Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Beginilah Kondisi Dunia Tanpa Setan dan Iblis





Banyak manusia berpikir, jika iblis sedemikian jahat mengapa Allah SWT tidak membinasakannya saja?

Tapi Allah SWT tentu tidak menciptakan makhluk ini tanpa fungsi. Pernah suatu ketika, Nabi Sulaiman AS memohon kepada Allah untuk menangkap iblis dan memenjarakannya.

Nabi berharap ketiadaan iblis akan membuat manusia hidup lebih tentram dan damai tanpa dosa. Namun, apa yang terjadi setelahnya membuat Nabi Sulaiman kembali melepaskan makhluk tersebut.

Sebenarnya kondisi apa yang dialami dunia tanpa iblis dan setan?

Nabi Sulaiman Tetap Memohon

Kisah ini dipetik dari buku Kisah-kisah Allah karya Ahmad Mir Khalaf Zadeh & Qasim Mir Khalaf Zadeh. Dalam sebuah riwayat diceritakan bagaimana Nabi Sulaiman AS memiliki kekuatan penuh menundukan kalangan manusia, jin dan hewan.

Bahkan setan-setan kala itu menjadi pekerjanya untuk membawa dan mengimpor batu batuan, pasir serta bahan bangunan lain untuk membangun bangunan bangunan megah.

Namun meski dengan kekayaan dan kekuasaan tersebut, ternyata Nabi Sulaiman mencari makan dari rezeki yang diperolehnya dengan berjualan tas di pasar. Padahal, didapur sang raja setiap hari selalu dimasak 4.000 unta, 5.000 sapi, dan 6.000 kambing.

Di dalam buku tersebut dituliskan sebuah riwayat saat Nabi Sulaiman AS memohon kepada Allah agar diperbolehkan memenjarakan Iblis.

“Ya Allah, Engkau telah menundukkan padaku manusia, jin, binatang buas, burung-burung, dan para malaikat. Ya Allah aku ingin menangkap dan memenjarakan iblis, merantai serta mengikatnya, sehingga manusia tidak berbuat dosa dan maksiat lagi.”

Namun, permintaan ini tidak serta merta dikabulkan oleh Sang Pencipta. Allah Ta'alaa kemudian mewahyukan kepada Nabi Sulaiman, bahwa tidak ada baiknya jika iblis ditangkap atau dibinasakan "Wahai Sulaiman, tidak ada baiknya jika iblis ditangkap".

Tapi Nabi Sulaiman tetap memohon...

Apa yang Telah Terjadi?

"Ya Allah, keberadaan mahluk terkutuk ini tidak ada kebaikan didalamnya".

Allah berfirman, "Jika iblis ditangkap maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan. Nabi Sualiman berkata, "Yaa Allah. aku ingin menangkap mahluk terkutuk ini selama beberapa hari saja. Kemudian Allah mengizinkan Nabi Sulaiman untuk menangkap iblis dan memenjarakannya.

Keesokan harinya, Nabi Sulaiman mengutus pekerjanya untuk berjualan tas ke pasar. Namun sesampainya di pasar, ada hal yang tidak biasanya terjadi. Pasar tersebut kosong tanpa penghuni. Semua pedagang menutup dagangan mereka. Pekerjanya lalu memberitahukan hal itu kepada Nabi Sulaiman alaihissalam.

Nabi Sulaiman AS bertanya, "Apa yang telah terjadi?"

Pekerjanya menjawab, "Kami tidak tahu".

Pada malam itu, Nabi Sulaiman tidak makan dan hanya minum air. Pada hari berikutnya, anak buah Nabi kembali ke pasar untuk berjualan tas. Namun hal yang sama kembali terjadi. Pasar kosong dan tidak berpenghuni.

Ternyata setelah dicari tahu, manusia lebih banyak memilih menutup pasar. Mereka pergi ke masjid, dan menuju kuburan untuk mengingat kematian, menangis dan meratap. Mereka sibuk mempersiapkan bekal menuju ke akherat tanpa memperdulikan lagi keindahan duniawi.

Hal ini tentu membuat sang Nabi keheranan. “Apa yang sedang terjadi” pikirnya. Nabi Sulaiman lalu bertanya kepada Allah perihal ini. Kenapa orang orang tidak bekerja mencari nafkah ?

Menangkap Iblis tak Mendatangkan Kebaikan

Lalu, Allah mewahyukan kepada Nabi Sulaiman, "Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak bergairah bekerja mencari nafkah. Bukankan sebelumnya telah Ku-katakan kepadamu bahwa menangkap iblis tidak mendatangkan kebaikan.

Mendengar jawaban Allah, Nabi Sulaiman kemudian melepaskan Iblis dan bala tentaranya. Dan benar saja, keesokan harinya pasar kembali ramai. Manusia kembali bersemangat bekerja mencari harta dunia untuk makan dan memenuhi kebutuhannya. Jadi jangan berprasangka buruk terhadap ciptaan Allah meski dia kita anggap tidak berguna sekalipun. Karena Allah lah yang maha tahu apa yang Dia ciptakan.

SYARIFUDDIN KHALIFAH KINI TELAH DEWASA, BAYI AJAIB NON-MUSLIM AFRIKA




Kembali mengingat peristiwa tahun 90-an, dunia saat itu gempar dengan berita besar seorang bayi berumur 2 bulan dari keluarga Katholik di Afrika yang menolak dibaptis. “Mama, unisibi baptize naamini kwa Allah, na jumbe wake Muhammad” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).

Ayah dan ibunya, Domisia-Francis, pun bingung. Kemudian didatangkan seorang pendeta untuk berbicara kepada bayinya itu: “Are You Yesus?” (Apakah kamu Yesus?).

Kemudian dengan tenang sang bayi Syarifuddin menjawab: “No, I’m not Yesus. I’m created by God. God, The same God who created Jesus” (Tidak, aku bukan Yesus. Aku diciptakan oleh Tuhan, Tuhan yang sama dengan yang menciptakan Yesus). Saat itu ribuan umat Kristen di Tanzania dan sekitarnya dipimpin bocah ajaib itu mengucapkan dua kalimat syahadat.

Bocah Afrika kelahiran 1993 itu lahir di Tanzania Afrika, anak keturunan non Muslim. Sekarang bayi itu sudah remaja, setelah ribuan orang di Tanzania-Kenya memeluk agama Islam berkat dakhwahnya semenjak kecil. Syarifuddin Khalifah namanya, bayi ajaib yang mampu berbicara berbagai bahasa seperti Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Ia pun pandai berceramah dan menterjemahan al-Quran ke berbagai bahasa tersebut. Hal pertama yang sering ia ucapkan adalah: “Anda bertaubat, dan anda akan diterima oleh Allah Swt.”

Syarifuddin Khalifah hafal al-Quran 30 juz di usia 1,5 tahun dan sudah menunaikan shalat 5 waktu. Di usia 5 tahun ia mahir berbahasa Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Satu bukti kuasa Allah untuk menjadikan manusia bisa bicara dengan berbagai bahasa tanpa harus diajarkan.

a. Latar Belakang Syarifuddin Khalifah

Mungkin Anda terheran-heran bahkan tidak percaya, jika ada orang yang bilang bahwa di zaman modern ini ada seorang anak dari keluarga non Muslim yang hafal al-Quran dan bisa shalat pada umur 1,5 tahun, menguasai lima bahasa asing pada usia 5 tahun, dan telah mengislamkan lebih dari 1.000 orang pada usia yang sama. Tapi begitulah kenyatannya, dan karenanya ia disebut sebagai bocah ajaib; sebuah tanda kebesaran Allah Swt.

Syarifuddin Khalifah, nama bocah itu. Ia dilahirkan di kota Arusha, Tanzania. Tanzania adalah sebuah negara di Afrika Timur yang berpenduduk 36 juta jiwa. Sekitar 35 persen penduduknya beragama Islam, disusul Kristen 30 persen dan sisanya beragam kepercayaan terutama animisme. Namun, kota Arusha tempat kelahiran Syarifuddin Khalifah mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di urutan kedua adalah Kristen Anglikan, kemudian Yahudi, baru Islam dan terakhir Hindu.

Seperti kebanyakan penduduk Ashura, orangtua Syarifuddin Khalifah juga beragama Katolik. Ibunya bernama Domisia Kimaro, sedangkan ayahnya bernama Francis Fudinkira. Suatu hari di bulan Desember 1993, tangis bayi membahagiakan keluarga itu. Sadar bahwa bayinya laki-laki, mereka lebih gembira lagi.

Sebagaimana pemeluk Katolik lainnya, Domisia dan Francis juga menyambut bayinya dengan ritual-ritual Nasrani. Mereka pun berkeinginan membawa bayi manis itu ke gereja untuk dibaptis secepatnya. Tidak ada yang aneh saat mereka melangkah ke Gereja. Namun ketika mereka hampir memasuki altar gereja, mereka dikejutkan dengan suara yang aneh. Ternyata suara itu adalah suara bayi mereka. “Mama usinibibaptize, naamini kwa Allah wa jumbe wake Muhammad!” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).

Mendengar itu, Domisia dan Francis gemetar. Keringat dingin bercucuran. Setelah beradu pandang dan sedikit berbincang, mereka memutuskan untuk membawa kembali bayinya pulang. Tidak jadi membaptisnya.

Awal Maret 1994, ketika usianya melewati dua bulan, bayi itu selalu menangis ketika hendak disusui ibunya. Domisia merasa bingung dan khawatir bayinya kurang gizi jika tidak mau minum ASI. Tetapi, diagnose dokter menyatakan ia sehat. Kekhawatiran Domisia tidak terbukti. Bayinya sehat tanpa kekurangan suatu apa. Tidak ada penjelasan apapun mengapa Allah mentakdirkan Syarifuddin Khalifah tidak mau minum ASI dari ibunya setelah dua bulan.

Di tengah kebiasaan bayi-bayi belajar mengucapkan satu suku kata seperti panggilan “Ma” atau lainnya, Syarifuddin Khalifah pada usianya yang baru empat bulan mulai mengeluarkan lafal-lafal aneh. Beberapa tetangga serta keluarga Domisia dan Francis terheran-heran melihat bayi itu berbicara. Mulutnya bergerak pelan dan berbunyi: “Fatuubuu ilaa baari-ikum faqtuluu anfusakum dzaalikum khairun lakum ‘inda baari-ikum, fataaba ‘alaikum innahuu huwattawwaburrahiim.”

Orang-orang yang takjub menimbulkan kegaduhan sementara namun kemudian mereka diam dalam keheningan. Sayangnya, waktu itu mereka tidak mengetahui bahwa yang dibaca Syarifuddin Khalifah adalah QS. al-Baqarah ayat 54.

Domisia khawatir anaknya kerasukan setan. Ia pun membawa bayi itu ke pastur, namun tetap saja Syarifuddin Khalifah mengulang-ulang ayat itu. Hingga kemudian cerita bayi kerasukan setan itu terdengar oleh Abu Ayub, salah seorang Muslim yang tinggal di daerah itu. Ketika Abu Ayub datang, Syarifuddin Khalifah juga membaca ayat itu. Tak kuasa melihat tanda kebesaran Allah, Abu Ayub sujud syukur di dekat bayi itu.

“Francis dan Domisia, sesungguhnya anak kalian tidak kerasukan setan. Apa yang dibacanya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Intinya ia mengajak kalian bertaubat kepada Allah,” kata Abu Ayub.

Beberapa waktu setelah itu Abu Ayub datang lagi dengan membawa mushaf. Ia memperlihatkan kepada Francis dan Domisia ayat-ayat yang dibaca oleh bayinya. Mereka berdua butuh waktu dalam pergulatan batin untuk beriman. Keduanya pun akhirnya mendapatkan hidayah. Mereka masuk Islam. Sesudah masuk Islam itulah mereka memberikan nama untuk anaknya sebagai “Syarifuddin Khalifah”.

Keajaiban berikutnya muncul pada usia 1,5 tahun. Ketika itu, Syarifuddin Khalifah mampu melakukan shalat serta menghafal al-Quran dan Bible. Lalu pada usia 4-5 tahun, ia menguasai lima bahasa. Pada usia itu Syarifuddin Khalifah mulai melakukan safari dakwah ke berbagai penjuru Tanzania hingga ke luar negeri. Hasilnya, lebih dari seribu orang masuk Islam.

b. Kisah Nyata Syarifuddin Mengislamkan Ribuan Orang

Kisah nyata ini terjadi di Distrik Pumwani, Kenya, tahun 1998. Ribuan orang telah berkumpul di lapangan untuk melihat bocah ajaib, Syarifuddin Khalifah. Usianya baru 5 tahun, tetapi namanya telah menjadi buah bibir karena pada usia itu ia telah menguasai lima bahasa. Oleh umat Islam Afrika, Syarifuddin dijuluki Miracle Kid of East Africa.

Perjalanannya ke Kenya saat itu merupakan bagian dari rangkaian safari dakwah ke luar negeri. Sebelum itu, ia telah berdakwah ke hampir seluruh kota di negaranya, Tanzania. Masyarakat Kenya mengetahui keajaiban Syarifuddin dari mulut ke mulut. Tetapi tidak sedikit juga yang telah menyaksikan bocah ajaib itu lewat Youtube.

Orang-orang agaknya tak sabar menanti. Mereka melihat-lihat dan menyelidik apakah mobil yang datang membawa Syarifuddin Khalifah. Beberapa waktu kemudian, Syaikh kecil yang mereka nantikan akhirnya tiba. Ia datang dengan pengawalan ketat layaknya seorang presiden.

Ribuan orang yang menanti Syarifuddin Khalifah rupanya bukan hanya orang Muslim. Tak sedikit orang-orang Kristen yang ikut hadir karena rasa penasaran mereka. Mungkin juga karena mereka mendengar bahwa bocah ajaib itu dilahirkan dari kelarga Katolik, tetapi hafal al-Quran pada usia 1,5 tahun. Mereka ingin melihat Syarifuddin Khalifah secara langsung.

Ditemani Haji Maroulin, Syarifuddin menuju tenda yang sudah disiapkan. Luapan kegembiraan masyarakat Kenya tampak jelas dari antusiasme mereka menyambut Syarifuddin. Wajar jika anak sekecil itu memiliki wajah yang manis. Tetapi bukan hanya manis. Ada kewibawaan dan ketenangan yang membuat orang-orang Kenya takjub dengannya. Mengalahkan kedewasaan orang dewasa.

Kinilah saatnya Syaikh cilik itu memberikan taushiyah. Tangannya yang dari tadi memainkan jari-jarinya, berhenti saat namanya disebut. Ia bangkit dari kursi menuju podium.

Setelah salam, ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi. Bahasa Arabnya sangat fasih, diakui oleh para ulama yang hadir pada kesempatan itu. Hadirin benar-benar takjub. Bukan hanya kagum dengan kemampuannya berceramah, tetapi juga isi ceramahnya membuka mata hati orang-orang Kristen yang hadir pada saat itu. Ada seberkas cahaya hidayah yang masuk dan menelusup ke jantung nurani mereka.

Selain pandai menggunakan ayat al-Quran, sesekali Syarifuddin juga mengutip kitab suci agama lain. Membuat pendengarnya terbawa untuk memeriksa kembali kebenaran teks ajaran dan keyakinannya selama ini.

Begitu ceramah usai, orang-orang Kristen mengajak dialog bocah ajaib itu. Syarifuddin melayani mereka dengan baik. Mereka bertanya tentang Islam, Kristen dan kitab-kitab terdahulu. Sang Syaikh kecil mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Dan itulah momen-momen hidayah. Ratusan pemeluk Kristiani yang telah berkumpul di sekitar Syarifuddin mengucapkan syahadat. Menyalami tangan salah seorang perwakilan mereka, Syarifuddin menuntun syahadat dan mereka menirukan: “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah.”

Syahadat agak terbata-bata. Tetapi hidayah telah membawa iman. Mata dan pipi pun menjadi saksi, air mata mulai berlinang oleh luapan kegembiraan. Menjalani hidup baru dalam Islam. Takbir dari ribuan kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu terdengar membahana di bumi Kenya.

Bukan kali itu saja, orang-orang Kristen masuk Islam melalui perantaraan bocah ajaib Syarifuddin Khalifah. Di Tanzania, Libya dan negara lainnya kisah nyata itu juga terjadi. Jika dijumlah, melalui dakwah Syarifuddin Khalifah, ribuan orang telah masuk Islam. Ajaibnya, itu terjadi ketika usia Syaikh kecil itu masih lima tahun.

Para ulama dan habaib sangat mendukung dakwah Syaikh Syarifuddin Khalifah. Bahkan ulama besar seperti al-Habib ali al-Jufri pun rela meluangkan waktunya untuk bertemu anak ajaib yang kini remaja dan berjuang dalam Islam. (Dikutip dari buku Mukjizat dari Afrika, Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang; Syarifuddin Khalifah).

3 Peristiwa Penting di Bulan Rajab




Setiap memasuki bulan Rajab, sebagian kaum muslimin akan langsung terbesit di dalam fikirannya yakni bahwa bulan rajab adalah bulan Isra’ Mikraj. Padahal, disamping peristiwa bersejarah tersebut, juga terdapat peristiwa-peristiwa lain yang juga sangat bersejarah dan turut serta memberikan perubahan bagi kehidupan kaum muslimin.

Apa sajakah peristiwa tersebut?

1. Isra’ Mikraj (27 Rajab).
Tepat malam 27 Rajab, nabi Muhammad saw melakukan perjalanan yang dikenal dengan Isra’ Mikraj, dimana nabi Muhammad diperjalankan berangkat dari Masjidil Haram menuju masjid al aqsha di baitul maqdis palestina. Isra’ Mikraj itu sendiri adalah hiburan yang diberikan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw, sebagai penguat dirinya, dalam menjalani beratnya perjalanan dakwah yang beliu hadapi, terlebih lagi setelah meninggalnya isteri yang begitu beliau cintai dan sayangi yakni Khadijah ra yang selalu setia berada di sisi nabi, memberikan dukungan moril dan spiritual juga materi akan dakwah nabi, juga meninggalnya paman beliau yakni Abu Thalib, orang yang selama ini memberikan himayah (perlindungan) akan dakwah nabi Muhammad saw.

2. Pembebasan Baitul Maqdis Palestina
27 Rajab 583 H, Shalahudin al Ayyubi bersama pasukan kaum muslimin bergerak mengepung dan membebaskan tanah Palestina yang setelah sekian abad lamanya dikuasai oleh pasukan salibis. Pembebasan itu sendiri tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari pasukan salibis.

Umat Islam Palestina pun akhirnya kembali dapat hidup dengan melaksanakan syariah Islam di bawah system pemerintahan Khilafah Islam.

3. Penghapusan sistem khilafah
28 Rajab 1342 H atau tepatnya pada 03 Maret 1924, seorang pengkhianat yang bernama Mustafa Kemal at-Tarturk, seorang yang berketurunan Yahudi dari suku Dunamah, seorang agen barat (Inggris), telah menghapuskan system pemerintahan Islam yakni istem Khilafah, yang kemudian diganti dengan system pemerintahan Republik.

Sejak saat itulah, petaka, bencana dan musibah menimpa umat Islam. Aturan syariah Islam dicampakan, dan dig anti dengan aturan yang berpijak pada ideology Kapitalisme-Sekuleris.

Umat Islam yang dulunya berada pada satu wilayah kekuasaan pemerintahan, kini telah terpecah-pecah menjadi negeri-negeri kecil sekitar 57-an Negara, yang disekat dengan batas territorial wilayah atas nama Nasionalisme.

Bulan Rajab, Bulan Perjuangan

Saatnya, di bulan rajab sekarang ini, semangat Rajab adalah semangat untuk menuju perubahan yang lebih baik, dan perubahan yang lebih baik itu hanya akan terjadi jika berasal dari sistem kehidupan yang baik. Dan iystem kehidupan yang baik adalah yang berasal dari dzat yang maha baik, Dia-lah Allah swt, yang telah memberikan janji akan memberikan kekuasaan (istikhlaf) kepada kaum muslim.

Sebagaimana dalam surat An Nuur ayat 55, Allah swt berfirman

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿٥٥﴾

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah Aku tanpa mempersekutukan Aku dengan dengan sesuatu pun. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik.” [TQS An Nuur : 55]

Dalam surat ini, Allah memberikan beberapa penegasan, Pertama, ayat ini dimulai dengan, “Wa’ada-Llahu (Allah berjanji)..” yang menunjukkan jaminan kepastian akan terwujudnya apa yang dijanjikan.

Kedua, janji yang dijanjikan itu diungkapkan dengan menggunakan redaksi yang jelas, “La yastakhlifannahum (Dia sunguh-sungguh akan memberikan Khilafah [kekuasaan] kepada mereka).” Frasa ini mempunyai makna yang mendalam, karena disusun dari, Lam yang merupakan jawab dari sumpah Allah, diakhiri dengan nun yang digandakan (tasydid), atau disebut nun taukid tsaqilah, yang berarti “penegasan ganda”.

Ditambah pilihan lafadz, yastakhlifa yang merupakan satu akar kata dengan lafadz khilafah. Semuanya ini tidak bisa diartikan lain, kecuali bahwa janji berdirinya khilafah ini merupakan janji yang pasti.

Mungkin ada sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa janji Allah tersebut telah kadaluarsa, karena Khilafah telah Allah berikan pada masa Khulafaur Rasyidin. Pendapat tersebut tidak benar, karena janji Allah berlaku tanpa batas, dan hal tersebut juga dipertegas oleh bisyarah (kabar gembira) yang disampaikan oleh nabi Muhammad saw bahwa Khilafah akan tegak kembali.
Sebagaimana dalam sebuah riwayat disampaikan,

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ (رَوَاهُ اَحْمَدُ)

Imam Ahmad berkata, “Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy telah meriwayatkan sebuah hadits kepada kami; di mana ia berkata, “Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, “Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khuthbah Nabi saw.” Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam”.[HR. Imam Ahmad]

Oleh karenanya, bulan rajab ini adalah salah satu bulan yang bisa dijadikan momentum untuk semakin meneguhkan perjuangan dalam rangka mewujudkan janji dari Allah swt bisyarah dari Rasulullah saw bahwa Khilafah akan segera tegak melalui perjuangan, perjuangan yang tidak kenal lelah serta penuh keikhlasan dari para pengemban dakwah perjuangan tersebut. Wallahu a’lam.

Anak Kecil yang Takut Neraka




Ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, ketika dia berjalan-jalan dia terlihat seorang anak kecil sedang mengambil wudhu’ sambil menangis.

Saat orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, “Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?”

Maka berkatalah anak kecil itu,

“Wahai kakek saya telah membaca ayat al-Qur’an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, ‘Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum’, yang artinya, ‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu’. Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Berkata orang tua itu, “Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka.”

Berkata anak kecil itu, “Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa.”

Berkatalah orang tua itu, sambil menangis, “Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?”

Tangan yang Tak Akan Pernah Disentuh Api Neraka





Diriwayatkan, pada saat itu Rasulullah baru tiba dari perang Tabuk. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Rasulullah bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”

Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya‘.”

3 Peristiwa Penting di Bulan Jumadilakhir




Bulan Hijriah Jumadilakhir 1434 akan segera berakhir. Dalam bulan ini, ada beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam. Berikut tiga di antaranya:

1. Abu Bakar As-Siddiq meninggal dunia pada malam 22 Jamadil Akhir tahun ke-13 Hijrah atau bersamaan 12 Agustus 634 Masehi di berumur 63 tahun. Ia kemudian dimakamkan bersebelahan dengan maqam Rasulullah SAW. Semasa hidupnya, Abu Bakar merupakan salah satu orang pertama yang menerima dakwah Rasul dan membenarkan kerasulan Baginda SAW.

Khalifah Abu Bakar As-Siddiq mempunyai akhlaq yang mulia dan sanggup menginfaqkan seluruh harta dan kemewahannya pada jalan Allah sehingga tidak meninggalkan sedikitpun ketika wafatnya. Sebelum kematiannya, beliau melantik Umar Al-Khattab sebagai Khalifah Islam yang kedua menggantikan tempatnya.

2. Pelantikan Umar Al-Khattab sebagai khalifah kedua pada bulan Jamadil Akhir tahun ke-13 Hijrah.

3. Terjadinya peperangan Yarmuk pada bulan Jamadilakhir tahun ke-13 Hijrah. Peperangan ini dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid dengan jumlah pasukan Muslimin sebanyak 45,000 orang dan menghadapi tentara Rum (Byzantin) sebanyak 240,000 orang.

Dalam peperangan ini, separuh tentara Rom hilang setengahnya, sedangkan dari pihak kaum Muslimin mencapai sekitar 3,000 orang syahid. Tentara kaum Muslimin yang dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid ini memenangkan perang.

Adzan Itu Panggilan Allah





Suatu hari, menjelang tengah hari, Bunda berkata pada Faqih, “Jangan dulu tidur siang. Sebentar lagi akan segera adzan. Aa Faqih harus salat berjamaah di masjid.”

Faqih, 6 tahun, mengangguk. Ayah sedang bekerja di kantor. Maka Haura yang mengantar Faqih ke masjid. Jika ayah ada di rumah, Faqih ke masjid bersama ayah.

Ketika adzan berkumandang dari masjid depan rumah, Faqih langsung berwudhu. Haura sudah bersiap. Faqih pamit kepada Bunda. Sementara Azkia masih asyik guling-gulingan di karpet.

Di depan rumah Ihsan, Faqih melihat Ihsan tengah bermain PS.

“Ihsan, ayo kita ke masjid,” ajak Faqih.

Ihsan menoleh. Juga dua temannya yang lain. Ihsan lebih tua satu tahun daripada Faqih dan sekolah di kelas 2. Faqih kelas 1.

“Nggak ah,” jawab Ihsan cuek. “Lagi seru!”

Mama Ihsan keluar dari dapur. “Ihsan, sudah hentikan main PS-nya. Itu temannya mengajak ke masjid malah nggak mau!”

Ihsan pun mematikan PS. Dua orang temannya pulang.

Faqih, Ihsan, dan Haura pergi ke masjid. Di gerbang masjid, Faqih kembali berkata pada Ihsan: “San, kamu tuh jangan main PS terus. Nanti otak kamu beku!”

“Ah, biarin!”

“Kalau adzan terdengar, kita harus segera ke masjid. Kita laki-laki. Itu kan panggilan Allah,” kata Faqih lagi.

Pak Ustadz yang tengah mengambil air wudhu, menoleh. “Siapa itu yang mengatakan adzan itu panggilan Allah?”

Haura menunjuk, “Faqih.”

“Subhannallah. Dari siapa itu diajarinnya?”

Faqih menjawab, “Bunda.”

Pak Ustadz menoleh ke arah Ihsan. “Betul itu, Ihsan. Kalau adzan, laki-laki harus langsung ke masjid, karena itu panggilan Allah. Dan juga, kalau kamu terlalu banyak main game, otak kamu akan beku…”

Ihsan mengangguk.

Haura menambahkan, “Kata Bunda juga, kalau laki-laki shalat di rumah, pake rok saja.”

Pak Ustadz tertawa. “Ayo kita shalat berjamaah.”

Shalat Dhuhur berjamaah dilakukan. Pak Ustadz jadi imamnya. Makmunnya hanya anak-anak kecil dan dua orang tua. Haura menunggu di luar.

Selesai shalat, Faqih, Ihsan, dan Haura pulang.

Di rumah, Bunda sudah menyediakan milk shake. Mereka minum milk shake di siang yang panas. Sementara Azkia sekarang merangkak ke sana kemari meminta milk shake sambil mulutnya terus berceloteh.

Kutemui dan Kunikahi Engkau di Masjid (Masjid, ich bin verliebt)





Siang itu, cuaca tidak terlalu baik. Musim dingin di Berlin mencapai -0,5̊ C. Jalanan kota tampak lengang. Bisa ditebak, separuh penduduk kota ini sedang berada di depan perapian masing-masing, menghangatkan diri. Aku tiba di Masjid Umar bin Khaththab jam dua belas. Masih ada waktu kosong dua jam sebelum jadwal mengajar al-Quran di Masjid ini. Untung saja, masjid ini memiliki restoran di tingkat atas sehingga aku tidak perlu keluar lagi untuk mencari makan siang.

Masjid yang diresmikan pada 21 Mei 2010 ini terdiri dari tujuh lantai. Dua lantai untuk tempat sholat dengan daya tampung seribu jamaah. Di setiap lantainya, terdapat fasilitas umum seperti kantor jasa perjalanan, sekolah al-Quran dan Bahasa Arab bagi anak-anak, toko buku, cafe, restoran, jasa pelayanan kematian bagi umat muslim, hingga toko daging halal pun ada.

Aku memesan Kohlsuppe (sup kol) dan Erbsensuppe (sup kacang polong) dan teh hangat.

“Assalamu’alaikum, Mas Faris,”

“Wa’alaikum salam. Hafiz? Lama tidak bertemu. Kamu di Jerman juga? Kamu dari mana?”

“Dari toko buku, Mas. Senang sekali bisa bertemu dengan Mas Faris di sini. Bertemu dengan saudara setanah air itu ibarat bertemu telaga surga. Sejuk.” Ia nampak sangat sumringah.

“Sudah lama di Jerman, Fiz? Study di sini?”

“Lah, mas ini tinggal di Jerman kok bahasanya Inggris? Ia Mas, baru tahun kedua. Kedokteran. Do’a kan ya, biar lancar.”

“Udah tahun kedua kok ketemunya baru sekarang ya?”

“Kalau itu, jawabannya bisa ada beberapa kemungkinan, Mas. Kalau ndak saya atau mas yang sibuk, berarti memang baru ini takdirnya untuk ketemu. Hehehe..”

“Kamu kenapa nggak ngabarin, Mas? O ya, kamu sudah pesan makanan? Ayo pesan, biar mas yang traktir. Biasanya kan kantong anak kuliahan terbatas bulanan.” Candaku.

“Ah, sampean ini mas. Pengertiannya menusuk hati sekali. Hehe..”

Benar yang Hafiz katakan, bertemu saudara sendiri seperti menemui telaga surga. Sejuk. Dinginnya cuaca pun berganti hangat tawa. Hafiz, adik sepupuku dari Malang ini bercerita banyak tentang pengalaman tahun pertamanya di kampus dan tinggal di Jerman. Setelah shalat zhuhur, aku pun mengajak Hafiz turut serta bersamaku mengajar anak-anak mengaji al-Qur’an. Dua jam berlalu. Setelah shalat ashar berjamaah, murid-muridku pun pamit pulang. Aku senang dengan semangat mereka belajar mengaji. Meskipun cuaca dingin, mereka tetap hadir untuk mempelajari kalam al-Qur’an. Aku pun berjanji mengajak mereka liburan setelah musim dingin berlalu, sebagai reward atas semangat mereka.

“Kalau begitu, saya pamit pulang ke asrama ya, Mas.”

“Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sama mas. Mas kan tinggal sendiri di sini.”

“Makanya, Mas Faris harus menikah biar tidak tinggal sendiri lagi. Sudah 25 tahun, kan? Ganteng, soleh, mapan pula. Tunggu apa lagi?”

“Tunggu jodohnya, hehe..”

***

Turun ke lantai satu ruang sholat, aku dan Hafiz berpapasan dengan Sarah yang tengah memeluk seorang wanita. Wanita itu menangis sesengkuan di bahunya.

“Ru..qaya?” Panggil Hafiz sedikit ragu. Wanita yang berada dalam pelukan Sarah berpaling melihat ke arah Hafiz.

“Kenapa kamu menangis?”

Wanita yang bernama Ruqaya itu menghapus air mata dengan jemarinya. Ia tersenyum ke arah Hafiz dan aku, “Insya Allah, Alles Gute.”

“Katakanlah, bukankah kita teman?”

Sarah mengajak kami untuk berbincang di kafe. Di sana Ruqaya menceritakan sebab tangisannya kepadaku dan Hafiz. Ruqaya yang bernama asli Natalia Anne Muller, berasal dari keluarga nasrani yang taat. Setengah tahun yang lalu, ia menjadi mualaf di Masjid Umar Bin Khaththab karena tersentuh oleh bacaan al-Qur’an seorang pemuda yang ia dengar. Padahal saat itu, ia datang ke Masjid Umar hanya untuk melihat interior dan kemegahan masjid baru ini.

Setelah itu, ia pun kerap datang ke masjid ini. Disitulah ia berjumpa dengan Sarah. Karena sering mengobrol dan bertanya ini itu tentang Islam, mereka pun akhirnya menjadi teman akrab. Sarah yang tiga tahun lebih tua dari Ruqaya, sudah menganggap Ruqaya seperti adiknya sendiri. Lima bulan perjalanannya sebagai mualaf, Ruqaya sudah hafal Juz ‘Amma. Ia dibantu Ustadzah Yasmin, salah satu staf konsultasi masjid Umar. Namun di tengah proses belajarnya sebagai muslim, sebulan yang lalu rahasia kemuslimannya pun diketahui oleh keluarganya.

Ketika itu, Ruqaya sedang shalat Maghrib di kamarnya. Di tengah sholat, ayahnya memanggil dan mengetuk pintu kamar. Karena Ruqaya tidak menjawab, ayahnya pun membuka pintu kamarnya.

“Natalia!” Teriak ayahnya, murka. Namun Ruqaya tak menjawab, ia tetap tenang dalam tasyahud akhirnya. Ia tak merespon teriakan ayahnya sampai shalatnya selesai.

“Sudah kuduga, ada yang lain dari dirimu. Mengapa tadi kau tak ikut makan siang bersama. Beberapa minggu yang lalu, temanku juga menelepon mengatakan bahwa ia melihatmu memasuki masjid. Aku pikir, ia hanya salah orang. Tetapi sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu akan mendapatkan hukuman atas ini, Nat! Ayo ikut Ayah!”

“Ayah, setiap orang bebas memeluk agama yang ia yakini kebenarannya.”

“Mungkin untuk orang lain bisa, tapi kau anakku! Aku yang mengatur hidupmu!”

Saat itu juga, ayahnya memukuli, menarik paksa dan menyeret Ruqaya ke gudang. Ia dibiarkan tinggal di sana. Bahkan, tak ada yang memberinya makan malam. Keadaannya cukup lemas karena saat berbuka puasa sunah tadi, ia hanya meminum seteguk teh. Di hari ketiga, ibunya diam-diam memberinya selimut, beberapa potong roti dan segelas susu. Ia tidak tega melihat Ruqaya tidur di lantai tanpa beralas apapun di musim dingin ini. Ruqaya merasa lega, karena ibunya tidak membenci dirinya atas pilihan hidup yang ia ambil.

“Bila menurutmu ini yang terbaik untuk kau jalani, maka laluilah dengan keimananmu, Nak. Semoga Tuhan menjagamu.”

Hari berikutnya, ayahnya memperlakukan Ruqaya seperti budak. Ia disuruh kerja ini itu, tanpa memberinya waktu istirahat dan makan yang cukup. Melihat keadaan Ruqaya yang semakin mengenaskan, tadi malam ibunya menyuruh Ruqaya untuk pergi dari rumah. Ia tidak ingin Ruqaya diperlakukan terus-terusan seperti itu. Kalau Ayahnya nekat, sewaktu–waktu, bisa saja ia menjual Ruqaya. Aku dan Hafiz terdiam mendengar penuturannya. Aku memandang Ruqaya sekilas, ada memar di pelipisnya. Hafiz, tiba-tiba menarikku sedikit menjauh dari Sarah dan Ruqaya.

“Ada apa, Fiz?”

“Mas, saya pikir kamu sudah menemukan jodohmu,”

“Maksudmu Ruqaya?”

“Mas, saya berani menjamin bahwa ia wanita yang baik, bahkan jauh sebelum ia menjadi mualaf. Apalagi setelah sedemikian beratnya cobaan yang dia hadapi demi hijrahnya.”

Aku tersenyum, “Tidak usah khawatir, sebelum kamu minta, tadi juga sudah terlintas dipikiran Mas. Bagaimanapun juga, menyelamatkan jiwa seorang muslim itu wajib.”

“Alhamdulillah, saya memang tidak salah mengagumi orang.”

Aku dan Hafiz kembali ke meja kami. Dengan Bismillah kuutarakan niatku, “Saya tidak tahu, apakah yang saya sampaikan ini cukup membantu atau tidak, tetapi bila diizinkan, saya bermaksud menawarkan diri saya untuk menikahimu, Ruqaya.”

Sarah tampak kaget, namun sedetik kemudian tersenyum, Hafiz tampak bersemangat sekali, dan Ruqaya malah menangis memeluk Sarah? Apa ia tidak suka?

“Kalau kamu tidak setuju juga tidak apa-apa, tapi kumohon jangan menangis.” Ucapku merasa bersalah.

“Ia terharu. Ini tangis bahagia, bukan bersedih Faris.” Jelas Sarah. Aku hanya ber ‘O’ saja, sementara Hafiz menertawaiku. Alhamdulillah.

Saat itu juga, aku mengabari staf Masjid Umar bin Khaththab untuk proses akad besok. Ruqaya ingin menikah di masjid ini. Karena aku juga mengajar di masjid ini, jadi banyak pihak yang turut membantu dengan suka rela pernikahan kami.

***

“Wah, cakep sekali sampean, Mas. Makin keluar nih aura kebahagiaan calon pengantin.” Goda Hafiz saat melihatku keluar kamar dengan pakaian pengantin.

“Dari dulu mas memang sudah cakep. Hehehe..” Karena kejadian semalam, Hafiz tidak jadi pulang ke asrama. Ia menginap di rumahku untuk membantu proses acara hari ini. Ruqaya sendiri menginap di apartemen Sarah. Jam sembilan kami tiba di masjid dan langsung proses akad dilaksanakan.

“Saya terima nikah dan kawinnya Ruqaya binti Jhon Muller dengan mas kawin seperangkat alat sholat, sebuah mushaf al-Quran, dan uang sebesar 15.000 Euro dibayar tunai.”

“Sah? Barakallahulaka..,”

***

“Mas, kita ngaji bareng yuk?” Ajaknya setelah kita sholat subuh bersama. Aku tersenyum mendengarnya. Istriku tercinta langsung mengambil dua al-Quran yang terletak di atas meja kerjaku.

“Mas yang baca terlebih dahulu, setelah itu baru saya.”

Aku memulai dengan ta’awudz dan basmalah. Kubaca surah ar-Rahman. Hingga pada kalimat, “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?” Ruqaya menangis. Terus menangis sesengkuan.

Aku menghentikan bacaanku, “Kamu tidak apa-apa, Dinda Sayang?”

“Saya merasa bersyukur sekali dengan nikmat yang Allah berikan. Kamu tahu? Mas adalah jembatan cahaya dari cahaya yang kudapatkan.”

“Maksud Dinda?

“Kamu tahu kan saya mendapat hidayah untuk memeluk Islam karena mendengar bacaan al-Quran di Masjid Umar? Dan orang yang membaca al-Quran itu adalah kamu, Mas. Dan saya tidak menyangka karena pada akhirnya kamu juga yang menyelamatkan hidup saya dari keterasingan keluarga sendiri. Kamu memuliakan saya dengan menjadi pendamping hidupmu. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang saya dustakan? Allah sangat menyayangi saya.” Ucapnya masih dengan tangis sesengkuan.

“Allah menyayangi kita, Dinda. Mas juga sangat bersyukur memiliki istri soleha seperti Dinda yang terus giat mempelajari Islam. Menyukai semua hal tentang Islam. Begitu sami’na wa atho’na terhadap seruan Allah. Kamu yang mas pinta untuk menjadi bidadari surga mas kelak.” Aku mencium dahinya. Ia tenang, diam dalam pelukku.

Penjara Menjadikan Nabi Yusuf ‘Alaihissalam Berkuasa 55 Tahun





Siapapun yang memiliki sebuah ideologi dan hendak mempertahankannya, umumnya ia akan mengalami perjuangan berat yang tidak semua orang dapat bertahan. Di sinilah akan berbeda antara emas dan loyang. Siapa yang benar-benar berjuang dan siapa yang hanya berpura-pura. Apalagi jika ideologi yang diusung tersebut adalah ideologi yang terinspirasi oleh pengamalan ajaran Islam. Bahkan Allah ta’ala dengan jelas menyebutkan bahwa siapa yang mengatakan dirinya beriman maka akan diuji (QS. Al-Ankabut: 2), bahkan akan diguncang dengan dahsyat (QS. Al-Baqarah: 214).

“Sejarah selalu berulang”, demikian ungkap Ibnu Khaldun, sosiolog muslim berabad-abad lampau. Berapa banyak tokoh-tokoh muslim yang dijebloskan penjara oleh rezim-rezim zalim. Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah salah satu korban keteguhan memegang sebuah prinsip, yakni prinsip menjauhi dosa besar zina yang telah di hadapan mata. “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku”, demikian ungkap Yusuf ‘alaihissalam ketika menolak sandiwara perzinaan dari seorang wanita (QS. Yusuf: 32-33).

Di sini sudah tidak berlaku logika pengadilan murni, yang ada hanyalah logika syahwat emosional seorang istri penguasa. Jika dipikir-pikir, tidak akan pernah ada bukti-bukti yang dapat menjebloskannya ke penjara. Bahkan ada saksi ahli dari keluarga penguasa yang menyatakan bahwa jika pakaian Yusuf ‘alaihissalam yang robek adalah bagian depan, maka Yusuf ‘alaihissalam salah. Namun jika bagian belakang yang robek, maka wanita itu yang salah. Faktanya ternyata yang robek adalah bagian belakang dari pakaian Yusuf ‘alaihissalam. Namun demikian, fakta itu tidak penting di tangan pemegang otoritas, sang penguasa tirani. Yusuf ‘alaihissalam tetap saja di penjara. Menurut Ikrimah, akhirnya Yusuf ‘alaihissalam dipenjara selama 7 tahun. Sedangkan al-Kalby menyebutkan, bahwa Yusuf ‘alaihissalam dipenjara selama 5 tahun. Demikian penjelasan mereka dalam tafsir al-Baghawy.

Tentu semua itu tidak luput dari skenario Allah ta’ala. Tidak ada kata dendam sedikit pun pada diri Yusuf ‘alaihissalam ketika itu memang telah diputuskan oleh penguasa. Yusuf ‘alaihissalam berusaha menikmati kehidupan barunya dengan penuh suka cita, karena telah terbebas dari fitnah yang sangat besar. Dalam penjara, Allah ta’ala menyempurnakan karakter Yusuf ‘alaihissalam dalam hal kedermawanan, amanah, kejujuran, perilaku baik, memperbanyak ibadah dan mengetahui ta’wil mimpi, untuk sebuah rencana besar di masa mendatang.

Singkat cerita, lalu Allah ta’ala membuka cerita yang sesungguhnya, setelah tujuh tahun di penjara tadi, dan berlakulah hukum Allah ta’ala yang juga akan berlaku sepanjang zaman, “Mereka membuat skenario (makar) dan Allah juga membuat skenario. Dan Allahlah sebaik-baik pembuat skenario” (QS. Ali ‘Imran: 54). Sejarah lalu berbalik membela dan meninggikan Yusuf ‘alaihissalam. Makar Allah ta’ala yang sangat tampak dalam hal ini adalah mengajarkan pada Yusuf tentang ta’wil mimpi, lalu memberikan sebuah mimpi pada raja yang tidak bisa dita’wilkan oleh siapapun kecuali Dzat Yang Memberi mimpi. Di sini sangat kentara antara mimpi raja dan kemampuan ta’wil mimpi Yusuf, yang keduanya sama-sama dari Allah ta’ala.

Dan kemudian Yusuf ‘alaihissalam menjadi menteri yang berkuasa, melalui intervensi dari Allah ta’ala. Menurut Ibnu Katsir, tujuh tahun pertama Yusuf ‘alaihissalam berkuasa, Mesir dalam kondisi subur dan hasil bumi melimpah ruah. Lalu tujuh tahun berikutnya terjadilah paceklik. Pada masa inilah saudara-saudara Yusuf datang untuk membeli makanan pokok di istana Yusuf.

Ar-razy menambahkan bahwa masa Nabi Ya’qub ‘alaihissalam tinggal bersama Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah 24 tahun. Setelah itu Nabi Yusuf ‘alaihissalam masih berkuasa lagi di Mesir selama 23 tahun berikutnya.

Jadi, dari pernyataan Ibnu Katsir dan Ar-Razy di atas, dapat diperkirakan, bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam berkuasa di Mesir lebih dari 55 tahun, dengan asumsi kedatangan saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam adalah pada tahun pertama paceklik (8 tahun)+(24 tahun)+(23 tahun).

Nabi Yusuf ‘alaihissalam masuk penjara selama 7 tahun karena terzhalimi, lalu Allah ta’ala memuliakan yang bersangkutan berkuasa selama 55 tahun, yang berarti 7 kali lipatnya lebih. Demikianlah sunnatullah dalam perjuangan. Wamakaruu wamakarallah, wallahu khairul makirin. Wallahu a’lam bishshawab.

Memahami Sakralitas Akad Nikah





Pengantar: Bapak dan Ibu sekalian. Insya Allah besok pagi, Jumat 4 April 2014 kami akan menikahkan putri tunggal kami, Rachma Rizqina Mardhitillah, dengan pria pilihannya, Berto Wibawa. Mohon doa restu dari Bapak dan Ibu sekalian. Sebagai kado pernikahan, saya menyempatkan menulis artikel ini. Semiga artikel ini juga dapat bermanfaat bagi Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih.
Di surga Adam (baca: Nabi Adam ‘Alaihi-assalam) tinggal sendirian dan merasa kesepian. Suatu saat, Adam tertidur. Ketika bangun, ia menemukan seorang perempuan tengah duduk di sisi kepalanya. Perempuan itu diciptakan Allah dari tulang rusuknya. Adam lalu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau?”
Perempuan itu menjawab, “Aku seorang perempuan.”
“Untuk apa kau diciptakan Allah?” tanya Adam kembali.
”Untuk menjadi sumber ketenteramanmu,” jawab perempuan itu (Târikh al-Thabarî, 1/103).
“Kemarilah!” seru Adam.
“Tidak, seharusnya kau yang datang kemari,” tukas Hawa.
Adam pun berdiri menghampiri Hawa. Sejak itu, seorang lelaki memiliki kebiasaan mendatangi perempuan. Setelah mendekat dan Adam ingin menyentuh Hawa, terdengarlah seruan, “Hai Adam, tahan dulu! Sesungguhnya hubunganmu dengan Hawa itu belum halal kecuali dengan membayar mas kawin dan menikah yang sah.”
Kemudian Allah memerintahkan penghuni surga untuk menghias dan merias Hawa. Beraneka hidangan juga disiapkan. Para malaikat diperintahkan berkumpul di bawah pohon Thuba. Mereka tak henti-henti memuji Allah. Lalu Allah menikahkan Hawa dengan Adam, Allah berfirman: “Segala puji untuk-Ku. Keagungan adalah busanaku-Ku. Kesombongan adalah selendang-Ku. Dan seluruh makhluk adalah hamba-Ku. Aku persaksikan kepada malaikat-Ku dan penduduk langit-Ku bahwa Aku telah menikahkan Hawa dengan Adam ciptaanku yang baru.”
Tak lama berselang, tutur Ibnu Jauzi dalam kitab Salwatul Ahzan, Adam mendekati Hawa, tapi Hawa mengingatkan kepadanya agar menyerahkan maskawin dulu. Adam bertanya kepada Tuhan,“Wahai Tuhanku, apa maskawin yang pantas kuberikan kepadanya?” Allah menjawab, “Bershalawatlah kepada kekasih-Ku Muhammad 20 kali.” Lalu Nabi Adam melakukannya (Irsyâdul ‘Ibâd: 61).
Inilah kisah cinta dan pernikahan pertama dalam sejarah umat manusia. Sejak itu Hawa hidup di surga sebagai pendamping Adam. Mereka hidup bahagia; menikmati fasilitas terbaik, menyantap makanan terlezat, minum air tersegar, menghirup aroma paling semerbak, mengenakan busana termewah dan terindah. Tak ada dingin, tak ada terik. Mereka berpindah leluasa di antara rimbun pepohonan surgawi. Buah-buah merunduk, tinggal petik mana yang disukai. Tak ada letih, tak ada capek. Segala urusan dimudahkan bagi mereka. Hidup mereka adalah ketenangan sempurna dan kenikmatan senantiasa. Sungguh di dalamnya kamu tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang. Kamu pun di dalamnya tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari (Thâhâ: 118–119).
Namun, Allah berpesan: “Hai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga ini, dan makanlah makanannya yang banyak dan baik di mana pun kamu suka, dan jangan kamu dekati pohon ini yang menyebabkanmu termasuk orang zalim” (al-Baqarah: 35).
Iblis pun beraksi. Langkah pertama tipu daya Iblis terhadap Adam dan Hawa adalah berpura-pura menangis dan berduka. Adam dan Hawa turut bersedih mendengar tangisannya. Mereka bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Iblis menjawab, ”Aku menangisi kalian berdua, kalian akan mati dan meninggalkan nikmat dan keagungan yang ada.”
Mendengar ucapan Iblis ini, Adam dan Hawa bersimpati kepadanya. Lantas Iblis mulai merasuki keduanya, dan berkata, “Wahai Adam, maukah kau kutunjukkan satu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tak pernah musnah?” Iblis melanjutkan, “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” Dalam makna lain, kalian berdua akan menjadi raja yang menguasai kenikmatan surga dan kalian akan abadi. Dan Iblis bersumpah kepada keduanya, ”Sungguh aku termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua” (al-A’râf [7]: 20-21).
Singkat cerita, Nabi Adam dan Hawa mendekati pohon itu dan memakan buahnya. Setelah mendengar dari Allah bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, dan, karena itu, akan dihukum, mereka lalu memohon kepada Allah agar dibebaskan dari kesalahan itu dan dimaafkan: ”Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, pastilah kami benar-benar termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A’râf [7]: 23).
Nabi Adam lalu berkata, “Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menciptakanku dengan tangan-Mu?”
“Ya,” Allah menjawab.
“Bukankah Engkau telah menempatkanku di surga?”
“Ya.”
“Bukankah rahmat-Mu lebih besar daripada murka-Mu?”
“Ya.”
“Apakah jika aku bertobat dan memperbaiki diriku, Engkau sudi untuk mengembalikanku ke surga?” tanya Adam penuh harap.
Allah menjawab, “Ya.”
Inilah—menurut Imam al-Thabari—beberapa jawaban dan kalimat yang disampaikan Allah kepada Adam, seperti dalam firman-Nya, Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya maka Allah menerima tobatnya (al-Baqarah [2]: 37). Tobat mereka diterima tapi mereka mesti turun ke bumi.

Ternyata mereka diturunkan di tempat terpisah. Menurut riwayat Hisyam ibn Muhammad, Adam diturunkan di India, sementara Hawa di Juddah, dekat Makkah. Adam terus mencari-cari Hawa hingga keduanya mendekat di Muzdalifah (tempat untuk saling mendekat). Akhirnya keduanya bertemu dan mengenali kembali satu sama lain di atas bukit yang kelak dinamakan ‘Arafah (mengenal dan mengetahui). Tempat ini kemudian disebut juga sebagai Jabal Rahmah—Bukit Kasih Sayang.
Banyak sekali pelajaran yang layak kita unduh dari kisah cinta Ayah Bunda kita semua umat manusia itu, tapi pesan intinya adalah perlunya nilai-nilai rahmah atau kasih sayang dalam kehidupan kita. Sebagai bukti kasih sayang-Nya kepada manusia Allah ciptakan untuknya pasangan (kekasih) dan sebagai bentuk rasa syukur kita adalah merawat hubungan itu dengan kasih sayang pula.

وَمِنْ آياتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْها وَ جَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَ رَحْمَةً إِنَّ فِي ذلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mau berpikir (ar-Rûm: 21).
Ayat yang diulang-ulang dalam setiap upacara pernikahan—bahkan dicantumkan di kartu undangan—ini ternyata ditempatkan Allah pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta—tentang tegaknya langit, terhamparnya bumi, tercurahnya air hujan, gemuruhnya halilintar, dan keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat ini, Allah ingin mengajarkan kepada kita betapa Dia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan hidup kita.
Allah ciptakan bumi dengan segala isinya—samudra luas, bukit tinggi, hutan belantara—semua untuk kebahagiaan kita sebagai manusia. Diedarkan Allah mentari, rembulan, dan gemintang; diturunkan-Nya hujan, ditumbuhkan pepohonan, dan disirami tetanaman—semua untuk kebahagiaan kita sebagai manusia.
Namun, Allah Yang Mahatahu memberikan lebih dari itu. Dia tahu getar kerinduan di dada kita. Dia tahu betapa sering kita memerlukan seseorang yang mau mendengar bukan saja kata-kata yang terucapkan, melainkan juga isak hati yang tak terungkapkan; yang mau menerima segala perasaan—tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu, Allah ciptakan seorang kekasih.
Allah tahu, saat kita diempas masalah, diguncang badai, dan dilanda duka, kita memerlukan seseorang yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh yang lemah, dan memperkuat hati—tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu, Allah ciptakan seorang kekasih.
Allah tahu, kadang-kadang kita berdiri sendirian lantaran keyakinan atau mengejar impian. Kita memerlukan seseorang yang berdiri di samping kita—tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu, Allah ciptakan seorang kekasih (Rakhmat, 1999).
Supaya hubungan antar kekasih ini menyuburkan ketenteraman (sakinah), cinta (mawaddah), dan diliputi kasih sayang (rahmah), Allah menetapkan suatu ikatan suci, yaitu akad nikah. Sungguh sangat menarik, Allah menempatkan urusan (pernikahan) berdimensi psycho-personal namun berdampak sosial digabung dengan fenomena alam dan ‘menantang’ kita untuk berpikir, apa rahasia dibalik itu semua?

Di Balik Akad Nikah

Apa sejatinya makna di balik setiap prosesi pernikahan itu? Kalau kita renung-renungkan lagi, dari balik kata-kata yang disebut-sebut dalam akad nikah saja kita bisa memungut mutiara makna yang menopang terwujudnya keluarga penuh rahmah itu.
Pertama, kata nikah dan zawaj. Artinya mengawinkan. Kalau makna dasar nikah adalah penyatuan, makna zawaj adalah keberpasangan. Dengan nikah, dua orang berjanji untuk menyatukan jiwa, cita-cita, harapan mereka dalam sebuah ikatan suci. Tapi, dengan zawaj, penyatuan itu bukanlah melebur, melainkan berpasangan. Masing-masing punya keunikan dan tetap punya identitas tersendiri. Namun, mereka berjalan seiring untuk tumbuh bersama dengan saling mengisi dan saling mendukung dalam bahtera rumah tangga.
Ini selaras dengan firman-Nya: Mereka (istri-istrimu) adalah (ibarat) pakaian kalian, dan kalian adalah (ibarat) pakaian mereka (al Baqarah: 187). Layaknya pakaian, suami dan istri harus bisa menjalankan fungsinya masing-masing sebagai (a) penutup aurat [aib atau sesuatu yang memalukan] dari pandangan orang lain, (b) pelindung dari panas dinginnya cuaca kehidupan, dan (c) kebanggaan dan keindahan bagi pasangannya.

Kedua, ijab dan qabul. Lumrahnya, ijab-qabul kita artikan serah-terima (bahasa Jawa: seserahan). Kita mendengar dua kalimat itu diucapkan wali dan pengantin pria. Namun, dalam bahasa aslinya makna ijab-qabul lebih dari sekadar ikrar penyerahan dan penerimaan. Makna ijâb antara lain bermakna memperhatikan dan memelihara. Dengan ijab, kita berjanji akan saling memperhatikan, memelihara, mengayomi, dan memberikan haknya satu sama lain.
Bagi kedua mempelai, ijab qabul ibarat persalinan kedua karena pernikahan acap disebut pula dengan kelahiran kedua. Kelahiran pertama terjadi saat seseorang menghirup udara pertama di bumi, ketika itu masing-masing datang membawa amanah Allah kepada orang tua mereka. Kelahiran kedua saat seseorang memasuki gerbang perkawinan dengan ijab qabul, tetapi kini masing-masing menerima amanah Allah melalui orang tua mereka.
Selama menjadi amanah di tangan orang tua, mereka telah memelihara amanah itu dengan sekuat kemampuan. Ketulusan dan pengorbanan mereka persembahkan demi menunaikan amanah itu. Kini pada saat kedua mempelai menerima amanah, maka hendaknya apa yang dilakukan oleh kedua orang tua masing-masing itu diletakkan di pelupuk mata dan jendela hati, agar sebesar itu pula kesungguhan dan keikhlasan bahkan pengorbanan kedua mempelai memelihara amanah yang diterimanya.

Ketiga, di balik kata “sah”. Begitu saksi mengucapkah “sah” di ujung ijab-qabul, para hadirin yang menyaksikan pun serentak mengiringi, “Sah!” Sang mempelai membatin satu sama lain, “Sekarang, aku halal bagimu!” Di sini kita perlu ingat sabda Rasul: wastahlaltum furûjahunna bikalimatillâh. Maka menjadi halal kehormatan mereka (hubungan ‘suami-isteri’) atas dasar kalimat Allah (HR Bukhari).
Apa yang dimaksud kalimat Allah? Dalam Al-Quran, kalimat Allah dinyatakan “telah sempurna sebagai kalimat yang benar dan adil serta tak ada yang dapat mengubahnya” (al-An‘am: 115); “ia penuh kebajikan” (al-A‘raf: 137); lagi “Mahatinggi” (at-Taubah: 40). Dengan kalimat itulah Allah menganugerahi Nabi Zakaria yang telah berusia lanjut dan istrinya mandul “seorang anak bernama Yahya yang menjadi panutan, pandai, serta menjadi nabi” (Ali ‘Imran: 39). Dengan kalimat itu juga Allah menciptakan Nabi Isa tanpa ayah dan diakui sebagai “seorang terkemuka di dunia dan akhirat serta termasuk orang yang didekatkan kepada Allah” (Ali ‘Imran: 45).
Dengan demikian, akad nikah dengan kalimat Allah mengisyaratkan betapa sucinya peristiwa ini dan betapa indahnya bila perjalanan rumah tangga dinafasi oleh makna-makna di balik kalimat Allah, antara lain: kebenaran, keadilan, kelanggengan, kebajikan, dan dikaruniai anak saleh yang jadi panutan, pandai menahan diri, dan dekat kepada Allah sehingga menjadi orang terkemuka di dunia dan akhirat. (Shihab: 2010). Jadi, bukan hanya memperhatikan halalnya, tapi juga perlu internalisasi nilai-nilai di baliknya.

Menjaga dan Merawat Pernikahan
Satu kata yang sama sekali tidak diinginkan dalam kehidupan berumah tangga: “CERAI”. Sengaja saya tulis dalam huruf besar, karena dampak negatifnya sangat luar biasa besarnya dan termasuk perbuatan halal yang sangat dibenci Allah. Oleh karena itu, pernikahan tidak cukup hanya dibangun, tetapi juga harus dirawat dan dipertahankan, yang justeru merawatnya itu memerlukan perhatian khusus.
Pesan ini semakin penting untuk dicamkan ketika cerai kini kecenderungannya terus naik dalam masyarakat kita. Bahkan, angka perceraian di Indonesia itu tertinggi se-Asia Pasifik. Menurut data Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI, selama 2005 sampai 2010, rata-rata satu dari 10 pasangan menikah berakhir dengan perceraian di pengadilan. Dari 2.207.364 orang nikah se-Indonesia pada tahun 2010, ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian; tahun 2011 perceraian mencapai 333.844 kasus dari 2,3 juta perkawinan; dan tahun 2012 terdapat 346.446 pasangan yang bercerai dari 2.291.265 perkawinan. Dramatisnya, kalau rata-rata 300 ribu per tahun, berarti tiap bulan ada 25 ribu yang cerai, dan tiap hari ada 830-an perceraian, maka setiap jamnya terjadi sekitar 34 perceraian dan hampir setiap 2 menit ada 1 perceraian. Na‘ûdzu billâhi min dzâlik.
Ada banyak ragam penyebabnya, antara lain lemahnya tanggung jawab dan tingginya tuntutan terhadap hak, namun rendah dalam memenuhi kewajiban. Itu semua, diekspresikan dalam bentuk perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga dan terabaikannya pemenuhan nafkah lahir dan batin.
Ada rumus sangat sederhana dalam menjaga dan merawat pernikahan itu, yaitu: jaga dengan baik 3 (tiga) persamaan dan 1 (satu) perbedaan. Tiga persamaan tersebut diambil dari ‘simbol sama-sama’ (persamaan), mengapa seseorang itu menikah, yang tidak lain adalah karena (i) sama-sama ‘manusia’, (ii) sama-sama ‘hidup’, dan (iii) sama-sama ‘dewasa’. Itulah tiga persamaan, yaitu manusia, hidup, dan dewasa. Makna simbolis tadi tidak lain: kalau ingin langgeng pernikahan kita, maka pahami dan pegang teguh nilai-nilai tentang kemanusiaan, belajarlah tentang hakikat kehidupan, dan berperilakulah sebagaimana perilaku orang dewasa.
Sedangkan 1 (satu) perbedaan yang harus selalu dijaga adalah ‘laki-laki dan perempuan’. Maknanya, jadilah lelaki sejati dengan penuh tanggung jawab sebagai suami, dan jadilah perempuan sejati dengan penuh tanggung jawab, penuhi semua hak dan kewajiban sebagai isteri. Keempat hal diatas (tiga persamaan dan satu perbedaan) dimaksudkan untuk memperkuat prinsip ‘perlakukanlah isterimu dengan baik’ (wa’asyiruhunna bil ma’ruf). Dengan menjaga dan merawat tiga persamaan dan satu perbedaan tersebut, insya Allah pernikahan kita akan abadi.
Akhlak Bertengkar dalam Rumah Tangga
Berdasarkan pengalaman, bohong bila dalam rumah tangga dibilang tak pernah ada konflik dan perselisihan. Sebab, ada dua persepsi yang kerap berbeda. Perasaan kita juga fluktuatif—pasang surut atau yazid wa yanqush. Tapi konflik sejatinya adalah bagian dari kehidupan—bahkan terkadang diperlukan (selama terukur dan terkendali) untuk mengetahui tingkat kekohan rumah tangga sekaligus meningkatkan kualitas interaksi dalam rumah tangga.
Ada sebuah cerita kegemaran saya yang berasal dari Thailand Timur Laut: Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan, “Kuek! Kuek!”
“Dengar,” kata si istri, “itu pasti suara ayam.”
“Bukan, bukan. Itu suara bebek,” kata si suami.
“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.
“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuuuuk!’, bebek itu ‘kuek! kuek!’ Itu bebek, Sayang,” kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.
“Kuek! Kuek!” terdengar lagi.
“Nah, tuh! Itu suara bebek,” kata si suami.
“Bukan, Sayang… Itu ayam! Aku yakin betul!” tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
“Dengar ya! Itu a… da… lah… be… bek, B-E-B-E-K. Bebek! Tahu?!” si suami berkata dengan gusar.
“Tetapi itu ayam!” masih saja si istri berkeras.
“Itu jelas-jelas bue… bek! Kamu ini… kamu ini…!”
Terdengar lagi suara, “Kuek! Kuek!” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.
Si istri sudah hampir menangis, “Tetapi itu ayam …”
Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya teringat, kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”
“Terima kasih, Sayang,” kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.
“Kuek! Kuek!” terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta (Ajahn: 2012).
Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar: siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?
Setiap kali mengingat cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Keutuhan pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek?
Selain itu, bertengkar di sini bukan berarti saling memukul atau menyakiti, ataupun sekadar ancaman untuk melakukannya. Pertengkaran, dalam situasi sehat, adalah luapan perasaan dan informasi tentang perbedaan pendapat yang sangat cepat dan biasanya gaduh. Pertengkaran adalah kebalikan dari diskusi tenang, karena emosi kita diungkapkan secara terang-terangan dan keras. Ini bukan pertanda pernikahan bermasalah, justru merupakan langkah penting untuk membangun lagi kedekatan yang tenggelam dalam ketidakacuhan. Bahkan tidak jarang, setelah ‘pertengkaran’ dapat diselesaikan, justru tumbuh kemesraan baru yang lebih berkualitas. Dalam pernikahan, tidak perlu ada ketakutan yang berlebihan, seandainya terjadi miskomunikasi sehingga muncul pertengkaran. Yang penting, kedua pihak berusaha untuk menyelesaikannya secara cerdas, dewasa dan arif, terutama Sang Suami sebagai pemimpin (qawwamûn).
Jika kita tidak peduli, tak akan ada pertengkaran. Karena kita terlibat dan peduli itulah pertengkaran menjadi suatu keniscayaan. Kombinasi perbedaan dan kedekatan menciptakan aliran energi. Aliran energi yang kecil disebut diskusi, stimulasi, memberi dan menerima; sedangkan aliran besar disebut pertengkaran. Kemarahan yang terbentuk memungkinkan Anda mengungkapkan kebenaran yang sebelumnya tak mampu Anda suarakan. Dengan kata lain, hasil dari pertengkaran adalah tingkat kejujuran lebih tinggi.
Saat terjadi pertengkaran, sering pesannya sendiri amat positif. Kalaupun isi pesan itu adalah “Kau tidak mengerti aku, kau tidak menghiraukan kebutuhanku”, alasan Anda mengatakan itu adalah karena Anda ingin ada saling pengertian dan merasa hubungan ini layak diperjuangkan
Memang, pertengkaran bisa menjadi-jadi, dan tentu saja akhirnya merusak. Konflik dan pertikaian yang berlarut-larut hanya akan membawa kita kepada kesia-siaan dan kehancuran. Cerita George W Burns, seorang ahli psikoterapi, mengilustrasikan hal ini dengan baik dalam 101 Healing Stories.
Dikisahkan sepasang suami istri yang selalu bertengkar. Setelah berpuluh-puluh tahun mengasah keterampilan mereka bertengkar, mudah sekali konflik terjadi, bahkan terkadang disulut oleh masalah yang sangat sepele. Pada suatu hari sang suami yang baru pulang dari kerja melintas di sebuah kebun milik tetangga. Ia tergiur melihat buah mangga yang matang di pohon. Setelah memastikan keadaan aman, ia pun mencuri tiga buah. Setibanya di rumah, ia memberikan satu buah kepada istrinya, dan menyisakan dua buah untuk dirinya. Tahu bahwa sang suami mendapat dua buah, sang istri pun mengomel, “Kamu curang! Berikan yang satu lagi, aku kan lelah seharian mengurus rumah” Sang suami tidak kalah garang, ia menimpali, “Kamu yang tidak tahu diri, aku seharian bekerja di luar, banting tulang mencari nafkah, pantas kalau aku mendapat dua.”
Keributan pun terus meruncing sampai kemudian sang suami menawarkan bertaruh dengan satu buah miliknya, “Siapa saja yang paling lama diam, maka buah ini miliknya” Sang istri setuju, ia masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat mulutnya, sang suami berbaring di sofa dan mulai menghentikan pembicaraan. Keadaan ini pun berlalu hingga satu minggu.
Para tetangga tentu merasa heran, tidak biasanya rumah ini tenang, padahal setiap hari mereka selalu mendengar suara keributan bahkan tidak jarang mereka melihat piring terbang. Didesak oleh rasa penasaran, para tetangga memasuki rumah itu, mereka mendapati dua sosok suami istri itu berbaring lemah, membisu dan tiada bergerak lagi. Melihat keadaan suami istri yang tidak berdaya itu, mereka menganggap keduanya sudah mati, maka disiapkanlah upacara penguburan. Saat akan dimasukkan ke liang kubur, tiba-tiba sang suami berteriak keras ketakutan, “Kalian bodoh, aku belum mati, kenapa hendak dikubur?” Demi mendengar teriakan suaminya, sang istri pun lompat kegirangan sambil berkata, “Hore, aku menang, satu buah itu milikku” ia segera lari menuju rumahnya, sang suami mengejarnya. Mereka berlarian sekencang-kencangnya untuk mengalahkan saingannya memperebutkan buah mangga yang menjadi masalah. Setibanya di rumah, mereka mendapati tiga buah mangga itu masih tersimpan di dapur, dan semuanya sudah busuk!
Begitulah, konflik yang akut hanya membawa kita kepada kesia-siaan. Karena itu, kita perlu belajar bertengkar dengan aman dan sehat. Sebagai muslim, Islam telah menyediakan prinsip-prinsip penting yang bisa menyelamatkan kita dari pertengkaran yang menjadi-jadi, apalagi mengarah ke perceraian. Tanpa bermaksud menggurui, menarik untuk renungkan kembali tentang:
Pertama, komitmen pada perjanjian sakral. Tentang pernikahan, Tuhan berfirman: Dan, mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (al-Nisâ’ [4]: 21). Dengan kata lain, akad nikah itu disebut-sebut sebagai “mitsaqan ghalizha” (perjanjian yang kuat atau berat). Tuhan menggunakan bahasa yang sama ketika berbicara tentang perjanjian dengan Bani Israel (al-Nisâ’ [4]: 21) dan perjanjian dengan nabi-nabi: Nuh Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad saw. (al-Ahzâb [33]: 7).
Dengan demikian, akad pernikahan sama seriusnya dengan perjanjian para nabi dan sama dahsyatnya dengan perjanjian Bani Israil di bawah Bukit Thur yang bergantung di atas kepala mereka. Di mata Tuhan, perjanjian pernikahan ini tidak main-main. Maka ketika kita bertengkar, sesengit apa pun, cukuplah piring yang pecah. Perang urat saraf boleh berkecamuk, tapi jangan sampai meninggalkan “gelanggang” (rumah). Komitmen kita untuk menjaga “mitsaqan ghalizha” ini bisa menyelamatkan kita dari pertengkaran berlarut-larut. Kita langsung ingat “gambaran besar” kenapa kita menikah dan berumah tangga.

Kedua, gemar bermusyawarah. Cinta saja tidak cukup untuk menyelesaikan kusut-masai persoalan rumah tangga. Persoalan hanya dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah, saling mengemukakan pendapat untuk mencari titik persamaan yang terbaik. Dalam musyawarah tidak ada pendapat yang dimenangkan dan dikalahkan, karena hasil musyawarah adalah perpaduan terbaik dari pendapat-pendapat yang ada.
Konon, musyawarah berasal dari kata syawr, yang berarti madu. Jadi, musyawarah mula-mula berarti mengambil madu dari sarang lebah. Artinya, musyawarah itu untuk “mencari madu” atau yang terbaik dari berbagai pendapat. Hasil dari musyawarah merupakan yang terbaik dari berbagai pandangan, laksana madu lebah yang tidak hanya manis tapi sekaligus menjadi sumber energi bagi yang meminumnya.
Yang menarik, dalam Al-Quran kita hanya menemukan tiga ayat tentang musyawarah. Pertama, diperintahkan kepada Nabi saw. untuk memusyawarahkan urusan masyarakat dengan masyarakat itu (Âli ‘Imrân: 159). Kedua, pujian Tuhan kepada orang mukmin yang senantiasa memusyawarahkan urusan mereka (al-Syûrâ: 38). Ketiga, musyawarah antar suami-istri (al-Baqarah: 233). Jadi, Tuhan Mahatahu betapa pentingnya musyawarah dalam keluarga.

Ketiga, prinsip pakaian satu sama lain. Allah berfirman, Mereka (istri-istrimu) adalah (ibarat) pakaian kalian, dan kalian adalah (ibarat) pakaian mereka (al-Baqarah: 187). Layaknya pakaian, masing-masing suami dan istri harus bisa menjalankan fungsinya sebagai (a) penutup aurat (aib atau sesuatu yang memalukan) dari pandangan orang lain, (b) pelindung dari panas dinginnya cuaca kehidupan, dan (c) kebanggaan dan keindahan bagi pasangannya.
Dalam keadaan tertentu pakaian mungkin bisa diperkecil, dilonggarkan, ditambah aksesoris, dan sebagainya. Mengatasi perbedaan selera, kecenderungan, dan gaya hidup antara suami istri diperlukan pengorbanan kedua belah pihak. Masing-masing harus bertanya apa yang dapat saya berikan, bukan apa yang saya mau. Mudah-mudahan dengan uraian diatas kita dapat mengelola rumah tangga kita dengan penuh kasih sayang.

Pesan Khusus untuk Anakku

Sebagai orangtua, izinkan Ibu dan Bapak secara khusus mempersembahkan ungkapan dan doa untuk pernikahanmu, Anakku tersayang: Rachma Rizqina Mardhotillah dan Berto Wibawa
Anakku Rizqina, engkaulah satu-satunya anakku yang akan meneruskan risalah Rasulullah Muhammad saw, cita-cita Ibu dan Bapak dan Embah serta Sesepuh-sesepuhmu.
Engkau dilahirkan pada saat Bapak sedang berjuang keras menyelesaikan studi yang didampingi Ibu dengan penuh ikhlas dan ketulusan. Ibumu rela cuti kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, semata ingin mendampingi dan berbakti kepada suami untuk meringankan tugas Bapak di negeri jauh di sana, Montpellier Perancis. Dengan beasiswa yang sangat terbatas, Bapak dan Ibu berjuang untuk menggapai cita-cita demi kemuliaan dan kemartabatan sebagai ummat Kanjeng Nabi Muhammad.
Ibumu setiap hari menyiapkan sarapan pagi dengan menu utama roti khas Perancis ‘baguette’ dan telur dadar, susu dan madu. Setiap akhir pekan, Bapak dan Ibu belanja di Bouchery yang menyiapkan daging halal, dan selalu dapat bonus ceker dan kepala ayam, karena memang selalu pesan kepada Si Penjual, agar ceker dan kepala ayam jangan dibuang. Akhir pekan yang paling bahagia adalah akhir pekan awal bulan, karena saat itulah keinginan bisa jalan-jalan di Place de la Comedie (pusat kota Montpellier) sambil makan Mac Donald terpenuhi.
Meskipun tinggal di Perancis dengan sejumlah kota wisata yang sangat terkenal dan berdekatan dengan negara-negara lain, namun tidak jarang hanya cukup puas mendengarkan cerita dan melihat di TV akan keindahan dan keterkenalan kota-kota tersebut. Setiap hari kegiatan rutin Bapak adalah menyelesaikan tugas-tugas di Lab, pulang dan pergi berjalan kaki yang berjarak sekitar 2,5 km sekali jalan (sehari 4 kali jalan). Berangkat pagi-pagi dan pulang malam hari. Semuanya Bapak dan Ibu jalani dengan penuh kesyukuran dan kebahagiaan.
Dalam suasana kehidupan seperti itulah, di Rumah Sakit Maternite Montpellier Perancis, Ibumu berjuang dengan taruhan nyawa sambil menahan rasa sakit, dan Bapak sambil memegang tangan Ibu untuk memberikan semangat dan doa, akhirnya lahirlah seorang bayi mungil pada tanggal 19 Desember 1989, aku adzani-qomati dan aku beri nama Rachma Rizqina Mardhotillah. Kebahagiaan Ibu, tiba-tiba berubah menjadi kesedihan, karena Sang bayi tidak boleh langsung dibawa pulang karena kulitnya sedikit menguning dan harus masuk inkubator, Sang dokter menyebutnya bayi ini mengalami sedikit peningkatan Bilirubin. Selama 3 hari, Rizqi kecil berada dalam inkubator, dan setiap hari Bapak sebelum ke Labo mengirim ASI yang telah Ibu masukkan ke dalam botol karena Ibu sangat ingin memberikan ASI eksklusif untuk putri tercintanya.
Kehadiran Rizqina kecil memang menghadirkan kebahagiaan tersendiri, termasuk menambah rezeki, karena saat itu Pemerintah Perancis melalui ‘Securite Sociale’ memberikan tunjangan bagi setiap anak yang lahir di Perancis. Kugendong sambil kusanjungkan shalawat, di sela-sela aktivitas keseharian seorang Thesard yang sedang merampungkan Tesis Doktoralnya. Ibu pun juga rela disamping ‘momong’ anak kesayangannya sendiri juga ‘momong’ anaknya kawan yang kedua-duanya sedang kuliah.
Alhamdulillah, akhirnya Bapak bisa ‘Soutenance’ ujian terbuka dan dinyatakan lulus pada tahun 1990 dan kembali ke Tanah Air. Hari terus berjalan, pada saat memasuki usia sekolah, meskipun sebenarnya belum saatnya masuk TK-SD, Bapak sekolahkan Rizqina di Al Islah Gunung Anyar tempat Bapak sekolah dulu, dengan harapan supaya memiliki fondasi keagamaan yang baik dan bisa bersahabat dengan anak-anak dari kalangan bawah untuk memperhalus, mempertajam, dan memiliki kepekaan sosial. Aku ingat pesan Nabi: Tak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama dibanding budi pekerti yang baik.” (HR Tirmidzi).

Kini, Rizqi kecil telah dewasa (tamyiz), setelah lulus Sarjana Teknik Elektro ITS, kau melanjutkan program Magister di Duisburg Essen University Jerman, dan kau sendiri yang menentukan pilihan calon suamimu, pendamping dan imammu, Ibu dan Bapak telah ridha dan merestuimu, setelah persyaratan dasar dipenuhi oleh calon suamimu Mas Berto. Bapak dan Ibu tentu punya harapan dan berpesan:
“Niatkan pernikahanmu sebagai bagian ibadah kepada Allah. Sehingga ringan bagi kalian berdua untuk saling mendekatkan diri kepada Allah. Jadilah sepasang doa yang saling mengamini. Tujuan sebuah rumah tangga bukan terbatas untuk meraih kesenangan duniawi, melainkan sebagai sarana untuk meraih tujuan ukhrawi yang abadi. Sepasang suami istri memang bisa dipisahkan di dunia karena kematian, tapi mereka masih bisa bersatu kembali kelak di akhirat. Mereka bersama pasangan mereka bernaung di tempat yang teduh (Yasin: 56). Bahkan, semoga semua anggota keluarga kita juga bergabung sebagaimana dalam firman-Nya: Surga Aden yang mereka masuki bersama bapak-bapak mereka, pasangan dan anak cucu mereka, serta malaikan-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu … (ar-Ra‘d: 23).”
Selain itu, Bapak-Ibu berpesan, agar engkau biasakan dan tradisikan dalam rumah tanggamu, hal-hal berikut ini, Insya Allah keutuhan dan kebahagiaan rumah tanggamu bisa tetap terawat dengan baik:
1. Biasakan shalat berjamaah, shalat dhuha, dan secara khusus dirikan shalat malam
2. Carilah rezeki yang halal dan sisihkan setiap kali mendapatkannya, berapa pun besarnya untuk berbagi kepada orang lain (sedekah).
3. Hiasi dan terangi rumahmu dengan bacaan Al-Quran dan shalawat.
4. Tetaplah berbakti dan menghormati kedua orang tua dan
5. Biasakan saling menghargai dan menghormati serta berlaku santunlah antara kamu dengan suamimu (wa’asyiruhunna bil ma’ruf)

Terakhir, Bapak teringat tentang hadiah paling besar yang diberikan Rasulullah kepada putrinya, Fatimah Az Zahra ketika dipersunting oleh Sayidina Ali k.w., yang kini kerap kita temukan dalam undangan-undangan resepsi perkawinan sebagai doa Nabi pada pernikahan Fatimah dan Ali. Dengan berharap keberkahan dan syafaat Rasulullah, izinkan Bapak dan Ibu juga memberikan hadiah itu pada pernikahanmu. Kurang lebihnya hadiah itu berbunyi: Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua, dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu, dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi amalnya. Selamat dan semoga keberkahan senantiasa tercurahkan dalam kehidupan rumah tanggamu, Ibu dan Bapak senantiasa mendoakanmu. [Mohammad Nuh]

Umur Umat Islam





Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (di dalam Shahih-nya) dari Abdullah Ibn ‘Umar radhiallahu’anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya masa menetapmu dibandingkan dengan ummat-ummat sebelum kamu adalah seperti waktu shalat Ashar sampai terbenamnya matahari, Ahli Taurat (Yahudi) telah diberikan kepada mereka kitab Taurat kemudian mereka mengamalkan kitab tersebut, sehingga apabila mereka telah sampai waktu tengah hari mereka pun ‘lemah’ untuk mengamalkannya, lalu mereka diberi ganjaran oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala masing-masing satu qirath.

Kemudian diberikan pula kepada Ahli Injil (Nasrani) kitab Injil, lalu mereka mengamalkan kitab tersebut sampai waktu shalat Ashar, setelah itu mereka ‘lemah’ untuk mengamalkan, maka mereka pun diberi ganjaran oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala satu qirath – satu qirath. Kemudian diberikan pula kepada kita kitab Al Qur’an, dan kita mengamalkannya sampai matahari terbenam, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ganjaran kepada kita masing-masing dua qirath.

Maka berkatalah Ahli Kitab, ‘Wahai Tuhan kami, mengapa Engkau memberikan ganjaran kepada mereka (kaum Muslimin) masing-masing dua qirath dan Engkau memberikan ganjaran kepada kami masing-masing satu qirath sedangkan amal kami lebih banyak?’

Berkata Allah Subhanahu wa Ta’ala (sambil bertanya), ‘Apakah aku berlaku zhalim (tidak adil) dalam memberikan ganjaran amal kalian?’

Mereka menjawab, ‘Tidak.’

Allah Subhanahu wa T’ala berkata, ‘Itu adalah karunia-Ku yang Aku berikan kepada siapa saja yang Aku kehendaki’.”

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam beberapa tempat dalam kitab Shahihnya: Pada Kitab Mawaqitushshalah, Juz 2, Faatul Baari, hal. 38. Cetakan Darul Fikri. Pada kitabul Ijarah, Juz 4, hal. 445. Kitab Al Hadist Al Anbiya’ Juz 6 hal 465. Kitab Fadha’il Quran Juz 9 hal 46 dengan sanad yang berbeda-beda

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari juga dalam kitab Shahih-nya sebuah Hadist dari Abu Musa radhiallahu’anhu dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam,

“Permisalan antara kaum Muslimin dan Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani adalah seperti seorang laki-laki (kaya) yang mengupah suatu kaum untuk melakukan sebuah pekerjaan untuknya sampai malam, akan tetapi kaum tersebut hanya bekerja sampai tengah hari dan mereka berkata kepada laki-laki tersebut, ‘Kami tidak memerlukan gaji yang kamu berikan.’

Kemudian laki-laki itu mengupah suatu kaum yang lain dan berkata, ‘Sempurnakanlah pekerjaan ini sampai penuh hari ini dan kamu akan mendapatkan gaji seperti yang aku syaratkan.’

Kemudian kaum tersebut hanya bekerja sampai waktu shalat ‘Ashar dan berkata, ‘Ambillah olehmu apa-apa yang kami kerjakan.’

Kemudian laki-laki tersebut mengupah suatu kaum yang lain, maka mereka pun bekerja sampai penuh hari tersebut sehingga terbenam matahari dan mereka mendapatkan gaji dua kaum sebelum mereka’.”

Juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam beberapa tempat: Kitab Mawaqit Ash Shalah Juz 2 hal 38. Kitab Al Ijarah Juz 4 hal 447.

Pasukan Gajah Ingin Hancurkan Ka’bah




“Apakah kami tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?” Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.” (QS. Al-Fiil: 1-5)

PADA masa Abdul Muthalib, terjadi peristiwa besar yang diabadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Alquran, yaitu: peristiwa pasukan bergajah. Tersebutlah dalam sejarah seorang panglima yang bernama Abrahah yang berkebangsaan Habasyah yang memerintah negeri Yaman, ia membangun sebuah gereja, diberi nama al-Qulais. Ia ingin agar bangsa Arab berpaling dari Ka’bah ke gerejanya untuk melaksanakan haji. Tentu saja bangsa Arab menjadi marah karena hal tersebut.

Seorang laki-laki dari Suku Kinanah buang hajat di dalam gereja tersebut. Tatkala Abrahah mengetahui hal itu, ia marah dan bersumpah akan memimpin seluruh tentaranya berangkat menuju Ka’bah dan menghancurkannya. Kemudian ia memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap, maka berangkatlah pasukan ini dan Abrahah menunggang gajah.

Tatkala Abrahah singgah di al-Mughamas, ia mengutus seorang laki-laki dari Habasyah yang bernama al-Aswad bin Maqshud, ia berangkat menunggangi kuda hingga sampai ke Mekah. Lalu ia menggiring harta penduduk Tihamah dari bangsa Quraisy dan lain-lain. Di antara harta yang dirampasnya; ada 200 ekor onta milik Abdul Muthalib bin Hasyim yang pada saat itu adalah seorang pembesar dan pemimpin Quraisy.

Maka bangsa Quraisy, Kinanah, Huzail, dan seluruh penduduk yang berada di tanah haram berkeinginan untuk memerangi tentara Abrahah. Kemudian mereka sadar bahwa mereka tidak punya kekuatan untuk melawan Abrahah, kemudian mereka mengurungkan niat untuk melawan.

Lalu Abrahah mengutus Hunathah al-Himyari ke Mekah seraya ia berkata kepadanya: “Carilah pemimpin penduduk negeri ini dan pemukanya, kemudian katakan kepadanya: Sesungguhnya sang Raja berpesan kepadamu, “Sesungguhnya kami datang bukanlah untuk memerangi kalian, hanya saja kami datang untuk menghancurkan tempat ibadah ini, maka jika kalian tidak menghalangi niat kami, kami tidak perlu menumpahkan darah kalian. Jika pemimpin tersebut tidak berniat menghalangi niatku hendaklah ia mendatangiku.”

Tatkala Hunathah memasuki Mekah, ia bertanya tentang pemuka bangsa Quraisy dan tokohnya, maka dikatakan kepadanya, ia adalah Abdul Muthalib bin Hasyim. Lalu Hunathah datang kepada Abdul Muthalib dan menyampaikan pesan Abrahah kepadanya. Abdul Muthalib berkata: “Demi Allah, kami tidak akan memeranginya karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk memeranginya, ini adalah rumah Allah yang mulia dan rumah khalil-Nya Ibrahim, jika Dia menghalanginya, maka ini adalah rumah dan tanah haram-Nya. Dan jika Dia membiarkan Abrahah menghancurkan Ka’bah, maka demi Allah kami tidak mempunyai kekuatan untuk menahannya.”

Lalu Hunathah berkata, “Berangkatlah bersamaku menuju pemimpin kami, karena sesungguhnya ia memerintahkanku untuk membawamu kepadanya.” Abdul Muthalib adalah orang yang paling tampan rupanya, elok parasnya, dan paling berwibawa. Tatkala Abrahah melihatnya, ia menghargai, mengagungkan dan memuliakannya untuk tidak duduk di bawah. Dan Abrahah juga tidak suka bila orang-orang Habasyah melihat Abdul Muthalib duduk di atas singgasana kerajaannya. Maka Abrahah turun dari singgasananya dan duduk di permadani serta memerintahkan Abdul Muthalib duduk di sampingnya.

Kemudian Abrahah berkata kepada juru bicaranya, “Katakan kepadanya, apa yang ia perlukan?” Lalu juru bicara memberitahukan kepada Abrahah, perkataan Abdul Muthalib, “Keperluanku hanya agar raja mengembalikan kepadaku 200 ekor onta yang dirampas dariku.” Tatkala juru bicaranya selesai berkata, Abrahah berkata kepadanya, “Katakan kepadanya, ‘Awalnya di saat aku melihatmu aku kagum kepadamu, selanjutnya aku jadi merendahkanmu ketika engkau menyampaikan keperluanmu, kenapa engkau berbicara kepada ku tentang 200 ekor onta yang kurampas darimu? Dan engkau membiarkan rumah tempat ibadahmu, milik agamamu dan agama nenek moyangmu yang akan kuhancurkan, mengapa engkau tidak menyampaikan tentang hal ini?’.”

Abdul Muthalib menjawab, “Bahwasanya aku adalah pemilik onta-onta tersebut, sedangkan tempat ibadah itu ada pemilik (Tuhan) yang akan melindunginya.”

Kemudian Abrahah berkata, “Dia tidak akan menghalangiku.” Abdul Muthalib menjawab, “Hal itu terserah padamu.” Lalu Abrahah mengembalikan onta-ontanya dan ia dipersilahkan kembali ke Quraisy.

Abrahah memerintahkan penduduk Quraisy untuk keluar dari Mekah dan mencari tempat perlindungan di atas perbukitan dan lembahnya, khawatir mereka terkena imbas kekuatan pasukannya.

Abdul Muthalib berdiri dan memegang pintu Ka’bah dan dibantu oleh beberapa orang Quraisy. Mereka berdoa kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala agar menurunkan pertolongan-Nya untuk menghalangi Abrahah dan pasukannya. Abdul Muthalib sambil memegang pintu Ka’bah seraya berdia: “Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu melindungi kendaraannya, maka lindungilah rumahmu. Jangan engkau biarkan pasukan salib dan agama mereka mengalahkan kekuatanmua esok hari.”

Di pagi harinya, Abrahah bersiap-siap memasuki Mekah, ia menyiapkan gajah-gajahnya dan mengomandani tentaranya. Gajahnya bernama Mahmud dan Abrahah telah bertekad untuk menghancurkan Ka’bah, setelah itu ia kembali lagi ke Yaman.

Tatkala mereka mengarahkan gajahnya ke Mekah, gajah mereka menderum, lalu mereka memukul gajah-gajah mereka, tetapi gajah tetap tidak mau berdiri. Lalu mereka mencoba mengarahkan gajah-gajahnya ke arah Yaman, gajah berdiri dan berlari. Lalu mereka arahkan ke Syam, gajah pun melakukan hal yang sama, mereka arahkan ke arah timur, gajah pun melakukan hal yang sama.

Kemudian mereka arahkan lagi ke Mekah, gajah malah menderum, maka seketika itu Allah Subhanahu wa Ta’alamengirim kepada mereka burung laut. Setiap ekor burung membawa 3 buah batu: 1 di paruhnya dan 2 di kakinya sebesar kacang Arab atau kacang Adas. Tidak seorang pun yang terkena batu tersebut melainkan tubuhnya hancur. Lalu mereka keluar meninggalkan Mekah, sedangkan daging mereka tercecer di sepanjang jalan dan mereka binasa.

Abrahah terkena sebuah batu di tubuhnya, lalu mereka membawanya ke Yaman sedangkan jari jemarinya mulai terputus satu per satu, hingga mereka membawanya ke Shan’a dan tubuhnya yang tersisa tinggal sebesar seekor anak burung, dan ia mati di sana.

Sungguh peristiwa pasukan bergajah ini membawa dampak yang sangat besar terhadap Quraisy dan kedudukannya di antara kabilah-kabilah Arab. Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala mematahkan serangan pasukan Habasyah, hingga mereka mendapatkan siksa, maka bangsa Arab pun sangat memuliakan bangsa Quraisy. Mereka berkata, “Quraisy adalah ahli Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerangi musuh mereka, sehingga mereka tidak perlu melawannya.”

Pohon Nabi Masih Tumbuh Subur Sampai Saat Ini




Nabi hidup ribuan tahun yang lalu. Namun ada peninggalan jejak Nabi yang masih ada hingga kini. Sebuah pohon. Pohon zaman dulu tentu saja, masih tumbuh subur. Sebenarnya pohon itu seperti apa sih? Lalu bagaimana sejarahnya?

Pohon Nabi ini menjadi bukti kenabian Nabi Muhammad SAW. Dan sepertinya Pohon Nabi ini sengaja dibiarkan hidup oleh Allah agar menjadi pengingat, kenangan dan bukti sejarah masa lalu. Pohon ini adalah pohon yang penuh keberkahan, pohon ajaib, pohon keramat dan pohon yang aneh.

Dulu ketika Rasulullah melakukan perjalanan menuju Syam bersama Maisarah (pembantu Sayyidatuna Khadijah Ra) untuk berdagang, Rasulullah pernah berteduh di bawah pohon ini sebelum sampai ke sana. Pada saat Rasulullah berteduh di bawahnya, dahan dan ranting-ranting pohon ini bergerak menaungi beliau dari panasnya terik matahari.

Seorang rahib (pendeta) yang melihat kejadian ini, lantas mendatangi Maisarah dan menunjukkan kepadanya pohon tempat berteduh Rasulullah itu seraya berkata: “Hanya seorang Nabi saja yang berteduh di bawah pohon itu.”

Lihatlah sampai hari ini pohon tersebut tetap subur bahkan di tengah-tengah padang pasir yang kering kerontang dan tidak ada tumbuhan yang hidup seperti itu. Allah SWT menghidupkannya dengan kehendaknya.

Inilah pohon yang memahami cinta buat Nabinya Muhammad SAW, sebuah pohon yang diberkahi.

Sampai sekarang pohon ini masih hidup di Yordania. Sebab itu ia dijuluki “the only living Sahabi” atau “satu-satunya ‘sahabat’ Nabi yang masih hidup”.

Pohon ini terletak di tengah padang pasir bernama Buqa’awiyya di negara Yordania. Dari segi geografis, ia dekat dengan kota Bosra di Suriah.

Sebagaimana kita tahu, Rasulullah SAW dua kali tiba di Bosra:

1. Ketika bersama pamannya Abu Thalib saat berumur 12 tahun dan bertemu dengan Rahib Buhaira dan ketika itu Buhaira melihat tanda kerasulan beliau SAW di belakang bahu seperti tercatat dalam kitab injil tentang tanda kerasulan nabi akhir zaman.

2. Kali kedua Rasulullah SAW ke Bosra membawa barang dagangan Khadijah.

Keberadaan Manusia Terbang di Negeri Yaman



Di negeri Yaman, tinggallah seorang pemuda penggembala bernama Uwais al-Qarni. Ia seorang pemuda yang tinggal bersama ibunya yang sudah tua. Ia sangat berbakti kepada sang ibu. Ia mau mengurusi segala yang dibutuhkan ibunya sejak dari bangun tidur hingga tidur kembali. Sehabis dzuhur hingga sore, Uwais menggembalakan kambing-kambingnya di tanah lapang.

Keberadaan Manusia Terbang di Negeri Yaman

Di saat menggembala, sering ia bertemu dengan kafilah-kafilah pedagang Yaman yang pulang dari Mekkah. Suatu hari, seorang pemimpin kafilah berkata padanya. “ Hai anak muda. Maukah engkau kuberitahu satu hal?”

“Apakah yang akan paman beritahukan?” tanya Uwais.

Pemimpin kafilah kemudian memberitahu. “ Di Mekkah telah datang seorang Rasul, namanya Muhammad. Ia cucu Abdul Muthalib yang lahir dari rahim Aminah, istri Abdullah. Muhammad adalah manusia yang selalu berkata benar, pengasih dan penyayang kepada sesamanya. Makanya ia dijuluki Al-Amin. Ia datang kepada orang-orang Mekkah membawa agama Islam, “katanya.

Mendengar cerita itu, Uwais muda terkagum-kagum. Baginya, Muhammad begitu agung dan mulia. Sejak itu, setiap kali kafilah-kafilah pedagang Yaman pulang dari Mekkah, Uwais selalu berusaha memperoleh kabar sebanyak mungkin tentang Muhammad. Maka, semakin hari, semakin kagumlah ia kepada Muhammad. Hatinya pun lalu beriman kalau ajaran yang dibawanya adalah benar. Sejak itulah hatinya tumbuh rasa cinta yang dalam kepada Rasulullah, meskipun ia belum pernah berjumpa dengan beliau.

Ibunya pun diberitahu juga tentang Muhammad, juga tentang ajaran-ajaran yang dibawanya. Mendengar cerita anaknya yang tidak pernah bohong, ibunya Uwais al-Qarni pun langsung percaya.

“Andaikan aku bisa bertemu Muhammad, tentu aku akan sangat bahagia, “ujar ibunya.

Suatu hari, Uwais al-Qarni berbicara kepada ibunya. “ Wahai Ibu, bolehkah anakmu meminta satu hal?”

“Apa yang akan kaupinta, anakku? Bicaralah. Selagi akau bias memenuhinya, insya Allah engkau akan mendapatkannya.”

“Bu, semakin hari, aku semakin tersiksa oleh rasa rindu yang amat dalam kepada Muhammad. Sudah lama aku mendengar tentang beliau, tentang akhlaknya, tentang ajaran-ajarannya. Tetapi sampai hari ini aku belum pernah bertemu dengannya. Bu, bolehkah aku pergi ke Mekkah agar bisa bertemu dengan beliau walalu sebentar saja.”

“Uwais anakku. Kaulah satu-satunya karunia Allah buat Ibumu. Karena Dia telah menjadikanmu sebagai anak berbakti. Kaulah yang senantiasa membantu segala yang kuperlukan. Namun, jika engkau sangat ingin menemuinya, tidak mengapa. Pergilah , sampaikan juga salam Ibu kepadanya.”

“Oh, terimakasih, Bu. Tentu, tentu salam Ibu akan saya sampaikan.”

“Tetapi, satu pesan ibu,” kata sang ibu.

“Apa yang akan Ibu sampaikan? Katakanlah, Bu,” ujar Uwais.

“Nanti, setelah engkau bertemu Muhammad, segeralah pulang. Jangan lama-lama di sana. Siapa nanti yang akan membantu Ibu selain engkau.”

“Tentu, tentu, Bu. Insya Allah, saya akan segera pulang, “janji Uwais al-Qarni.

Maka berangkatlah Uwais al-Qarni, dengan membawa bekal secukupnya. Perjalanan dari Yaman ke Mekkah memakan waktu yang amat lama, karena jaraknya ratusan kilometer. Uwais menempuhnya dengan jalan kaki. Setelah melakukan perjalanan selama berhari-hari, akhirnya sampailah ia di Mekkah. Dengan pertolongan Allah, dalam perjalananya Uwais tidak menjumpai badai atau pun para penyamun padang pasir yang biasanya menghadang para pedagang.

Sampai di Mekkah, Uwais langsung mendatangi rumah Rasulullah. Namun sayang, Uwais tidak menjumpai siapapun kecuali putri beliau, Fatimah.

“Maaf,”kata Fatimah. “Kalau boleh tahu, Anda ini siapa? Dari mana asalmu?”

“Saya Uwais al-Qarni. Saya datang dari Yaman ingin bertemu dengan Muhammad Rasulullah, “kata Uwais.

Fatimah terkejut sekali. Betapa kuat pemuda ini, betapa cinta pemuda ini, kepada ayahnya. Dari Yaman ke Mekkah dengan jalan kaki, hanya untuk menemui Rasulullah. Aha, andaikan Rasulullah ada, pasti dia akan senang sekali. Namun sayang, beliau sedang pergi. Begitu kata Fatimah dalam hati.

Fatimah kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Uwais kaget, wajahnya tampak kecewa sekali.

“Bagaimana, sebaiknya engkau menunggu sebentar. Sepertinya tak lama lagi ayahanda akan pulang, “ bujuk Fatimah.

“O, tidak, tidak, “ jawab Uwais. “Saya telah berjanji kepada ibu saya untuk tidak berlama-lama di Mekkah. Saya harus segera pulang. Ibu saya sudah tua, badannya lemah. Nanti kalau saya tidak pulang, siapa yang akan membantunya?”

“Tapi anda kan belum bertemu Rasulullah. Sedangkan perjalanan dari Yaman ke Mekkah jauh sekali. Sia-sia sekali jika anda pulang begitu cepat, “kata Fatimah.

“Tidak. Saya memang sangat cinta Rasulullah. Tetapi saya lebih cinta kepada Ibu di rumah. Biarlah lain kali, kalau Allah menghendaki, saya akan bertemu dengan beliau. Saya pulang dulu saja.”

Fatimah tetap tidak dapat mencegah Uwais pulang. Padahal tidak lama kemudian, Rasulullah datang diikuti Umat Bin Khathab dan Ali Bin Abi Thalib. Tidak disangka-sangka Rasulullah bertanya, “ Wahai Fatimah? Apakah tadi ada seorang pemuda dari Yaman yang ingin bertemu denganku?”

“Benar wahai ayahanda?”Jawab Fatimah. “ Dari mana ayah tahu?”

“Baru saja Jibril memberitahuku, “kata Rasulullah. “Waspadalah dengan pemuda itu. Jika suatu ketika kalian bertemu dengannya, mintalah agar dia mendoakan kalian. Karena, doanya akan selalu dikabulkan oleh Allah.”

Fatimah terkejut. Begitu juga Umar dan Ali.

“Siapakah dia sebenarnya, Rasulullah? Kenapa begitu istimewa?”Tanya Umar.

“Dia Uwais al-Qarni. Kenapa dia begitu istimewa? Karena dia bukan manusia bumi, melainkan manusia langit, “ jawab Rasulullah singkat.

Sejak peristiwa itu, Umar dan Ali tidak bertemu dengan Uwais al-Qarni. Ia juga tidak tahu pasti, kenapa sampai dijuluki manusia langit. Karena, Rasulullah tidak memberitahu dengan jelas.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan Abu Bakar telah diestafetkan kepada Khalifah Umar bin Khattab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Ia segera mengingatkan kepada Ali bin abi thalib untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qarni, apakah ia turut bersama mereka.

Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qarni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar bin Khattab dan Ali bin abi thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar bin Khattab dan Ali memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan salat. Setelah mengakhiri salatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi SAW. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara? “Abdullah”, jawab Uwais.

Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali meminta agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qarni telah pulang ke Rahmatullah.

Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.

Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qarni pada masa pemerintahan Umar bin Khattab)

Meninggalnya Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.

Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.

Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.

Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qarni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.