Showing posts with label Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Ilmu. Show all posts

Amalan Paling Dicintai Allah




Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Manakah waktu yang paling afdhal untuk melaksanakan shalat ? Apakah shalat diawal waktu itu lebih afdhal ?
Jawaban.
Melaksanakan shalat sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh syar’i adalah lebih sempurna oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya : ‘ Amalan apakah yang paling dicintai Allah ? Beliau menjawab : Shalat tepat pada waktunya’ [1]
Beliau tidak menjawab (shalat pada awal waktu) dikarenakan shalat lima waktu ada sunnah untuk didahulukan pelaksanaannya dan ada yang sunnah untuk diakhirkan. Misalnya shalat isya’, sunnah untuk mengakhirkan pelaksanaannya sampai sepertiga malam, maka apabila seorang wanita bertanya mana yang lebih afdhal bagi saya, saya shalat isya’ ketika adzan isya’ atau mengakhirkan shalat isya’ sepertiga malam ? Jawabannya : Yang lebih afdhal kalau dia mengakhirkan shalat isya’ sampai sepertiga malam, karena pada suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya’ sehingga para shahabat berkata : ‘Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tidur, lalu beliau keluar dan shalat bersama mereka kemudian bersabda : Sesungguhnya inilah waktu yang paling tepat (untuk shalat isya’) kalaulah tidak memberatkan umatku’. [2]
Demikian pula dianjurkan bagi para laki-laki muslimin yaitu laki-laki yang mengalami kesulitan di saat bepergian mereka berkata : Kami akhirkan shalat atau kami dahulukan ? Kita jawab : Yang lebih afdhal hendaknya mereka mengakhirkan.
Demikian pula kalau sekelompok orang mengadakan piknik dan waktu isya’ telah tiba, maka yang lebih afdhal melaksanakan shalat isya’ pada waktunya atau mengakhrikannya ? Kita menjawab : ‘Yang paling afdhal hendaklah mereka mengakhirkan shalat isya’ kecuali kalau mengakhirkannya mendapat kesulitan, maka shalat subuh, dhuhur, ashar, maghrib, hendaknya dikerjakan pada waktunya kecuali ada sebab-sebab tertentu.
Adapun shalat fardhu selain shalat isya’ dilaksanakan pada waktunya lebih utama kecuali ada sebab-sebab tertentu untuk mengakhirkannya. Adapun sebab-sebab tertentu antara lain.
Apabila cuaca terlalu panas maka yang paling afdhal mengakhirkan shalat dhuhur pada saat cuaca dingin, yaitu mendekati waktu shalat ashar, maka apabila cuaca terasa panas yang afdhal shalat pada cuaca dingin, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Apabila cuaca sangat panas maka carilah waktu yang dingin untuk shalat, karena hawa panas itu berasal dari hembusan neraka jahannam’ [3]
Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat safar, Bilal berdiri untuk adzan maka Rasulullah bersabda : ‘Carilah waktu dingin [4]. Kemudian Bilal berdiri lagi untuk adzan, Rasulullah mengizinkannya.
Seorang yang mendapatkan shalat berjama’ah diakhir waktu sedangkan diawal waktu tidak ada jama’ah, maka mengakhirkan shalat lebih afdhal, seperti seseorang yang telah tiba waktu shalat sedangkan ia berada di daratan, ia mengetahui akan sampai ke satu desa dan mendapatkan shalat berjama’ah di akhir waktu, maka manakah yang lebih afdhal ia mendirikan shalat ketika waktu shalat tiba atau mengakhirkannya sehingga ia shalat secara berjama’ah ?
Kita katakan :’Sesungguhnya yang lebih afdhal mengakhirkan shalat sehingga mendapatkan shalat secara berjama’ah, yang kami maksudkan mengakhirkan di sini demi hanya untuk mendapatkan shalat berjama’ah.
[Disalin dari buku Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Ibadah, Penerjemah Furqan Syuhada, Penerbit Pustaka Arafah]
_________
Foote Note.
[1]. Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqit, bab, Fadhul Shalat Liwaktiha, dan Muslim. Kitabul Al-Iman, bab Launul Iman billahi Ta’ala afdahl Al-Amal.
[2]. Hadits Riwayat Muslim. Kitabul Masyajidi, bab Waktul isya’ wa takhiruka.
[3]. Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqiti Shalat, bab Al-Ibrad bi dhuhri fi siddatil harri, dan Muslim, Kitabul Masajid, bab Istihbab Al-Ibrad di dhuhuri.
[4]. Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqiti Shalat, bab Al-Ibrad bi dhuhuri fi safar, dan Muslim. Kitabul Masajidi, bab Istihbab Al-Ibrad bi dhuhuri fi siddatil harri


Sumber: https://almanhaj.or.id/391-manakah-waktu-yang-paling-afdhal-untuk-melaksanakan-shalat.html

Keistimewaan Memulai Makan dari Pinggir Piring Menurut Rasul




Rasulullah SAW merupakan teladan bagi seluruh umat manusia. Beliau memiliki sifat yang sempurna dalam berbagai aspek kehidupan. Apapun yang telah beliau lakukan dan perintahkan kepada umatnya pastilah membawa kebaikan.

Tidak hanya dalam urusan yang besar seperti ibadah saja, Rasulullah SAW juga memberikan teladan mengenai persolan ringan terkait keseharian seperti adab ketika makan. Beliau memerintahkan agar ketika makan, hendaknya untuk memulainya dari pinggir piring.

Ternyata ada keistimewaan tersembunyi di balik perintah Rasulullah yang sederhana ini. Lantas keistimewaan apakah yang akan diperoleh mereka yang memulai makan dari pinggir piring tersebut? Simak informasi selengkapnya di sini.

Ternyata, keistimewaan memulai makan dari pinggir piring menurut Rasulullah SAW adalah niscaya orang yang melakukannya akan mendapatkan keberkahan.

Dari Abdullah bin Busrin, dia menceritakan, “Nabi mempunyai wadah besar yang disebut Al-Gharra, yang dibawa oleh empat orang. Ketika mereka berada pada pagi hari, mereka disuguhi wadah besar itu -yang telah berisi bubur- dan mereka pun berkumpul mengelilingi wadah tersebut. Setelah jumlah mereka banyak, maka Rasulullah duduk berlutut. Lalu seorang badui berucap, ‘Duduk macam apa itu?’ Maka Nabi menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku hamba yang mulia, dan Dia tidak menjadikan aku sebagai hamba yang sombong lagi kasar.’ Selanjutnya beliau bersabda, ‘Makanlah dari tepi wadah tersebut dan jangan mengambil dari tengahnya, niscaya akan diberikan berkah padanya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dalam kitab Fiqhunnisa karya Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, disebutkan, dari Ibnu Abbas ra, Nabi Saw pernah berkata,

“Berkah itu turun pada bagian tengah makanan, karenanya makanlah dari tepi wadah makanan tersebut dan jangan mengambil dari tengahnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Selain memulai makan dari pinggir piring, ternyata ada beberapa adab makan lagi yang berbuah pahala apabila di lakukan. Yakni senantiasa mengawali dengan membaca basmalah dan mengakhirinya dengan mengucapkan hamdalah.

Dari Umar bin Abi Salamah, dia menceritakan, Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Bacalah Nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (Muttafaqun Alaih)

Dari Aisyah dia menceritakan, Rasulullah Saw bersabda ,
“Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka hendaklah dia membaca basmalah pada permulaannya. Dan apabila dia lupa membacanya, maka hendaklah dia membaca ‘Bismillahi ‘alaa awaalihi wa akhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhirnya).”

Abu Umamah RA meriwayatkan bahwa jika selesai makan, Nabi SAW biasanya mengucapkan, “Alhamdulilahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira makfiyyin wa la muwadda’in la mustaghnan’anhu rabbana,” (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang tiada terhingga, baik dan penuh berkah. Ya Tuhan kami, kami tidak mampu membalas anugerahMu, tidak mampu meninggalkannya dan tidak mampu menghindarinya),” (HR Al-Bukhari).

Demikianlah informasi mengenai keistimewaan di balik anjuran memulai makan dari pinggir piring menurut Rasullah SAW. Sudah sepatutnya sebagai kaum muslimin kita senantiasa meneladani apa yang sudah menjadi sunnah beliau agar mendapatkan keberkahan di dunia serta akhirat kelak.

Raih Kasih Sayang Allah dengan Melakukan Hal Ini





Memasuki bulan suci Ramadhan 1437 H/2016, Ustaz Bendri Jaisyurrahman dari Ar-Rahman Qur'anic Learning (AQL) menghimbau kepada seluruh umat Islam agar mempersiapkan diri tidak hanya lahiriah tetapi juga rohaniah.

Sebab, Ramadhan merupakan bulan penuh kemuliaan yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

"Jangan sampai kita gagal untuk meraih ridha dan kasih sayang Allah SWT," kata Bendri saat dihubungi Republika, Rabu (1/6).

Secara rohaniah, Bendri mengatakan, umat Islam harus memperkuat tingkat ketaatannya kepada Allah SWT selama bulan Ramadhan melebihi ketaatan di bulan-bulan sebelumnya. Untuk mencapai ketaatan tersebut harus dengan meminta pertolongan Allah SWT.

Salah satunya dengan memperbanyak doa dan istighfar agar hatinya bersih. Orang-orang yang tidak bisa membersihkan hatinya maka tidak ada perbedaan memasuki bulan Ramadhan dengan bulan-bulan lain.

Selain persiapan rohaniah, umat Islam juga diminta mempersiapkan manajemen waktu. Jangan sampai waktu yang seharusnya untuk fokus beribadah malah justru berantakan karena sibuk dengan urusan duniawi seperti lembur pekerjaan.

Menurut Bendri, sangat rugi sekali mereka yang menghabiskan waktu malamnya di bulan Ramadhan untuk urusan duniawi. Sebab, malam-malam Ramadhan merupakan malam yang baik untuk beribadah.

"Urusan pekerjaan sebaiknya diselesaikan sebelum memasuki ramadhan. Di bulan ramadhan ini sebisa mungkin mengurangi aktivitas berbau duniawi terutama pada 10 hari terakhir," jelas Bendri.

Mempersiapkan kondisi keluarga menjadi salah satu agenda penting yang harus dilakukan menjelang Ramadhan. Masing-masing anggota keluarga harus saling mendukung dalam mencapai kasih sayang dan ridha Allah di bulan Ramadhan.

Sementara bagi yang memiliki anak usia dini, menurut Bendri, bulan Ramadhan adalah momen yang tepat untuk mengajarkan ibadah puasa. Anak-anak harus disosialisasikan sejak jauh hari agar dapat beradaptasi dengan kondisi puasa. Ini penting karena puasa dapat melatih anak menahan hawa nafsu dan mengendalikan diri.

Memasuki Ramadhan, Bendri mengatakan, akan lebih baik untuk mempersiapkan harta. Hal ini perlu juga dilakukan agar selama bulan Ramadhan umat Islam tidak lagi disibukkan dengan kebutuhan duniawi. Umat Islam harus sudah mulai membuat perencanaan anggaran selama bulan Ramadhan.

"Ini tujuannya agar ibadah selama Ramadhan bisa dijalankan dengan khusyuk dan maksimal," tutup dia.

Tafakur: Mengambil Hak Orang



Mengambil Hak Orang

Oleh Jarjani Usman

“Siapa saja yang mengambil harta seorang muslim tanpa alasan yang haq, niscaya dia bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan Dia sangat murka kepadanya” (HR. Ahmad).

Dalam suatu hadits dikisahkan tentang tiga orang yang terjebak di sebuah gua. Pintu guanya tertutup batu besar. Masing-masing bermohon kepada Allah agar lepas dari kesulitan itu. Seorang di antaranya berdoa seraya mengungkapkan bahwa ia dulu pernah (pernah menjadi majikan yang) mempekerjakan seseorang. Namun tiba-tiba pekerjanya itu menghilang pergi entah kemana dan tak mengambil upahnya.

Suatu hari pekerja itu kembali untuk menagih upahnya. Lalu majikannya mengatakan bahwa upahnya telah dikembangkan dengan membeli sejumlah binatang ternak, yang kemudian berkembang biak sehingga menjadi sangat banyak. Lalu diserahkan semua binatang ternak itu kepada mantan pekerjanya itu, yang ia anggap itu memang haknya.

Lalu saat memohon agar lepas dari kesulitannya saat di gua, sang majikan itu berkata kepada Allah, “Ya Allah, kalau Engkau tahu aku melakukannya demi mengharap rahmatMu dan takut akan siksaMu, maka lepaskanlah (kesulitan) kami.” Batu besar itu pun bergeser.

Demikianlah pertolongan Allah diberikan kepada orang yang tak mengambil hak orang lain. Sebaliknya, Allah sangat murka kepada hamba-hambaNya yang mengambil jatah orang lain. Sehingga sangat wajar bila Rasulullah SAW melarang mengambil hak orang lain, meskipun sebatang kayu siwak.

Namun di zaman sekarang, perkara mengambil hak orang lain seringkali dianggap tak menakutkan. Bahkan semakin pandai dan tinggi kedudukan seseorang, semakin dahsyat cara melakukannya. Di antaranya dengan membuat aturan-aturan yang kesannya membenarkan. Padahal Allah maha tahu segalanya, meskipun yang disamarkan melalui aturan yang bermacam-macam.

Sujud, Terapi Otak yang Begitu Nikmat




Seberapa pentingnya sih sujud, sampai otak manusia membutuhkannya? 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sujud berarti "Berlutut serta meletakkan dahi ke lantai." Sujud merupakan salah satu gerakan dalam shalat. Shalat atau sujud dapat dikatakan penyembahan diri manusia terhadap Allah SWT sebagai rasa syukur. Shalat merupakan salah satu rukun iman ke 5 bagi umat Islam. Sebagai umatNYA sudah sepantasnya menjalankan perintah tersebut secara benar dan teratur.  

Namun umat Islam sendiri masih banyak yang mengabaikan, padahal sudah jelas-jelas ini merupakan perintah dari Sang Khalik. Kesibukan serta kesenangan duniawi rupanya merupakan alasan utama bagi umat Islam yang meninggalkan shalat.  

Perintah  shalat juga ada dalam Firman Allah pada surat Al Baqarah ayat 43"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku." Ini merupakan salah satu FirmanNYA dalam Al Quran.   Imam Al Ghazali seorang ulama besar Islam mengatakan bahwa "Hal yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan shalat."

Jika ditelaah lebih dalam perkataan Imam Al Ghazali ini  memang benar, karena manusia seakan tidak ada beban dosa ataupun takut kepada Allah padahal ini merupakan perintah-NYA.  

Begitu dahsyatnya shalat hingga Allah menjadikannya sebagai rukun iman dan mengatakannya dalam Al Quran hingga berkali-kali.  

Shalat banyak mendatangkan kebaikan  bagi bagi manusia khusunya umat Islam, oleh karenanya Allah memberikan pahala bagi orang yang melaksanakannya. Namun Dia memberikan bonus bagi umatnya yang mengerjakan pada awal waktu dan berjamaah, apalagi jika melakukannya di Masjid, tentu makin berlipat ganda pahala yang diberikan Allah kepada kita.
  
Tapi jagan senang dahulu karena orang yang shalat juga masih bisa celaka, Allah berfirman dalam surat Al Maun ayat 4 dan 5 "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya." Maka shalatlah di awal waktu agar kita tidak  celaka nantinya .   
   
Dalam shalat sendiri ada tujuh gerakan yakni Takbiratul Ihram, ruku, I'tidal, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tahitat dan terkahir salam. Disini semua gerakan penting karena jika salah satu tidak ada maka  tidak sah bagi shalat wajib dan percuma melaksanakan shalat. 

Namun, gerakan yang terpenting ialah saat dimana kita dalam keadaan sujud. bahwa salah satu dari gerakan shalat ini ternyata mengandung manfaat yang sangat luar biasa serta dibutuhkan manusia.   Salah seorang dokter neurologi  berkebangsaan Amerika merasa takjub akan sujud, karena di dalam sujud dia menemukan adanya hal yang luar biasa yang belum pernah ditemukan kalangan ilmuan.  

Dia telah meneliti cukup lama tentang urat syaraf yang ada di dalam diri manusia. Bahwa urat syaraf erat sekali kaitannya dengan darah yang mengalir, namun ada beberapa urat syaraf yang tidak dialiri darah.  

Lalu urat syaraf mana yang tidak dialiri darah dan kenapa itu bisa terjadi? 
Aliran darah sangat berpengaruh pada syaraf manusia, namun urat syaraf pada otak  tidak dialiri oleh darah.  
 
Dalam penelitiannya, urat syaraf dalam otak tidak dialiri darah karena kepala tidak sujud. Darah akan mengalir justru ketika manusia sedang sujud saat shalat.   Sejalan dengan yang diteliti dokter tersebut, Columbia University State juga ternyarta pernah meneliti akan syaraf otak. Ternyata benar, memang ada urat syaraf yang tidak dialiri oleh darah.

Urat syaraf pada otak hanya dialiri darah beberapa waktu saja, belum jelas kapan waktunya namun mereka beranggapan waktunya sekitar lima waktu yang dilakukan umat Islam yakni subuh, zuhur. Ashar, magrib dan isya.   Dengan penelitiannya yang cukup lama dan menghasilkan temuan yang luar biasa itu akhirnya dokter kebangsaan Amerika itu dengan yakin menyatakan diri untuk masuk Islam.  

Setelah menjadi Muallaf, justru seorang dokter ini semakin percaya akan Islam, begitupun dalam hal pengobatannya. Dia membuat metode-metode pengobatan yang ada dalam Al Quran seperti berpuasa, minum madu dan sebagainya..   Itulah sebab kenapa otak manusia membutuhkan sujud, agar urat syaraf yang ada diotak dapat mengalir karena kalau tidak mengalir pastinya akan menimbulkan penyakit. 

Dalam sujud juga kita disunahkan berdoa kepada Allah, karena saat itulah dimana kita berada paling dekat denganNYA. Maka, ketika  sujud janganlah terburu-buru untuk bangun karena selain dekat dengan Sang Maha Pencipta ini pula yang membuat aliran darah ke otak berjalan maksimal.   Begitu jelas manfaat sujud untuk kesehatan otak, jika sudah tau manfaatnya, masih mau meninggalkan shalat ?   

10 Perkara Tak Bermanfaat Yang Harus Diwaspadai Seorang Muslim




Sudah fitrah manusia untuk hidup bahagia. Bahkan lebih dari sekedar bahagia, seorang Mukmin pasti menginingkan eksistensi dirinya bisa memberikan manfaat bagi sesama. Apalagi, Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam menjelaskan bahwa manusia terbaik di antara kaum Muslimin adalah yang paling banyak memberi manfaat.
Akan tetapi, belum banyak yang benar-benar mengerti bagaimana menempa diri menjadi pribadi bahagia dan bermanfaat.
Kebanyakan justru banyak yang terjebak pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri. Bukan karena mereka tidak berilmu, tetapi karena salah dalam memanfaatkan ilmunya.
Jika hal ini terjadi, bagaimana mungkin seorang Mukmin bisa menjadi manusia terbaik di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Fawaidul Fawaid disebutkan bahwa ada 10 perkara yang tidak bermanfaat, dimana kita mesti waspada dan berupaya untuk menjauhinya.
Pertama, ilmu yang tidak diamalkan
Hal ini berlaku pada apapun yang masuk kategori ilmu. Shalat misalnya, ketika seorang Muslim mengerti bahwa shalat itu wajib, namun melalaikannya, maka jelas ia berada dalam kategori ini. Termasuk berhijab atau berjilbab. Muslimah yang sudah mengerti wajibnya jilbab, namun mengabaikannya, akan termasuk pada kategori kesia-siaan ini.
Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kita doa penting, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari hati yang tidak khusyu’, dan dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari do’a yang tidak terkabul.” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i).
Terhadap orang berilmu namun tidak mengamalkannya, inilah ancaman untuk mereka.“Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: “Pada malam diisra’kan, aku melewati orang-orang yang lidah mereka dipotong dengan alat-alat pemotong dari api neraka. Aku bertanya: Siapakah mereka itu wahai Jibril? Jibril menjawab: “Para khatib ummatmu yang mengatakan apa yang tidak mereka perbuat.” (HR Bukhari & Muslim).
Kedua, amal yang dilakukan dengan tidak ikhlas dan tidak mengikuti syari’at Islam
Ketiga, harta yang tidak diinfakkan
Padahal, orang yang mengumpulkannya tidak dapat menikmati perbendaharaan ini untuk selama-lamanya di dunia dan tidak pula dapat dipersembahkan ke hadapan Allah di akhirat kelak.
Keempat, hati yang konsong dari kecintaan kepada Allah, kerinduan terhadap-Nya, dan kenyamanan ketika berada di dekat-Nya.
Kelima, anggota badan yang tidak dipergunakan untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan melayani-Nya.
Keenam, cinta yang tidak terikat dengan keridhaan Allah dan tidak terkait dengan pelaksanaan perintah-perintah-Nya.
Ketujuh, waktu yang tidak dimanfaatkan untuk melakukan sesuatu yang terlewatkan, ataupun untuk memperoleh kebajikan dan kedekatan kepada Allah.
Apabila seorang Muslim bisa melakukan perkara ketujuh ini, insya Allah tidak waktu yang terlewati, kecuali dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas dirinya di sisi Allah Ta’ala.
Misalnya, ia tidak bangun tahajjud, maka ia akan menggantinya dengan 12 rakaat Dhuha di siang hari. Jika sehari ia tidak membaca Al-Qur’an, maka ia akan ‘menghukum’ dirinya dengan infak sebesar 50 ribu rupiah atau lebih besar lagi. Dua tindakan tersebut disebut denganMu’aqabah, yakni menghukum diri sendiri atas kelalaian yang dilakukan atau maksiat yang dikerjakan.
Kedelapan, pikiran yang memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dalam konteks kekinian, ini mungkin dialami oleh sebagian besar orang yang suka berangan-angan. “Andai saja aku punya ini, punya itu, namun ia sama sekali tidak pernah memikirkan kesehariannya, apakah sudah diisi dengan ketaatan atau tidak. Apakah sudah memahami Al-Qur’an atau belum. Kalau belum idealnya ya berpikirlah untuk banyak membaca dan mentadabburinya.
Kesembilan, melayani siapa saja yang tidak membuat Anda – dengan pelayanan itu – bertambah dekat dengan Allah, juga tidak menghasilkan kebaikan bagi dunia Anda.
Kesepuluh, merasa takut atau menaruh harap kepada orang yang ubun-ubunnya berada di tangan Allah. Padahal, orang itu tertawan di dalam genggaman-Nya dan tidak kuasa mencegah bahaya atau mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiir, tidak pula ia sangguh menolak kematian, kehidupan, maupun kebangkitannya kelak.
Kesepuluh perkara sia-sia di atas dibagi dalam dua kategori oleh Ibn Qayyim Al-Jauziyah. Yakni penyia-nyiaan hati, yang muncul akibat mengutamakan dunia daripada akhirat. Dan, penyia-nyian waktu yang muncul akibat larut dalam angan-angan.

3 Faktor Penyebab Gangguan Kepribadian Muslim




Menjadi Muslim di era global seperti sekarang memerlukan keteguhan hati dan kesungguhan upaya untuk tetap eksis hidup di atas landasan iman dan takwa. Jika tidak, boleh jadi status kita masih sebagai Muslim, namun dalam konteks cara berpikir dan tindakan, semua justru jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap Muslim mengerti tentang kepribadian Muslim yang benar agar terhindar dari pengaruh-pengaruh destruktif di era modern yang secara cepat atau lambat akan menggerus kepribadian kita sebagai seorang Muslim.

Pertama, lingkungan. Menurut Fathi Yakan dalam bukunya Musykilat Dakwah wa Ad-Duatyah penyebab gangguan kepribadian yang paling dominan adalah lingkungan. Terutama lingkungan tempat proses pembentukan kepribadian tidak Islami.

Lingkungan yang seperti itu jelas berpengaruh signifikan terhadap setiap orang yang hidup di dalamnya, baik disengaja maupun tidak.

Kedua, persahabatan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu, bahwsannya dia mendengar Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin dan jangan ada yang menyantap makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Tirmidzin dan Abu Dawud).

Kemudian, Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu memiliki prinsip hidup yang kuat dalam soal (persahabatan) ini. “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang mampu memberikan petunjuk kepadaku untuk mengetahui kejelekan-kejelekanku.”

Dengan kata lain, sahabat adalah penentu dominan baik tidaknya seseorang. Seorang Muslim yang salah dalam persahabatan atau lebih luasnya pergaulan, maka ia akan sulit untuk memahami dan mangamalkan ajaran-ajaran Islam. Terlebih sekarang kita berada di zaman yang internet telah membuang batas-batas komunikasi dan informasi. Jika sampai salah pilih teman, maka itu akan sangat mengganggu kebaikan keimanan kita sendiri.

Sekedar sebagai contoh, dalam kontek media sosial, katakanlah twitterland, jika kita mem-follow akun tertentu dengan tanpa pertimbangan kebaikan iman, Islam dan ilmu, maka kita akan setiap hari dicekoki dengan tweet-tweet yang tidak akan menambah keimanan, ketakwaan dan keilmuan kita.

Dengan kata lain, dalam kontek dunia maya saja (media sosial) kita harus selektif untuk menentukan pilihan mem-follow sebuah akun.

Sebab jika tidak, cara berpikir kita akan terpengaruh dengan tweet yang diikuti baik cepat atau lambat, sadar atau pun tidak. Apalagi dalam kontek persahabatan yang lebih nyata dalam keseharian kita.

Pada lingkup ini, setiap Muslim mesti memiliki kesadaran tinggi, utamanya yang sudah memiliki anak usia remaja. Sebab, mereka sangat rentan tertarik pada segala hal yang menyenangkan mereka. Dan, ini tentu sangat tidak baik bagi masa depan mereka, terutama dalam membentuk pola pikir, sikap dan perilaku anak. Jadi, masalah sahabat, bukan masalah ringan dan biasa-biasa saja.

Ketiga, sombong. Sifat (sombong) ini sangat hina dan tercela. Dan, sifat ini adalah sifat yang ada pada diri Iblis yang terkutuk. Oleh karena itu, sebagai Muslim kita mesti mewaspadai sifat ini bersarang dalam benak kita. Apalagi, hal ini kadang kala bisa datang dengan tanpa kita sadari, terutama kala emosi memuncak atau muncul ketidakpuasan dalam diri atas suatu kejadian atau pun ketetapan yang harus dilalui.

Sebagaimana yang Allah gambarkan dalam Al-Qur’an perihal sifat Iblis. Ketika Allah perintahkan Iblis memberi sujud (penghormatan) kepada Nabi Adam Alayhissalam, Iblis malah menjawab, “Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. 7: 12).

Artinya, sifat merasa diri lebih baik dari orang lain adalah wujud nyata dari kesombongan. Jika ini tidak diwaspadai, bukan saja akan berdampak buruk bagi diri kita secara fisik, tetapi juga akan menghancurkan pondasi iman yang semestinya kita pelihara dengan segenap daya. Karena sombong akan membuat manusia jauh dari kebaikan pikir dan kebijaksanaan ketetapan.

Secara naluriah, manusia baik dia beriman atau tidak akan sangat benci kepada pribadi sombong. Apalagi, Allah Ta’ala. Jadi, perkara (sombong) ini harus benar-benar diwaspadai agar ke-Islam-an kita tidak terciderai dan ternodai.

Sebab, sombong adalah hak Allah Ta’ala. “Sombong adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah selimut-Ku. Barang siapa menyaingi-Ku di dalamnya, aku pasti akan menghukumnya” (HR. Abu DAwudd, Ibnu Majah & Ibn Hibban).

Dengan demikian, tiga hal dalam uraian ini sangat penting untuk menjadi perhatian utama setiap Muslim. Karena, siapa lalai, akan sangat mungkin iman dalam dirinya akan tergerus terus menerus, sementara kita masih merasa diri sebagai Muslim yang baik. Padahal, kita sudah nyata-nyata berada dalam bahaya, kehilangan kepribadian agung sebagai pribadi Muslim. Wallahu a’lam.*

7 Rahasia Dikabulkannya Doa Kita




DOA adalah senjata dan perisai bagi kaum mukminin. Bentengnya adalah doa dan senjatanya adalah tangisan. Dalam ajaran Islam doa menempati posisi sangat penting. Tidak hanya digunakan untuk meminta kebutuhan hidup semata, melainkan sebagai sarana berinteraksi dengan Allah dan juga sarana beribadah.
“Doa adalah senjata orang mukmin, tiang bagi agama dan cahaya dari langit,” demikian kutip hadis yang diriwayat Hakim.
Doa merupakan bentuk mashdar dari kata Da’a – Yad’u) (دعا- يدعو yang bermakna memanggil atau mengundang. Kata ini juga memiliki beberapa variasi mashdar, diantaranya: da’wan, da’wah, dan da’wa.
Secara etimologis, doa dapat bermakna memohon, minta diambilkan (sesuatu), membutuhkan, menuturkan kebaikan mayat, minta tolong, menyukai, mencari kebaikan, menisbatkan (kepada orang lain), mengajak dan mendorong (untuk melakukan sesuatu).
Namun defenisi kalangan ahli ushul dan fiqh, doa adalah tuntutan perbuatan (baca: perintah) dari derajat yang rendah kepada derajat yang lebih tinggi. Karena itu, doa adalah salah satu bentuk dari permintaan.
Syarat Dikabulkannya Doa
Seorang ulama terkenal Al Imam Al Faqih Abu Al Lais. Didatangi oleh satu kumpulan pemuda, ingin menanyakan tentang doa mereka. Setelah berkali-kali mereka berdoa, tetapi tidak pernah dimakbulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Mereka mempertikaikan ayat-ayat Al-Qur’an tentang perkenan Allah terhadap doa mereka. Di antara ayat-ayat tersebut, firman Allah yang bermaksud:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “(QS: Al-Baqarah: 186)
Mereka menyatakan, apakah ayat Al Quran keliru sehingga doa-doanya tidak dikabulkan Allah? Al Imam Al Faqih menjawab, Al-Quran tidak pernah keliru, namun yang berdoalah yang tidak pernah mencari tahu tentang kesalahannya yang ujungnya membuat doanya tertolak.
Beberapa hal yang menyebabkan mudahnya doa dikabulkan;
PertamaMakan yang Halal, Jauhi yang Haram
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hai Sa’ad (bin Abu Waqqash), makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan.”
Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambutnya acak-acakan dan berdebu lalu menengadahkan tangannya ke langit untuk berdoa, “Ya Rabi, ya Rabi.’ Padahal, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan keluarganya diberi makan dari sumber yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” [HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad]
Semakin banyak masuk makanan haram — termasuk dari hasil riba (bunga)– semakin kecil doa kita diterima.
Rasulullah berkata, “Wahai Sa’ad, perbaikilah (murnikanlah) makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul do’anya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya.” (HR. Ath-Thabrani)
Rasulullah pernah menjelaskan dosa-dosa riba. Dan yang paling ringan adalah seperti bersetubuh dengan ibu sendiri.
“Riba itu memiliki tujuh puluh pintu dan yang paling ringan adalah seperti seseorang yang bersetubuh dengan ibunya sendiri.” (Riwayat Ibnu Majah).
Kedua;  Berprasangka Baik Pada Allah
Berdoa itu meminta segala sesuatu di hadapan Allah yang Maha Agung. Maka jangan pernah sesekali buruk sangka terhadap Allah Subhanahu Wata’ala. Berbaik sangkalah apabila berdoa kepadaNya, jangan ada keraguan terhadapNya.
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Aku akan mengikuti persangkaan hambaKu kepadaKu. dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdo’a kepadaKu.” [HR. Bukhari dan Muslim]
KetigaDengan Adab Yang Baik
Menghadap Allah harus dengan penuh harapan, perasaan rendah hati dan khusu’. Mulakanlah memuji Allah atau shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.
Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang mewakili-Nya bagi barangsiapa yang berdo’a dengan berkata: “Yaa arhamarraahimiin. Maka siapa saja yang menyebutnya 3 kali, maka menjawablah malaikat itu: Sesungguhnya Allah arhamarraahimiin telah (berkenan) mengabulkan permohonanmu. Maka mintalah kepadaNya.” [HR. Hakim]
Telah diterima dari Abu Musa Asy-ari bahwa ketika orang-orang mendoa dengan suara keras beliau bersabda; “Hai manusia! berdoalah dengan suara perlahan, karena kamu tidaklah menyeru orang yang tuli ataupun berada di tempat yang jauh. yang kamu seru itu ialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan tempat kamu memohon itu lebih dekat lagi kepada salah seorangmu dari leher kendaraannya! Hai Abdullah bin Qeis! Maukah kamu kutunjuki sebuah kalimat yang merupakan salah satu perbendaharaan surga? Yaitu: ‘Laa haula walaa Quwwata illaabillaah’.”
Keempat; Keberadaan Doa Tidak Keluar Dari yang Disyariatkan
Sesungguhnya pada doa yang keluar dari yang disyariatkan itu ada pelanggaran atau padanya ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Berdoa kepada selain Allah maka keberadaan pada doa itu mengandung kesyirikan seperti meminta pertolongan kepada selain Allah.
Kelima, seorang yang berdoa harus mengikhlaskan (ditujukan) hanya kepada Allah ‘azza wajalla di dalam do’anya, mengikhlaskan niat karena Allah, mengikhlaskan aqidah (keyakinan) kepada Allah maka keberadaan orang yang berdoa harus mengikhlaskan do’anya hanya kepada Allah.
Misalnya; “Doa seorang Muslim untuk saudaranya (sesama muslim) dari tempat yang jauh (tanpa diketahuinya) akan dikabulkan.” [HR. Muslim]
KeenamDoa Para Pemimpin Yang Adil, Anak Yatim dan Orang Teraniaya
Di antara doa yang tidak akan ditolak Allah adalah; “Orang yang berpuasa, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya.” [HR. Tirmidzi]
Ketujuh, Mengerti Kunci Waktu dan Tempat Dikabulkannya Doa
Ada saat-saat yang tepat dan suasana utama doa mudah dikabulkan. Seperti pada hari Arafah, pada bulan Ramadhan, pada hari Jum’at, sepertiga terakhir dari malam hari (saat Shalat Tajahud), waktu sahur, ketika sedang sujud, ketika turun hujan deras, antara adzan dan iqamat, saat mulai pertempuran, ketika dalam ketakuatan atau sedang ber-iba hati, doa yang sakit, doa dalam perjalanan dan doa-doa di tempat khusus. Misalnya; di Hijir Ismail, antara Sofa dan Marwah,di belakang Maqam Ibrahim, di Raudah.
Imam Muslim meriwayatkan dari dari Jabir ia berkata; Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu ia memohon kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allah memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.”
Di antara tempat-tempat ustajab untuk berdoa, adalah: Di Multazam. Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah bersabda:
“Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidak ada satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan.” (HR. Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad Jilid V, hal. 347).
Rasulullah bersabda: “Tempat antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” (HR. Muslim).
Raudah adalah sebuah tempat yang merupakan bagian dari Masjid Nabawi. Tempat ini disebut dengan ar Raudhah. Ar Raudhah adalah ruang di antara mimbar dan makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” */AU Shalahuddin Z

Perlu Ilmu Dan Tak Putus Asa Dalam Berdakwah




PERKEMBANGAN media sosial di Indonesia saat ini sangat luar biasa. Banyak orang memanfaatkannya dengan bermacam-macam. Mulai untuk tujuan bisnis, sekedar iseng, penipuan, hingga untuk berdakwah. Bahkan tak kalah penting, sebagai ajang menyebarkan pemikiran-pemikiran.

Salah satu pihak yang gencar menyebarkan pemikiran-pemikirannya adalah kalangan yang mengaku Islam tetapi berpikiran liberal-sekular. Mereka aktif memposting opini dan pendapat mereka tentang sesuatu — tentunya saja– dengan kacamata liberal yang mereka gunakan. Sayangnya, banyak kalangan awam yang belum memiliki pemahaman mendalam tentang Islam, ikut terjebak dan terhipnotis dengan pendapat-pendapat ‘menyesatkan’ mereka.

Pengguna sosial media hari ini masih kurang diminati aktivis Islam. Sebagai bagian dari aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, sesekali perlu kalangan Muslim merebut wacana dengan melakukan counter atau menyanggah pendapat-pendapat kalangan seperti ini. Toh hal seperti ini juga dibolehkan oleh Nabi kita.

Dari Abu Sa’id Al Khudry ra berkata, saya mendengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim).

Dalam meng-counter pendapat tersebut diperlukan kesabaran, keilmuan dan juga keikhlasan, bukan untuk menang-menangan, apalagi sekedar popularitas belaka.

Belum lama ini kalangan aktivis liberal ‘menyerang’ para aktivis Islam di jejaring twitter dengantwitwar (perang status di Twitter).

Kaum liberalis melabeli para aktivis Islam ini sebagai “lulusan pesantren kilat”. Maksudnya, lulusan ‘pesantren kilat’, memang tak pantas mendebat mereka yang notabene jebolan pesantren “asli” dan lulusan universitas-universitas ternama di luar negeri.
Lulusan ‘pesantren kilat’, yang dicap belum memiliki ilmu dan wawasan keislam-an yang kuat.
Jika memang begitu kenyataannya, ilmu yang kita miliki belum cukup dan strata pendidikan kita tidak setinggi mereka, janganlah kita merasa putus asa dan hilang harapan.

Jangan pula kita berhenti untuk menyuarakan kebenaran dan melawan kebathilan. Kita wajib untuk terus mendakwahi mereka dan korban pemikiran mereka dengan cara yang santun, bahasa yang sopan, argumentasi yang kuat dan akhlak yang baik, seperti teladan lulusan pesantren kilat yang akan diceritakan di bawah ini. Lebih-lebih menambah ilmu.

Adalah Habib al-Najjar. Dia adalah salah satu lulusan pesantren kilat yang fenomenal, mewangi namanya tercatat indah di surah yang paling sering dibaca oleh Muslim di tanah air, surah Yasin. Adalah Ashabul Qaryah (penduduk suatu negeri), ketika diutus kepada mereka dua orang utusan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ

“Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, ‘Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.’” (QS. Yasin: 14).

Kaum itu tetap membangkang dan tidak mengindahkan seruan para utusan dan melabeli para utusan sebagai pendusta.

Tetiba datanglah dari ujung kota seorang lelaki. Lelaki itu bukanlah siapa-siapa, dia tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan. Dia pun tak memiliki kedudukan yang mulia di mata kaumnya. Tapi dia memiliki sesuatu yang lebih berharga dari itu semua, yaitu aqidah yang hidup dan menyeruak di dalam jiwanya, mendorong dan memotivasinya untuk datang dari ujung kota dengan ilmu yang seadanya untuk menguatkan dakwah para utusan. Lelaki itu ketika mendengarkan dakwah dari para utusan, kemudian langsung meresponnya setelah melihat adanya tanda-tanda kebenaran. Dengan bergegas ia berkata,

وَجَاء مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ
تَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang tiada meminta imbalan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin: 20-21).

Imam Fakhrurrazi rahimahullaah dengan sangat indah nan menyentuh memaparkan beberapa hikmah yang agung, yang mengisyaratkan akan ajegnya dakwah tauhid di dalam dada Habib al-Najjar ini, yang demikian jujur dan ikhlas menyeru dan mengajak kaumnya.

Dalam firman-Nya disebutkan, “Dengan bergegas”, sebagai gambaran bagi kita, bahwa ia ingin sekali kaumnya bisa sesegera mungkin merasakan dan mereguknya sejuknya hidayah seperti yang telah didapatkannya. Memberi motivasi bagi kita untuk senantiasa menguras segala daya upaya yang kita miliki untuk memberikan seuntai nasihat kepada orang yang kita cintai.

Seruan “Wahai kaumku..”, memiliki rahasia makna yang begitu mendalam, dimana dalam ungkapan tersebut nampak sekali bagaimana dalamnya rasa kasih sayang yang dimilikinya terhadap kaumnya. “Ikutilah utusan-utusan itu…”, merupakan ajakan agar mereka mengikuti para Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada mereka. Dia tidak mengatakan, “Ikutilah aku…”, karena memang dia bukanlah siapa-siapa. Dia mengajak mereka untuk mengikuti para Rasul yang telah menampakkan bukti yang terang benderang kepada mereka.

Kemudian, dalam firman-Nya pula disebutkan, Habib al-Najjar mengatakan, “Ikutilah orang yang tiada meminta imbalan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin: 21). Tirulah Metode Ini..

Mahasiswa Pascasarjana Informatika Kelompok Studi Palestina (KSP)

Bulan Muharram dan Puasa Muharram



Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Bulan ini disebut oleh Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Tentunya, bulan ini memilki keutamaan yang sangat besar.



Di zaman dahulu sebelum datangnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bulan ini bukanlah dinamakan bulan Al-Muharram, tetapi dinamakan bulan Shafar Al-Awwal, sedangkan bulan Shafar dinamakan Shafar Ats-Tsani. Setelah datangnya Islam kemudian Bulan ini dinamakan Al-Muharram.

Al-Muharram di dalam bahasa Arab artinya adalah waktu yang diharamkan. Untuk apa? Untuk menzalimi diri-diri kita dan berbuat dosa. Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman:

{ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ }

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu” (QS At-Taubah: 36)

Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((… السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَان.))

“Setahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu: Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Al-Muharram, serta RajabMudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban. “

Pada ayat di atas Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

{ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ }

“Janganlah kalian menzalimi diri-diri kalian di dalamnya”, karena berbuat dosa pada bulan-bulan haram ini lebih berbahaya daripada di bulan-bulan lainnya. Qatadah rahimahullah pernah berkata:

(إنَّ الظُّلْمَ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيْئَةً وَوِزْراً مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهَا، وَإِنْ كَانَ الظُّلْمُ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَظِيْماً، وَلَكِنَّ اللهَ يُعَظِّمُ مِنْ أَمْرِه مَا يَشَاءُ.)

“Sesungguhnya berbuat kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada berbuat kezaliman di selain bulan-bulan tersebut. Meskipun berbuat zalim pada setiap keadaan bernilai besar, tetapi Allah membesarkan segala urusannya sesuai apa yang dikehendaki-Nya.”

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:

(…فَجَعَلَهُنَّ حُرُماً وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ، وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ وَاْلأَجْرُ أَعْظَمُ.)

“…Kemudian Allah menjadikannya bulan-bulan haram, membesarkan hal-hal yang diharamkan di dalamnya dan menjadikan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dan menjadikan amalan soleh dan pahala juga lebih besar.”

Haramkah berperang di bulan-bulan haram?

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Jumhur ulama memandang bahwa larangan berperang pada bulan-bulan ini telah di-naskh (dihapuskan), karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

{ فَإِذَا انسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ }

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka Bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka.” (QS At-Taubah: 5)

Sebagian ulama mengatakan bahwa larangan berperang pada bulan-bulan tersebut, tidak dihapuskan dan sampai sekarang masih berlaku. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa tidak boleh memulai peperangan pada bulan-bulan ini, tetapi jika perang tersebut dimulai sebelum bulan-bulan haram dan masih berlangsung pada bulan-bulan haram, maka hal tersebut diperbolehkan.

Pendapat yang tampaknya lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi penduduk Thaif pada bulan Dzul-Qa’dah pada peperangan Hunain.

Keutamaan Berpuasa di Bulan Muharram

Hadits di atas menunjukkan disunnahkannya berpuasa selama sebulan penuh di bulan Muharram atau sebagian besar bulan Muharram. Jika demikian, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa sebanyak puasa beliau di bulan Sya’ban? Para ulama memberikan penjelasan, bahwa kemungkinan besar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui keutamaan bulan Muharram tersebut kecuali di akhir umurnya atau karena pada saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak udzur seperti: safar, sakit atau yang lainnya.

Keutamaan Berpuasa di Hari ‘Asyura (10 Muharram)

Di bulan Muharram, berpuasa ‘Asyura tanggal 10 Muharram sangat ditekankan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((…وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ.))

“… Dan puasa di hari ‘Asyura’ saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.”

Ternyata puasa ‘Asyura’ adalah puasa yang telah dikenal oleh orang-orang Quraisy sebelum datangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga berpuasa pada hari tersebut. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

(كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَه.)

“Dulu hari ‘Asyura, orang-orang Quraisy mempuasainya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mempuasainya. Ketika beliau pindah ke Madinah, beliau mempuasainya dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barang siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak ingin, maka silakan meninggalkannya.” 

Keutamaan Berpuasa Sehari Sebelumnya

Selain berpuasa di hari ‘Asyura disukai untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkeinginan, jika seandainya tahun depan beliau hidup, beliau akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Tetapi ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat pada tahun tersebut.

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – يَقُولُ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ, قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (( فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ.)) قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa dengan tanggal 9 (Muharram).’ Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.”

Banyak ulama mengatakan bahwa disunnahkan juga berpuasa sesudahnya yaitu tanggal 11 Muharram. Di antara mereka ada yang berdalil dengan hadits Ibnu ‘Abbas berikut:

(( صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا.))

“Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau berpuasalah setelahnya satu hari.”

Akan tetapi hadits ini lemah dari segi sanadnya (jalur periwayatan haditsnya).

Meskipun demikian, bukan berarti jika seseorang ingin berpuasa tanggal 11 Muharram hal tersebut terlarang. Tentu tidak, karena puasa tanggal 11 Muharram termasuk puasa di bulan Muharram dan hal tersebut disunnahkan.

Sebagian ulama juga memberikan alasan, jika berpuasa pada tanggal 11 Muharram dan 9 Muharram, maka hal tersebut dapat menghilangkan keraguan tentang bertepatan atau tidakkah hari ‘Asyura (10 Muharram) yang dia puasai tersebut, karena bisa saja penentuan masuk atau tidaknya bulan Muharram tidak tepat. Apalagi untuk saat sekarang, banyak manusia tergantung dengan ilmu astronomi dalam penentuan awal bulan, kecuali pada bulan Ramadhan, Syawal dan Dzul-Hijjah.

Tingkatan berpuasa ‘Asyura yang disebutkan oleh para ahli fiqh

Para ulama membuat beberapa tingkatan dalam berpuasa di hari ‘Asyura ini, sebagai berikut:
Tingkatan pertama: Berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.
Tingkatan kedua: Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
Tingkatan ketiga: Berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram.
Tingkatan keempat: Berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram.

Sebagian ulama mengatakan makruhnya berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram, karena hal tersebut mendekati penyerupaan dengan orang-orang Yahudi. Yang berpendapat demikian di antaranya adalah: Ibnu ‘Abbas, Imam Ahmad dan sebagian madzhab Abi Hanifah.

Allahu a’lam, pendapat yang kuat tidak mengapa berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram, karena seperti itulah yang dilakukan oleh Rasulullah selama beliau hidup.
Hari ‘Asyura, Hari Bergembira atau Hari Bersedih?

Kaum muslimin mengerjakan puasa sunnah pada hari ini. Sedangkan banyak di kalangan manusia, memperingati hari ini dengan kesedihan dan ada juga yang memperingati hari ini dengan bergembira dengan berlapang-lapang dalam menyediakan makanan dan lainnya.

Kedua hal tersebut salah. Orang-orang yang memperingatinya dengan kesedihan, maka orang tersebut laiknya aliran Syi’ah yang memperingati hari wafatnya Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Husain radhiallahu ‘anhu terbunuh di Karbala’ oleh orang-orang yang mengaku mendukungnya. Kemudian orang-orang Syi’ah pun menjadikannya sebagai hari penyesalan dan kesedihan atas meninggalnya Husain.

Di Iran, yaitu pusat penyebaran Syi’ah saat ini, merupakan suatu pemandangan yang wajar, kaum lelaki melukai kepala-kepala dengan pisau mereka hingga mengucurkan darah, begitu pula dengan kaum wanita mereka melukai punggung-punggung mereka dengan benda-benda tajam.

Begitu pula menjadi pemandangan yang wajar mereka menangis dan memukul wajah mereka, sebagai lambang kesedihan mereka atas terbunuhnya Husain radhiallahu ‘anhu.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: (( لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ.))

“Bukan termasuk golonganku orang yang menampar-nampar pipinya, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti teriakan orang-orang di masa Jahiliyah.”

Kalau dipikir, mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama di hari meninggalnya ‘Ali bin Abi Thalib, Padahal beliau juga wafat terbunuh?

Di antara manusia juga ada yang memperingatinya dengan bergembira. Mereka sengaja memasak dan menyediakan makanan lebih, memberikan nafkah lebih dan bergembira layaknya ‘idul-fithri.

Mereka berdalil dengan hadits lemah:

(( مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ.))

“Barang siapa yang berlapang-lapang kepada keluarganya di hari ‘Asyura’, maka Allah akan melapangkannya sepanjang tahun tersebut.”

Dan perlu diketahui merayakan hari ‘Asyura’ dengan seperti ini adalah bentuk penyerupaan dengan orang-orang Yahudi. Mereka bergembira pada hari ini dan menjadikannya sebagai hari raya.

Demikianlah sedikit pembahasan tentang bulan Muharram dan keutamaan berpuasa di dalamnya. Mudahan kita bisa mengawali tahun baru Islam ini dengan ketaatan. Dan Mudahan tulisan ini bermanfaat. Amin.

Amalan-amalan Sunnah Yang Dianjurkan Pada Bulan Muharram



Adakah amalan khusus di bulan Muharram?

Mendapati bulan Muharram merupakan kenikmatan tersendiri bagi seorang mukmin. Karena bulan ini sarat dengan pahala dan ladang beramal bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan hari esoknya. Memulai awal tahun dengan ketaatan, agar pasti dalam melangkah dan menatap masa depan dengan optimis.


Abu Utsman an-Nahdi mengatakan: “Adalah para salaf mengagungkan tiga waktu dari sepuluh hari yang utama: Sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan sepuluh hari pertama bulan Muharram”.

Berikut ini amalan-amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan ini:

Pertama: Puasa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram.

Hadits ini sangat jelas sekali bahwa puasa sunnah yang paling afdhol setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Maksud puasa disini adalah puasa secara mutlak. Memperbanyak puasa sunnah pada bulan ini, utamanya ketika hari ‘Asyura (10 Muharram) sebagaimana akan datang penjelasannya pada postingan berikutnya di Muslim.Or.Id.

Akan tetapi perlu diingat tidak boleh berpuasa pada seluruh hari bulan Muharram, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali pada Ramadhan saja.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ini adalah puasa yang paling afdhol bagi orang yang hanya berpuasa pada bulan ini saja, sedangkan bagi yang terbiasa berpuasa terus pada bulan lainnya yang afdhol adalah puasa Daud”.

Kedua: Memperbanyak amalan shalih

Sebagaimana perbuatan dosa pada bulan ini akan dibalas dengan dosa yang besar maka begitu pula perbuatan baik. Bagi yang beramal shalih pada bulan ini ia akan menuai pahala yang besar sebagai kasih sayang dan kemurahan Allah kepada para hambanya.

Ini adalah keutamaan yang besar, kebaikan yang banyak, tidak bisa dikiaskan. Sesungguhnya Allah adalah pemberi nikmat, pemberi keutamaan sesuai kehendaknya dan kepada siapa saja yang dikehendaki. Tidak ada yang dapat menentang hukumnya dan tidak ada yang yang dapat menolak keutamaanNya.

Ketiga: Taubat

Taubat adalah kembali kepada Allah dari perkara yang Dia benci secara lahir dan batin menuju kepada perkara yang Dia senangi. Menyesali atas dosa yang telah lalu, meninggalkan seketika itu juga dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Taubat adalah tugas seumur hidup.

Maka kewajiban bagi seorang muslim apabila terjatuh dalam dosa dan maksiat untuk segera bertaubat, tidak menunda-nundanya, karena dia tidak tahu kapan kematian akan menjemput. Dan juga perbuatan jelek biasanya akan mendorong untuk mengerjakan perbuatan jelek yang lain. Apabila berbuat maksiat pada hari dan waktu yang penuh keutamaan, maka dosanya akan besar pula, sesuai dengan keutamaan waktu dan tempatnya. Maka bersegeralah bertaubat kepada Allah.

Masih berlanjut pada pembahasan puasa Asyura, puasa yang istimewa di bulan Muharram. Semoga Allah mudahkan.

Menikah Di Bulan Syawal Adalah Sunnah?



Alhamdulillah umur kita disampaikan kepada bulan Syawal. Setelah satu bulan penuh lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, semoga semangat ibadah kita di bulan Syawal ini tidak menurun. Yang fardu dan yang sunah tetap dikerjakan.

Kita tentu telah mengetahui sunnahnya puasa enam hari di bulan syawal. Ada amalan sunah lain yang lekat dengan bulan Syawal. Namun yang ini dikerjakan jika sudah mampu dan sudah siap. Menikah.
Menikah adalah sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam, yang sejalan dengan fithrah manusia yang lurus, lagi memiliki hikmah dan tujuan yang luhur demi kemaslahatan kehidupan manusia. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda,
النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي، فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي، وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ، وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ، فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ [رواه ابن ماجه].
Nikah itu termasuk sunnahku. Barangsiapa yang enggan mengamalkansunnahku maka ia bukan termasuk golonganku. Menikahlah kalian, karena sesungguhnya aku akan bangga dengan kalian di hadapan umat-umat lain. Dan barangsiapa yang memiliki kemampuan maka menikahlah, dan barangsiapa yang belum mampu maka bepuasalah, karena puasa itu perisai (pemutus syahwat jima’) baginya.” (HR.  Ibnu Majah)
Allah Subhnahu Wa Ta’ala menceritakan tentang para rasul sebelum Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam dalam firman-Nya,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً
Dan sungguh Kami telah mengutus para rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami jadikan untuk mereka isteri-isteri dan anak keturunan.” (QS. Ar-Ra’du: 38)

Menikah Di Bulan Syawal = Sunnah?

Pada dasarnya menikah itu tidak terikat dengan waktu tertentu. Kapan saja, hari apapun dan bulan apapun seseorang boleh menikah. Sebab dalam aqidah Islam tidak ada yang namanya hari dan bulan buruk, hari dan bulan sial untuk sebuah pernikahan. Semua waktu adalah baik.
Namun demikian, sebagian orang masih meyakini adanya hari sial dan bulan sial. Dan dalam menentukan waktu pernikahan mereka menghitung-hitung dan mencari waktu yang mereka yakini sebagai waktu yang baik, hari dan bulan baik, supaya terhindar dari bala bencana, seperti perceraian, menurut anggapan mereka.
Di masa jahiliyyah dahulu, masyarakat Arab meyakini adanya suatu masa yang bila melakukan pernikahan atau membangun rumah tangga maka tidak akan beruntung alias sial, yaitu bulan Syawal. Anggapan ini mereka sandarkan kepada keadaan unta betina yang mengangkat ekornya (sya-lat bi dzanabiha) sebagai tanda penolakan terhadap unta jantan yang mendekatinya. Karena itulah para wanita mereka menolak untuk dinikahi atau para wali wanita menolak untuk menikahkan anak wanitanya.
Setelah Islam datang dan Rasulullah SAW secara bertahap menancapkan tiang-tiang akidah yang lurus, sehingga sedikit demi sedikit orang-orang memeluk Islam. Maka di tengah-tengah dakwah beliau kepada tauhid dan menghapus kesyirikan di bumi Mekkah saat itu, beberapa saat setelah isteri beliau tercinta Khadijah Radiyallahu ‘anhaa wafat pada bulan Ramadhan, maka pada bulan Syawal yaitu di tahun ke-11 kenabian (dua atau tiga tahun sebelum hijrah) beliau menikahi Aisyah yang saat itu berusia 6 atau 7 tahun. Dan setelah itu menikahi isteri beliau Shalallahu ‘alaihi Wassalam Saudah binti Zam’ah Radiyallahu ‘anhaa pada bulan yang sama.
Aisyah Radiyallahu ‘anhaa juga berkata,
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ e فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ e كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ)) [رواه مسلم]
“Rasulullah e menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal.” (HR.  Muslim)
Al-Imam An-Nawawi menerangkan hadits di atas di dalam syarah Shahih Muslim (9/209), “Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal. Para ulama kami (ulama syafi’iyyah) telah menegaskan anjuran tersebut dan berdalil dengan hadits ini. Dan Aisyah Radiyallahu ‘anhaa ketika menceritakan hal ini bermaksud membantah apa yang diyakini masyarakat jahiliyyah dahulu dan anggapan takhayul sebagian orang awam pada masa kini yang menyatakan kemakruhan menikah, menikahkan, dan membangun rumah tangga di bulan Syawal. Dan ini adalah batil, tidak ada dasarnya. Ini termasuk peninggalan jahiliyyah yang bertathayyur (menganggap sial). Hal itu, dikarenakan penamaan syawal dari kata al-isyalah dan ar-raf’u (menghilangkan/mengangkat).” (yang bermakna ketidakberuntungan menurut mereka).
Demikianlah, akhirnya Islam menetapkan sunnahnya mengadakan pernikahan dan membangun rumah tangga di bulan Syawal, terutama di tengah masyarakat yang meyakini kesialan bulan tersebut untuk sebuah pernikahan. [ds/islampos/radiosunnah]

Ciri-ciri Iman yang Sebenarnya




Keimanan seseorang merupakan suatu hal yang menentukan tingkat kedekatan orang itu dengan Allah SWT. Maka, setiap umat Islam pastinya nikmat iman adalah hal yang paling diinginkan. Iman itu adalah percaya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Tapi, apakah hanya itu iman yang sesungguhnya?

Orang yang mengaku iman dengan sebenar-benarnya iman, adalah orang yang mengucapkan dengan lisan bahwa dia beriman. Dan dibenarkan oleh lubuk hatinya yang paling dalam. Dia senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Serta dalam pelaksanaannya tidak ada sedikit pun keraguan yang ada pada dirinya.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang Mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar,” (QS. Qaf: 15).

Itulah ciri iman yang sesungguhnya. Nah, apakah ciri-ciri tersebut sudah ada pada diri kita? Marilah kita intropeksi diri dengan bercermin mengenai perbuatan kita selama ini. Bila kita menyadari bahwa ternyata keimanan yang sebenarnya tersebut belum ada pada diri kita, maka tumbuhkanlah keimanan itu. Perbaiki diri dengan lebih baik lagi agar Allah memberikan nikmat iman yang sebenarnya untuk kita.

Inilah Pentingnya ASI bagi Si Bayi




ASI, merupakan makanan yang paling ideal bagi bayi. Allah SWT telah memelihara dan memberi makan buah hati Ibu selama 9 bulan di dalam rahim. Setelah itu, Allah SWT merancang sang ibu untuk menyusui dan memelihara bayi di tahun-tahun pertama kehidupan. Air susu Ibu adalah makanan terbaik dan paling sesuai yang pernah ada untuk bayi manusia. Yang lebih menarik lagi adalah ASI sangat individual dan spesial karena komposisinya berbeda untuk tiap anak.
Ketika perintah menyusui diturunkan dalam Al-Qur’an, ilmu pengetahuan saat itu belum bisa menginformasikan secara rinci mengenai komposisi ASI dan berbagai manfaatnya. Seiring dengan majunya ilmu pengetahuan, berbagai penelitian telah dilakukan, dan akhirnya terkuaklah berbagai hikmah dari perintah menyusui. Subhaanallah…
Susu setiap jenis mamalia berbeda dan bersifat spesifik untuk tiap spesies, yaitu disesuaikan dengan keperluan, laju pertumbuhan dan kebiasaan menyusuinya. Misalnya ikan paus yang hidup dalam lingkungan yang sangat dingin dan waktu menyusuinya singkat, kadar lemak dalam susunya bisa mencapai 50, sedangkan kelinci yang menyusui anaknya hanya sekali sehari, susunya mengandung kurang lebih 10% protein. Bayi manusia akan mencapai 2 kali berat lahirnya dalam waktu sekitar 6 bulan, sedangkan anak sapi hanya memerlukan waktu 6 minggu, sehingga dapat dimengerti bahwa komposisi ASI dan susu sapi pastilah berbeda.
ASI dalam satu spesies pun berbeda. ASI seorang Ibu bisa berbeda dengan ASI Ibu yang lain. Jika ASI sesama hewan saja berbeda dan ASI tiap Ibu berbeda, maka bagaimana bisa ASI manusia sama dengan ASI hewan?
Air susu berubah kualitas dan kuantitasnya seiring dengan berubahnya umur bayi. Kebutuhan bayi berbeda pada umur yang berbeda. Bahkan selama satu kali (periode) menyusui, komposisi air susu berubah. Ketika ia mulai menghisap, bayi akan menerima susu awal (foremilk). Saat acara menyusui berlanjut, susu lanjutan (hindmilk) akan dilepaskan. Luar biasa! [parentingislami]