjalaninya. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi,” ungkapnya.

Amaq Mastur menitipkan pesan kepada generasi muda untuk tetap melestarikan tradisi-tradisi semacam ini. Bekayat adalah satu dari sekian budaya tutur dan dongeng yang masih ada hingga kini.