Showing posts with label Mualaf. Show all posts
Showing posts with label Mualaf. Show all posts

Kagum Pada Kesederhanaan Islam, Pemuda Ini Jadi Mualaf



Kagum Pada Kesederhanaan Islam, Pemuda Ini Jadi Mualaf

Pemuda asal Poenix, Arizona, Troy Bagnall adalah mahasiswa jurusan film dan media di Arizona State University (ASU). Dia memiliki ketertarikan pada sejarah kuno dan dunia, serta pada masalah perang dan politik.

Ketertarikannya itu ternyata mengantarkan Bagnall mencintai Islam. Pada Februari 2009, pemuda ini menyatakan memeluk Islam.

"Saya tertarik dengan sejarah kuno dan sejarah dunia, serta masalah perang dan politik," kata Bagnall.

Jika mendengar berita mengenai sebuah konflik yang terjadi di berbagai tempat di dunia Muslim, Bagnall akan segera mencari tahu informasi mengenai konflik tersebut secara rinci. Tetapi, dia menghadapi persoalan kurangnya informasi lantaran media di Amerika selalu membuat pemberitaan yang penuh prasangka.

Setiap mencari informasi tentang konflik terkait, Bagnall juga tertarik untuk mempelajari sejarah Islam. Bagnall bahkan menghabiskan waktu dengan belajar sendiri mengenai sejarah dan kebudayaan dunia Islam.

"Saya juga mengambil kelas peradaban Islam di ASU. Saat saya belajar sejarah dan kebudayaan dunia Muslim, saya tertarik dengan agamanya, Islam," kenangnya.

Bagnall dibesarkan sebagai seorang non-Muslim, tapi berhenti mengamalkan ajarannya sejak usia 15 tahun. Menurutnya, ajaran agamanya sangat membingungkan dan tidak masuk akal dan bertentangan dengan kitab sucinya sendiri.

Beruntung, ketika belajar Islam, Bagnall bertemu dengan Mohammad Totah yang sangat paham tentang kitab-kitab suci agama Ibrahimi. Dia melakukan banyak diskusi tentang perbandingan agama bersama Totah.

Dari diskusi dengan Totah inilah, Bagnall mendapat lebih banyak pelajaran bagaimana ajaran agamanya itu bertentangan dengan kitabnya sendiri. Bahkan kitab agamanya itu sudah sangat jauh berubah dari aslinya.

Mengenai Alquran, Bagnall sangat mengaguminya karena tidak ada cela sedikit pun. Bagi Bagnall, Alquran itu sangat sederhana dan sangat mudah untuk dipahami. Islam sendiri sangat sederhana dan lugas tanpa ada doktrin yang rumit.

"Semakin saya mempelajari Islam, saya makin paham tentang ketidakpastian yang saya temui dalam ajaran agama lama saya," katanya.

Selain itu, sejak dia memeluk agama Islam, Bagnall merasa lebih dekat dengan Tuhan.

Satu hal yang membuat Bagnall gemas tentang media Barat adalah bagaimana mereka selalu menggambarkan Islam secara negatif. Bagnall tahu ada konflik dan kekerasan di beberapa bagian dunia Islam, tapi konflik itu sebenarnya tidak lebih dari masalah politik.

Bagnall sering mendapat banyak pertanyaan dari non-Muslim seputar masalah politik dan kebudayaan Timur Tengah. Dia merasa tertantang untuk mengatakan bahwa Islam dengan ideologi politik dan adat kebiasaan budaya Timur Tengah adalah sesuatu yang sangat berbeda.

Bagnall merasa jengkel karena media Barat selalu mengidentikkan Muslim dengan Timur Tengah. Dia merasa ada masalah rasisme di sini.

Orang Barat sepertinya tidak sadar bahwa agama yang mereka peluk sekarang berasal dari Timur Tengah juga, sebagaimana Islam.

"Saya menerima Islam hanya karena saya bersaksi bahwa itu adalah agama yang benar dari Tuhan. Islam itu sederhana, lugas, dan tidak membingungkan," katanya.

Risty Tagor - Stuart Collin Bangun Rumah Tangga Bernafaskan Islam



Risty Tagor - Stuart Collin

Pasangan Stuart Collin dan Risty Tagor resmi menjadi pasangan suami istri setelah melangsungkan akad nikah dan resepsi pada hari Minggu (19/02/2015). Harapan pun terucap dari bibir pasangan pengantin baru yang menikah tanpa dilalui pacaran terlebih dahulu tersebut.

"Pengennya buat jadi yang terakhir. Sakinah mawadah warahmah. Seperti yang dipelajari di tafakur jadi partner dunia akhirat," ucap Risty Tagor ditemui di Hotel Novotel, Bogor, Minggu (19/04).

Pasangan Risty dan Stuart berharap untuk bisa menciptakan keluarga yang Islami. Stuart ingin memperkuat agamanya sebagai pondasi dalam membangun mahligai rumah tangga, terutama sebagai seorang kepala keluarga.

Risty Tagor - Stuart Collin
Risty Tagor dan Stuart Collin resmi jadi suami istri. ©KapanLagi.com®/Agus Apriyanto

"Sama kayak Risty yang penting kita berdua di ajaran Islam. Samawa. Yang terbaik semuanya. Jadi diri sendiri saja lebih enak," tutur Stuart Collin.

Stuart sempat mengungkap bahwa ia sebenarnya berencana menikah di akhir tahun 2015. Namun ternyata rencana tersebut dipercepat setelah bertemu keluarga. Akhirnya Stuart dan Risty pun telah resmi menikah dan hal itu mereka anggap bisa menghindarkan diri dari fitnah dan zina.

"Justru itu kenapa dicepetin dari keluarga juga pengennya sebelum bulan Ramadan," jelas Stuart.

Lahir Sebagai Yahudi, Hidayah Membawanya Kepada Islam




Musa Caplan lahir dan besar dalam tradisi Yahudi, Ia dan keluarganya rutin mengunjungi sinagog. Ia pun bersekolah di sebuah sekolah Yahudi Ortodoks.

“Saya hidup dengan keberagaman yang terbatas,” kenang dia seperti dilansir onislam.net, Rabu (30/4).

Meski berada dalam lingkaran tradisi Yudaisme, Musa menaruh minat mempelajari agama-agama lain. Ini yang selanjutnya mendorong Musa berinteraksi dengan umat agama lain, salah satunya penganut Islam.

“Saya percaya, semua agama itu sama, karena pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama yakni Allah,” kata dia.

Dari interaksi tersebut, ia mulai tahu banyak tentang Islam. Ia percaya Islam adalah agama yang mengedepankan perdamaian. Memang, Musa tidak bisa menghindari stereotip negatif tentang Islam. Beruntung baginya, interaksi dengan Muslim membuatnya memiliki perspektif baru.

“Disinilah, Allah mulai menaruh rencana pada hidup saya,” kata dia.

Musa sulit mempercayai mengapa Islam sebagai agama damai bisa melahirkan terorisme. Padahal agama ini belum tentu mengajarkan umatnya untuk membunuh orang tak bersalah. “Rasulullah adalah pejuang, ia tidak membunuh orang tidak berdosa, ia taruh rasa hormat, perdamaian dan toleransi,” kata dia.

Menyadari Islam bukanlah agama yang mengajari umatnya sikap kebencian, Musa mulai tertarik untuk lebih dalam mempelajarinya. Salah satu sumber yang menjadi acuannya adalah kitab Perjanjian Lama dan Alquran. Saat membandingkan keduanya, Musa melihat Alquran memiliki sumber informasi akurat tentang asal mula kehidupan, hal yang bisa dikonfirmasi melalui ilmu pengetahuan.

“Sementara, perjanjian lama telah berubah selama bertahun-tahun,” kata dia. Ambil satu contoh, ucapnya, Alquran memaparkan bagaimana gunung-gunung terbentuk hingga tercipta lapisan atmosfer. Informasi ini sudah ada di Alquran, jauh sebelum ilmu pengetahuan memahami itu.

Semakin mendalami Alquran, Musa kian kagum. Mulailah ia pada satu persimpangan dimana akal dan pikirannya mengerucut pada satu keinginan, yakni menjadi Muslim. Musa menyadari keputusan itu tidaklah mudah. Orang tua dan kerabatnya tentu tidak akan menerima keputusannya itu.

“Untuk saat itu, saya tidak menjalani kehidupan yang Islami sepenuhnya. Namun, berkat Allah, saya bisa melaksanakan shalat lima waktu, saya bisa mempelajari Islam secara online, dan setidaknya saya bisa secara terbuka mengakui keesaan Allah,” kata dia.

Memang tidak mudah bagi Musa menjalankan imannya itu. Ambil contoh saja, ia merasa prihatin dengan nasib bangsa Palestina. Secara pribadi, ia sangat mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel, Namun, keluarganya justru melihat Palestina adalah tanah milik bangsa Yahudi.

“Jujur saya mudah tersinggung soal itu,” kata dia.

Di luar kesulitannya, Musa meyakini keterbatasan yang dimilikinya saat ini tidak menghalangi niatanya mengakui Islam sebagai agama yang dipilih Allah untuknya. Memang, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersyahadat dihadapan umat Islam, tapi ia sudah melakukannya dihadapan Allah..

“Insya Allah, yang penting dari hal ini adalah, saya sudah berniat untuk mengunjungi masjid, tidak terlibat narkoba, mengkonsumsi alkohol dan mencuri. Tidak mudah memang, tapi Insya Allah,” kata dia.

Viviana Masuk Islam Karena Ingin Lebih Mengenali Tuhannya



Kita harus banyak bersyukur kepada Allah SWT karena kita terlahir dalam keadaan Islam. Banyak, orang-orang di luar Islam yang malah baru merasakan indahnya Islam tidak dari lahir. Mereka terlahir dari orangtua yang memang bukan beragama Islam. Seperti halnya kisah seseorang yang ingin memperdalam agamanya tetapi dia malah tertarik untuk masuk Islam. Dialah Viviana Espin.

Wanita kelahiran Ekuador ini, tertarik untuk masuk Islam ketika dia ingin memperdalam agamanya. Ketika dia masih kecil, keadaan dalam lingkungan keluarganya tidak baik. Kesulitan ekonomi membuat ayahnya begitu kasar. Tapi, ibunya sangat menyayangi dia. Hingga dia dimasukkan ke sekolah katholik yang menurutnya sekolah itu yang terbaik.

Viviana Masuk Islam Karena Ingin Lebih Mengenali Tuhannya

Ketika Viviana berusia 8 tahun, ayah dan ibunya bercerai. Dia begitu trauma karena kejadian itu. Dimulai dari masalah itulah, dia sering menyendiri. Menurutnya, menyendiri lebih menyenangkan. Dia pun memulai kebiasaan itu untuk memperoleh kedamaian. “Berbaring di halaman sekolah, menikmati melihat langit dan merasakan angin. Hal ini terasa begitu damai,” ujar Viviana.

Selain suka menyendiri, dia juga sering mencurahkan isi hatinya kepada seorang biarawati. Kedekatannya dengan biarawati membuatnya ingin lebih mengenal Tuhannya dengan menjadi seorang biarawati. Tapi, ibunya begitu marah ketika mendengar hal itu yang pada saat itu usia dia mencapai 12 tahun.

“Ibu senang kau dekat dengan Tuhan, tetapi ibu juga ingin kau memberikan ibu cucu-cucu!” ujar ibunya.

Akhirnya, Viviana memutuskan untuk memperdalam alkitab. Langkah itu dia lakukan sebagai cara lain untuk lebih mengenal Tuhannya. Namun, saat dia mempelajari alkitab itu, ternyata banyak hal yang tidak masuk akal.

Karena dia tidak menemukan jawaban yang masih dia pertanyakan dalam alkitabnya. Akhirnya dia mempelajari kitab-kitab dari agama lain. Tapi, tidak mempelajari kitab umat Islam yakni al-Qur’an. Di negaranya Islam dipersepsikan dengan agama yang buruk.
Setelah mempelajari beberapa kitab, dia tetap tidak menemukan jawabannya. Karena rasa tak puas dengan seluruh ajaran itu, akhirnya dia mempelajari kitab al-Qur’an. Ternyata dalam kitab umat Islam inilah dia menemukan semua jawaban yang tidak ada dalam kitab lainnya.

“Islam bisa menjawab pertanyaan tentang ‘berapa banyak Tuhan yang ada’,” kata Viviana. Jawaban ‘hanya satu’ kemudian menjawab pertanyaanya tentang Yesus yang ada di Alkitab. Saat itu, dia sadar bahwa alkitab telah berubah. dia lantas membaca riwayat hidup Nabi Muhammad SAW.

Ibunya kembali marah, bahkan lebih besar yang ketika itu Viviana berusia 18 tahun. Bibinya yang tidak setuju pun ikut membantu dengan membawa buku yang menyerang Islam. Viviana sempat ragu untuk masuk Islam. Lalu setelah beberapa bulan kemudian, dia bertemu pria muslim asal Arab.

“Kami jatuh cinta dan aku meninggalkan rumah untuk menemuinya di Mesir dan menikah dengannya,” kata Viviana.

Di Negara Mesir Viviana masih sempat ragu untuk memeluk Islam. Namun setelah dia bertemu dengan Raya, yang memiliki pengetahuan agamanya luas, akhirnya dia yakin. Akhirnya pada tanggal 30 Agustus 2009, dia pun bersyahadat dan menjadi muslim.

Guru di Inggris itu Menemukan Cinta Sejati dalam Islam





Hidayah bisa datang kepada siapa saja, tak terkecuali kepada maniak pesta seperti Heather Matthews. Sejak mengenal Islam, wanita 27 tahun itu mengaku menemukan cinta dan kebahagiaan sejati yang selama ini ia cari.

Heather mengaku tidak menemukan kebahagiaan akan gaya hidup hedonis yang dia jalani selama ini. Sejak empat pekan lalu ibu dua anak ini memutuskan berhijrah menjadi seorang Muslim. Ia memutuskan menjadi mualaf pascaliburan di Ibiza, Spanyol.

“Aku mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda kembali kepada Islam di depan imam (Ibiza),” kata Heather seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (27/10).

“Saudara Muslimku menyambut bahagia keputusanku ini. Mereka lalu memberikanku jilbab dan buku-buku Islam. Itu indah sekali,” aku Heather.

Menurut Heather keputusannya memang mengejutkan. Tapi dirinya berhijrah dengan penuh cinta guna meraih kebahagiaan.

“Islam telah benar-benar mengubah hidupku,” sebut Heather.

Usai kembali ke Islam, Heather Matthews memutuskan mengenakan jilbab. Keputusan itu sontak mengundang banyak pertanyaan kepada wanita yang berprofesi sebagai guru tersebut.

Tak sedikit teman-temannya dan orang-orang di sekitar Heather memandang aneh dirinya. Teman-temannya menganggap pakaian yang dikenakan wanita 27 tahun itu terlihat ‘berbeda’.

“Tentu saja tidak (menyesal). Ini sudah menjadi keputusanku. Ini merupakan cara untuk menghargai diri sendiri,” sebutnya seperti disadur dari Dailymail, Sabtu (27/10).

“Jika Anda berpakaian dan bertindak dengan cara tertentu, maka Anda akan diperlakukan dengan cara itu pula. Islam telah mengajarkanku tentang cinta sejati, bukan hasrat dan nafsu palsu,” kata dia mengakhiri. (Karta Raharja Ucu/Umi Lailatul/Dailymail)

Lahir Sebagai Yahudi, Hidayah Membawanya Kepada Islam




Musa Caplan lahir dan besar dalam tradisi Yahudi, Ia dan keluarganya rutin mengunjungi sinagog. Ia pun bersekolah di sebuah sekolah Yahudi Ortodoks.

“Saya hidup dengan keberagaman yang terbatas,” kenang dia seperti dilansir onislam.net, Rabu (30/4).

Meski berada dalam lingkaran tradisi Yudaisme, Musa menaruh minat mempelajari agama-agama lain. Ini yang selanjutnya mendorong Musa berinteraksi dengan umat agama lain, salah satunya penganut Islam.

“Saya percaya, semua agama itu sama, karena pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama yakni Allah,” kata dia.

Dari interaksi tersebut, ia mulai tahu banyak tentang Islam. Ia percaya Islam adalah agama yang mengedepankan perdamaian. Memang, Musa tidak bisa menghindari stereotip negatif tentang Islam. Beruntung baginya, interaksi dengan Muslim membuatnya memiliki perspektif baru.

“Disinilah, Allah mulai menaruh rencana pada hidup saya,” kata dia.

Musa sulit mempercayai mengapa Islam sebagai agama damai bisa melahirkan terorisme. Padahal agama ini belum tentu mengajarkan umatnya untuk membunuh orang tak bersalah. “Rasulullah adalah pejuang, ia tidak membunuh orang tidak berdosa, ia taruh rasa hormat, perdamaian dan toleransi,” kata dia.

Menyadari Islam bukanlah agama yang mengajari umatnya sikap kebencian, Musa mulai tertarik untuk lebih dalam mempelajarinya. Salah satu sumber yang menjadi acuannya adalah kitab Perjanjian Lama dan Alquran. Saat membandingkan keduanya, Musa melihat Alquran memiliki sumber informasi akurat tentang asal mula kehidupan, hal yang bisa dikonfirmasi melalui ilmu pengetahuan.

“Sementara, perjanjian lama telah berubah selama bertahun-tahun,” kata dia. Ambil satu contoh, ucapnya, Alquran memaparkan bagaimana gunung-gunung terbentuk hingga tercipta lapisan atmosfer. Informasi ini sudah ada di Alquran, jauh sebelum ilmu pengetahuan memahami itu.

Semakin mendalami Alquran, Musa kian kagum. Mulailah ia pada satu persimpangan dimana akal dan pikirannya mengerucut pada satu keinginan, yakni menjadi Muslim. Musa menyadari keputusan itu tidaklah mudah. Orang tua dan kerabatnya tentu tidak akan menerima keputusannya itu.

“Untuk saat itu, saya tidak menjalani kehidupan yang Islami sepenuhnya. Namun, berkat Allah, saya bisa melaksanakan shalat lima waktu, saya bisa mempelajari Islam secara online, dan setidaknya saya bisa secara terbuka mengakui keesaan Allah,” kata dia.

Memang tidak mudah bagi Musa menjalankan imannya itu. Ambil contoh saja, ia merasa prihatin dengan nasib bangsa Palestina. Secara pribadi, ia sangat mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel, Namun, keluarganya justru melihat Palestina adalah tanah milik bangsa Yahudi.

“Jujur saya mudah tersinggung soal itu,” kata dia.

Di luar kesulitannya, Musa meyakini keterbatasan yang dimilikinya saat ini tidak menghalangi niatanya mengakui Islam sebagai agama yang dipilih Allah untuknya. Memang, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersyahadat dihadapan umat Islam, tapi ia sudah melakukannya dihadapan Allah..

“Insya Allah, yang penting dari hal ini adalah, saya sudah berniat untuk mengunjungi masjid, tidak terlibat narkoba, mengkonsumsi alkohol dan mencuri. Tidak mudah memang, tapi Insya Allah,” kata dia. (ROL/sbb/dakwatuna)

Subhanallah, Ikuti Jejak Ayah, Putera Van Dorn Masuk Islam



Subhanallah, Ikuti Jejak Ayah, Putera Van Dorn Masuk Islam

Putra Arnoud Van Doorn, seorang pembuat film antiIslamFitna yang masuk Islam tahun lalu, dikabarkan telah mendapat hidayah mengikuti jejak Sang Ayah masuk agama Islam.

The Khaleej Times melaporkan pada hari Senin (21/4/2014) bahwa Iskandar Van Doorn telah bersyahadat bersama 37 orang lain di Dubai International Peace Convention.

“Saya melihat ayah saya menjadi lebih damai setelah masuk Islam, saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang baik dalam agama ini dan itu membuat saya mengubah persepsi saya menjadi Muslim,” kata Iskandar.

Iskandar mengatakan bahwa setelah ayahnya masuk Islam, ia juga mulai belajar Al-Qur’an dan mendengarkan ceramah tentang Islam. Isakandar, 22, mengatakan seorang teman dekat yang seorang Muslim juga membantu untuk mengajarinya tentang agama Islam.

Arnoud Van Dorn, ayahnya, adalah seorang mantan pembantu pemimpin sayap kanan Belanda Geert Wilders. Van Dorn berpartisipasi dalam pembuatan film antiIslam ‘Fitna’ yang menghina Islam. Van Doorn kemudian mulai mendalami Islam untuk membuat film Fitna tersebut, tapi Van Dorn akhirnya terinspirasi oleh pesan Islam dan mengaku sebagai Muslim tak lama kemudian.

Misteri Awal Mula Sang Pembenci Islam Itu Jadi Muslim



Arnoud van Doorn

Ada satu masa dimana Arnoud van Doorn, bersama koleganya sesama Belanda Geert Wilders, begitu membenci Islam. Ketika itu, ia mengakui, setiap detik yang ada di kepalanya hanya satu, bagaimana menghancurkan Islam. Namun, hidayah Allah SWT yang punya. Siapa menduga kemudian, orang yang sangat benci Islam ini kemudian malah menjadi seorang Muslim. Allahu akbar!

Van Doorn adalah salah satu anggota partai politik sayap kanan Belanda dari Partai Bagi Kebebasan. Partai ini dikenal sangat anti-Islam. Doorn sendiri menjadi muslim setelah dia melakukan penelitian mengenai agama ajaran Nabi Muhammad itu dan kehidupan kaum muslim.

“Saya mengerti kenapa semua orang skeptis, terutama mengenai hal-hal yang tak terduga bagi banyak orang. Ini merupakan keputusan besar yang saya tidak anggap remeh,” kata Doorn.

Kabar keputusan Doorn masuk Islam pertama kali muncul saat dia menyebut kata ‘awal baru’ di akun Twitter-nya. Dia kemudian menulis kalimat syahadat dalam bahasa Arab untuk menyatakan kepercayaan barunya itu. Doorn akhirnya mengumumkan bahwa dia sudah masuk Islam.

“Orang-orang terdekat saya tahu bahwa hampir setahun belakangan ini saya aktif membaca Al-Quran, hadist, sunnah, dan buku-buku lainnya tentang Islam,” terang Doorn. “Saya juga banyak melakukan berbagai percakapan dengan kaum muslim tentang agama.”

Dia mengatakan dorongan dari partainya agar mempunyai sikap menentang Islam justru membuatnya penasaran dan ingin menggali tentang kebenaran agama Islam sendiri.

“Saya mendengar banyak pandangan buruk mengenai Islam. Namun, saya bukanlah tipe orang yang hanya mengikuti pendapat orang lain tanpa melakukan penelitian terlebih dahulu,” papar Doorn.

Doorn menjelaskan dia akhirnya mulai melakukan penelitian lebih dalam tentang Islam untuk menjawab rasa keingintahuannya itu. Suatu hari kerabatnya yang bernama Abu Khoulani dari dewan perwakilan Kota Hague memintanya untuk berinteraksi dengan anggota Masjid As-Sunnah. Hal itu, menurut Doorn, yang akhirnya membuat ia mengenal lebih jauh tentang Islam.

Doorn yang juga merupakan anggota parlemen Belanda dan dewan perwakilan Kota Hague, memang telah lama dikait-kaitkan dengan sikap anti-Islam sehubungan kedekatannya dengan Geert Wilders sebagai pemimpinnya. Wilders memang dikenal sebagai politikus penentang Islam, kaum muslim, dan Al-Quran.

Tercatat, Wilders pernah menegaskan perjuangannya menghentikan penyebaran Islam di Eropa dan dunia merupakan tujuan utama dalam hidupnya. “Perjuangan anti-Islam adalah misi hidup saya,” kata Wilders.

Doorn mengatakan dirinya sadar telah berbuat kesalahan dalam kehidupannya seperti halnya orang lain. Namun, dia menyebut, dari kesalahan-kesalahan itu, dirinya justru telah belajar banyak. “Dengan menjadi seorang Muslim, saya merasa telah menemukan jalan saya. Saya menyadari ini adalah awal baru dan saya masih harus banyak belajar.”

Selamat datang, Brother!

Sultan Hasanuddin, Setelah Masuk Islam, Berjuang Melawan Kompeni



Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun, adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe.

Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. dia diangkat menjadi Sultan ke 6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655).

Sementara itu Belanda memberinya gelar de Haav van de Oesten alias Ayam Jantan dari Timur karena kegigihannya dan keberaniannya dalam melawan Kolonial belanda. Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.

Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.

Peperangan antara VOC dan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dimulai pada tahun 1660. Saat itu Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala akhirnya tewas tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri dan perang tersebut berakhir dengan perdamaian. Akan tetapi, perjanjian dama tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda, yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah besar.

Lalu Belanda mengirimkan armada perangnya yang besar yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Aru palaka, penguasa Kerajaan Bone juga ikut menyerang Kerajaan Gowa. Sultan Hasanuddin akhirnya terdesak dan akhirnya sepakat untuk menandatangani perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda.

Namun karena Belanda sudah kuat maka Benteng Sombaopu yang merupakan pertahanan terakhir Kerajaan Gowa berhasil dikuasai Belanda. Hingga akhir hidupnya, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Untuk Menghormati jasa-jasanya, Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya dengan SK Presiden Ri No 087/TK/1973.

Islam di Mata Sister Prancis Mualaf Ini




Mantan rapper terkenal ini masuk Islam pada 2008. Empat tahun setelah ia masuk Islam, Sister amat senang menjelaskan mengapa dia memutuskan untuk mengambil langkah luar biasa ini yang mengubah hidupnya, ia menyatakan bahwa Islam telah membawa banyak arti bagi dinamika hidup dirinya. “Saya menjadi seorang wanita normal. Ketika bangun setiap pagi, saya tahu bahwa saya harus memperbaiki diri,” kata Sist Diams.

“Ketika Anda membawa kasih sayang Tuhan di dalam hati, Anda tercukupi segalanya. Sempurna!” tambahnya.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa dia tidak diciptakan untuk menjadi bintang, betapa faktanya bahwa kehidupan gemerlap menjadi seorang bintang membuatnya sengsara.

“Saya berusaha sangat keras untuk bersenang-senang di pesta, tapi, ternyata tidaklah Allah menciptakanku untuk itu. Saya percaya pada impian menjadi bintang, tapi itu hanya ilusi, itu godaan setan buat semua manusia…” katanya.

Titik balik dalam hidupnya adalah ketika dia bersama teman muslimnya, Soussou. Ketika Soussou pergi untuk melakukan sholat, Diams langsung bertanya apakah dia bisa berdoa dengannya juga. “Ketika saya berdoa dengannya dan aku bersujud, aku merasa terhubung dengan Tuhan,” jelasnya. Temannya menjelaskan bahwa itulah kegiatan sholat, bukti bakti muslim dengan Tuhannya.

Sister kemudian melanjutkan perjalanan ke Mauritius, dan dia mengambil Al-Quran, dengan segera melanjutkan untuk membacanya. “Ini adalah sebuah wahyu, saya yakin bahwa Tuhan itu ada, ” jelasnya. Sobat muslimnya berkatan “Dengan keyakinan yang kuat bahwa ketika membaca quran, maka seolah mendengarkan langsung perintah-perintah Allah…”

“Semakin Banyak saya baca, semakin menjadi-jadi keyakinanku…Saya perlu berubah, mengatur hidup dengan benar, dan Islam adalah agama yang benar,” katanya.

Mengenai keputusannya untuk mengenakan jilbab, ia menjelaskan bagaimana semua itu terjadi dengan selangkah demi selangkah. Ia berkata bahwa dia tidak siap pada awalnya, tetapi ketika ia belajar lebih banyak tentang Islam, ia semakin yakin bahwa ia harus memakai jilbab. Ternyata ia tak punya pilihan selain menaati perintah Sang Pencipta, itu melekat dalam sanubarinya.

“Saya sangat senang berada di titik ini, bahwa saya memiliki kebahagiaan dalam hati, bahwa tidak ada yang bisa mengambil, baik melalui mengambil gambar tubuh atau menyerang hidup saya, karena saya memiliki iman kepadaNya, Rezeki buat saya pun sudah ada ketetapan dari Allah…” pungkasnya.

Sister Diams adalah muallaf yang berusaha istiqomah dengan pilihan jalan hidupnya, berada dalam tuntunan al-Islam di negeri sekuler, bagaimanakah dengan diri kita yang notabene telah diajarkan pendidikan agama sejak kecil? Bagaimanakah dengan masa muda kita yang hidup di tengah-tengah negeri mayoritas muslim dengan ratusan masjid di berbagai daerah? Semoga secuil kata dari sister ini, dapat menjadi renungan dan muhasabah bagi jiwa kita, aamiiin…

Selamat berjuang!

Enam Saudaranya Jadi Pendeta, Burhanuddin Pilih Jadi Dai



Ahad (15/12/2013) Masjid Muhammad Ramadhan, Taman Galaxy, Bekasi Selatan kedatangan tamu bernama Dr. Burhanuddin Siagian, seorang da’i asal Tarutung, sebuah kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara.

Lahir di tengah keluarga Kristen pada tahun 1964, nama asli Burhanudin adalah Parman Siagian. Enam dari sebelas saudaranya tumbuh menjadi pendeta dari berbagai macam ordo Kristen. Sementara Burhanuddin sendiri menemukan hidayah dengan cara yang unik.



“Kalau Islam ada acara musabaqoh tilawatil qur’an, di Kristen ada acara liturgy, ketika saya masih SD, saya ikut dalam acara liturgy dan mendapat giliran menyampaikan hapalan saya tentang keharaman babi (imamat 11:7). Saat itu hapalan saya disalahkan karena dianggap berbeda dengan apa yang tertulis dalam Alkitab kawan-kawan saya. Di alkitab saya (tahun 1973) tertulis hanya ‘babi’ saja sementara di Alkitab lain tertulis ‘babi hutan’. Hal-hal semacam ini (kontradiksi) yang membuat saya ragu dengan ajaran Kristen sendiri,” jelasnya.

Setelah masuk Islam, Burhanuddin Siagian memperdalam keislaman dengan belajar di pesantren Musthofawiyyah Tapanuli Selatan dan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Setelah lulus dan mendapatkan gelar S2, Burhanuddin terpanggil dengan keprihatinan terhadap nasib umat Islam di kampung halamannya. Dia pun memutuskan untuk terjun sebagai Da’i.

Selain menghadapi kekuatan arus Kristenisasi, Burhanuddin juga menyampaikan tantangan lain dalam berda’wah di pedalaman Tapanuli Utara.

“Aqidah Islam saat ini masih banyak ditentang oleh masyarakat lewat tradisi lokal,” ujarnya.

Burhanuddin juga menghimbau agar umat Islam di seluruh Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap kasus Kristenisasi yang terjadi di daerah terpencil.

“Daerah terpencil, miskin dan kurang subur justru adalah lahan yang subur bagi pemurtadan, banyak kasus di Sumatera Utara yang harus menjadi perhatian umat Islam. Di Medan, saat ini ramai masjid dijual kepada developer untuk diganti dengan pusat perbelanjaan. Belum lagi para pengungsi muslim letusan Gunung Sinabung yang kini banyak bernaung di gereja-gereja,” paparnya. [eza/Islampos]

Ahli Riset Jepang Masuk Islam Setelah Teliti Buah Tin dan Zaitun



Kebenaran Al-Qur’an tak dapat dibantah lagi, bahkan banyak orang non-Muslim menjadi Muallaf setelah menelaah ayat-ayat al-Qur’an. Ini pula yang dialami oleh beberapa ahli biologi asal Jepang yang menyatakan memeluk Islam, setelah al-Quran menguatkan hasil riset dan penelitian mereka.

Awal mula mereka memeluk Islam dimulai dari sebuah riset mengenai zat bernama methalonids. Zat protein ini keluar dari otak manusia dan binatang dalam jumlah yang sedikit.

Zat methalonids sangat penting bagi tubuh manusia dan dapat mengurangi kolesterol. Selain itu, zat ini juga berguna untuk menguatkan jantung dan memperkuat sistem pernapasan.

Buah Tin dan Zaitun

Zat methalonids akan diproduksi dalam jumlah yang lebih banyak setelah usia 15 tahun hingga 35 tahun. Setelah usia ini hingga usia 60 tahun, produksi zat ini akan berkurang kembali. Dengan demikian, zat methalonids termasuk zat langka dalam tubuh manusia. Dalam tubuh binatang, zat ini juga ditemukan sangat sedikit.

Untuk itu, para periset Jepang berusaha menemukan zat methalonids dalam buah-buahan, dan mereka hanya menemukan dalam dua jenis buah yaitu dari buah tin dan zaitun, yang sudah disebutkan dalam al-Quran sejak berabad-abad lalu.

Menurut riset, diketahui jika mengonsumsi salah satu dari dua buah tersebut tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Menurut mereka, jika satu biji buah tin dicampur menjadi satu dengan enam biji buah zaitun, maka hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.

Pada suatu saat, para periset Jepang ini berhubungan dengan seorang dokter berkebangsaan Arab Saudi. Dokter Saudi ini meneliti penggunaan kata tin dan zaitun dalam al-Quran. Ia menemukan kata “tin” disebutkan sebanyak satu kali dan kata “zaitun” secara tegas sebanyak enam kali dan satu kali secara implisit. Akhirnya, dokter ini mengirimkan seluruh informasi dari al-Quran kepada mereka, dan setelah yakin atas akurasi informasi, mereka pun menyatakan memeluk Islam.

Maurice Bucaille, Memutuskan untuk Masuk Islam Setelah Meneliti Mumi Fir’aun




Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Fir’aun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Tidak lama setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Fir’aun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta yang sangat meriah untuk penyambutan kedatangan mumi Firaun.

Sesampainya di Prancis, mumi Fir’aun pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian oleh para ilmuanterkemuka dan para pakar dokterbedah juga otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus yang menjadi penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

Bucaille adalah seorang ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada tahun 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada tahun 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya, anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Fir’aun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan!. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala Bucaille. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan ini akhirnya dia terbitkan dalam bentuk buku dengan judul ‘Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern’ dengan judul aslinya ‘Les momies des Pharaons et la midecine’.

Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes(penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General(Penghargaanumum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”.

Awalnya Bucaille mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil. Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

Namun salah seorang rekannya berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.

Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Bucaille duduk semalaman memandang mayat Fir’aun dan terus memikirkan penyataan rekannya. Pernyataan itu masih terngiang-ngiang dibenaknya, pernyataan yang mengatakan bahwa Alquran telah membicarakan kisah Fir’aun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

Ia berkata pada dirinya sendiri. ”Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?”

Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat. Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ”Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka”.

Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun.

Setelah perbaikan terhadap mayat Fir’aun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakan Bucaille, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, kabar yang mengatakan bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Fir’aun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Fir’aun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.

Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul ‘Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern’. Judul asli buku dalam bahasa Prancis adalah ‘La Bible, le Coran et la Science’. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional terutama di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.

Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan.

Mualaf Paling Tua di Dunia



“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56)

Georgette Lepaulle seorang Nenek yang tinggal di Berchem, di sebuah kota di propinsi Antwerpen, Belgia. Tahun lalu, th 2012, Nenek telah membaca dua kalimat syahadat. Bahkan, saat itu Nenek tercatat sebagai muallaf tertua di dunia (saat itu usianya 91 tahun). Nenek memutuskan untuk menjadi seorang muslimah karena tertarik dengan keramah-tamahan muslim (yang berada disekelilingnya) dan beberapa kali dia merasa bahwa Allah mengabulkan do’anya. Allohu Akbar!


Ceritanya berawal saat 2 tahun yang lalu, saat keluarga Nenek akan memasukkannya ke panti jompo. Mohammed, seorang muslim yang telah bertetangga dengannya lebih dari 40 tahun, menghalang-halangi niatan itu. Dia mengajak Nenek untuk tinggal bersama keluarganya karena keluarga Mohammed telah mengenal Nenek sejak lama. Apalagi ibu Mohammed juga sudah meninggal, dia sudah menganggap Nenek seperti ibunya sendiri. Sejak tinggal bersama keluarga Mohammed, Nenek mulai tertarik dengan Islam. Nenek melihat mereka sholat berjama’ah, saling berkasih-sayang, dan saling berbagi. Nenek melihat makna “keluarga” yang begitu indah dalam keluarga Muhammed, sangat berbeda dengan kondisi keluarganya.

Pada musim panas tahun lalu (2012), Nenek ikut dengan Muhammed untuk mengunjungi keluarganya di Maroko. Pada waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan puasa bagi umat Islam. Puasa bukanlah hal yang asing bagi Nenek yang (dulunya) beragama Katolik. Dia dibaptis, pergi ke biarawati di sekolah, dua kali menikah di gereja dan kedua suaminya pun telah meninggal dan dikuburkan dengan cara gereja. Selama hidup dia bekerja sebagai seorang pembantu di sebuah keluarga Yahudi. Namun dia merasa bahwa agamanya tidak pernah “menyentuh”nya. Sebaliknya, dia merasa jauh dari Tuhan. Dia mulai merokok untuk pertama kalinya saat berusia 5 tahun hingga usianya 78 tahun. Pada usia 7 tahun, dia mulai minum alkohol hingga sebelum dia masuk Islam, dia minum setengah botol wine setiap hari. Itulah kebiasaan lamanya sejak pernikahan pertamanya dengan seorang pilot Italia yang telah meninggal saat perang.

Nenek merasa keikutsertaannya saat Ramadhan tahun lalu itu membangkitkan jiwa religiusnya. Dia sendiri merasa kaget. Dia merasa sangat terlambat merasakan “pengalaman” ini, merasakan hubungan dengan sesuatu yang “lebih tinggi”, dengan Allah. Dia merasakan keterbukaan-Nya, juga cinta-Nya. Dia pernah berdo’a meminta kesembuhan untuk temannya dan untuk keselamatan seorang anak muda yang “salah jalan”. Kedua do’anya itu telah dikabulkan-Nya. Baginya, itu sudah cukup menguatkan dirinya untuk masuk islam.

Saat masuk Islam, para muslimah “membersihkan” seluruh tubuh Nenek (mungkin maksudnya adalah mandi besar sebagai salah satu hal yang diwajibkan ketika seseorang itu masuk Islam, sebagaimana dalam sebuah hadits, Dari Qais bin Ashim Radhiyallahu Anhu bahwa ia masuk Islam, lalu diperintah oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar mandi dengan menggunakan air yang dicampur dengan daun bidara.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 128, Nasa’I I: 109, Tirmidzi, II:58 no: 602 dan ‘Aunul Marbud II: 19 no: 351). -red). Setelah itu, para muslimah pun menghujani Nenek dengan ciuman. Menurut Nenek, ia tidak pernah mendapat ciuman yang sebanyak itu sepanjang hidupnya. Dia merasa senang karena mereka menganggapnya sebagai saudaranya. Sejak masuk Islam, banyak hal yang harus Nenek tinggalkan, seperti minuman keras , rokok, daging babi dan juga sesuatu yang tidak mudah bagi seorang wanita yakni make-up. Sebelumnya, Nenek selalu memakai make-up yang tebal.

Begitu kembali di Belgia, mereka pergi ke masjid besar di Brussels untuk mengurus Sertifikat ke-Islam-an Noor, nama baru Nenek. Kemudian masjid di Brussels melaporkannya ke masjid di Mekah. Ternyata, tidak ada muallaf yang lebih tua dari usia Nenek saat itu, yaitu 91 tahun. Segera saja Raja Saudi Arabia mengirimkan utusannya ke Berchem untuk memberikan hadiah, sebuah jam tangan emas untuk Nenek. Tidak hanya itu, Raja Saudi Arabia juga mengirimkan “undangan” baginya untuk menjalankan ibadah Haji tahun depan.

Nenek tampak bersungguh-sungguh dengan ke-Islam-annya (semoga Allah memberi Nenek keistiqNenekhan). Komitmennya untuk menjadi muslimah yang baik terus dia upayakan, termasuk digambarkan saat wawancara ini. Saat perkenalan, dia menyembunyikan tangannya dibalik bajunya. Dia menolak untuk berjabatan tangan. Dia menyebutkan bahwa dia tidak akan mengulurkan tangannya untuk orang asing karena begitulah aturan Islam (Subhanalloh…bagaimana dengan kita? yang sudah muslim sejak lahir. Sudahkah kita memiliki komitmen seperti Nenek? faghfirlana…). Dia hanya akan “menyentuh” suaminya. Sambil becanda, dia pun mengatakan bahwa pernyataan ini tidak berarti bahwa dia merencanakan sebuah pernikahan setelah ini (setelah ia menjadi muslimah). Bahkan ketika Nenek ditanya, berapakah biaya yang harus dia keluarkan untuk menjadi seorang muslimah. Dia menjawab bahwa hal ini (ke-Islam-annya -red) tidak ada kaitannya dengan uang. Dia mengambil keputusan ini dengan sukarela.

Subhanalloh walhamdulillah walaa ilaaha illallohu Allohu Akbar!

Betapa kisah ini adalah salah satu contoh bahwa hidayah Allah bisa sampai kepada siapa pun, tidak terbatas asalnya, warna kulitnya atau usianya. Dan kita pun harus yakin bahwa Allah akan memuliakan orang yang bisa menjadi jalan hidayah bagi orang lain.

“Seseorang mendapat hidayah Allah melalui engkau, maka hal itu lebih baik bagimu dari seekor unta merah ”

Itulah yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib RA ketika beliau menyerahkan bendera kepadanya pada saat perang Khaibar. Kemudian Ali berkata : “Atas dasar apa kita memerangi manusia, kita memeranginya sampai mereka seperti kita?”. Rasul bersabda : Sabar, sampai engkau memasuki wilayah mereka, lalu dakwahkan mereka kepada Islam, dan sampaikan kepada mereka kewajiban-kewajibannya, maka demi Allah seseorang mendapatkan hidayah melalui engkau, hal itu lebih baik bagimu dari pada seekor unta merah”.

Rendra Masuk Islam Karena Merasa Allah Lebih Dekat daripada Urat Nadi





Sejak masih tinggal di Amerika ketika berlajar drama, Willibrordus Surendra Broto Rendra sudah mengenal agama Islam dari leaflet yang dibagi-bagikan oleh orang-orang Muslim kulit hitam. Saat itu Rendra pernah membaca Surat al-Ikhlas. Tiba-tiba, menurut pengakuannya yang ia ucapkan bertahun-tahun kemudian, surah itu menggetarkan hati nyasecara teologis. “Iman saya terguncang saat membaca surah tersebut. Kegelisahan saya memuncak apalagi setelah saya membaca surah lainnya seperti Surat al-Ma’un,” paparnya.

Menurut Willibrordus, Surat al-Ma’un tidak hanya mengungkap soal hubungan manusia dengan Tuhannya yang diekspresikan dalam ibadah shalat, tetapi juga berbicara soal pentingnya memerhatikan anak-anak yatim dan orang miskin. “Orang yang shalat pun akan celaka bukan hanya karena ia lalai dengan salatnya, tetapi juga karena ia menghardik anak yatim dan melupakan orang-orang miskin,” ujarnya.

Dikemudian hari, Willibrordus dikenal sebagai Rendra. Ia adalah salah satu penyair besar yang pernah dipunyai Indonesia. Lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 , adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai “Burung Merak”. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik, ia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok, pada bulan Oktober 1985. Semenjak masa kuliah ia sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.

Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton majapahit. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya. Setelah menikah, ia pindah agama menjadi Islam.

Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta. Romantisme percintaan mereka memberi inspirasi Rendra sehingga lahir beberapa puisi yang kemudian diterbitkan dalam satu buku Empat Kumpulan Sajak.

Di kemudian hari pada tahun 1971 datanglah Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat ditemani oleh kakaknya R. A. Laksmi Prabuningrat, keduanya adalah putri darah biru Keraton Yogyakarta mengutarakan keinginannya untuk menjadi murid Rendra dan bergabung dengan Bengkel Teater.

Tak lama kemudian Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti mengenai masuknya Rendra menjadi Islam hanya untuk poligami.

Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. “Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai,” katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

Sejak tahun 1977 ketika ia sedang menyelesaikan film garapan Sjumanjaya,Yang Muda Yang Bercinta ia dicekal pemerintah Orde Baru. Semua penampilan di muka publik dilarang. Ia menerbitkan buku drama untuk remaja berjudul Seni Drama untuk Remaja dengan nama Wahyu Sulaiman. Tetapi di dalam berkarya ia menyederhanakan namanya menjadi Rendra saja sejak 1975. Rendra meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun. [wikipedia/pr]

Jalan Hidayah Aktris Nollywood Menemukan Islam



Aktris ternama Nigeria, Lizzy Anjorin mengejutkan jutaan fansnya. Ia menyatakan diri telah bersyahadat dan melabuhkan seluruh hatinya pada Islam. Pemenang berbagai penghargaan di dunia Nollywood itu pun kini mantap berislam dan telah berhijab.



“Islam selalu ada di hatiku sejak aku kecil. Ibuku merupakan seorang muslim, dan aku selalu bermimpi suatu hari dapat mempraktekkan apa yang dianut ibuku. Dan kini, hidayah telah datang dan inilah aku sekarang, Alhamdulillah,” ujarnya kepada OnIslam, mengabarkan keislamannya yang mengguncang dunia hiburan Nigeria. Senyumnya merekah, Lizzy begitu bahagia.

Lizzy merupakan putri tunggal dari seorang ibu muslim dan ayah nasrani. Sejak kecil, ia menganut agama sang ayah. Ia juga tumbuh besar dengan didikan sang ayah yang dekat dengan gereja. “Saat lahir, aku setengah muslim dan setengah Kristen. Ayahku seorang Kristen. Aku tumbuh dewasa dengan rutin ke gereja bersama ayah,” kata Lizzy, mengisahkan masa lalunya.

Demikian kehidupan spiritual Lizzy sejak kecil. Ia tak pernah menolak ajakan sang ayah. Ia bahkan memiliki nama baptis, Elizabeth. Begitu dekat kehidupan Lizzy dengan gereja, namun hatinya sangat dekat dengan agama sang ibu.

Menurut Lizzy, sejak kecil ia memang sudah tertarik dengan Islam sebagaimana yang dianut sang ibu. Namun ia tak dapat menolak ajakan ke gereja oleh sang ayah. “Aku pergi ke gereja bersama ayah, tapi kenyataannya, aku memiliki ketertarikan pada Islam,” tuturnya.

Kendati tertarik pada Islam, Lizzy tumbuh besar hingga dewasa tanpa pernah berfikir akan menjadi seorang muslim. Namun ia selalu dihantui pertanyaan hidup, apa yang sebetulnya ia inginkan. Kepopuleran ia dapatkan, harta pun mengalir dengan mudah, tetapi ia tak pernah bahagia.

Kehidupan Lizzy sempat suram di kala remaja. Ia hamil di luar nikah dan melahirkan seorang anak yang masih dirawatnya hingga kini. Belum lagi setelah ia masuk dunia hiburan, kehidupan Lizzy makin hitam. Hingga kemudian ayahnya meninggal dunia. Lizzy dipenuhi duka, namun itulah saat dimulainya perjalanan Lizzy menuju Islam.

Lizzy tak tahu pasti kapan ia mulai memiliki keinginan kembali untuk menjadi muslim. Ia hanya teringat akan ketertarikannya pada Islam di masa lalu. “Semuanya datang begitu saja, secara tiba-tiba, walaupun sesungguhnya aku selalu mengharapkan itu,” kata Lizzy.

Lizzy pun selalu bermimpi menjadi seorang muslim. Ia kemudian mampu menjawab pertanyaannya yang terus di benaknya sejak dulu. Pertanyaan apa sebetulnya yang menjadi keinginannya. Lizzy pun tahu, bahwa keinginannya adalah hidup damai menjadi seorang muslimah.

“Ini adalah keinginanku. Ini adalah mimpiku sejak dulu yang baru kuketahui setelah aku memahami apa yang sebetulnya aku inginkan,” kata sang aktris.

Pergi ke Tanah Suci
Lizzy pun tak ragu untuk segera memeluk Islam. Ia juga segera berkeinginan menuju tanah suci. Tahun ini, Lizzy pun baru saja menunaikan ibadah haji. Perjalanannya menuju tanah suci dimaknai Lizzy sebagai penobatannya menjadi muslim. “Aku telah menobatkan perjalananku menuju Islam dengan ziarah ke tanah suci,” tuturnya.

Lizzy memperlihatkan fotonya sepulang haji dengan balutan busana muslimah dan berjilbab rapi. Ia sangat gembira. Senyumnya merekah bak bunga di musim semi. Foto tersebut pun yang kemudian beredar di kalangan penggemarnya. Sontak, gosip pun merajalela menyudutkan Lizzy.

Dua Tantangan
Setelah fotonya beredar, Lizzy pun mengumumkan keislamannya. Ia bahkan mengabarkan penggantian namanya menjadi Aisha. Dunia hiburan Nigeria pun heboh. Para penggemar Lizzy sangat terkejut.

Gosip media Nigeria tentang Lizzy pun bermunculan. Ia dikabarkan memeluk Islam karena bertunangan dengan pria muslim. Para penggemarnya pun menganggap Lizzy memeluk Islam bukan karena keinginan pribadi, melainkan tuntutan calon suami.

Lizzy pun dengan tegas menolak kabar tersebut. Ia dengan tulus memeluk agama Islam, tak berkaitan dengan pertunangannya. “Itu tidak benar bahwa tobat saya pada Islam hanya karena tunangan saya muslim,” ujar Lizzy sedih.

Meski mendapat gosip yang tak sedap, Lizzy masih mendapat dukungan dari beberapa fans setianya. Mereka menghormati keputusan Lizzy untuk menjadi muslimah. Mereka bahkan membela Lizzy bahwa artis favorit mereka tersebut menjadi mualaf karena Islam memang bagian dari mimpi hidupnya.

Tak hanya tantangan gossip, tantangan berjilbab pun mendera Lizzy. Ia telah belajar berjilbab saat pergi ke tanah suci. Namun belum ada kabar dari Lizzy apakah ia akan terus berjilbab saat syuting mengingat karirnya yang juga sebagai model ternama di Nigeria. Para penggemar setianya berharap, Lizzy dapat mempertahankan jilbabnya namun tetap aktif di dunia hiburan.

“Saya ikut bahagia dengan keislamannya. Tapi, sebagai sesama muslim, saya berharap dia dapat mempraktekkan syariat Islam dan mengakui fakta bahwa Islam adalah agama indah dengan kode etik (berjilbab bagi muslimah),” ujar seorang penggemarnya, Shakirah Adedo.

Artis Sexy Bollywood Mamta Kulkarni Masuk Islam




Artis Bollywood era 90an, yang dikenal dengan aksi kontroversialnya lantaran pose vulgar di majalah Stardust edisi September 1993, Mamta Kulkarni telah memeluk agama Islam.

Proses Mamta Kulkarni masuk Islam ialah setelah suaminya, Vicky mendapat hidayah dari Alloh SWT untuk memeluk agama Islam. Hukuman penjara yang diterima Vicky karena kasus narkoba pada tahun 1997 silam di penjara Uni Emirat Arab membuat Vicky mendapat hidayah.
Perubahan hidup Vicky yang telah taubat dari seorang mantan napi narkoba, ternyata membuat hati Mamta terbuka pada Islam, Mamta pun mempelajari Islam dari Vicky. Setelah Vicky keluar penjara pada November 2012 lalu, mereka pun menikah pada 10 Mei 2013.

Seperti dilansir MuslimMirror, Mamta ikut suaminya menetap di Nairobi, Kenya. Mamta pun mulai meningalkan dunia lamanya sebagai artis Bollywood, bahkan Mamta menolak banyak tawaran film dari produser dan sutradara dengan alasan ingin taat beragama di agama barunya.

Masuk Islam Karena Membaca National Geographic Soal Haji



SUATU hari, Nura membaca sebuah Majalah National Geographic. Dalam edisi itu, majalah asal Amerika itu menurunkan liputan soal haji. Reporternya adalah Thomas Abercrombie. Nur membacanya pada akhir tahun 1980-an ketika ia masih kecil. DI majalah itu, ia melihat foto-foto Kakbah, dan orang-orang yang sedang melakukan thawaf. Entah kenapa, Nur ingin sekali pergi ke Mekkah.


Nura awalnya tidak paham bagaimana seseorang bisa menjadi seorang muslim. Ketika itu ia berusia 12 atau 13 tahun. Menurut Nura ketika itu, menjadi muslim berarti menjadi seorang Hindu. “Saya juga berpikir bahwa kaum perempuan tidak bisa ke Mekah. Saya pikir hanya lelaki saja yang dibenarkan menunaikan ibadah haji karena foto-foto Thomas Abercrombie memperlihatkan hanya lelaki saja,” kenangnya. Nura mengaku, ia tidak paham ketika itu bahwa hal itu dikarenakan antara jamaah laki-laki dan perempuan dipisah di Mekkah, dan bahwa terdapat banyak wanita di sana.

Nura besar dengan memiliki pikiran artistik. Ia sering melukis dan menulis serta hal-hal yang semacamnya. Nura ingat ketika ia mulai menulis bahasa Arab, ia tidak tahu apa yang dilakukannya. “Saya melukis bendera Arab Saudi dan menulis kata-kata di atasnya. Rupanya ketika itu saya menulis Bismillah dan Syahadah,” paparnya.

Kehidupan Nura terus berjalan setelah itu. Tidak ada yang istimewa. Ia menamatkan sekolah tinggi, menikah, dan bekerja. “Saya mulai lupa sama sekali dengan minat saya terhadap Asia Selatan dan Timur Tengah,” ujar Nura. Ia bekerja di Austin Texas. Di tempat ini, begitu banyak sekali orang-orang India dan Pakistan. Di sinilah ia bertemu dengan orang Muslim. “Saya besar di kawasan perkampungan, tidak terdapat banyak Muslim dan orang arab di sana,” kata Nura.

Nura mulai belajar tentang Pakistan. Dan bukanlah sebuah kebetulan, jika Pakistan banyak dikaitkan dengan Islam. “Nama Pakistan secara resmi ialah Republik Islam Pakistan,” itu yang diingat oleh Nura.

Ketika itulah Nura mulai menyadari perbedaan antara teman-teman Hindu dan Muslimnya. “Saya menyadari bahwa terdapat perbedaan walaupun mereka mungkin bukan Muslim yang baik, seperti shalat jamaah (hari Jumat) dan hari raya,” ujar Nura. “Terdapat semacam kedamaian bagi mereka. Terdapat perbedaan yang tidak dimiliki oleh teman-teman Hindu saya. Bukanlah maksud saya bahwa rekan-rekan Hindu tidak gembira atau baik atau sepertinya, tetapi memang terdapat perbedaan yang saya sadari. Itu menyebabkan saya begitu ingin mengetahui tentang Islam. Saya ingin mengetahui apakah perbedaannya.”

Dalam perbincangan dengan rekan-rekannya, Nura mendapati bahwa sebenarnya seseorang bisa saja menjadi Muslim. Nura sangat terkejut karena pada saat yang bersamaan ia memang amat kecewa dengan Kristen. Ia benar-benar terasa kehilangan ruh dan ia mulai melihat dan mencari agama-agama lain. “Saya sudah pernah lagi datang ke gereja,” ujarnya.
Ketika ia menikah, mantan suaminya bukanlah seorang yang agamis. Kedua orang tua suaminya adalah penganut Lutheran, kakek-kakeknya juga penganut Lutheran, dan seterusnya. “Maka dia agak bimbang tentang saya.Karena saya berperilaku aneh tetapi dia sebenarnya suka saya meneruskan pencarian saya,” kata Nura lagi.

Nura kemudian mempelajari Buddhisme dan Shintoisme. Tapi ia bingung dengan konsep semua Dewa dan Dewi serta Ruh dan banyak lagi. Dan satu lagi yang membuat Nura aneh, adalah tak ada bahasa Inggris untuk semua ritual ibadah keduanya. “Saya tahu, sebagian orang akan mengatakan bahwa Islam juga dilakukan dalam bahasa Arab. Ya, kita berdoa, shalat dan membaca Quran dalam bahasa Arab, tetapi kita bisa melakukan semua itu dalam bahasa Inggris dengan mudah,” jelasnya.

Nura merasa tidak cocok dengan Budha. Tapi parahnya, ia juga merasa tidak cocok dengan semua agama. Pada puncaknya, ia merasa benar-benar memerlukan struktur agama dan penjelasan. “Saya telah kehilangan kepercayaan terhadap Kristen apatah lagi saya menyoalkan konsep Trinitas,” paparnya.

Akhirnya, ia kembali mempelajari Islam. Dalam Islam ia mulai menemukan bahwa Tuhan itu satu, tidak punya anak, dan tidak dipersekutukan. Ia mulai melakukan perbincangan dengan banyak Muslim. “Saya berhenti makan dan minum yang diharamkan. Saya malah mulai membeli daging di pasar halal,” kenang Nura.

Nura mulai hidup seperti seorang Muslim, tapi ia sama sekali belum berislam. Alasan Nura, ia ingin mempelajari sebanyak mungkin tentang Islam. Ia menjadi obsesif. Ia rela bergadang untuk belajar dan akan bertanya kepada teman-temannya tentang Islam. “Saya mungkin tidur hanya 3 atau 4 jam setiap hari dan kemudian saya akan kembali belajar Islam,” kata Nura.

Pada satu hari seorang teman berkata kepadanya, “Anda tahu apa yang membuat kita berbeda?”

“Tidak,” jawabnya.

Dia berkata, “Anda belum melafadkan syahadah. Itu dia. Itulah perbedaannya.”

Teman yang lain menimpalinya, “Apa Anda akan mati sebelum sempat mengucapkan syahadah? Anda harus melafadkannya!”

Akhirnya, pada tanggal 31 Augustus 2002, Nura mengucapkan dua kalimah syahadah di Original Dawah Conference Austin Texas: “Tiada Tuhan yang saya sembah kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah,” ujar Nura. Ia kemudian bercerai dengan suami Kristennya. Nura kemudian pindah ke Chicago supaya bisa memiliki teman Muslim yang lebih banyak. “Alhamdulillah, Allah telah memberikan saya kesempatan untuk meluruskan jalan saya,” pungkas Nura.

Alex, Masuk Islam Setelah Seminggu Berturut-turut Dengarkan Al-Quran



Alex tak butuh waktu lama untuk memeluk Islam. Ketika ia menelusuri sejarah Al-Quran, ia sangat terpukau oleh kita suci yang tak pernah berubah selama 14 abad lebih ini. Berikut adalah penuturannya bagaimana ia menjadi seorang mualaf.

“Saya mengucapkan syahadat pada tahun 2010, jadi praktis, saya masih sangat baru dalam Islam.

Ini adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup saya.


Saya sedang membaca Alkitab pada perayaan Thanksgiving tahun 2010, dan saya membaca beberapa buku tentang Alkitab dan saya mulai bertanya. Saya mulai bertanya tentang agama yang berbeda, dan setelah itu saya bertanya tentang Islam. Saya mulai melakukan penelitian lebih lanjut tentang agama-agama lain, namun sebagian besar membuat saya tak tahan.

Lalu saya mulai meneliti tentang sejarah Quran. Saya mencarinya di google. Saya tertarik bahwa Kitab itu ternyata masih utuh selama 14 abad, dan satu hal mengarah ke yang lainnya, dan saya terus mencari.

Tapi titik balik saya adalah ketika saya menemukan tentang sejarah Kaabah. Saya dibesarkan oleh ajaran Katolik, saya mendapatkan pengajaran di sekolah Katolik selama 8 tahun, dan saya tidak pernah diberitahu bahwa Kaabah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Dan ketika saya menemukan bahwa Kaabah dibangun oleh mereka, saya benar-benar marah. Aku merasa seperti dibohongi oleh Gereja Katolik.

Sebelum itu, saya tidak pernah percaya pada dosa, namun saya tidak pernah mengerti bahwa: di satu sisi mereka mengajarkan Sepuluh Perintah Tuhan, namun di sisi lain mereka membuat patung-patung , sehingga itu tidak masuk akal. Dan ketika saya membaca Quran, saya menemukan Quran Explorer , dan saya mendengarkan Quran dalam bahasa Arab, dan dalam bahasa Inggris. Hanya dalam seminggu, saya yakin untuk mengcuapkan syahadat di depan computer. Dan sebulan kemudian, saya lakukan secara resmi di masjid.

Tantangan setelah syahadat

Hal yang paling sulit saya kira adalah keluarga saya.

Saya sudah berusaha menelepon semua keluarga saya, namun tidak ada yang menjawab. Tapi itu tidak mengapa, saya merasa sebagai orang paling bahagia, sehingga itu tidak menjadi masalah buat saya.

Saya ingin memberitahu mereka “Baca … Baca,” itu saja yang harus mereka lakukan, hanya membaca. Atau bahkan jangan membaca deh, dengarkan saja Quran on-line, itu juga cukup.

Saya punya pengalaman soal Ramadhan pertama saya. Seumur hidup sebelunmnya saya tidak pernah berpuasa. Saya pikir saya tidak akan mampu berpuasa. Saya benar-benar takut bahwa saya akan gagal, tapi saya berdoa, meminta kepada Allah untuk membantu saya, untuk membimbing say, dan itu adalah hal termudah yang pernah saya lakukan. Tiga hari pertama benar-benar sebuah perjuangan, tentu saja, tapi kemudian, setelahnya saya baik-baik saja.

Dalam Islam ada banyak disiplin, kesalehan, ada begitu banyak hal yang tidak bisa saya jelaskan.”

Kisah Imam Denmark Menemukan Cahaya Islam




Reino Arild Pedersen, merupakan imam pertama pengisi khotbah Jumat di Denmark. Ia lebih terkenal dengan nama Abdul Wahid Pedersen, namanya setelah berislam. Siapa sangka, sang imam yang pengetahuan keislamannya luas itu merupakan seoran mualaf. Hingga mengenal Islam, perjalanannya pun tak singkat. Ia menempuh banyak perjalanan hingga mendapat manisnya hidayah.

Perjalanannya dimulai saat usianya masih 16 tahun. Saat itu ia memutuskan untuk meninggalkan agama Kristen yang ia anut dari kecil. Tujuannya meninggalkan gereja hanya satu, ia ingin bebas dari afiliasi agama apapun. Sejak itu, ia pun menjadi pemuda dengan pemikiran sangat bebas. Pedersen muda begitu liberal dan sekular.

Dengan kebebasan hidup yang ia klaim, Pedersen mencoba banyak hal. Ia kemudian menginginkan hidup penuh kasih dan damai. Ia pun mencoba menjadi vegetarian, namun gagal. Ia tak bisa berpuasa daging terus menerus.

Hingga usia 21 tahun, Pedersen hidup dibawah godaan kebebasan. Hingga suatu hari, ia meninggalkan Denmark bersama seorang teman karibnya. Kali ini ia ingin menerapkan Yin Yang dalam hidupnya. “Kami bepergian melalui Afrika, Asia dan Timur Tengah. Prinsip kami saat itu, perjalanan akan membimbing kami untuk hidup berdasar hukum alam Yin dan Yang,” ujarnya, tertawa mengenang masa lalu.

Selama perjalanan itu, Pedersen menemukan beragam budaya dan agama. Ia pun kemudian mulai tertarik hal tersebut. Pedersen bertanya pada diri sendiri, “Apa agamaku? Darimana aku berasal?” Namun ia tak mampu mendefinisikan kehidupannya. Ia pun kemudian belajar spiritual di Rajasthan, India. Tak lama, ia kemudian menjadi penganut Hindu.

Empat tahun ia memeluk agama Hindu. Selama itu, Pedersen justru tergugah mengenai konsep Tuhan. Saat tak lagi menjadi penganut Hindu, Pedersen masih digandrungi pertanyaan tentang Tuhan. “Itu membuka minatku pada Tuhan. Pencarian resmi akan Tuhan pun aku mulai,” tuturnya.

Ia pun mempelajari beragam agama. Ia mencari konsep Tuhan. Hasilnya, ia mendapati bahwa semua agama mengajarkan kebenaran. Namun Tuhan sesungguhnya hanyalah satu. Lalu dimana Tuhan itu.

Pedersen pun kembali ke Eropa. Ia menyendiri dan mencari eksistensi Tuhan. Dalam kesendirian dan kesunyian, ia berseru kepada Tuhan yang ia pun tak tahu ada dimana. “Jika Engkau memang ada, Engkau bisa mendengar saya. Jika Engkau memang ada, Engkau bisa melihat saya. Jika Engkau memang ada, Engkau tahu kebutuhan saya,” seru Pederson. Ia berharap Tuhan dapat membimbingnya.

Menemukan Islam
Saat pulang ke Denmark setelah perjalanan panjang, Pederson memilih pindah ke pedesaan dan merawat kebun. Disana ia mencoba menenagkan diri dalam pencarian Tuhan. Dalam beberapa waktu, iai seringkali duduk menyendiri di kamar, menyeru Tuhan. Ia berdoa agar Tuhan membimbingnya.

“Aku buta, tuli, bisu dan tak tahu apa yang baik untuk saya. Maka berilah saya jalan, bukakan pintu untuk saya, berilah saya bimbingan,” doa Pederson yang terus ia ulang setiap waktu.

Doanya terijabah. Suatu hari seorang teman lama mengunjunginya. Teman lamanya itu telah berislam. Ia mengajak Pederson untuk menjelajahi Gurun Sahara. “Dia merencanakan perjalanan ke gurun Sahara untuk belajar beberapa hal dari suku Tuareg . Dia memintaku untuk bergabung dengannya, karena ia tahu bahwa aku telah menyeberangi gurun Sahara sebelumnya. Aku langsung setuju untuk ikut. Gurun selalu membuatku tertarik. Sebelum berangkat, aku menegaskan bahwa aku tak tertarik untuk menjadi seorang Muslim. Aku tidak keberatan tinggal di antara muslim, tapi aku tidak akan masuk Islam,” ujar Pederson, mengenang.

Pederson pun melakukan perjalanan bersama muslimin. Banyak hal yang kemudian menjadi pengetahuan baru baginya. Bagaimana mereka shalat, berjamaah, berwudhu, berdoa. Ia juga kaget dengan adanya panggilan adzan.

“Melihat mereka aku merasa malu. Belum pernah aku merasa malu seperti itu. Aku malu karena tak rajin berdoa. Aku tak banyak meluangkan waktu untuk Tuhan. Waktu untuk Tuhan hanya di sisa waktuku saja. Ketika aku cenderung pada keinginan dan kebutuhan pribadi, orang-orang itu justru memberikan waktunya untuk Tuhan,” ujar Pederson.

Tak lama ia pun mulai mempelajari Islam. Ia mulai ikut serta dalam shalat mereka, berdoa bersama dan diskusi bersama. Saat itulah cahaya Allah memasuki hati Pederson. Ia merasakan kerinduan akan Tuhan yang teramat sangat. Ia jatuh hati pada Islam. Pederson kemudian memeluk agama Islam.

“Setalah masuk Islam, aku menyadari bahwa ini bukan hanya tentang apa yang aku cari selama ini. Karena kenyataannya, aku selalu menjadi muslim di hatiku. Aku sangat bersyukur menempuh jalan ini dan mendapat kebaikan Allah yang terus mengalir di hidupku,” ujar Pederson terharu.

Menjadi Cendekiawan Muslim
Pederson resmi menjadi muslim di tahun 1982. Sejak itu ia menghabiskan hidupnya untuk mempelajari Islam dan melakukan kegiatan keislaman. Pada tahun 1997, Pederson diangkat menjadi imam pertama di Denmark. Ia menerjemahkan banyak buku Islam ke dalam bahasa Denmark. Pedersen juga merupakan Wakil Presiden Muslims in Dialogue, sebuah organisasi multi-etnis Muslim Denmark yang mempromosikan Islam kepada masyarakat umum Denmark.

Ia juga merupakan pendiri dan kepala sekolah dari tiga sekolah swasta untuk anak-anak muslim Denmark. Ia juga pendiri Islamic Christian Study Center di Kopenhagen. Di luar Denmark, Pederson juga banyak menggalakan proyek bantuan ke berbagai negara.

Salah satu contohnya yakni pendirian sekolah di Kunar Afghanistan pra rezim Taliban. Ia juga pendiri Danish Muslim Aid yang membantu banyak muslimin di belahan dunia. Salah satu proyek DM-Aid yakni pembangunan 500 rumah untuk korban gempa di Kashmir Pakistan.