Alasan Ustaz Erick Yusuf Izinkan Santrinya Utak Atik Gadget





Pendiri dakwah kreatif iHAQI Ustaz Erick Yusuf memaparkan konsep pendirian SMP Kreatif iHAQI yang memadukan pendidikan agama dengan kemajuan teknologi.

"Beberapa hal dalam internet memang bernilai negatif, tapi ini adalah bagaimana mengarahkan anak agar fokus dalam pemanfaatan teknologi untuk kebaikan. Karena semua ilmu dari Allah itu baik, bagaimana proporsinya yang diarahkan untuk kebaikan," jelas Ustaz Erick, Ahad (11/10).

Dengan konsep pendidikan yang juga universal, ia yakin, para siswa tidak menutup diri dengan kemajuan zaman dan teknologi. Sementara, jika anak diputuskan hubungannya dengan teknologi, Ustaz Erick meyakini bahwa anak tidak akan bisa berkembang dan menyesuaikan diri dengan zamannya.

Oleh karena itu, berbeda dengan kebanyakan pesantren pada umumnya, Ustaz Erick mengatakan para siswa di SMP Kreatif iHAQi diperbolehkan untuk menggunakan gadget dan laptop. Selain itu, keberadaan gadget juga akan membantu terjalinnya komunikasi antara siswa dan keluarga mereka selama di pesantren.

Akan tetapi, Ustaz Erick mengatakan penggunaan gadget dan laptop di pesantrennya akan diatur dalam sebuah ketentuan sehingga penggunaan ponsel, laptop dan internet dapat berjalan baik dan tidak disalahgunakan.

Selain itu, Erick mengatakan konsep universal ini juga menunjukkan bahwa model pendidikan di SMP Kreatif iHAQi diambil dari konsep-konsep pendidikan terbaik yang ada di dunia. Dalam pendidikan akademis, Erick mengatakan pesantrennya mengadopsi model pendidikan terbaik dari Finlandia.

Salah satu dari konsep pendidikan Finlandia yang diterapkan dalam pesantren ini ialah seluruh tenaga pengajar yang ada minimal berlatar belakang pendidikan S2.

Selain itu, serupa dengan model pendidikan Finlandia, Erick mengatakan tidak ada konsep juara bagi para siswa. Masih mengambil konsep pendidikan Finlandia, Erick juga mengatakan tidak akan ada pekerjaan rumah berlebihan bagi para siswa. Hal tersebut dilakukan Erick karena ia meyakini kedua hal tersebut akan menjadi stimulus dalam meningkatkan kreativitas para siswa.

Sedangkan untuk pendidikan agama, Erick mengatakan pesantrennya mengacu pada model pendidikan agama terbaik dari model pendidikan dari Timur Tengah. Pasalnya, model pendidikan agama dari Timur Tengah dapat menstimulus siswa tidak hanya untuk menghafal Alquran, tetapi juga memahami kandungan ayat-ayat Aquran.

"Jadi yang universal itu dalam segi wawasannya, terbuka untuk menyerap mana yang baik, membuang mana yang jauh. Kalau untuk akidah tidak ada toleransi, harus sesuai syariah," tegas Erick.

Konsep pendidikan terakhir yang diusung SMP Kreatif iHAQi ialah kreatif. Melalui pendidikan yang tepat, Erick ingin mengarahkan para siswa untuk menjadi seorang inventor, bukan seorang yang konsumtif.
Untuk memberi stimulus para siswa, Erick mengatakan pesantrennya secara berkala akan mengundang para ahli di bidangnya untuk melakukan kuliah umum di SMP Kreatif iHAQi.

Dengan bertemu dan belajar langsung dari para ahli, Erick yakin para siswa akan dapat menyerap ilmu dan mempraktikkannya dengan lebih baik. Kreativitas siswa, lanjut Erick, juga akan ditunjang dengan metode pembelajaran yang juga dilakukan di luar ruangan dengan pemandangan yang menyejukkan mata.

Untuk menampung dan mengembangkan kreativitas para siswa, SMP Kreatif iHAQi juga dilengkapi dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa kegiatan ekstrakulikuler tersebut ialah teknik animasi, robotik, bela diri, bahasa asing, takhossu Alquran, kuliner, teater, dan performance art.

Islam Itu Moderat, Bukan Liberal



Islam Itu Moderat, Bukan Liberal

Agama Islam tidak mengajarkan umatnya untuk kaku dalam kehidupan sosial dan bernegara. Islam mengajarkan sikap-sikap moderat.

Yang telah diterapkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Itu Islam moderat yang dicontohkan Rasulullah melalui akidah dan akhlaknya," kata Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof Ahmad Satori Ismail, Jumat (3/4).

Definisi Islam moderat sendiri, ujarnya, sebagai suatu tindakan yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunnah dalam hadists.

Sementara, Satori berpendapat, Islam moderat sangatlah jauh berbeda dengan Islam liberal yang melakukan penafsiran sebebas-bebasnya sehingga apa saja bisa ditafsirkan.

"Misalnya, tidak boleh menyerang orang yang tidak menyerang, dalam perang tidak boleh kita membunuh musuh yang tidak bersenjata, tidak boleh membunuh orang tua‎ dan pokoknya banyak sekali aturan-aturan yang menunjukan bawah Islam itu adil," katanya.

Maka, ia sepakat bahwa dakwah dalam Islam mesti lembut seperti yang disampaikan dalam Alquran Surat Al Imron. Sedangkan untuk konsep berjihad dalam konteks kekinian, ia menganjurkan agar umat Islam melawan korupsi, menghilangkan kebodohan, dan memperkuat perekonomian umat.

“Jadi jihad itu banyak macamnya. Jihad dengan ilmu ada, dengan pendidikan, jihad bidang ekonomi,” terangnya.

Islam Indonesia, Islam Jalan Tengah





Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin menilai yang dimaksud Islam moderat itu tidak terjebak pada ekstrimitas seperti paham radikal dan juga paham liberal. “Islam di sini merupakan Islam jalan tengah, toleran –dalam pengertian-- bertenggang rasa kepada pihak lain. Tidak boleh kemudian main pokoke,” tegasnya.

Termasuk Islam yang inklusif atau Islam yang menampung semuanya. Bukan eksklusif atau Islam yang kemudian ingin mendepak atau mengeluarkan orang lain, apalagi dengan sesama muslim. Ini jauh dari nilai-nilai wasathiyah.

Wasathiyah semacam itulah yang ingin dikedepankan dan ini merupakan ajaran Alquran. Implementasinya, MUI harus menjadi tenda besar yang sejati sebagaimana disampaikan oleh Bapak Presiden RI.

Yang sejati ini dalam pengertian menaungi seluruh kelompok umat Islam baik yang bergabung pada ormas- ormas Islam maupun yang belum bergabung dan jumlahnya juga sama besarnya.

Kedua jangan eksklusif atau ingin mengenyahkan, sedikit- sedikit mengkafirkan, sedikit- sedikit menyesatkan orang lain. Ini wawasan- wawasan yang eksklusif dan bertentangan dengan prinsip wasathiyah. “Jadi Munas ini ingin mengukuhkan wawasan keislaman seperti itu,” kata Din.

Ia juga menyampaikan, memang ada keperluan untuk bagaimana menginternasionalisasikan faham budaya Islam di Indonesia ini keluar. Pertama karena ada tangungjawab moral Indonesia ini merupakan negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. 210 juta menjadikan Indonesia ini menjadi negara berpenduduk beragama Islam terbesar di dunia.

Kedua karena ada masalah di dunia Islam, terutama di Timur Tengah. Maka faham keislaman wasathiyah ini perlu ditekankan keluar.

Oleh karena itu, Din menyarankan agar MUI kedepan tidak hanya mengurus umat Islam di Indonesia, tapi juga mengurus umat Islam di dunia. Karena itu harus ‘go internasional’. “Untuk hal ini diperlukan lankah- langkah dan kiat nyata yang sekarang ini sudah kita mulai,” tambahnya.

Menjelajah Lima Masjid Bersejarah di Amerika




Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang menggembirakan bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia.
Setelah sebulan penuh berpuasa Ramadhan, sebagian umat Islam merayakan Lebaran dengan hari libur yang sering disebut dengan "festival berbuka puasa" dan menawarkan pesta di beberapa komunitas selama tiga hari.

Untuk menghormati hari kemenangan tersebut HuffingtonPost Senin (20/7) mengulas lima Masjid bersejarah dari seluruh negeri.

Islamic Center Washington di Washington DC
Terletak di Kompleks Kedutaan Besar, tempat pusat kegiatan Islam itu memiliki dua peranan penting dalam ibadah dan sejarah. Awalnya, pembangunan sebuah Masjid di Washington DC lahir dari diskusi antara M. Abu Al Hawa dan mantan Duta Besar Mesir, Mahmood Hassan Pasha pada tahun 1944. Bangunan bersejarah tersebut diarsiteki oleh seorang arsitek dari Italia, Mario Rossi dengan rancangan eksterior arsitektur masjid Timur Tengah.

Bangunan Islamic Center juga menggabungkan berbagai budaya Muslim seperti lampu kaca dari Mesir, karpet tradisional dari Iran, jendela kaca patri dari Maroko, dan sumbangan lainnya memberi masjid identitas Islam global. Pada saat peresmiannya, tahun 1957, dalam pidatonya, Presiden Dwight Eisenhower memuji tradisi belajar dan budaya yang kaya bagi dunia islam, yang memiliki pengaruh penting bagi peradaban dunia selama berabad-abad.

Islamic Center California Selatan di Los Angeles
Didirikan pada tahun 1952, Islamic Center, California Selatan merupakan satu-satunya Masjid di Los Angeles. Pada saat itu, sebagian besar peserta masjid adalah mahasiswa asing Muslim yang bersekolah di UCLA dan University of Southern California.

Pada tahun 1960, imigran Muslim pun berdatangan ke daerah Los Angeles, mereka berasal dari Burma, Mesir, India, Pakistan, Irak, dan Iran, banyak diantara mereka langsung menjadi anggota Masjid. Sampai Saat ini, ribuan orang berdoa di Masjid tersebut setiap hari Jumat. Masjid juga telah menjadi pusat kajian Islam dan salah satu Masjid terbesar di California Selatan.

Masjid Bunda Amerika di Cedar Rapids, Lowa
Setelah dikenal sebagai The Rose dari Kelompok bersaudara Lodge, Masjid Bunda Amerika mungkin merupakan bangunan pertama yang dibangun sebagai sebuah Masjid di Amerika Utara. Pada awal abad 20, banyak imigran Muslim yang datang ke Amerika Serikat, kebanyakan dari mereka bekerja sebagai petani atau pemilik toko di Midwest.

Kota lowa, sangatlah populer bagi umat Islam untuk menetap dan merupakan kota yang pertama mengundang Imam untuk memberikan ceramah doa di ibukota negara, Des Moines.

Kemudian, pada 1971, dibangun Islamic Center Cedar Rapids menggantikan tempat ibadah yang kecil. Selang 20 tahun berikutnya, beberapa pemilik merasa bangunan Masjid memburuk sampai Dewan Islam Iowa dibeli dan diperbaharui serta dikembalikan sebagai pusat kebudayaan Muslim pada tahun 1990. Masjid Ibu terdaftar di Iowa State Historical Register dan masuk dalam Daftar Nasional Tempat Bersejarah di tahun 1966 sebagai Kuil Muslim.

Islamic Center Toledo, Ohio
Imigran Muslim dari Suriah dan Lebanon pertama kali datang ke Toledo sekitar tahun 1900, sekitar tahun 1954 komunitas Muslim tersebut membangun Islamic Center Toledo di dekat pusat kota.

Karena pertumbuhan masyarakat, para pemimpin pun mulai membuat rencana untuk fasilitas baru di tahun 1970-an. Pada tahun 1983 masjid dengan menara kembar dan kubah di Perrysburg Township merupakan masjid pertama dengan arsitektur seperti itu.

Masjid Dearborn di Dearborn, Michigan
Masjid Dearborn dianggap masjid tertua kedua di Amerika Serikat yang dibangun pada tahun 1937. Terletak tepat di kota Detroit dan merupakan rumah bagi salah satu yang terbesar populasi Arab-Amerika di negara itu, Masjid meliputi hampir seluruh blok kota.

Sebagai komunitas Muslim di daerah Detroit terus tumbuh sepanjang tahun 60-an dan 70-an, Masjid juga menjadi pusat sosial bagi penduduk. Selama periode ini bahwa perintah pengadilan mengizinkan Masjid untuk memancarkan adzan melalui pengeras suara yang pertama kali terjadi di Amerika Serikat.

Pada tahun 2000 masjid direnovasi dari 24.000 kaki persegi menjadi 48.000 kaki persegi, akibatnya layanan liburan yang begitu populer sering harus diadakan di tempat parkir. Saat ini, seluruh fasilitas sudah meluas menjadi 100.000 kaki persegi.

Alhamdulillah, Akhirnya Muslim Alaska Miliki Masjid



Alhamdulillah, Akhirnya Muslim Alaska Miliki Masjid

Tahun ini Alaska adalah tahun pertama bagi umat Muslim di Alaska menggunakan masjid untuk melaksanakan ibadah mereka selama bulan Ramadan.

Komunitas muslim di Alaska termasuk baru, generasi Muslim pertama masuk Alaska sekitar tiga puluh atau empat puluh tahun lalu. Generasi Muslim pertama ini, sejak lama mencita-citakan memiliki masjid.

Setelah sekian lama bercita-cita memiliki masjid, akhirnya pada tahun 2010 pembangunan masjid dimulai. Pembangunan berjalan dengan perlahan dan pada tahun 2015, masjid baru selesai separuhnya.

Biaya pembangunan masjid ini didapat dari sumbangan warga Muslim di seluruh Amerika, dan tidak ada bantuan dari negara apapun. Biayanya secara keseluruhan mencapai enam puluh miliar rupiah.

Lamin Jobardeh, presiden komunitas Muslim di Anchorage mengatakan, “Total biaya pembangunan masjid ini adalah 4,2 juta dolar AS dan baru selesai separuhnya. Bagian yang sudah selesai termasuk ruang kelas, yang saat ini digunakan untuk tempat sholat. Ruangan sholat utama diharapkan selesai bulan Desember tahun ini.”

Muslim di Alaska berjumlah sekitar dua hingga tiga ribu orang, dan sebagian besar tinggal di kota Anchorage.

Lamin menambahkan bahwa masjid ini menjadi pemersatu seluruh pendatang Muslim. Sebelumnya ada dua musholla di kota Anchorage yang didominasi pendatang Pakistan dan Arab Saudi.

Salah seorang Muslim asal Indonesia, Andrew Dotin, mengaku senang dengan kehadiran masjid pertama ini. “Subhanallah, Alhamdulillah. Ini masjid pertama di Alaska. Selama beberapa tahun kita menyewa ruko untuk kegiatan ibadah,” ujarnya.

Masjid ini belum mempunyai imam yang memimpin ibadah, oleh karena itu para jamaah bergantian memimpin ibadah.

Penduduk negara bagian Alaska sekitar tujuh ratus ribu orang dan lebih separuhnya tinggal di kota Anchorage karena iklim yang lebih hangat. Pada musim panas, saat Ramadan berlangsung tahun ini, suhu kota Anchorage berkisar sepuluh hingga dua puluh derajat celcius.

Langit masih terang saat menjelang waktu buka puasa. Sejak tiga tahun lalu, karena iklim yang esktrem, fatwa waktu berbuka puasa mengikuti waktu Mekah. Lamanya berpuasa sesuai waktu Mekah lebih ringan daripada sesuai waktu setempat, di mana puasa bisa berlangsung sekitar 21 jam lebih per harinya.

Tiga Syarat Menuju Kebangkitan Islam



Memasuki abad ke-21 ini, Islam memang menjadi harapan baru untuk menyelamatkan dunia kita dari degradasi beradaban dan kehidupan manusia hampir dalam segala aspeknya. Tapi untuk terjadinya kebangkitan itu, umat Islam memerlukan keberanian untuk melakukan “mandi besar” dari berbagai penyimpangan-penyimpangan besar dari nilai-nilai dasar Islam. Salah satu penyimpangan umat ini dari Islam adalah berbagai perilaku atas nama Islam yang justru tidak mencerminkan akhlaqul karimah yang diajarkan oleh Islam itu sendiri.  


Begitu komentar Imam Shamsi Ali, Imam besar Islamic Center New York, Amerika Serikat, asal Indonesia, untuk bukuKebangkitan Kedua Umat Islam karya Yusuf Effendi. Dalam endorsment-nya, tokoh kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, itu mengaitkan antara semangat kebangkitan Islam tak ubahnya dengan semangat kelahiran Islam, sama-sama memiliki misi penyelamatan masa depan dunia. Dahulu, Islam datang menyelamatkan bangsa Arab dari degradasi peradaban dan kehidupan, menyelamatkan Roma dan Persia dari arogansi militerisme dan perang. Dan, kini untuk menyelamatkan dunia dari degradasi beradaban dan kehidupan manusia hampir dalam segala aspek.

Komentar Imam Shamsi Ali yang menekankan pada aspek akhlak itu memperkuat ide dasar buku karya Yusuf Effendi ini. Ada tiga syarat menuju kebangkitan Islam yang diajukan oleh Yusuf Effendi: kematangan berdemokrasi, kemuliaan akhlak, dan kecintaan pada ilmu. 

Mengelaborasi tiga syarat kebangkitan itu, buku ini menyajikan tiga bagian utama. Bagian pertama mengulas sistem demokrasi ala empat sahabat Nabi, bagian kedua memotret masa kerajaan absolut, dan bagian ketiga formula menuju kebangkitan umat Islam. Ketiga bagian itu saling pilin-memilin, satu dengan yang lain tak dapat dipisahkan. Bagian pertama menjadi inspirasi, bagian kedua sebagai bahan introspeksi, dan bagian ketiga mengambil semangat bagian pertama dan mengambil pelajaran berharga dari bagian kedua.    

Penulis buku ini percaya bahwa demokrasi itu selaras dengan Islam. Ia memberi bukti, bahwa empat pemimpin Islam pasca Nabi (khalifah rasyidah) menganut pola republik, karena mereka ditetapkan oleh dan berasal dari rakyat yang diwakili oleh tokoh. Selain itu, kebijakan khalifah ditetapkan melalui musyawarah. Demokrasi yang dijalankan adalah demokrasi yang memiliki “batas” (hudud) berupa nilai-nilai agama. (hlm 39-40) 

Basis demokrasi kala itu tak lain adalah akhlak para khalifah, mereka menerapkan nila-nilai agama. Abu Bakar menolak gelar “Khalifah Allah”, dan meluruskannya menjadi “Khalifah Rasul”. Berkat kearifan itu, Islam tidak terjerumus menjadi agama pembenar teokrasi. Dengan kemuliaan akhlak, khalifah rasyidah menjaga kesetaraan, yang membuat kebebasan berbicara dan berpendapat terjamin. Pada masa Khalifah Umar, demokrasi semakin kukuh karena adanya“check and balances” dengan memisahkan kewenangan peradilan dari kewenangan khalifah selaku eksekutif. Bahkan diletakkan pula dasar-dasar “good governance” dalam pengaturan tunjangan Negara. Khalifah Usman meneguhkan demokrasi dengan kegandrungannya terhadap dialog, kendati dapat mengancam keselamatan dirinya. Terakhir, Khalifah Ali memperkuatnya dengan keadilan sosial, karena menilai keadilan—di samping cinta kasih—adalah kebajikan utama Islam.

Setelah memutar-ulang kisah awal Islam dengan empat khalifah itu, buku ini lantas mengulas masa peralihan kekhilafahan ke era kerajaan. Dengan menerapkan tata-pemerintahan yang berbeda dengan empat khalifah, Umayyah dan Abbasiyah menganut sistem dinasti. Dengan sangat gamblang, penulis buku ini menyajikan gambaran kelam masa ini. Sejumlah peristiwa berdarah terjadi di antara keluarga istana, ada pula yang dilakukan oleh penguasa terhadap masyarakat. 

Namun, selain sisi kelam, Yusuf Effendi juga mengulas sisi kemajuan umat Islam di masa itu. Pada masa Abbasiyah, kaum muslim mengalami kemajuan di bidang keilmuan. Para pemuka kaum Abbasiyah menempuh dua strategi. Pertama, rekayasa sosial, dengan menyebarkan paradigma kemuliaan dari khazanah Islam, seperti mencari ilmu maupun mendirikan sekolah; dan kedua, memfasilitasi kemudahan pembelajaran dengan mendirikan pabrik kertas, membangun rumah sakit, peneropongan bintang (observatorium), berbagai pusat kajian ilmu dan biro penerjemahan. 

Adopsi ilmu dari budaya asing melandasi seluruh upaya tersebut sebelum dikembangkan sendiri oleh kaum Abbasiyah. Dengan cara itu, hanya dalam waktu dua generasi, kaum Abbasiyah sudah berhasil menjadi pusat kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan dunia, baik pada ilmu-ilmu murni maupun ilmu terapan.

Kaum Abbasiyah berhasil menghadirkan penemuan yang mengagumkan di bidang matematika, fisika, astronomi dan ilmu bumi, kedokteran, farmasi dan teknologi militer. Di bidang agama, kodifikasi hadis maupun rumusan ilmu kalam; sejarah dan lain-lain juga dituntaskan pada zaman ini. Namun, di bidang ilmu politik walaupun berhasil dirumuskan pemikiran cemerlang dari al-Mawardi dengan “Teori Kontrak Sosial” atau Ibnu Kaldun dengan “Teori Konstitusi”, namun keduanya tidak berhasil mengubah sistem kerajaan mutlak Abbasiyah. Zaman kemunduran Islam juga ditandai oleh kemunduran di bidang demokrasi dan akhlak, walaupun di bidang ilmu tidak mundur melainkan stagnan. Masa kemunduran itu dimulai terutama pada jaman Abbasiyah akhir, yaitu pasca penghancuran Baghdad oleh kaum Mongol.

Berkaca dari pengalaman panjang umat Islam, pada bagian terakhir buku ini, penulis menawarkan formula kebangkitan. Ia memaparkan strategi kebangkitan dengan terlebih dahulu mencatat bukti-bukti kemiskinan dan keterbelakangan umat Islam di seluruh dunia. Kemiskinan dan keterbelakangan yang relatif merata itu menurut Yusuf Effendi disebabkan oleh tiga hal. Pertama, terlantarnya keadilan sosial selama 1000 tahun masa kerajaan mutlak. Kedua, karena penjajahan bangsa Eropa yang telah merampas peran kaum Muslim sebagai pedagang antar Negara. Ketiga, kegagalan usaha kebangkitan pasca penjajahan karena tidak berhasil mengalahkan kekuatan sistem penjajahan modern di semua bidang.

Yusuf Effendi memaparkan dua kemungkinan strategi: melalui perbaikan manusia atau “alatnya”. Pilihannya melalui perbaikan manusia yang paling utama adalah aspek akhlak. Di atas segalanya, akhlak atau ihsan adalah bagian dari agama, tepatnya sebagai pilar ketiga di samping pilar iman (akidah, tauhid) dan Islam yang di dalamnya ada syariat. Pilihan melalui “alatnya” yakni perbaikan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan. (hlm 396-400). 

Karena kebangkitan adalah upaya budaya yang kompleks, maka perlu disederhanakan melalui pendekatan sistem (system approach). Dalam sistem itu, kebangkitan dianalogikan dengan “transformasi” melalui usaha politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan yang telah disinergikan dengan pengaruh global di bidang politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan dengan menggunakan “saringan akhlak dan ilmu” kemudian diperkuat oleh faktor-faktor positif (pengaruh internal) dari dunia kaum Muslim. 

Jika umat melakukan semua itu dengan kesungguhan, dalam waktu 100-150 tahun (kaum Abbasiyah dalam 70 tahun), umat Islam dapat meraih kembali kejayaannya. Tetap dengan dalil demokrasi, akhlak, ilmu. 

Selain kaya informasi sejarah, penyajian bergaya popular dan gaya tutur yang lugas menjadi keunggulan yang paling menonjol dari buku ini. Kita dapat mengetahui sejarah bagaimana dinamika pembentukan Dewan Pemilih Khalifah, ahlul-halli wal-‘aqdi pada masa Umar ibn Khattab. Kita juga dapat membaca kisah “petualangan” politik dan intelektual Ibnu Khaldun. Banyak narasi lain yang tidak sebatas kisah tapi diletakkan dalam konteks kekinian. Dari situ kita menyerap optimisme, bahwa Islam dapat bangkit menuju kemuliaan. 

Data buku

Judul Buku : Kebangkitan Kedua Umat Islam, Jalan Menuju Kemuliaan
Penulis : Yusuf Effendi
Penerbit: Naura Books (Mizan Grup)
Cetakan : I, Februari 2015
Halaman : lii + 557
ISBN : 978-602-0989-34-1
Peresensi: Banani Bahrul-Hassan, pecinta kajian hukum, demokrasi, dan keislaman

Tape Jadi Menu Wajib Perayaan Lebaran Umat Islam Bali




Pada perayaan Idul Fitri, Nyama Selam atau umat Islam Bali, di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, juga melaksanakan serangkaian kegiatan. Di mulai dari penapean, penyajaan, penampahan Lebaran, Lebaran, dan umanis Lebaran.

Laiknya tradisi umat Hindu di Bali ketika melaksanakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, tape juga jadi menu wajib umat Islam di Desa Pegayaman saat Lebaran. Tape yang mereka buat adalah tape beras dan ketan hitam, sama seperti yang disajikan umat Hindu Bali saat Hari Raya Galungan.

“Proses penapean (membuat tape) membutuhkan waktu tiga hari untuk fermentasi. Biasanya para ibu-ibu di desa ini sejak seminggu menjelang Lebaran sudah sibuk,” kata Matoriah, salah seorang warga desa.

Dua hari menjelang Idul Fitri, warga mengadakan prosesi penyajaan atau membuat jajan (kue). Biasa disebut jaje Bali. Pada saat Lebaran jajanan yang pasti disajikan di atas meja ruang tamu adalah jaje uli ketan (tape) dan dodol. “Kebiasaan membuat jajanan ini sudah turun-menurun sejak zaman dahulu. Jajanan ini disajikan untuk tamu-tamu yang datang bersilaturahmi saat Lebaran,” katanya.

Layaknya orang Bali, sehari menjelang Lebaran, warga setempat menggelar penampahan (memotong daging). Daging yang dipersiapkan untuk sajian Lebaran adalah daging sapi yang dipersiapkan oleh masing-masing keluarga. “Ada yang beli kiloan sesuai dengan kebutuhan. Ada juga yang patungan untuk membeli satu ekor sapi, kemudian dibagi sesuai kesepakatan,” jelasnya.

Biasanya daging tersebut diolah menjadi be mesere yang merupakan kuliner khas Desa Pegayaman. Be mesere adalah daging sapi yang ditumbuk dan disuwir-suwir, kemudian diberi bumbu-bumbu. Ciri khas dari kuliner ini didominasi rasa pedas dan aroma terasi yang pekat.