Showing posts with label Fakta. Show all posts
Showing posts with label Fakta. Show all posts

7 Makanan Terbaik di Bulan Puasa



Bulan puasa ramadhan adalah saat dimana makanan minuman enak bermunculan dipermukaan bumi :D Itulah mengapa kadang pengeluaran malah makin melonjak. Tapi memang itulah salah satu ciri khas bulan suci ini yang mengesankan. Berikut ini adalah makanan minuman terbaik dibulan puasa ramadhan.

1. Es Sop Buah

2. Gorengan

3. Kolak

4. Es Teh Manis

5. Kurma

6. Es Kelapa Muda

7. Puding

Kisah Misteri dan Unik Saat Ibadah Haji



Menunaikan haji menjadi salah satu ibadah mulia di hadapan Allah SWT. Ibadah haji di Tanah Suci merupakan perintah Allah SWT bagi setiap umat Islam seperti tersurat dalam Alquran dan Hadist. Tidak ada alasan bagi umat Islam menolak melaksanakan rukun Islam kelima ini bila sudah memenuhi syarat mampu.

Syarat mampu dimaksud adalah secara ibadah dan dana. Menuju Tanah Haram untuk berhaji membutuhkan biaya yang cukup besar. Setiap umat Islam yang akan berangkat juga harus memastikan nafkah cukup bagi keluarga yang ditinggalkan. Sebagian kalangan menyebut, memenuhi panggilan Allah untuk berhaji di Tanah Haram sama saja sudah siap tidak kembali berkumpul dengan keluarga selamanya.


Ketika niat sudah bulat, maka calon jamaah haji harus siap apapun yang terjadi selama berada di Tanah Haram. Salah satunya siap secara fisik. Berhaji merupakan ibadah fisik karena 80 persen ritualnya sangat mengandalkan kondisi stamina yang prima. Fisik setiap jamaah haji sudah dipertaruhkan sejak puncak haji atau wukuf di Padang Arafah.

Selama melakukan ritual di Baitul Haram seperti wukuf, jamaah juga harus melalui mabit di Muzdalifah, melontar jumroh di Mina, tawaf atau mengelilingi Ka'bah dan melakukan Sa'i. Amalan tersebut sangat menguras tenaga jamaah haji dan tidak melihat kondisi usia. Banyak jamaah wafat di Tanah Haram karena tingkat kelelahan luar biasa.

Kenyataan ini harus diketahui setiap umat muslim yang hendak menunaikan ibadah haji. Dengan kata lain, ibadah haji erat kaitannya dengan kemampuan fisik atau istita'ah kesehatan. Selama ini, banyak jamaah haji yang mengabaikan kondisi kesehatannya. Padahal dalam kondisi tidak mampu secara medis, maka gugur pula kewajibannya.

Sebagai gantinya, orang yang tidak mampu melaksanakan ritual haji karena meninggal atau uzur syar’i, baik rohani maupun jasmani bisa dibadalkan. Badal haji atau haji badal berarti amanah haji atau menghajikan orang lain. Aturan ini juga sudah tertuang dalam hadist Rosulullah.

Seorang wanita dari Khas’am bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, salah satu kewajiban Allah kepada hamba-Nya adalah haji. Ayah saya sekarang sudah sangat tua, tidak lagi sanggup duduk di atas kendaraan. Apakah saya boleh menunaikan ibadah haji atas namanya?” “Boleh,” jawab Rosulullah.

Kenyataannya, tidak sedikit jamaah yang berangkat dengan kondisi kesehatan berisiko tinggi. Bahkan ada jamaah yang sangat tergantung orang lain karena tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Sudah pasti, jamaah yang bergantung pada orang lain dan orang yang membantunya tidak akan maksimal menjalankan seluruh ritual hajinya.

Kondisi humanis inilah yang membuat sebagian ulama menyatakan bahwa ibadah haji itu unik. Orang yang niatnya sudah bulat tidak lagi memperhatikan kondisi tersebut. Tidak sedikit pula jamaah haji yang menjawab ingin wafat di Tanah Haram. Mereka berdalih, wafat di saat berhaji masuk dalam golongan orang yang mati syahid.

Pada tahun ini, ada jamaah haji tertua dari Indonesia dengan usia 110 tahun, Karto Marsaid bin Sonodrono. Jamaah ini tergabung bersama kelompok terbang 6 Banjarmasin dengan pesawat Garuda GA-8106. Dengan usianya, sulit membayangkan Karto mampu menjalani ritual haji. Nyatanya, Karto terlihat masih bugar.

Bukti lainnya, Allah menunjukkan kekuasaannya dan mungkin dinilai aneh bagi manusia. Seorang jamaah haji asal Medan berusia 96 tahun berangkat ke Tanah Suci didampingi cucunya. Tidak pernah terbayangkan jamaah lain bahwa sang cucu yang berusia 50 tahun wafat di Tanah Suci. Sementara sang kakek tetap sehat dan bisa menyelesaikan ibadah hajinya.

Selain unik, setiap orang yang berhaji juga dihadapkan banyak misteri. Secara ilmiah, manusia tidak akan menjangkau sabab musababnya. Misteri yang muncul setiap kali penyelenggaraan ibadah haji adalah kejadian aneh di Tanah Haram. Banyak jamaah stres ketika tiba di Arab Saudi atau saat menjalankan ritual haji. Akibatnya, mereka mengacau atau bahkan membahayakan orang lain.

Beberapa jamaah stres dan memaksa kembali ke kampung halamannya setelah tiba di bandara. Ada pula yang mencari anaknya di bandara, padahal jamaah tersebut berangkat seorang diri. Kejadian itu baru di bandara Jeddah, yang notabenenya bukan Tanah Haram.

Ada pula yang mengalami kejadian yang sebelumnya sempat dia pikirkan. Hal di luar nalar dialami beberapa petugas haji. Seorang petugas haji tanpa sadar naik kereta dengan rute Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina) di Stasiun Mina. Padahal, jamaah dan petugas haji Indonesia dilarang menggunakan fasilitas tersebut.

Rupanya, petugas haji tersebut sempat mengajak rekan-rekannya menikmati layanan tersebut, namun ditolak. Hingga satu hari, dia tanpa sadar diarahkan menuju stasiun dan naik kereta. Petugas haji tersebut terpisah dari rombongan lain yang berangkat bersama dari pemondokan untuk melontar jumroh.

Secara logika, seharusnya petugas haji itu dilarang masuk area stasiun ketika memasuki pintu gerbang. Terlebih setiap penumpang dikenakan ongkos 200 reyal atau sekira Rp500.000. Dengan lenggang di depan petugas dia masuk stasiun dan naik kereta. Dia baru tersadar saat kereta sudah berjalan. Tragisnya, petugas itu berada di gerbong khusus perempuan.

Setidaknya kejadian itu menjadi gambaran atau tauladan bagi siapa pun yang hendak melaksanakan ibadah haji. Masih banyak kejadian misteri yang dialami jamaah haji. Selain dana, ibadah dan kesehatan, ada aspek lain yang harus dijalani. Setiap umat muslim yang menunaikan ibadah haji harus menjada ucapan selama di Tanah Haram. Terlebih setiap manusia tidak boleh sombong, meski hanya hal sepele. Kesombongan itu bisa langsung menjadi petaka di Tanah Haram.

Keistimewaan Memulai Makan dari Pinggir Piring Menurut Rasul




Rasulullah SAW merupakan teladan bagi seluruh umat manusia. Beliau memiliki sifat yang sempurna dalam berbagai aspek kehidupan. Apapun yang telah beliau lakukan dan perintahkan kepada umatnya pastilah membawa kebaikan.

Tidak hanya dalam urusan yang besar seperti ibadah saja, Rasulullah SAW juga memberikan teladan mengenai persolan ringan terkait keseharian seperti adab ketika makan. Beliau memerintahkan agar ketika makan, hendaknya untuk memulainya dari pinggir piring.

Ternyata ada keistimewaan tersembunyi di balik perintah Rasulullah yang sederhana ini. Lantas keistimewaan apakah yang akan diperoleh mereka yang memulai makan dari pinggir piring tersebut? Simak informasi selengkapnya di sini.

Ternyata, keistimewaan memulai makan dari pinggir piring menurut Rasulullah SAW adalah niscaya orang yang melakukannya akan mendapatkan keberkahan.

Dari Abdullah bin Busrin, dia menceritakan, “Nabi mempunyai wadah besar yang disebut Al-Gharra, yang dibawa oleh empat orang. Ketika mereka berada pada pagi hari, mereka disuguhi wadah besar itu -yang telah berisi bubur- dan mereka pun berkumpul mengelilingi wadah tersebut. Setelah jumlah mereka banyak, maka Rasulullah duduk berlutut. Lalu seorang badui berucap, ‘Duduk macam apa itu?’ Maka Nabi menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku hamba yang mulia, dan Dia tidak menjadikan aku sebagai hamba yang sombong lagi kasar.’ Selanjutnya beliau bersabda, ‘Makanlah dari tepi wadah tersebut dan jangan mengambil dari tengahnya, niscaya akan diberikan berkah padanya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dalam kitab Fiqhunnisa karya Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, disebutkan, dari Ibnu Abbas ra, Nabi Saw pernah berkata,

“Berkah itu turun pada bagian tengah makanan, karenanya makanlah dari tepi wadah makanan tersebut dan jangan mengambil dari tengahnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Selain memulai makan dari pinggir piring, ternyata ada beberapa adab makan lagi yang berbuah pahala apabila di lakukan. Yakni senantiasa mengawali dengan membaca basmalah dan mengakhirinya dengan mengucapkan hamdalah.

Dari Umar bin Abi Salamah, dia menceritakan, Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Bacalah Nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (Muttafaqun Alaih)

Dari Aisyah dia menceritakan, Rasulullah Saw bersabda ,
“Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka hendaklah dia membaca basmalah pada permulaannya. Dan apabila dia lupa membacanya, maka hendaklah dia membaca ‘Bismillahi ‘alaa awaalihi wa akhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhirnya).”

Abu Umamah RA meriwayatkan bahwa jika selesai makan, Nabi SAW biasanya mengucapkan, “Alhamdulilahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira makfiyyin wa la muwadda’in la mustaghnan’anhu rabbana,” (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang tiada terhingga, baik dan penuh berkah. Ya Tuhan kami, kami tidak mampu membalas anugerahMu, tidak mampu meninggalkannya dan tidak mampu menghindarinya),” (HR Al-Bukhari).

Demikianlah informasi mengenai keistimewaan di balik anjuran memulai makan dari pinggir piring menurut Rasullah SAW. Sudah sepatutnya sebagai kaum muslimin kita senantiasa meneladani apa yang sudah menjadi sunnah beliau agar mendapatkan keberkahan di dunia serta akhirat kelak.

Islam Itu Moderat, Bukan Liberal



Islam Itu Moderat, Bukan Liberal

Agama Islam tidak mengajarkan umatnya untuk kaku dalam kehidupan sosial dan bernegara. Islam mengajarkan sikap-sikap moderat.

Yang telah diterapkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Itu Islam moderat yang dicontohkan Rasulullah melalui akidah dan akhlaknya," kata Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof Ahmad Satori Ismail, Jumat (3/4).

Definisi Islam moderat sendiri, ujarnya, sebagai suatu tindakan yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunnah dalam hadists.

Sementara, Satori berpendapat, Islam moderat sangatlah jauh berbeda dengan Islam liberal yang melakukan penafsiran sebebas-bebasnya sehingga apa saja bisa ditafsirkan.

"Misalnya, tidak boleh menyerang orang yang tidak menyerang, dalam perang tidak boleh kita membunuh musuh yang tidak bersenjata, tidak boleh membunuh orang tua‎ dan pokoknya banyak sekali aturan-aturan yang menunjukan bawah Islam itu adil," katanya.

Maka, ia sepakat bahwa dakwah dalam Islam mesti lembut seperti yang disampaikan dalam Alquran Surat Al Imron. Sedangkan untuk konsep berjihad dalam konteks kekinian, ia menganjurkan agar umat Islam melawan korupsi, menghilangkan kebodohan, dan memperkuat perekonomian umat.

“Jadi jihad itu banyak macamnya. Jihad dengan ilmu ada, dengan pendidikan, jihad bidang ekonomi,” terangnya.

Islam Indonesia, Islam Jalan Tengah





Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin menilai yang dimaksud Islam moderat itu tidak terjebak pada ekstrimitas seperti paham radikal dan juga paham liberal. “Islam di sini merupakan Islam jalan tengah, toleran –dalam pengertian-- bertenggang rasa kepada pihak lain. Tidak boleh kemudian main pokoke,” tegasnya.

Termasuk Islam yang inklusif atau Islam yang menampung semuanya. Bukan eksklusif atau Islam yang kemudian ingin mendepak atau mengeluarkan orang lain, apalagi dengan sesama muslim. Ini jauh dari nilai-nilai wasathiyah.

Wasathiyah semacam itulah yang ingin dikedepankan dan ini merupakan ajaran Alquran. Implementasinya, MUI harus menjadi tenda besar yang sejati sebagaimana disampaikan oleh Bapak Presiden RI.

Yang sejati ini dalam pengertian menaungi seluruh kelompok umat Islam baik yang bergabung pada ormas- ormas Islam maupun yang belum bergabung dan jumlahnya juga sama besarnya.

Kedua jangan eksklusif atau ingin mengenyahkan, sedikit- sedikit mengkafirkan, sedikit- sedikit menyesatkan orang lain. Ini wawasan- wawasan yang eksklusif dan bertentangan dengan prinsip wasathiyah. “Jadi Munas ini ingin mengukuhkan wawasan keislaman seperti itu,” kata Din.

Ia juga menyampaikan, memang ada keperluan untuk bagaimana menginternasionalisasikan faham budaya Islam di Indonesia ini keluar. Pertama karena ada tangungjawab moral Indonesia ini merupakan negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. 210 juta menjadikan Indonesia ini menjadi negara berpenduduk beragama Islam terbesar di dunia.

Kedua karena ada masalah di dunia Islam, terutama di Timur Tengah. Maka faham keislaman wasathiyah ini perlu ditekankan keluar.

Oleh karena itu, Din menyarankan agar MUI kedepan tidak hanya mengurus umat Islam di Indonesia, tapi juga mengurus umat Islam di dunia. Karena itu harus ‘go internasional’. “Untuk hal ini diperlukan lankah- langkah dan kiat nyata yang sekarang ini sudah kita mulai,” tambahnya.

Tiga Syarat Menuju Kebangkitan Islam



Memasuki abad ke-21 ini, Islam memang menjadi harapan baru untuk menyelamatkan dunia kita dari degradasi beradaban dan kehidupan manusia hampir dalam segala aspeknya. Tapi untuk terjadinya kebangkitan itu, umat Islam memerlukan keberanian untuk melakukan “mandi besar” dari berbagai penyimpangan-penyimpangan besar dari nilai-nilai dasar Islam. Salah satu penyimpangan umat ini dari Islam adalah berbagai perilaku atas nama Islam yang justru tidak mencerminkan akhlaqul karimah yang diajarkan oleh Islam itu sendiri.  


Begitu komentar Imam Shamsi Ali, Imam besar Islamic Center New York, Amerika Serikat, asal Indonesia, untuk bukuKebangkitan Kedua Umat Islam karya Yusuf Effendi. Dalam endorsment-nya, tokoh kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, itu mengaitkan antara semangat kebangkitan Islam tak ubahnya dengan semangat kelahiran Islam, sama-sama memiliki misi penyelamatan masa depan dunia. Dahulu, Islam datang menyelamatkan bangsa Arab dari degradasi peradaban dan kehidupan, menyelamatkan Roma dan Persia dari arogansi militerisme dan perang. Dan, kini untuk menyelamatkan dunia dari degradasi beradaban dan kehidupan manusia hampir dalam segala aspek.

Komentar Imam Shamsi Ali yang menekankan pada aspek akhlak itu memperkuat ide dasar buku karya Yusuf Effendi ini. Ada tiga syarat menuju kebangkitan Islam yang diajukan oleh Yusuf Effendi: kematangan berdemokrasi, kemuliaan akhlak, dan kecintaan pada ilmu. 

Mengelaborasi tiga syarat kebangkitan itu, buku ini menyajikan tiga bagian utama. Bagian pertama mengulas sistem demokrasi ala empat sahabat Nabi, bagian kedua memotret masa kerajaan absolut, dan bagian ketiga formula menuju kebangkitan umat Islam. Ketiga bagian itu saling pilin-memilin, satu dengan yang lain tak dapat dipisahkan. Bagian pertama menjadi inspirasi, bagian kedua sebagai bahan introspeksi, dan bagian ketiga mengambil semangat bagian pertama dan mengambil pelajaran berharga dari bagian kedua.    

Penulis buku ini percaya bahwa demokrasi itu selaras dengan Islam. Ia memberi bukti, bahwa empat pemimpin Islam pasca Nabi (khalifah rasyidah) menganut pola republik, karena mereka ditetapkan oleh dan berasal dari rakyat yang diwakili oleh tokoh. Selain itu, kebijakan khalifah ditetapkan melalui musyawarah. Demokrasi yang dijalankan adalah demokrasi yang memiliki “batas” (hudud) berupa nilai-nilai agama. (hlm 39-40) 

Basis demokrasi kala itu tak lain adalah akhlak para khalifah, mereka menerapkan nila-nilai agama. Abu Bakar menolak gelar “Khalifah Allah”, dan meluruskannya menjadi “Khalifah Rasul”. Berkat kearifan itu, Islam tidak terjerumus menjadi agama pembenar teokrasi. Dengan kemuliaan akhlak, khalifah rasyidah menjaga kesetaraan, yang membuat kebebasan berbicara dan berpendapat terjamin. Pada masa Khalifah Umar, demokrasi semakin kukuh karena adanya“check and balances” dengan memisahkan kewenangan peradilan dari kewenangan khalifah selaku eksekutif. Bahkan diletakkan pula dasar-dasar “good governance” dalam pengaturan tunjangan Negara. Khalifah Usman meneguhkan demokrasi dengan kegandrungannya terhadap dialog, kendati dapat mengancam keselamatan dirinya. Terakhir, Khalifah Ali memperkuatnya dengan keadilan sosial, karena menilai keadilan—di samping cinta kasih—adalah kebajikan utama Islam.

Setelah memutar-ulang kisah awal Islam dengan empat khalifah itu, buku ini lantas mengulas masa peralihan kekhilafahan ke era kerajaan. Dengan menerapkan tata-pemerintahan yang berbeda dengan empat khalifah, Umayyah dan Abbasiyah menganut sistem dinasti. Dengan sangat gamblang, penulis buku ini menyajikan gambaran kelam masa ini. Sejumlah peristiwa berdarah terjadi di antara keluarga istana, ada pula yang dilakukan oleh penguasa terhadap masyarakat. 

Namun, selain sisi kelam, Yusuf Effendi juga mengulas sisi kemajuan umat Islam di masa itu. Pada masa Abbasiyah, kaum muslim mengalami kemajuan di bidang keilmuan. Para pemuka kaum Abbasiyah menempuh dua strategi. Pertama, rekayasa sosial, dengan menyebarkan paradigma kemuliaan dari khazanah Islam, seperti mencari ilmu maupun mendirikan sekolah; dan kedua, memfasilitasi kemudahan pembelajaran dengan mendirikan pabrik kertas, membangun rumah sakit, peneropongan bintang (observatorium), berbagai pusat kajian ilmu dan biro penerjemahan. 

Adopsi ilmu dari budaya asing melandasi seluruh upaya tersebut sebelum dikembangkan sendiri oleh kaum Abbasiyah. Dengan cara itu, hanya dalam waktu dua generasi, kaum Abbasiyah sudah berhasil menjadi pusat kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan dunia, baik pada ilmu-ilmu murni maupun ilmu terapan.

Kaum Abbasiyah berhasil menghadirkan penemuan yang mengagumkan di bidang matematika, fisika, astronomi dan ilmu bumi, kedokteran, farmasi dan teknologi militer. Di bidang agama, kodifikasi hadis maupun rumusan ilmu kalam; sejarah dan lain-lain juga dituntaskan pada zaman ini. Namun, di bidang ilmu politik walaupun berhasil dirumuskan pemikiran cemerlang dari al-Mawardi dengan “Teori Kontrak Sosial” atau Ibnu Kaldun dengan “Teori Konstitusi”, namun keduanya tidak berhasil mengubah sistem kerajaan mutlak Abbasiyah. Zaman kemunduran Islam juga ditandai oleh kemunduran di bidang demokrasi dan akhlak, walaupun di bidang ilmu tidak mundur melainkan stagnan. Masa kemunduran itu dimulai terutama pada jaman Abbasiyah akhir, yaitu pasca penghancuran Baghdad oleh kaum Mongol.

Berkaca dari pengalaman panjang umat Islam, pada bagian terakhir buku ini, penulis menawarkan formula kebangkitan. Ia memaparkan strategi kebangkitan dengan terlebih dahulu mencatat bukti-bukti kemiskinan dan keterbelakangan umat Islam di seluruh dunia. Kemiskinan dan keterbelakangan yang relatif merata itu menurut Yusuf Effendi disebabkan oleh tiga hal. Pertama, terlantarnya keadilan sosial selama 1000 tahun masa kerajaan mutlak. Kedua, karena penjajahan bangsa Eropa yang telah merampas peran kaum Muslim sebagai pedagang antar Negara. Ketiga, kegagalan usaha kebangkitan pasca penjajahan karena tidak berhasil mengalahkan kekuatan sistem penjajahan modern di semua bidang.

Yusuf Effendi memaparkan dua kemungkinan strategi: melalui perbaikan manusia atau “alatnya”. Pilihannya melalui perbaikan manusia yang paling utama adalah aspek akhlak. Di atas segalanya, akhlak atau ihsan adalah bagian dari agama, tepatnya sebagai pilar ketiga di samping pilar iman (akidah, tauhid) dan Islam yang di dalamnya ada syariat. Pilihan melalui “alatnya” yakni perbaikan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan. (hlm 396-400). 

Karena kebangkitan adalah upaya budaya yang kompleks, maka perlu disederhanakan melalui pendekatan sistem (system approach). Dalam sistem itu, kebangkitan dianalogikan dengan “transformasi” melalui usaha politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan yang telah disinergikan dengan pengaruh global di bidang politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan dengan menggunakan “saringan akhlak dan ilmu” kemudian diperkuat oleh faktor-faktor positif (pengaruh internal) dari dunia kaum Muslim. 

Jika umat melakukan semua itu dengan kesungguhan, dalam waktu 100-150 tahun (kaum Abbasiyah dalam 70 tahun), umat Islam dapat meraih kembali kejayaannya. Tetap dengan dalil demokrasi, akhlak, ilmu. 

Selain kaya informasi sejarah, penyajian bergaya popular dan gaya tutur yang lugas menjadi keunggulan yang paling menonjol dari buku ini. Kita dapat mengetahui sejarah bagaimana dinamika pembentukan Dewan Pemilih Khalifah, ahlul-halli wal-‘aqdi pada masa Umar ibn Khattab. Kita juga dapat membaca kisah “petualangan” politik dan intelektual Ibnu Khaldun. Banyak narasi lain yang tidak sebatas kisah tapi diletakkan dalam konteks kekinian. Dari situ kita menyerap optimisme, bahwa Islam dapat bangkit menuju kemuliaan. 

Data buku

Judul Buku : Kebangkitan Kedua Umat Islam, Jalan Menuju Kemuliaan
Penulis : Yusuf Effendi
Penerbit: Naura Books (Mizan Grup)
Cetakan : I, Februari 2015
Halaman : lii + 557
ISBN : 978-602-0989-34-1
Peresensi: Banani Bahrul-Hassan, pecinta kajian hukum, demokrasi, dan keislaman

Sunah Itu Memang Super




1⃣ B.A.B duduk, beresiko tinggi terkena wasir/ambeien. BAB jongkok lebih bersih dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

2⃣ Kencing berdiri beresiko prostat dan batu ginjal. Kencing jongkok lebih bersih dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

3⃣ Enzim di tangan membantu makanan lebih mudah dicerna. Dibanding dengan besi, kayu, atau plastik, makan dengan tangan lebih bersih, fitrah dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

4⃣ Makan dan minum berdiri dpt mengganggu perncernaan. Dengan duduk lebih santun dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

5⃣ Makan di kursi, masih kurang menyehatkan. Dengan duduk di lantai, tubuh akan membagi perut menjadi 3 ruang: udara, makanan dan air, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

6⃣ Makan buah setelah makan (cuci mulut) kurang bagus bagi lambung, karena ada reaksi asam. Yang sehat adalah makan buah sebelum makan, membantu melicinkan saluran pencernaan dan membuatnya lebih siap, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

7⃣ Tidur tengkurep tidak bagus untuk kesehatan, bahkan itu tidurnya syetan. Tidur menghadap kanan lebih menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

8⃣ Banyak Rahasia Sunnah yg telah diteliti para pakar, dari segi hikmah, manfaat, dan kesehatan. Benarlah yg dikatakan: di balik sunnah ada kejayaan. Bagi kita, jika misalnya belum tahu manfaatnya, terus saja semangat mengikuti adab dan tuntunan Rasul. Manfaat itu efek samping, motivasi utamanya adalah mengikuti adab dan tuntunan Rasul.

9⃣ Seorang dokter Eropa berkata: jika semua manusia mengamalkan 3 sunnah saja (sunnah makan, sunnah di Kamar Mandi, dan sunnah tidur), maka harusnya saya berhenti jadi dokter karena tidak ada pasien.. Subhanallah....

SYARIFUDDIN KHALIFAH KINI TELAH DEWASA, BAYI AJAIB NON-MUSLIM AFRIKA




Kembali mengingat peristiwa tahun 90-an, dunia saat itu gempar dengan berita besar seorang bayi berumur 2 bulan dari keluarga Katholik di Afrika yang menolak dibaptis. “Mama, unisibi baptize naamini kwa Allah, na jumbe wake Muhammad” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).

Ayah dan ibunya, Domisia-Francis, pun bingung. Kemudian didatangkan seorang pendeta untuk berbicara kepada bayinya itu: “Are You Yesus?” (Apakah kamu Yesus?).

Kemudian dengan tenang sang bayi Syarifuddin menjawab: “No, I’m not Yesus. I’m created by God. God, The same God who created Jesus” (Tidak, aku bukan Yesus. Aku diciptakan oleh Tuhan, Tuhan yang sama dengan yang menciptakan Yesus). Saat itu ribuan umat Kristen di Tanzania dan sekitarnya dipimpin bocah ajaib itu mengucapkan dua kalimat syahadat.

Bocah Afrika kelahiran 1993 itu lahir di Tanzania Afrika, anak keturunan non Muslim. Sekarang bayi itu sudah remaja, setelah ribuan orang di Tanzania-Kenya memeluk agama Islam berkat dakhwahnya semenjak kecil. Syarifuddin Khalifah namanya, bayi ajaib yang mampu berbicara berbagai bahasa seperti Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Ia pun pandai berceramah dan menterjemahan al-Quran ke berbagai bahasa tersebut. Hal pertama yang sering ia ucapkan adalah: “Anda bertaubat, dan anda akan diterima oleh Allah Swt.”

Syarifuddin Khalifah hafal al-Quran 30 juz di usia 1,5 tahun dan sudah menunaikan shalat 5 waktu. Di usia 5 tahun ia mahir berbahasa Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Satu bukti kuasa Allah untuk menjadikan manusia bisa bicara dengan berbagai bahasa tanpa harus diajarkan.

a. Latar Belakang Syarifuddin Khalifah

Mungkin Anda terheran-heran bahkan tidak percaya, jika ada orang yang bilang bahwa di zaman modern ini ada seorang anak dari keluarga non Muslim yang hafal al-Quran dan bisa shalat pada umur 1,5 tahun, menguasai lima bahasa asing pada usia 5 tahun, dan telah mengislamkan lebih dari 1.000 orang pada usia yang sama. Tapi begitulah kenyatannya, dan karenanya ia disebut sebagai bocah ajaib; sebuah tanda kebesaran Allah Swt.

Syarifuddin Khalifah, nama bocah itu. Ia dilahirkan di kota Arusha, Tanzania. Tanzania adalah sebuah negara di Afrika Timur yang berpenduduk 36 juta jiwa. Sekitar 35 persen penduduknya beragama Islam, disusul Kristen 30 persen dan sisanya beragam kepercayaan terutama animisme. Namun, kota Arusha tempat kelahiran Syarifuddin Khalifah mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di urutan kedua adalah Kristen Anglikan, kemudian Yahudi, baru Islam dan terakhir Hindu.

Seperti kebanyakan penduduk Ashura, orangtua Syarifuddin Khalifah juga beragama Katolik. Ibunya bernama Domisia Kimaro, sedangkan ayahnya bernama Francis Fudinkira. Suatu hari di bulan Desember 1993, tangis bayi membahagiakan keluarga itu. Sadar bahwa bayinya laki-laki, mereka lebih gembira lagi.

Sebagaimana pemeluk Katolik lainnya, Domisia dan Francis juga menyambut bayinya dengan ritual-ritual Nasrani. Mereka pun berkeinginan membawa bayi manis itu ke gereja untuk dibaptis secepatnya. Tidak ada yang aneh saat mereka melangkah ke Gereja. Namun ketika mereka hampir memasuki altar gereja, mereka dikejutkan dengan suara yang aneh. Ternyata suara itu adalah suara bayi mereka. “Mama usinibibaptize, naamini kwa Allah wa jumbe wake Muhammad!” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).

Mendengar itu, Domisia dan Francis gemetar. Keringat dingin bercucuran. Setelah beradu pandang dan sedikit berbincang, mereka memutuskan untuk membawa kembali bayinya pulang. Tidak jadi membaptisnya.

Awal Maret 1994, ketika usianya melewati dua bulan, bayi itu selalu menangis ketika hendak disusui ibunya. Domisia merasa bingung dan khawatir bayinya kurang gizi jika tidak mau minum ASI. Tetapi, diagnose dokter menyatakan ia sehat. Kekhawatiran Domisia tidak terbukti. Bayinya sehat tanpa kekurangan suatu apa. Tidak ada penjelasan apapun mengapa Allah mentakdirkan Syarifuddin Khalifah tidak mau minum ASI dari ibunya setelah dua bulan.

Di tengah kebiasaan bayi-bayi belajar mengucapkan satu suku kata seperti panggilan “Ma” atau lainnya, Syarifuddin Khalifah pada usianya yang baru empat bulan mulai mengeluarkan lafal-lafal aneh. Beberapa tetangga serta keluarga Domisia dan Francis terheran-heran melihat bayi itu berbicara. Mulutnya bergerak pelan dan berbunyi: “Fatuubuu ilaa baari-ikum faqtuluu anfusakum dzaalikum khairun lakum ‘inda baari-ikum, fataaba ‘alaikum innahuu huwattawwaburrahiim.”

Orang-orang yang takjub menimbulkan kegaduhan sementara namun kemudian mereka diam dalam keheningan. Sayangnya, waktu itu mereka tidak mengetahui bahwa yang dibaca Syarifuddin Khalifah adalah QS. al-Baqarah ayat 54.

Domisia khawatir anaknya kerasukan setan. Ia pun membawa bayi itu ke pastur, namun tetap saja Syarifuddin Khalifah mengulang-ulang ayat itu. Hingga kemudian cerita bayi kerasukan setan itu terdengar oleh Abu Ayub, salah seorang Muslim yang tinggal di daerah itu. Ketika Abu Ayub datang, Syarifuddin Khalifah juga membaca ayat itu. Tak kuasa melihat tanda kebesaran Allah, Abu Ayub sujud syukur di dekat bayi itu.

“Francis dan Domisia, sesungguhnya anak kalian tidak kerasukan setan. Apa yang dibacanya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Intinya ia mengajak kalian bertaubat kepada Allah,” kata Abu Ayub.

Beberapa waktu setelah itu Abu Ayub datang lagi dengan membawa mushaf. Ia memperlihatkan kepada Francis dan Domisia ayat-ayat yang dibaca oleh bayinya. Mereka berdua butuh waktu dalam pergulatan batin untuk beriman. Keduanya pun akhirnya mendapatkan hidayah. Mereka masuk Islam. Sesudah masuk Islam itulah mereka memberikan nama untuk anaknya sebagai “Syarifuddin Khalifah”.

Keajaiban berikutnya muncul pada usia 1,5 tahun. Ketika itu, Syarifuddin Khalifah mampu melakukan shalat serta menghafal al-Quran dan Bible. Lalu pada usia 4-5 tahun, ia menguasai lima bahasa. Pada usia itu Syarifuddin Khalifah mulai melakukan safari dakwah ke berbagai penjuru Tanzania hingga ke luar negeri. Hasilnya, lebih dari seribu orang masuk Islam.

b. Kisah Nyata Syarifuddin Mengislamkan Ribuan Orang

Kisah nyata ini terjadi di Distrik Pumwani, Kenya, tahun 1998. Ribuan orang telah berkumpul di lapangan untuk melihat bocah ajaib, Syarifuddin Khalifah. Usianya baru 5 tahun, tetapi namanya telah menjadi buah bibir karena pada usia itu ia telah menguasai lima bahasa. Oleh umat Islam Afrika, Syarifuddin dijuluki Miracle Kid of East Africa.

Perjalanannya ke Kenya saat itu merupakan bagian dari rangkaian safari dakwah ke luar negeri. Sebelum itu, ia telah berdakwah ke hampir seluruh kota di negaranya, Tanzania. Masyarakat Kenya mengetahui keajaiban Syarifuddin dari mulut ke mulut. Tetapi tidak sedikit juga yang telah menyaksikan bocah ajaib itu lewat Youtube.

Orang-orang agaknya tak sabar menanti. Mereka melihat-lihat dan menyelidik apakah mobil yang datang membawa Syarifuddin Khalifah. Beberapa waktu kemudian, Syaikh kecil yang mereka nantikan akhirnya tiba. Ia datang dengan pengawalan ketat layaknya seorang presiden.

Ribuan orang yang menanti Syarifuddin Khalifah rupanya bukan hanya orang Muslim. Tak sedikit orang-orang Kristen yang ikut hadir karena rasa penasaran mereka. Mungkin juga karena mereka mendengar bahwa bocah ajaib itu dilahirkan dari kelarga Katolik, tetapi hafal al-Quran pada usia 1,5 tahun. Mereka ingin melihat Syarifuddin Khalifah secara langsung.

Ditemani Haji Maroulin, Syarifuddin menuju tenda yang sudah disiapkan. Luapan kegembiraan masyarakat Kenya tampak jelas dari antusiasme mereka menyambut Syarifuddin. Wajar jika anak sekecil itu memiliki wajah yang manis. Tetapi bukan hanya manis. Ada kewibawaan dan ketenangan yang membuat orang-orang Kenya takjub dengannya. Mengalahkan kedewasaan orang dewasa.

Kinilah saatnya Syaikh cilik itu memberikan taushiyah. Tangannya yang dari tadi memainkan jari-jarinya, berhenti saat namanya disebut. Ia bangkit dari kursi menuju podium.

Setelah salam, ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi. Bahasa Arabnya sangat fasih, diakui oleh para ulama yang hadir pada kesempatan itu. Hadirin benar-benar takjub. Bukan hanya kagum dengan kemampuannya berceramah, tetapi juga isi ceramahnya membuka mata hati orang-orang Kristen yang hadir pada saat itu. Ada seberkas cahaya hidayah yang masuk dan menelusup ke jantung nurani mereka.

Selain pandai menggunakan ayat al-Quran, sesekali Syarifuddin juga mengutip kitab suci agama lain. Membuat pendengarnya terbawa untuk memeriksa kembali kebenaran teks ajaran dan keyakinannya selama ini.

Begitu ceramah usai, orang-orang Kristen mengajak dialog bocah ajaib itu. Syarifuddin melayani mereka dengan baik. Mereka bertanya tentang Islam, Kristen dan kitab-kitab terdahulu. Sang Syaikh kecil mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Dan itulah momen-momen hidayah. Ratusan pemeluk Kristiani yang telah berkumpul di sekitar Syarifuddin mengucapkan syahadat. Menyalami tangan salah seorang perwakilan mereka, Syarifuddin menuntun syahadat dan mereka menirukan: “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah.”

Syahadat agak terbata-bata. Tetapi hidayah telah membawa iman. Mata dan pipi pun menjadi saksi, air mata mulai berlinang oleh luapan kegembiraan. Menjalani hidup baru dalam Islam. Takbir dari ribuan kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu terdengar membahana di bumi Kenya.

Bukan kali itu saja, orang-orang Kristen masuk Islam melalui perantaraan bocah ajaib Syarifuddin Khalifah. Di Tanzania, Libya dan negara lainnya kisah nyata itu juga terjadi. Jika dijumlah, melalui dakwah Syarifuddin Khalifah, ribuan orang telah masuk Islam. Ajaibnya, itu terjadi ketika usia Syaikh kecil itu masih lima tahun.

Para ulama dan habaib sangat mendukung dakwah Syaikh Syarifuddin Khalifah. Bahkan ulama besar seperti al-Habib ali al-Jufri pun rela meluangkan waktunya untuk bertemu anak ajaib yang kini remaja dan berjuang dalam Islam. (Dikutip dari buku Mukjizat dari Afrika, Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang; Syarifuddin Khalifah).

Sejumlah Penyebab Warga Australia Bergabung ISIS



ISIS

Di Sydney, dua pemuda mencoba pergi ke Timur Tengah untuk bergabung dengan kelompok teroris ISIS. Sementara di Melbourne, teman-teman dan keluarga Jake Bilardi bersedih, setelah remaja tersebut diduga melakukan aksi bom bunuh diri di Irak.

Itulah sekelumit contoh anak muda Australia yang mengalami radikalisasi. Tapi apa yang menyebabkan hal itu terjadi?

Zaky Mallah (31 tahun) adalah orang yang pernah mengalami hal serupa. Ia mengaku tahu bagaimana rasanya sebagai pemuda Australia ditarik untuk pergi ke Timur Tengah dan terlibat dalam konflik di sana.

Saat berusia 19 tahun, Mallah membuat video dirinya sendiri, dan mengatakan bahwa ia akan melakukan serangan terhadap kantor-kantor pemerintah di Sydney. Akibatnya, ia dijadikan tersangka berdasarkan undang-undang anti-terorisme.

Mallah kemudian ditahan di penjara super-ketat di New South Wales, dikenal dengan nama penjara Goulburn Supermax selama dua tahun, sebelum akhirnya dibebaskan.

Sekarang Mallah bertemu dengan pihak keamanan, termasuk agen rahasia Australia, atau ASIO, untuk berbagi wawasan dan pengetahuan.

"Paspor saya dibatalkan oleh ASIO di tahun 2002. Saya sangat marah," katanya. "Tapi saya bukanlah penyendiri, saya sangat marah karena kebebasan diri yang diambil," ujarnya.

Dirinya mengaku kalau satu dari alasan mengapa anak muda tertarik untuk bergabung dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam itu, adalah karena alasan sebagai 'medan perang'.

"Kita suka senjata, senapan, tank, seperti layaknya sebuah permainan," ujarnya. "Tapi yang satu ini, adalah perang nyata, bukan semacam permainan perang seperti di PlayStation atau Xbox."

Menurutnya, meyakinkan pada anak-anak muda bahwa berangkat ke Suriah untuk berjuang bersama atau ISIS adalah hal yang sangat sulit.

"Karena kita punya keyakinan bahwa khalifah harus berdiri," ujarnya. "Saya sangat percaya bahwa kekhalifahan setelah Kekaisaran Ottoman akan berdiri suatu saat, tetapi saya tidak percaya bahwa ISIS adalah khalifah yang tepat."

Hizb ut-Tahrir, salah satu gerakan politik Islami, juga percaya perlu adanya pembentukan kekhalifahan. Tapi organisasi ini banyak mendapat kritikan tajam dari Perdana Menteri Tony Abbott, yang menyebut "sangat tidak Australia" dengan alasan apapun untuk membentuk organisasi teroris.

Kepolisian Federal Australia (AFP) membentuk tim yang mengurus hubungan dengan komunitas Muslim di Melbourne, pertama kalinya di tahun 2007. Model kerjasama seperti ini kemudian dibentuk juga di kota-kota lainnya.

Tujuannya adalah untuk memperkuat hubungan antara komunitas Islam dan membangun kepercayaan.

Tapi Ali Kadri, salah satu ustad dari Holland Park Mosque di Brisbane mengatakan kepercayaan ini justru terkikis saat politisi mengecam bentuk ekstremisme Islam "untuk kepentingan politik sendiri".

AFP mengatakan hubungan yang lebih baik dengan komunitas Muslim berarti kerjasama yang baik dalam penegakan hukum dan operasi polisi, seperti operasi anti-terorisme.

Kepolisian Federal Australia sering menggelar sejumlah kegiatan bersama komunitas Muslim, seperti di akhir bulan Ramadan, membuka kesempatan umat Muslim bertemu dengan pejabat AFP, dan mencoba menanggapi propaganda online dari kelompok-kelompok ekstrimis dengan menyediakan narasi yang berbeda.

Tapi menurut Mallah, pemerintah Australia yang menyamakan Hizb ut-Tahrir sebagai sebuah kelompok teroris adalah kurang tepat.

"Banyak pemuda yang menganggap Hizb ut-Tahrir sebagai ungkapan 'lihat, kita tidak perlu lagi ke luar Australia dan bergabung dengan ISIS, kita bisa membentuk kalifah dari Australia'," tuturnya.

"Bukan berarti kita ingin ada khalifah di Australia, tetapi bisa bergabung dengan kelompok yang memiliki pemikiran yang sama... dan membantu membentuk khalifah dari Australia," tambah Mallah.

Ia juga mengatakan, "Tapi saat kita melakukan hal tersebut, pemerintah mengatakan 'kita akan melarangnya dan menyebutnya sebagai kelompok teroris'. Yang selanjutnya mengawasi, mengisolasi, dan memisahkan banyak dari kita, yang berasal dari komunitas Muslim."

"Saya percaya Hizb ut-Tahrir adalah pintu gerbang untuk menghentikan para pemuda untuk tidak berpergian ke Timur Tengah atau bergabung dengan ISIS," tambah Mallah.

ISIS

Sementara menurut Kadri, kunci utamanya adalah mengambil langkah yang justru bisa membantu anak-anak muda dan mereka yang tersingkir dari komunitas Muslim, terutama mereka yang paling rentan terhadap ideologi ekstremis.

Profesor Anne Aly, salah satu pendiri organisasi People Against Violent Extremism, mengatakan ia pun agak "behati-hat" dengan pendekatan dimana pemerintah mengidentifikasi siapa yang berisiko mengalami radikalisasi dan mendorong mereka untuk diawasi.

"Ada begitu banyak perlawanan terhadap segala ide yang dirancang pemerintah, atau konsep kebijakan ... radikalisasi," katanya. "Tindakan perlu dilakukan oleh mereka yang pernah sukses merangkul orang-orang muda."

Profesor Aly juga mengatakan meski operasi intelejen dan pengawasan memiliki peranan penting dalam mengatasi radikalisasi, pemerintah sebaiknya tidak melakukannya dengan pendekatan keamanan nasional yang ketat.

"Karena dengan menganggapnya sebagai masalah keamanan nasional, maka akan ditanggapi dengan penyelesaian masalah keamanan nasional," jelasnya.

Peter Neumann, direktur dari Pusat Kajian Radikalisasi di London, Inggris mengatakan100 anak muda, baik pria dan wanita, yang bergabung dengan kelompok radikal, bukanlah Muslim yang shaleh atau taat.

"Banyak di antara mereka memiliki masa lalu yang bermasalah," ujar Neumann.

Neumann yang pernah berpidato soal pengentasan kelompok ekstrimis di Gedung Putih, Amerika Serikat, mengatakan marjinalisasi atau pengucilan diikuti dengan pengangguran dan pendidikan yang kurang, menjadi beberapa alasan mengapa anak-anak muda di negara barat terlibat kelompok ekstrimis.

"Dan tentunya karena kepribadian, latar belakang, motivasi dan pengalaman di Suriah dan Irak sangat berbeda dengan pemerintah di negara barat, mereka pun memiliki tantangan dan masalah yang berbeda-beda," ujarnya.

Neumann yang pernah bekerja di Dewan Keamanan PBB mengatakan tindakan pencegahan harus menjadi prioritas dalam mengatasi ancaman teroris.

Menurutnya internet adalah senjata terkuat untuk menyebarkan ideologi, yang menjadi alat bagi para teroris.

Model integrasi dan merangkul antar komunitas di negara-negara barat menjadi salah satu hal paling terpenting untuk pencegahan, tambah Neumann.

"Mereka kadang merasa, karena siapa mereka, seperti apa mereka terlihat, dari mana mereka berasal, yang membuat mereka tidak merasa bagian dari kita," ujar Neumann.

Waspadai Kulit Babi di Berbagai Produk





Kulit babi terkadang ada yang digunakan sebagai bahan untuk membuat berbagai barang, seperti bagian dalam sepatu, jok, ikat pinggang, dompet, tas, dan lainnya. Hal itulah yang diingatkan oleh Meili Amalia yang memposting di facebook pada Kamis (26/2/2015) mengenai pentingnya mewaspadai bahan tersebut. Menurutnya, kulit babi punya ciri khusus yang berpola tiga titik.

“Ini kulit babi. Cirinya ada pola titik 3. Biasa digunakan sebagai jok, pelapis bagian dalam sepatu, ikat pinggang, dompet, jaket, tas, dll. Teliti sebelum membeli barang impor ya Halalovers. Jangan sampai kita beribadah sambil bawa najis,” tulisnya.

Hal ini banyak dishare oleh netizen. Ada juga netizen Mira Alfathin yang bertanya untuk memastikan apakah produk yang menggunakan kulit babi selalu ada pola 3 titik.

Menanggapi hal itu, Meili Amalia menjawab bawhwa titik tiga memang pola pori-pori bekas tempat tumbuhnya bulu babi. “Ciri yang tidak ada pada binatang lain. Yang agak sulit memang jika pada produk Pig Skin Suede. Agak samar. Silakan bisa googling kalau mau lihat gambar-gambarnya. Banyak dijadikan jaket juga,” jelasnya lebih lanjut.

Hukuman Mati di Indonesia Sesuai Syariat Islam




Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyatakan dukungannya atas ketegasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menolak pemberian grasi kepada terpidana mati kasus narkoba. Kiai Said megungkapkan hal itu usai bertemu Presiden Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis, (26/2).

“Kalau itu NU di belakang beliau, terutama penolakan permohonan grasi dari napi narkoba yang sudah divonis hukuman mati. NU di belakang presiden,” ujar Said.

Menurutnya, langkah pemerintah untuk menolak grasi napi kasus narkoba adalah tindakan yang tepat. Sebab, sesuai ajaran agama Islam, seorang pembuat dan pengedar narkoba justru tidak layak hidup.

“Kalau ini dibiarkan korbannya justru ratusan juta orang terutama kaum muda. Alquran sendiri menegaskan begitu, barang siapa yang menghancurkan tatanan kehidupan di muka bumi ini maka hukumnya harus dibunuh. Tidak layak diberi kesempatan hidup,” tegasnya seperti dilansir JPNN.COM.

Kiai Said menambahkan, narkoba telah mengakibat kerugian yang besar untuk bangsa. Karenanya, tak perlu ada rasa kemanusiaan untuk mafia narkoba.

“Orang bikin pabrik sabu-sabu, apa niatnya?apa niatnya itu. Akan menghancurkan bangsa ini. Daripada miliki kemanusiaan untuk 64 orang napi narkoba lebih baik kita bela kemanusiaan 250 juta masyarakat,” tandasnya.

Said juga mengaku senang karena presiden tidak terpengaruh dengan tekanan-tekanan dari negara asal narapidana mati kasus narkoba. Sebab, para kepala negara lain yang protes sebenarnya tengah terdesak oleh kepentingan politik di negaranya masing-masing.

“Kata beliau di Australia perdana menterinya (Tony Abbott, red) rating politiknya lagi down. Mengalami tekanan. Supaya dia bisa terdongkrak lagi makanya sikapnya keras. Bahkan di Brasil (Presiden Dilma Rousseff, red) kata presiden didemo,” sambungnya.

Demam Batu Akik, Hindari Syirik Perkuat Akidah



Demam batu akik kian ramai. Namun, seringkali ditemui ada warga menganggap akik mempunyai kekuatan sehingga mengarah ke perbuatan syirik.

Ketua Program Studi Magister Pemikiran Islam, Pendidikan Islam dan Hukum Islam, Pascasarjana UMS, Sudarno Shobron, Kamis (26/2/2016), mengatakan syirik merupakan perbuatan dosa besar.

Demam Batu Akik, Hindari Syirik Perkuat Akidah

Maka umat Islam diminta menghindari semua hal yang mengarah pada perbuatan tersebut. Termasuk mengenakan cincin akik yang dipercayai memiliki kekuatan magis atau bisa mendatangkan keberuntungan.

Sudarno menerangkan perbuatan syirik bakal merusak akidah seseorang karena membuat lalai untuk beribadahnya kepada Allah SWT. Padahal Islam telah mengajarkan kepada umat Islam yang ingin mewujudkan keinginan yaitu dengan selalu berdoa, berusaha, berikhtiar dan tawakal.

Melalui empat jalan tersebut Allah akan memberikan apa yang diinginkan seorang hamba. “90% dalam hidup ini yang terpenting ialah usaha, ikhtiar, tawakal dan berdoa,” kata dia.

Pimpinan Majelis Tafsir Al-quran (MTA), Ahmad Sukino, mengatakan perasaan syirik terjadi karena tiga hal. Ketiganya ialah iman seseorang sedang lemah, bertemu dengan orang yang salah dan memiliki pengetahuan agama yang kurang.

Maka hal yang harus dilakukan untuk menghindarinya perbanyak beribadah dan mengikuti majelis taklim. Dengan begitu akidah seseorang bakal semakin kuat dan menghindarinya dari segala perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Sukino menambahkan jika ketauhidan seseorang semakin kuat tidak akan tergoyahkan oleh apapun. Hal ini juga tugas para ulama agar meluruskan niat dan akidah umat Islam agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dilarang seperti perbuatan syirik.

Kepercayaan bahwa Alquran berukuran sangat kecil atau kitab stambul bisa mendatangkan keberkahan misalnya, hal itu juga bagian dari perbuatan syirik. Saking percayanya bahkan banyak orang yang membawanya ke mana-mana sebagai perlindungan.

“Padahal Alquran sebagai petunjuk itu maksudnya ialah pengamalan dari isinya, bukan lantas membawa kitab stambul ke mana-mana untuk melindungi diri. Kalau kitab stambul bentuknya kecil bahkan enggak bisa dibaca begitu darimana unsur petunjuknya? Ini yang harus diluruskan,” kata dia.

3 Faktor Penyebab Gangguan Kepribadian Muslim




Menjadi Muslim di era global seperti sekarang memerlukan keteguhan hati dan kesungguhan upaya untuk tetap eksis hidup di atas landasan iman dan takwa. Jika tidak, boleh jadi status kita masih sebagai Muslim, namun dalam konteks cara berpikir dan tindakan, semua justru jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap Muslim mengerti tentang kepribadian Muslim yang benar agar terhindar dari pengaruh-pengaruh destruktif di era modern yang secara cepat atau lambat akan menggerus kepribadian kita sebagai seorang Muslim.

Pertama, lingkungan. Menurut Fathi Yakan dalam bukunya Musykilat Dakwah wa Ad-Duatyah penyebab gangguan kepribadian yang paling dominan adalah lingkungan. Terutama lingkungan tempat proses pembentukan kepribadian tidak Islami.

Lingkungan yang seperti itu jelas berpengaruh signifikan terhadap setiap orang yang hidup di dalamnya, baik disengaja maupun tidak.

Kedua, persahabatan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu, bahwsannya dia mendengar Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin dan jangan ada yang menyantap makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Tirmidzin dan Abu Dawud).

Kemudian, Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu memiliki prinsip hidup yang kuat dalam soal (persahabatan) ini. “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang mampu memberikan petunjuk kepadaku untuk mengetahui kejelekan-kejelekanku.”

Dengan kata lain, sahabat adalah penentu dominan baik tidaknya seseorang. Seorang Muslim yang salah dalam persahabatan atau lebih luasnya pergaulan, maka ia akan sulit untuk memahami dan mangamalkan ajaran-ajaran Islam. Terlebih sekarang kita berada di zaman yang internet telah membuang batas-batas komunikasi dan informasi. Jika sampai salah pilih teman, maka itu akan sangat mengganggu kebaikan keimanan kita sendiri.

Sekedar sebagai contoh, dalam kontek media sosial, katakanlah twitterland, jika kita mem-follow akun tertentu dengan tanpa pertimbangan kebaikan iman, Islam dan ilmu, maka kita akan setiap hari dicekoki dengan tweet-tweet yang tidak akan menambah keimanan, ketakwaan dan keilmuan kita.

Dengan kata lain, dalam kontek dunia maya saja (media sosial) kita harus selektif untuk menentukan pilihan mem-follow sebuah akun.

Sebab jika tidak, cara berpikir kita akan terpengaruh dengan tweet yang diikuti baik cepat atau lambat, sadar atau pun tidak. Apalagi dalam kontek persahabatan yang lebih nyata dalam keseharian kita.

Pada lingkup ini, setiap Muslim mesti memiliki kesadaran tinggi, utamanya yang sudah memiliki anak usia remaja. Sebab, mereka sangat rentan tertarik pada segala hal yang menyenangkan mereka. Dan, ini tentu sangat tidak baik bagi masa depan mereka, terutama dalam membentuk pola pikir, sikap dan perilaku anak. Jadi, masalah sahabat, bukan masalah ringan dan biasa-biasa saja.

Ketiga, sombong. Sifat (sombong) ini sangat hina dan tercela. Dan, sifat ini adalah sifat yang ada pada diri Iblis yang terkutuk. Oleh karena itu, sebagai Muslim kita mesti mewaspadai sifat ini bersarang dalam benak kita. Apalagi, hal ini kadang kala bisa datang dengan tanpa kita sadari, terutama kala emosi memuncak atau muncul ketidakpuasan dalam diri atas suatu kejadian atau pun ketetapan yang harus dilalui.

Sebagaimana yang Allah gambarkan dalam Al-Qur’an perihal sifat Iblis. Ketika Allah perintahkan Iblis memberi sujud (penghormatan) kepada Nabi Adam Alayhissalam, Iblis malah menjawab, “Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. 7: 12).

Artinya, sifat merasa diri lebih baik dari orang lain adalah wujud nyata dari kesombongan. Jika ini tidak diwaspadai, bukan saja akan berdampak buruk bagi diri kita secara fisik, tetapi juga akan menghancurkan pondasi iman yang semestinya kita pelihara dengan segenap daya. Karena sombong akan membuat manusia jauh dari kebaikan pikir dan kebijaksanaan ketetapan.

Secara naluriah, manusia baik dia beriman atau tidak akan sangat benci kepada pribadi sombong. Apalagi, Allah Ta’ala. Jadi, perkara (sombong) ini harus benar-benar diwaspadai agar ke-Islam-an kita tidak terciderai dan ternodai.

Sebab, sombong adalah hak Allah Ta’ala. “Sombong adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah selimut-Ku. Barang siapa menyaingi-Ku di dalamnya, aku pasti akan menghukumnya” (HR. Abu DAwudd, Ibnu Majah & Ibn Hibban).

Dengan demikian, tiga hal dalam uraian ini sangat penting untuk menjadi perhatian utama setiap Muslim. Karena, siapa lalai, akan sangat mungkin iman dalam dirinya akan tergerus terus menerus, sementara kita masih merasa diri sebagai Muslim yang baik. Padahal, kita sudah nyata-nyata berada dalam bahaya, kehilangan kepribadian agung sebagai pribadi Muslim. Wallahu a’lam.*

26 Dosa Istri pada Suami




NAMANYA juga hidup berumah tangga, pasti ada saja gesekan antara suami dan istri. Dan mungkin juga apa yang kita lakukan sebagai seorang istri ada yang tidak berkenan di hati suami kita.

Coba lihat 26 poin di bawah ini, jangan-jangan pernah ada yang kita lakukan?

26 Dosa Istri Kepada Suami:

1. berlebihan dan menuntut kesempurnaan
2. kurang memperhatikan orang tua suami
3. kurang mempercantikkan diri di hadapan suami
4. banyak berkeluh kesah dan kurang bersyukur
5. mengungkit-ungkit kebaikan kepada suami
6. menyebarkan masalah rumahtangga kepada orang lain
7. kurang memperhatikan posisi dan status sosial suami
8. kurang membantu suami dalam kebajikan dan ketakwaan
9. membebani suami dengan banyak tuntutan
10. membuat suami risau dengan banyak menjalin hubungan
11. bersikap nusyuz terhadap suami
12. menolak ajakan suami berhubungan badan tanpa alasan yang jelas
13. lalai dalam melayani suami
14. memasukkan orang yang tidak diizinkan suami de dalam rumahnya
15. keluar dari rumah tanpa izin suami
16. menaati suami dalam kemaksiatan kepada Allah swt
17. cemburu berlebihan terhadap suami
18. buruknya perilaku isteri bila suamiberpoligami
19. lalai dalam mendidik anak-anak
20. kurang perhatian terhadap keadaan dan perasaan suami
21. menyebarluaskan rahsia tempat tidur
22. isteri mendeskripsikan seorang perempuan kepada suami
23. menggugat kepimpinan suami
24. isteri yang ikhtilah dan tabarruj di hadapan kaum laki-laki
25. kurang setia terhadap suami
26. kurangnya ketakwaan kepada Allah setelah berpisah dari suami.

32 Dosa Suami terhadap Istri




KELUARGA diibaratkan seperti batu bata pertama dalam sebuah bangunan masyarakat. Apabila keluarga baik, maka masyarakat pun akan ikut menjadi baik dan sebaliknya jika keluarga rusak, maka masyarakat akan menjadi rusak pula.

Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian kepada urusan keluarga dengan perhatian yang sangat besar, sebagaimana Islam juga mengatur hal-hal yang dapat menjamin keselamatan dan kebahagiaan keluarga tersebut.

Sangat fundamental dalam keluarga adalah perlakuan seorang suami terhadap istrinya. Bisa jadi juga berbuah dosa. Coba cek poin-poin di bawah ini.

1. Lalai Berbakti kepada orang tua setelah menikah
2. Kurang serius dalam mengharmonisasikan antara istri dan orang tua
3. Ragu dan buruk sangka kepada istri
4. Kurang memiliki sikap cemburu terhadap istri
5. Meremehkan kedudukan istri
6. Melepaskan kendali kepemimpinan dan menyerahkannya kepada istri
7. Memakan Harta istri secara batil
8. Kurang semangat dalam mengajari istri ajaran-ajaran agamanya
9. Bersikap pelit terhadap istri
10. Datang secara tiba-tiba setelah lama pergi
11. Banyak mencela dan mengkritik istri
12. Kurang berterima kasih dan memotivasi istri
13. Banyak bersengketa dengan istri
14. Lama memutus hubungan dan meninggalkan istri tanpa sebab yang jelas
15. Sering berada di luar rumah dan jarang bercengkrama dengan keluarga
16. Interaksi yang buruk dengan istri
17. Tidak menganggap penting berdandan untuk istri
18. Kurang perhatian terhadap doa yang dituntun ketika menggauli istri
19. Kurang memperhatikan Etika, Hikmah dan Hukum hubungan badan
20. Menyebarkan rahasia ranjang
21. Tidak mengetahui kondisi biologis perempuan
22. Menggauli istri ketika haid
23. Menggauli istri pada duburnya
24. Memukul istri tanpa alasan
25, Kesalahan tujuan poligami
26. Tidak bersikap Adil antara beberapa istri
27. Terburu-buru dalam urusan Talak
28. Tidak mau mentalak, padahal sudah tdk mungkin ada perbaikan dan kecocokan
29. Mencela istri setelah berpisah dengannya
30. Menelantarkan anak-anak setelah mentalak istri
31. Kurang setia terhadap istri
32. Kurang puas dan selalu melirik perempuan lain.

Erdogan: Barat tidak Menyukai Orang Islam




Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan negara-negara Barat tidak dapat menyelesaikan masalah Timur Tengah, karena orang-orang Eropa dan AS tidak menyukai Muslim.

"Hanya kita yang bisa menyelesaikan masalah kita," ujar Erdogan saat berpidato di depan Komite Tetap untuk Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan Organisasi Kerjasama Islam (COMCEC) di Istanbul.

"Orang asing hanya menyukai minyak, emas, berlian, dan tenaga kerja murah dunia Islam," lanjutnya. "Mereka menciptakan konflik, perkelahian, dan pertengkaran sesama negara Timur Tengah. Percayalah, mereka tidak seperti kita."

Menurut Erdogan, satu-satunya mengatasi krisis di dunia Islam adalah persatuan, solidaritas, dan aliansi. Negara-negara Timur Tengah, masih menurut Erdogan, sangat bisa menyelesaikan masalah selama bisa bersatu.

"Jika kita bertindak bersama-sama, kita bisa mengakhiri kesepian Palestina yang berlangsung setengah abad," demikian Erdogan. "Kita bisa mengakhiri pertumparan daran di Irak, dan pembunuhan anak-anak Suriah."

Kisah Kesultanan Turki dalam Film Dracula Untold



Dracula Untold, film ini hadir di bioskop Indonesia pada bulan Oktober ini. Jika kita mengenal drakula sebagai makhluk yang seram dan jahat. Dalam film ini disajikan penggambaran yang berbeda yaitu kepahlawanan dalam sosok drakula.

Namun ternyata film ini banyak dibicarakan dan menjadi kontroversi di negara Malaysia. Mengapa demikian? Berikut jalan cerita dari film Dracula Untold.


Sekitar tahun 1400-an, Turki menguasai dunia. Mereka mengambil anak laki-laki usia belia untuk dijadikan pasukan tentara mereka. Transylvania, menjadi wilayah yang paling banyak diambil anak laki-lakinya. Dan salah satu dari anak laki-laki tersebut, adalah Vlad (Luke Evans).

Begitu dewasa, Vlad memutuskan untuk kembali ke Transylvania, ke Castle Dracula, tempat asalnya. Di sana ia menjadi seorang pangeran, bukan lagi prajurit perang untuk Turki.

Lama sudah Vlad meninggalkan dunia peperangan, bahkan lebih lama dari waktunya tinggal di Turki. Namun sahabat karibnya sewaktu perang, Mehmed (Dominic Cooper), yang saat ini menjadi seorang sultan Turki, tiba-tiba datang menemui Vlad. Terkejut, apalagi setelah Vlad mengetahui maksud kedatangan Mehmed yang ingin meminta seribu orang anak laki-laki untuk dijadikan tentara Turki. Dan permintaannya satu lagi, adalah dengan memberikan Ingeras (Art Parkinson), putera tunggal Vlad, kepada Mehmed, dan dibesarkan di sana, sebagaimana Vlad dahulu.

Dan jika Vlad tak memenuhi permintaan Mehmed, maka peranglah yang akan terjadi. Sebagai seorang pangeran, Vlad tentu tak ingin rakyatnya menjadi korban. Juga sebagai seorang ayah, ia tak akan mau menyerahkan putera sematawayangnya untuk dijadikan tentara Turki.

Vlad pun memutuskan untuk tidak memenuhi permintaan Mehmed. Dan sekarang yang menjadi permasalahan adalah, pasukan Turki di bawah komando Mehmed akan segera menyerang istana tempat Vlad dan rakyatnya bernaung. Vlad akhirnya merubah dirinya menjadi drakula dan mendapat pasukan kuat untuk melawan pasukan Turki dari bantuan Iblis.

Inilah kebenaran legenda tentang sosok Dracula di mata Gary Shore (pembuat). Dracula Untold membawa cerita keluar dari jalur yang sudah menjadi perspektif masyarakat selama ini.

Yang menjadi kontroversi saat ini adalah pencitraan kesultanan Turki yang dibolak-balikan faktanya dalam film tersebut. Kesultanan Turki dicitrakan dengan sosok menakutkan dan penjahat dunia. Sementara di tangan kesultanan Turkilah Islam pernah berjaya. [ds/islampos/serelofilm]

Zionis dalam Diri Kita





Coba bayangkan, jika Anda punya saudara banyak, sampai 11 orang. Bisa bikin kesebelasan sepakbola. Tapi, repotnya di antara saudara Anda ternyata ada yang “kurang beres”. Dia dibakar rasa iri dan dengki, karena melihat orangtuamu mungkin kerepotan mengatur hubungan yang sama rata sama rasa. Padahal, manusiawi aja yak, mengurus 12 anak kan tidak gampang. Mengingat namanya saja susah.

Kakak Anda yang sulung, misalnya nih, melihat ortu lebih
 sayang dan memperhatikan Anda dan adikmu yang paling 
bungsu. Mestinya kan dia yang memonopoli kasih sayang dan
 perhatian, lalu kemudian mendistribusikan hal itu kepada adik-adiknya. Biasalah, “Big Brother” tak mau disaingi siapapun. Padahal, sekali lagi, kalau mau jadi “suheng” alias “kakak pertama” yang baik hati, bisa saja kan. Kakak yang baik dan bijak bisa menjadi “orangtua kedua” bagi adik-adiknya. Tak perlu ada monopoli atau oligarki dalam cinta keluarga.

Kenyataan pahit macam itu dialami Nabi Yusuf. Anda tahu, Yusuf adalah salah seorang putra Nabi Ya’qub. Dari empat orang isterinya (Layya, Rahil, Zulfah, dan Bilha), Nabi Ya’qub mendapat amanah total 12 anak (Roubin, Syamu’un, Lawi, Yahuza, Yasakir, Zabulon, Yusuf dan Bunyamin, Jad dan Asyir, lalu Naftali serta Dan). Yusuf dan Bunyamin adalah anak kandung Rahil. Sebenarnya Nabi Ya’qub, yang dipanggil Israil, tak pernah mendiskriminasikan perlakuan terhadap para isteri dan anaknya. Hanya oknum yang “piktor” (berpikiran kotor) saja punya kesan begitu.

Nah, di antara anak keturunan Ya’qub – mereka dijuluki Bani Israil – sayangnya cukup banyak oknum yang piktor dan “hatori” (hati kotor karena dengki). Salah satunya Yahuza, dalam istilah lain dipanggil Yehuda. Dia menghasut sodara-sodaranya untuk mengucilkan Yusuf dan Bunyamin, bahkan lebih sadis lagi bermaksud “menghabisi” Yusuf. Ingat ya, jangan sampai deh punya binatang piaraan bernama iri-dengki, sebab melalui channel itu setan lalu bisa menguasasi diri kita untuk melakukan tindakan keji.

Dalam Al Qur,’an, surat Yusuf ayat 4-5, diungkapkan alasan sederhana mengapa Yahuza membenci Yusuf. Pada suatu malam, Yusuf bermimpi “menyaksikan sebelas bintang, lalu matahari dan rembulan, semua bersujud kepadanya”. Karena penasaran, Yusuf menceritakan hal itu kepada ayahnya, tapi Ya’qub justru melarang Yusuf untuk menceritakan mimpi itu kepada saudaranya yang lain, karena “mereka akan membuat tipu daya untuk membunuhmu, sungguh setan itu musuh yang nyata bagi manusia”.

Sebelas bintang itu mungkin bermakna jumlah saudara Yusuf, sedang matahari dan bulan bisa berarti kedua orangtuanya. Makna ini perlu dicek ke ahli tafsir, termasuk arti “bersujud” yang mengandung penghormatan atau penghargaan, bukan berarti penyembahan nih. Intinya, lewat mimpi itu Allah mengabarkan, Yusuf akan menempati kedudukan terhormat suatu hari kelak. Pada masa dewasa, Yusuf memang menjadi pejabat tinggi di negeri Mesir, dan ditunjuk pula sebagai Nabi pembawa risalah.

Dari kisah keluarga Ya’qub ini kita tahu, salah satu watak buruk bangsa “Yahudi” – keturunan Yehuda tuh – adalah suka iri, dengki dan merasa paling unggul sendiri. Sifat itu persis sama dengan iblis dan setan yang membenci manusia. Sifat itu telah merusak keharmonisan keluarga Ya’qub, dan selanjutnya membawa kerusakan bagi kehidupan manusia sesudahnya. Secara politik, sifat itulah yang dirumuskan menjadi ideologi “Zionis”. Inti ajarannya, Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan, karena itu lebih mulia dari bangsa lain, dan seharusnya mendominasi percaturan dunia.

Pendukung Zionisme yang dipelopori Theodore Herzl punya keyakinan, Yahudi harus mendirikan negara di Palestina yang dipandang sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan (The Promised Land). Mereka tidak peduli di situ sudah ada penduduk asli yang menetap lama, sedang Yahudi selama berabad-abad dalam keadaan terpencar (diaspora).

Faktanya, tak semua pemeluk Yahudi mempercayai Zionisme. Di Inggris ada kaum Yahudi bernama “British Jews for Peace”, yang menolak penjajahan atas Palestina dan menentang berdirinya “negara Israel” (The Jewish State). Mereka membentuk organisasi “Neturei Karta” dan punya anggota di wilayah Amerika Utara serta Eropa, cuma kalah pamor dibanding pengikut Zionisme Internasional. Salah seorang tokoh Yahudi kultural yang kemudian beralih menjadi pemuka Marxis, dan akhirnya memeluk Islam, adalah Roger Garaudy. Tokoh berkebangsaan Perancis itu telah membongkar kebohongan Zionisme politis.

Coba perhatikan, apa ada Zionis di sekitar kita? Sesekali introspeksi diri, apa ada penyakit Yahudi (piktor dan hatori) dalam diri kita? Seperti virus yang menyerang komputer, ancaman itu harus ditangkal dan dibersihkan segera. Jangan sampai menyerang memori dan melumpuhkan daya tahan kita.

Soal Film ‘Dracula Untold’, Felix Siauw: “Hollywood Menyesatkan Dunia”




Ustadz muda Felix Siauw buka suara soal film Dracula Untold yang memang banyak memutarbalikkan fakta sejarah. Dalam web pribadinya, Felix Saiuw menuliskan pendapatnya terkait hal ini. Berikut adalah pandangannya:

Terus terang sampai saat saya menulis artikel ini, saya sama sekali belum pernah menyaksikan film yang “Dracula: Untold” yang dirilis industri film terbesar dunia Hollywood itu. Yang jelas sebelum saya menyaksikan sebenarnya saya pun sudah mendapat kabar bahwa film tersebut akan ditayangkan pada bulan Oktober ini.

Bagi saya, Dracula punya tempat tersendiri dalam benak. Bukan karena saya fans Dracula, tapi lebih kepada secara historis, banyak sekali tokoh-tokoh yang terdistorsi, dan akhirnya berujung pada penggambaran tidak sebenarnya, termasuk Dracula yang sebenarnya punya kelindan sejarah dengan sejarah Islam.

Sebagai seorang Muslim yang menggemari sejarah, khususnya sejarah Khilafah Utsmani, lebih khusus lagi rentang waktu masa kebangkitan dan kejayaan Utsmani (1453 – 1571), nama Dracula semakin penting bagi saya, karena berkaitan erat dalam rentang waktu yang saya dalami sejarahnya. Dracula berkaitan dengan tokoh sentral yang membawa Utsmani ke masa kegemilangannya yaitu Sultan Mehmed II Al-Fatih, juga berkaitan dengan serentetan peristiwa yang terjadi di masa pemerintahannya.

Bila ada yang paling bertanggung jawab atas distorsi Dracula maka Bram Stoker adalah orangnya, dari novel yang dibesutnya, Dracula diingat oleh orang tidak ada ubahnya seperti setan, kastil mengerikan, vampire, dan tokoh-tokoh mengerikan lainnya. Walaupun Bram Stoker tidak salah secara total, Dracula memang sadis dan mengerikan aslinya, bahkan kesadisannya melewati kesadisan yang pernah ada dalam sejarah manusia, namun tetap Dracula versi Bram Stoker bukanlah Dracula yang sebenarnya.

Karenanya tatkala menyaksikan trailer “Dracula: Untold”, setengah diri saya merasa bergembira, sontak saya berkata kepada Sayf Muhammad Isa, rekan penulis saya di buku Novel Serial “The Chronicles Of Ghazi”

“Sa, akhirnya ada film yang menggambarkan sosok Dracula yang benar sebagaimana sejarah! Walaupun tau sendiri lah, Hollywod akhirnya mencampurkannya dengan takhayul untuk kepentingan komersial, pake bisa berubah jadi kelelawar segala, kayak betmen aja..”.

Saya tidak berharap banyak pada Hollywood, dan saya sudah menebak bahwa film ini akan penuh dengan twist sejarah sebagaimana film Hollywood yang sudah-sudah, secara mereka memang bukan lembaga penelitian sejarah, namun pembuat hiburan. Dan Hiburan sebagaimana yang kita ketahui, jarang yang memperhatikan efek edukasi dan kebenaran sejarah.

Karenanya menjadi sebuah tanggung jawab bagi saya seorang penggemar sejarah Islam, untuk mengkritisi film ini, dan menyajikan fakta-fakta yang sebenarnya, agar kaum Muslim memiliki opsi tentang sejarah Dracula yang sebenarnya, dan bahkan mengetahui sejarah yang sebenarnya.

Sedikit Jalan Cerita “Dracula: Untold”

Mengambil setting pada abad ke-15 lebih tepatnya sekitar tahun 1461, dikisahkan Vlad III (Dracula) yang sedang berkuasa di Transylvania kedatangan utusan dari Kesultanan Turki Utsmani yang dipimpin oleh Hamza Bey untuk menyerahkan 1.000 laki-laki untuk dijadikan pasukan khusus bagi Sultan Mehmed II.

Mengetahui bahwa 1.000 anak laki-laki yang diminta akan dilatih menjadi pasukan khusus Turki sebagaimana dirinya, Vlad tidak ingin anak muda Transylvania dilatih seperti dirinya, yang menjadi mesin pembunuh sempurna tanpa kode etik dan moral. Dia menolak permintaan itu, dan dari sinilah masalahnya dimulai.

Singkat cerita, karena kekurangan jumlah pasukan dan infrastruktur, Vlad menjual jiwanya pada Master Vampire yang memberinya kekuatan malam, kekuatan terlarang yang dengannya dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, termasuk menghancurkan pasukan Turki hanya dengan kekuatannya saja.

Dus, pertempuran antara Vlad dan Mehmed tidak bisa dielakkan, demi melindungi putranya dan juga keluarganya, serta seluruh Transylvania dan juga Eropa yang berada dalam bahaya invasi Mehmed yang bengis, Vlad harus menjual jiwanya, dia harus menjadi jahat untuk punya kekuatan dan menang. Dan begitulah akhirnya, Vlad berhasil mengalahkan Mehmed dan membunuhnya dengan cara menghisap darahnya, cerita pun berakhir. Dan Vlad telah mati, dan Dracula pun lahir.

Dan tanpa sadar, sekali lagi Hollywood menyesatkan dunia, menjadikan Islam dan Muslim sebagai antagonis, dan kekejaman Vlad seolah dihumanisasi, dianggap wajar demi melindungi keluarganya, dan mempertahankan dunia Barat, Kristen sebagai protagonis. Dan sekali lagi, dengan mengorbankan fakta-fakta sejarah yang sebenarnya.

Alasan Mengapa Syiah Mudah Diterima



Secara syariat, Syiah memang berbeda dengan Sunni. Namun, pada kenyataannya Syiah begitu mudah menjamur dan diterima oleh berbagai kalangan. Mengapa demikian?

Alasan Mengapa Syiah Mudah Diterima

Seperti yang tertuang dalam sesi diskusi Daurah Syar’iyyah ‘Alaikum Bisunnati yang diselenggarakan AQL Islamic Centre, bekerjasama denganal-Haiah al-‘alamiyah Li al-Ta’rif bi al-Islam, seorang peserta bertanya, “Kenapa Syiah begitu mudah diterima?”

Mendengar jawaban tersebut, Syeikh Dawud bin Sulaiman al-Mahi, pemateri yang datang dari Arab Saudi menjawab, “Secara manusiawi, orang-orang tidak senang dibebankan tugas-tugas syariat berupa ibadah, atau taklif. Dalam Syiah mereka dapatkan ini, selama sudah beriman kepada wilayah Ali maka sudah dijamin surga, bagaimanapun dan berapapun dosanya,” LPPI Makassar melaporkan.

Tidak hanya senang dengan hilangnya beban taklif, dalam Syiah, para penganutnya juga mendapat pemuas birahi syahwat dengan “Nikah mut’ah.”

Begitu juga dalam agama Kristen, selama sudah dibaptis maka dia pasti sudah dijamin surga. Semua dosanya sudah terhapus dengan pengorbanan Yesus. Keyakinan ini mirip-mirip dan ada juga dalam Syiah. Dosa-dosa orang Syiah sudah dihapuskan dengan pengorbanan Imam Husein radhiyallahu ‘anhu di padang Karbala. [lppimakassar]